Satu komentar mengubah hidup Dr. Briella Zamora dalam semalam.
Berniat menghancurkan reputasi mantan kekasihnya, Lexington Valerio—Briella justru terjebak dalam skandal yang mengancam Dirinya Sendiri.
"Kau tahu apa yang paling lucu, Lex? Aku menghabiskan waktu untuk memperbaiki wajah orang lain agar terlihat sempurna, hanya agar aku bisa melupakan betapa hancurnya aku karena pria sepertimu."
"Rupanya waktu belum juga merubah kecerobohanmu, Briella Zamora."—Lexington Valerio.
Happy reading 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#28
Kabar mengenai kehamilan Briella Zamora tidak butuh waktu lama untuk meledak seperti bom atom di kalangan keluarga besar Valerio.
Hanya dalam hitungan jam setelah Lexington memboyong istrinya pulang dari klinik dengan pengawalan ekstra ketat—seolah-olah Briella adalah porselen retak yang bisa pecah kapan saja—ponsel Lexington tidak berhenti bergetar.
Namun, bukan ucapan selamat biasa yang mereka terima.
Pukul tujuh malam, pintu utama penthouse Lexington terbuka dengan dentuman yang cukup keras untuk membuat jantung siapa pun melompat.
"MANA CALON CUCUKU?!"
Suara melengking itu milik Kimberly Valerio. Ia masuk dengan langkah seribu, mengenakan gaun desainer yang berkibar, diikuti oleh Felix yang berjalan di belakangnya dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua. Felix membawa setidaknya lima tas belanja besar dari toko perlengkapan bayi paling mahal di Beverly Hills.
Lexington, yang sedang menyuapi Briella potongan buah kiwi di sofa, hanya menghela napas panjang. Ia sudah menduga ini akan terjadi.
"Mom, Istriku butuh ketenangan," tegur Lexington dingin.
Namun, Kimberly sama sekali tidak peduli. Ia langsung menghambur ke arah Briella, menyingkirkan Lexington dari posisinya tanpa rasa bersalah. "Oh, Briella-ku sayang! Kenapa kau baru memberitahu kami sekarang? Mommy hampir saja pingsan di tengah pemotretan saat Hadiyan membocorkannya!"
Kimberly memeluk Briella dengan sangat erat, membuat Briella tertawa kecil meski napasnya sedikit sesak. "Maaf Mom, aku juga baru tahu pagi ini. Lex bahkan hampir terkena serangan jantung di kantor."
"Tentu saja dia panik! Putraku ini kan kaku seperti penggaris besi," Kimberly melepaskan pelukannya, lalu menatap perut Briella yang masih sangat rata dengan pandangan memuja.
"Kau tahu? Mommy sudah membatalkan semua jadwal mommy hingga minggu depan. kita akan belanja. Kita butuh kereta bayi berlapis emas, baju dari sutra murni, dan—"
"Kim, dia baru hamil beberapa minggu, bukan beberapa tahun," sela Felix sambil meletakkan tas belanjaannya di lantai dengan helaan napas berat. Ia berjalan mendekat ke arah Lexington, lalu menepuk bahu Putranya itu dengan simpati yang mendalam.
Lexington menoleh ke arah Sang Daddy. Keduanya saling bertukar pandang—sebuah komunikasi tanpa kata antara dua pria yang tahu bahwa hidup mereka baru saja memasuki fase paling bising yang pernah ada.
"Kau siap, Lex?" tanya Felix pelan.
Lexington melirik mommy Kimberly yang sekarang sedang berdiskusi seru dengan Briella tentang tema kamar bayi yang harus "estetik" menurut standar majalah mode.
"Aku baru saja menyadari bahwa menghadapi sepuluh asisten seperti Late Vera jauh lebih mudah daripada menghadapi Mommy dan Briella dalam satu ruangan."
Felix tertawa getir. "Sambutlah duniamu, Son. Mommy mu sudah merencanakan pesta baby shower yang bisa menutup jalanan kota. Dan jika Briella sudah mulai ikut-ikutan... kau tahu kan apa artinya?"
Lexington menggelengkan kepalanya. Ia melihat Briella, yang biasanya ceroboh namun manis, kini tampak sangat bersemangat menanggapi ide-ide gila Mommy Kimberly. Efek hormon kehamilan membuat Briella menjadi dua kali lipat lebih ekspresif, dan Mommy Kimberly adalah katalisator terbaik untuk segala jenis kehebohan.
"Lex! Felix!" teriak Kimberly tiba-tiba, membuat kedua pria itu tersentak. "Kami sudah memutuskan. Besok kita akan pergi ke Paris. Bayi ini harus punya koleksi pertama dari rumah mode di sana!"
"Paris?!" Daddy Felix memekik. "Kim, Briella tidak boleh melakukan perjalanan jauh dalam kondisi baru hamil seperti ini!"
"Oh, benar juga," Kimberly mengetuk dagunya, lalu beralih menatap Briella. "Kalau begitu, kita panggil saja para desainer itu ke sini. Sayang, kau ingin tas merek apa untuk kado pertama kehamilanmu?!"
"Aku ingin yang custom, Mom! Yang ada inisial nama bayinya nanti!" sahut Briella dengan mata berbinar-binar.
"Ide bagus! Dan kita harus pesan berlian untuk pacifier-nya!"
Daddy Felix memijat pelipisnya. Ia duduk di samping Lexington Putranya, yang kini hanya terdiam menatap langit-langit apartemennya.
"Lex," panggil Felix lagi. "Kau tahu apa yang paling menakutkan?"
"Apa?"
"Bayangkan jika anakmu nanti sifatnya gabungan dari istri mu Briella dan kegilaan Mommy mu. Dunia akan hancur."
Lexington terdiam sejenak, membayangkan seorang anak kecil yang berlarian sambil menjatuhkan barang-barang mahal (seperti ibunya) namun dengan gaya bicara yang memerintah dan dramatis (seperti sang mommy). Bulu kuduk Lexington berdiri.
"Aku akan memastikan dia belajar fisika sejak dalam kandungan agar otaknya sedikit lebih logis," gumam Lexington.
Tiba-tiba, Briella merengek. "Lex... aku lapar lagi. Aku ingin makan yang manis."
"Sayang, ini sudah jam sembilan malam," jawab Lexington sabar.
"Tapi bayimu yang ingin, Sayang!" sahut Mommy Kimberly dengan nada membela yang tinggi. "Jangan jadi Daddy yang pelit! Felix, kau pergi beli! Sekarang!"
Daddy Felix melotot. "Kenapa aku? Itu kan istri Putramu!"
"Karena kau yang paling Berpengalaman! Cepat!" Kimberly mendorong Felix.
Felix menatap Lexington Putranya, meminta pembelaan. Namun, Lexington hanya memberikan tatapan 'Turuti saja Dad atau kita tidak akan bisa tidur malam ini'.
Dengan berat hati, Felix berdiri, menyambar kunci mobilnya sambil menggerutu tentang betapa tidak adilnya hidup Menghadapi Calon Cucu yang Belum Melihat Dunia.
Setelah Daddy Felix pergi, Mommy Kimberly kembali sibuk dengan tabletnya, menunjukkan berbagai macam perhiasan bayi kepada Briella. Ruangan itu dipenuhi dengan suara tawa, pekikan gemas, dan rencana-rencana yang tidak masuk akal.
Lexington hanya berdiri di dekat jendela, melihat pantulan dirinya di kaca. Ia yang biasanya mengendalikan segala variabel dalam risetnya, kini harus menyerah pada variabel paling tak terduga dalam hidupnya: seorang istri yang sedang hamil dan seorang Mommy yang hiperaktif.
Ia kembali duduk di samping Briella, merangkul bahu istrinya yang sedang asyik tertawa bersama Ibunya. Meskipun kepalanya pening mendengarkan ocehan mereka, ada senyum tipis yang tak bisa ia sembunyikan.
"Kau bahagia, Honey?" bisik Lexington di telinga Briella.
Briella menoleh, matanya berbinar penuh cinta. "Sangat bahagia, Lex. Terima kasih sudah memberiku keluarga yang... seheboh ini."
Lexington hanya menggelengkan kepalanya lagi, mencium puncak kepala Briella sambil membatin bahwa ia harus mulai memesan peredam suara untuk seluruh dinding apartemennya mulai besok.
Hari-hari tenang telah resmi berakhir, digantikan dengan drama keluarga Valerio yang baru saja dimulai.