NovelToon NovelToon
VENA - AIR YANG MATI

VENA - AIR YANG MATI

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Fantasi / Tamat
Popularitas:148
Nilai: 5
Nama Author: Catnonimous

Aris hanyalah seorang petugas instalasi pipa bawah tanah yang dibayar murah untuk melakukan pekerjaan kotor yang dihindari semua orang. Namun, upah rendahnya tidak sebanding dengan apa yang ia temukan.
Seekor tikus yang berubah setelah meminum tetesan air dari pipa.
Tubuhnya mengeras lalu meledak tapi sisa tubuhnya masih bisa bergerak.
Apakah benar hanya tetesan air itu yang membuat tikus itu berubah?
Bagaimana dengan manusia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Catnonimous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 : Berpacu dengan waktu

Liora berjalan tergesa-gesa membelah kerumunan pengungsi di aula dengan dada yang bergemuruh hebat. Rasa gelisah dan panik kini sepenuhnya menguasai dirinya. Informasi yang baru saja ia dengar dari balik ventilasi bukan main-main: Walikota Yunus telah memerintahkan anak buahnya untuk mencari dan menggeledah sampel hasil laboratorium penting yang mungkin disembunyikan oleh Dokter Ferdi. Liora tahu, jika sampel itu jatuh ke tangan orang yang salah, konsekuensinya akan sangat fatal bagi kota ini.

"Kolonel, ternyata benar! Walikota Yunus terlibat," ujar Liora dengan nada mendesak. "Saya baru saja menguping pembicaraan teleponnya di area kamar mandi. Dia menugaskan sekelompok orang untuk segera mencari sampel hasil laboratorium milik Dokter Ferdi!"

Mendengar laporan yang begitu mendadak, Kolonel Mirza tidak langsung percaya begitu saja. Sebagai seorang komandan, ia terbiasa bertindak berdasarkan bukti fisik, bukan sekadar kesaksian sepihak dari seorang pengungsi yang menguping. "Tenang dulu, Liora. Kesaksianmu ini sangat sensitif. Kita tidak bisa menuduh seorang pejabat publik tanpa bukti."

"Kita tidak punya waktu untuk berdebat, Kolonel!" sela Liora, matanya memancarkan ketakutan yang nyata. "Orang-orang walikota pasti sudah bergerak. Tolong hubungi Pak Rasyid sekarang juga agar mereka bisa bergerak lebih cepat! Saya sangat takut terjadi sesuatu yang buruk pada Aris dan Pak Rasyid jika mereka berpapasan dengan orang-orang suruhan itu!"

Melihat keyakinan yang luar biasa di mata Liora, Kolonel Mirza akhirnya luluh. Ia segera mengambil radio panggil dan ponsel taktisnya, lalu langsung menghubungi saluran pribadi Detektif Rasyid.

Begitu sambungan telepon terhubung, Mirza langsung berbicara dengan nada yang tegas. "Rasyid, dengarkan saya. Percepat pergerakanmu bersama Aris. Informasi terbaru dari Liora menyatakan bahwa Walikota Yunus saat ini sedang merencanakan penggeledahan ke rumah pribadi Ferdi dan rumah sakit. Anak buahnya mungkin sudah berada di jalan."

Di seberang saluran, suara deru mesin sedan hitam yang dipacu Aris terdengar samar-samar memecah transmisi telepon. Rasyid yang memegang ponsel di dalam mobil segera merespons laporan darurat tersebut. "Siap, Pak. Posisi kami saat ini sudah sangat dekat, beberapa ratus meter lagi kami akan sampai di lokasi."

Mobil sedan hitam yang dikemudikan Aris akhirnya mengerem mendadak di depan sebuah rumah minimalis berpagar besi kediaman pribadi Dokter Ferdi. Suasana di sekitar lingkungan tersebut tampak mati dan gelap gulita. Aris dan Rasyid segera melompat keluar dari mobil sambil memeriksa keadaan.

Pintu depan rumah dalam keadaan terkunci rapat. Tanpa membuang waktu, Rasyid mengambil ancang-ancang lalu mendobrak pintu tersebut dengan hantaman bahunya yang kuat. Brak! Pintu terbuka kasar.

"Cepat, Ris! Cari apa pun yang terlihat seperti dokumen medis atau tabung sampel!" perintah Rasyid.

Mereka berdua mengacak-acak ruang kerja Ferdi dengan sangat cepat. Lemari buku dibongkar, laci meja kerja ditarik, namun setelah hampir setengah jam mereka mencari hingga peluh membasahi dahi, benda yang dicari belum juga menampakkan diri.

Tiba-tiba, Aris yang sedang memeriksa sudut dekat jendela luar melihat ada sorotan lampu senter yang bergerak mendekati pagar rumah. Ia mengintip dengan sangat hati-hati di balik gorden yang tersibak sedikit. Jantungnya seketika mencelos.

"Pak Rasyid, gawat! Ada orang tidak dikenal menuju ke sini. Mereka membawa senjata," bisik Aris dengan nada panik yang tertahan.

Rasyid segera menghampiri, mengintip sekilas, lalu mengambil keputusan cepat. "Ikut aku, kita lewat pintu belakang!"

Mereka berdua bergerak senyap, menyelinap keluar melalui pintu dapur dan bersembunyi di balik rimbunnya tanaman di halaman belakang rumah Ferdi. Dari celah kaca belakang, mereka menyaksikan sendiri bagaimana sekelompok pria berbadan tegap mengacak-acak isi rumah Ferdi secara tak karuan.

Melihat pemandangan itu, runtuh sudah semua keraguan di benak Rasyid. Ia kini sepenuhnya percaya bahwa Walikota Yunus memang terlibat. Sambil tetap tiarap di kegelapan, Rasyid mengeluarkan ponselnya, lalu mengirimkan sebuah pesan teks darurat kepada Kolonel Mirza:

'Kolonel, benar. Rumah Ferdi sedang digeledah oleh orang-orang walikota. Tolong beri perintah anak buah saya untuk menahan Walikota untuk sementara.'

Tak butuh waktu lama, sebuah pesan balasan masuk dari Mirza: 'Baik Rasyid. Walikota akan berada di bawah pengawasan ketat pasukan saya sekarang juga.'

Setelah beberapa menit melakukan penggeledahan di dalam rumah, kelompok pria misterius itu akhirnya kembali keluar. Dari percakapan samar yang terdengar, tampaknya mereka sedikit kebingungan karena tidak menemukan apa pun yang mereka cari. Mereka segera naik kembali ke dalam kendaraan mereka dan meninggalkan lokasi dengan terburu-buru.

Setelah memastikan situasi benar-benar aman, Rasyid dan Aris perlahan-lahan merangkak masuk kembali ke dalam rumah yang kini kondisinya sudah hancur berantakan. Brankas kecil di sudut ruangan sudah jebol, laci-laci lemari ditarik paksa, dan map-map arsip berserakan di atas lantai.

Aris berdiri di tengah ruangan sambil memegang stik baseball-nya, menatap kerusakan tersebut. "Pak Rasyid... apa mungkin Dokter Ferdi punya ruangan rahasia atau tempat tersembunyi lainnya untuk menyimpan hasil lab itu?"

Rasyid menggelengkan kepala sambil memeriksa brankas yang kosong. "Kalau dia menyimpannya di tempat rahasia yang umum seperti itu, orang-orang walikota tadi pasti sudah menemukannya. Tapi bagaimana kalau Ferdi justru menyimpannya di tempat yang sama sekali tidak masuk akal untuk dicari? Tempat sampah? Atau tempat terbuka yang terlihat remeh?"

Mendengar analisis Rasyid, mata Aris mulai menjelajahi sudut-sudut ruangan yang tidak tersentuh oleh para penggeledah tadi. Pandangannya terjatuh pada seonggok tumpukan koran bekas dan kardus-kardus logistik yang berdebu di pojok ruangan. Niat hati Aris sebenarnya hanya ingin mengambil salah satu kardus kosong tersebut untuk wadah mengumpulkan sisa-sisa arsip dan berkas berharga milik Ferdi agar tidak tercecer.

Namun, saat Aris mengangkat tumpukan koran lama yang berada di bagian paling bawah, ia merasakan ada sebuah map plastik tebal berwarna hitam yang sengaja diselipkan di antara lembaran kertas berita tersebut.

Aris membuka map itu dengan tangan gemetar di bawah sorotan senternya. Di dalamnya terdapat beberapa botol vial kecil berisi cairan sampel yang dilindungi oleh kompartemen busa khusus, lengkap dengan lembaran-lembaran berkas penting hasil analisis laboratorium yang ditandandatangani langsung oleh Ferdi.

"Pak Rasyid! Saya menemukannya!" seru Aris dengan suara setengah berbisik namun penuh kemenangan.

Rasyid dengan sigap langsung menghampiri Aris. Matanya melebar saat melihat segel laboratorium pada berkas tersebut. Tanpa membuang waktu lagi, Rasyid mengambil map hitam itu dan memasukkannya ke dalam tas taktisnya dengan aman. "Bagus, Aris. Kita dapatkan apa yang kita cari. Ayo kita kembali ke pusat komando sebelum fajar!"

...----------------...

Di dalam shelter gedung parlemen, suasana mendadak berubah menegangkan ketika Kolonel Mirza bersama beberapa pasukan bersenjata lengkap melangkah tegap menuju ruangan pribadi yang ditempati oleh Walikota Yunus. Dari jarak aman di balik pilar aula, Liora berdiri memperhatikan pergerakan mereka dengan jantung yang berdebar kencang.

Kolonel Mirza mengetuk pintu dengan keras. "Pak Walikota? Ini Kolonel Mirza. Mohon buka pintunya," panggil Mirza.

Hening. Tidak ada jawaban sama sekali dari dalam ruangan. Setelah beberapa kali ketukan tanpa respons, Mirza tidak mau membuang waktu. Ia memberi isyarat kepada anak buahnya, lalu memutar kenop pintu dan mendorongnya paksa. Begitu pintu terbuka luas, sorotan lampu ruangan hanya memperlihatkan sebuah meja dan ranjang lipat yang rapi. Ternyata tidak ada siapapun di dalam ruangan tersebut. Walikota Yunus telah menghilang.

Wajah Kolonel Mirza langsung mengeras. Ia berbalik dan menatap tajam para prajuritnya. "Cari walikota ke seluruh sudut gedung ini sekarang juga! Hubungi semua pos penjagaan di gerbang perimeter, instruksikan agar tidak ada satu pun orang atau kendaraan yang diizinkan keluar dari lokasi pengungsian tanpa seizin saya!" perintah Mirza tegas.

Para prajurit segera bubar dengan cepat untuk melaksanakan perintah. Saat Mirza hendak kembali ke ruang komando, Liora keluar dari tempat persembunyiannya dan langsung menghampiri sang kolonel dengan wajah cemas.

"Bagaimana, Kolonel? Apakah walikota sudah berhasil diamankan?" tanya Liora mendesak.

Kolonel Mirza menggelengkan kepalanya dengan berat. "Sepertinya walikota sudah mencium pergerakan kita. Tapi kamu jangan khawatir, seluruh anak buah saya sedang menyisir area ini untuk mencari keberadaannya. Dia tidak akan bisa pergi jauh."

Kenyataanya, Walikota Yunus bukanlah orang bodoh. Sesaat setelah menyadari kamar mandinya kosong secara mencurigakan, ia telah mengantisipasi bahwa rahasianya telah bocor dan ada orang yang melaporkan percakapan teleponnya kepada pihak militer.

Saat ini, Walikota Yunus sedang berjalan mengendap-endap di lorong remang-remang bagian belakang gedung parlemen, didampingi oleh tiga orang pengawal setianya yang tersisa. Yunus sengaja memilih jalur ini karena ia sudah sangat menghafal denah bangunan parlemen yang sering ia kunjungi sebelum bencana melanda. Area belakang ini hanyalah sektor gudang logistik lama, sehingga penjagaannya terbilang sangat longgar karena konsentrasi pasukan militer sedang difokuskan di gerbang utama luar.

Sambil terus melangkah cepat, Yunus menempelkan ponselnya ke telinga. Ia telah berhasil menghubungi Axel di bawah tanah. "Axel, saya sedang dalam perjalanan kesana. Ada sesuatu yang sangat penting yang harus saya sampaikan langsung kepada Nyonya Stela," bisik Yunus dengan wajah serius dan penuh kepanikan yang tertahan.

Yunus dan ketiga pengawalnya akhirnya berhasil menyelinap keluar melalui pintu darurat belakang tanpa ketahuan. Di balik semak-semak halaman luar, sebuah mobil SUV hitam yang sudah dipersiapkan sebelumnya oleh para pengawal sejak sore hari telah menunggu. Tanpa membuang waktu, Yunus melompat masuk ke dalam kabin, membelah kegelapan malam yang dingin menuju satu-satunya tempat berlindung yang tersisa: bunker bawah tanah milik Axel.

Sementara itu, di sisi lain perimeter barat, mobil sedan hitam yang dikendarai Aris akhirnya kembali mengerem di depan blokade kawat berduri. Setelah melewati pemeriksaan kode waktu yang ketat oleh penjaga, Aris dan Detektif Rasyid akhirnya tiba kembali di dalam shelter dengan selamat, membawa map hitam berharga yang bisa menjadi kunci dari semua kegilaan ini.

Liora yang sejak tadi menunggu di koridor utama dengan perasaan tidak tenang, langsung menegakkan tubuhnya begitu melihat siluet Aris dan Rasyid berjalan masuk. Tanpa memedulikan pandangan orang-orang di sekitar, Liora langsung berlari kencang dan memeluk tubuh Aris dengan sangat erat. Air matanya hampir menetes karena rasa khawatir yang luar biasa takut terjadi hal buruk pada pemuda itu di luar sana. Aris yang terkejut hanya bisa membalas pelukan itu pelan sambil menepuk pundak Liora untuk menenangkannya.

Kolonel Mirza segera menyusul langkah mereka bersama beberapa pengawal. Begitu mereka berkumpul, Rasyid langsung melayangkan pertanyaan utama. "Bagaimana situasi di sini, Kolonel? Apakah Walikota Yunus sudah diamankan?"

Mirza mengembuskan napas. "Kita kalah cepat, Rasyid. Walikota sudah tidak ada di tempatnya saat pasukan saya mendatangi ruangannya." melihat wajah tegang Rasyid, Mirza cepat-cepat menambahkan, "Tapi saya sudah menyebarkan foto dan identitasnya ke seluruh anak buah saya di pos pemeriksaan perbatasan kota. Begitu mereka melihat pergerakan walikota, dia akan langsung diamankan."

Rasyid mengangguk paham, lalu membuka tas taktisnya dan mengeluarkan map plastik hitam tebal yang berhasil mereka selamatkan. Ia menyerahkannya langsung ke tangan Kolonel Mirza. "Ini hasil laboratorium dan berkas analisis sampel yang kami temukan tersembunyi di rumah pribadi Dokter Ferdi. Semua data yang dicari walikota ada di dalam sini."

Dengan langkah cepat, mereka berempat segera menuju ke ruangan komando taktis milik Mirza yang steril untuk menyimpan dokumen dan sampel vial tersebut di dalam brankas khusus yang aman.

"Dokumen dan sampel ini akan diperiksa secara mendalam besok pagi oleh tim ahli patologi," ujar Kolonel Mirza sambil mengunci brankasnya. Ia kemudian berbalik, menatap Aris dan Liora dengan pandangan mata yang penuh rasa hormat.

"Rasyid, dan terutama kalian berdua, Aris, Liora... saya berterima kasih atas keberanian kalian malam ini." ucap Mirza tulus.

Rasyid tersenyum tipis, ikut menepuk bahu Aris. "Sekarang tugas kalian sudah selesai untuk malam ini. Pergilah istirahat.."

Aris dan Liora mengangguk pelan. Dengan sisa tenaga yang ada, mereka berdua berjalan beriringan meninggalkan ruang taktis menuju shelter pengungsian, mencoba memejamkan mata di tengah ketidakpastian yang akan menyambut mereka saat fajar menyingsing.

...****************...

1
THE GIRL COOL😑
bagus novel nya👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!