Pernahkah kamu salah memilih pasangan hingga berujung maut?
Shanaya tewas setelah dipaksa menelan racun. Suaminya, Alvian, dan sepupunya, Anastasia, merampas perusahaannya. Mereka berdua bahkan membunuh ibu Shanaya demi uang.
Mati ternyata bukan akhir bagi Shanaya. Dia terbangun tujuh tahun di masa lalu, tepat tiga hari sebelum acara tunangannya dengan Alvian.
Shanaya menolak mati konyol untuk kedua kalinya. Dia menyusun siasat untuk membalas dendam. Targetnya adalah menghancurkan Alvian dan Anastasia.
Untuk itu Shanaya butuh panggung besar. Dia mengincar Steven Aditya, bos media televisi. Dulu Steven ikut andil dalam kehancurannya. Kali ini, Shanaya akan memaksa pria itu tunduk dan bekerja sama.
Satu kejutan menanti Shanaya. Bukan cuma dia yang kembali ke masa lalu. Ada satu orang lagi yang juga hidup kembali dan mengulang waktu. Siapa orang ini? Apakah dia sekutu yang akan membantu Shanaya, atau musuh yang jauh lebih mematikan?
Baca cerita ini dan temani Shanaya menagih balasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Bersih-bersih
Tiga puluh pria dan wanita berjas mahal di ruang rapat ini adalah serigala kelaparan yang siap mencabik sisa aset perusahaan.
Mereka menatap kursi kosong di depan podium. Kasak-kusuk mulai terdengar.
"Kita buang waktu di sini. Saham Kesuma jelas akan terjun bebas," bisik seorang investor beruban di baris kedua. Suaranya cukup keras untuk mengiris udara. "Nyonya Rini sedang sakit. Direktur keuangannya masuk rumah sakit. Mereka tidak punya pemimpin."
Shanaya berdiri di balik pintu ganda ruang rapat. Tangannya memegang sebuah map tipis berisi catatan Pak Darmawan. Hitungan tangannya dingin, presisi, dan mutlak. Di kehidupan lalu, kelemahannya pada angka menjadi alasan utama keluarga Restu berhasil merebut kendali perusahaan.
Dinda berdiri di sampingnya dengan wajah pucat. Asisten itu meremas buku catatannya. "Mbak Naya, kita batalkan saja. Para investor ini bisa beringas kalau melihat presentasi tidak siap."
"Mereka bukan dewa, Dinda." Shanaya mendorong daun pintu terbuka. "Mereka cuma lintah darat berjas rapi."
Langkah sepatu hak tinggi Shanaya mengetuk lantai marmer. Ritmenya konstan dan tidak terburu-buru. Ruang rapat seketika senyap. Tiga puluh pasang mata beralih padanya.
Shanaya berjalan melewati jajaran direksi yang kebingungan. Ia meletakkan map tipis itu di podium. Wajahnya tegar. Sorot matanya menyapu seluruh ruangan tanpa keraguan sedikit pun.
Di barisan paling belakang, Steven Aditya berdiri bersandar pada dinding. Pria itu memakai jas tanpa dasi. Tangannya bersidekap di depan dada.
"Selamat pagi," suara Shanaya mengalun stabil. Jernih dan tegas. "Saya Shanaya Putri Kesuma. Saya yang akan mengambil alih presentasi hari ini menggantikan Bapak Darmawan."
"Nona Shanaya." Seorang investor pria berkacamata di baris depan memotong cepat. Nada bicaranya sarat akan meremehkan. "Dengan segala hormat, kami butuh proyeksi angka konkret untuk menyelamatkan investasi kami. Kami tidak butuh presentasi konsep warna gaun musim gugur."
Beberapa investor terkekeh sinis.
Shanaya tersenyum tipis. Jemarinya mengetuk pelan permukaan podium kayu.
"Jika Anda bicara soal angka konkret, Pak Haryo, mari kita bedah." Shanaya menyebut nama pria itu dengan mudah. Hal itu membuat si investor terdiam.
Shanaya menekan tombol proyektor. Layar raksasa di belakangnya menyala, menampilkan grafik kurva yang tajam.
"Ini grafik margin laba bersih Kesuma Group." Shanaya melangkah menjauh dari podium. Ia membiarkan catatan Pak Darmawan tergeletak begitu saja.
Perempuan itu berjalan tegap menyusuri meja panjang. Ia telah menghafal setiap angka itu di luar kepala.
"Dua hari lalu, skandal plagiat Anastasia Lim mencoba menjatuhkan nilai perusahaan kami. Anda semua panik. Ditambah Alvian Restu menyebar rumor tentang perpecahan internal." Shanaya berhenti tepat di depan Pak Haryo.
"Tapi faktanya, skandal itu memicu lonjakan _exposure_ media sebesar tiga ratus persen. Tingkat *engagement* Kesuma Fashion naik. Begitu pula pra-pemesanan koleksi terbaru kami."
Kru direksi di sebelah kiri Shanaya saling pandang dengan mulut sedikit terbuka. Bahkan Mama Kesuma, yang duduk di ujung meja, menatap putrinya dengan keterkejutan yang nyata.
Shanaya berjalan kembali. Tangannya lincah mengubah layar proyeksi ke halaman kedua. Deretan angka yang lebih padat.
"Lalu, soal efisiensi. Kemarin sore, saya sudah memotong kontrak kerja dengan tiga vendor tekstil bermasalah yang dibawa oleh Restu Land. Vendor-vendor itu menggelembungkan biaya produksi hingga dua puluh persen. Dan pagi ini, dana cadangan Kesuma Fashion sebesar tujuh puluh miliar rupiah telah resmi dialihkan ke instrumen deposito jangka pendek. Dana itu aman. Tidak ada satu rupiah pun yang akan disuntikkan ke proyek mangkrak keluarga Restu."
Perempuan yang selama ini mereka anggap hanya sebagai pajangan sosialita ternyata bisa menguliti laporan keuangan dengan mata tertutup.
"Jadi, Pak Haryo." Shanaya kembali berdiri di podium. Matanya menatap garang ke seluruh ruangan.
"Kesuma Group adalah perusahaan yang sedang bersih-bersih rumah. Dan jika ada di antara Anda yang masih merasa investasi Anda tidak aman, pintu keluar ada di belakang. Saham Anda akan kami beli kembali pada harga penutupan hari ini."
Hening. Kesunyian absolut menyelimuti ruang rapat. Tidak ada satupun yang berani berdebat dengan kalkulasi brutal barusan.
Keberanian Shanaya menantang balik membungkam mulut mereka.
Seorang investor menghela napas pelan. "Laporan kuartal depan?"
"Akan kami rilis bulan depan," jawab Shanaya telak. "Dan saya jamin, margin kita akan naik."