Seorang pria mati dengan penyesalan karena gagal menegakkan kebenaran.
Ia terlahir kembali sebagai pengacara magang yang diremehkan...dan mendapatkan Sistem Keadilan Absolut kemampuan untuk melihat kebohongan, mengungkap fakta tersembunyi, dan menentukan putusan paling adil.
Dari kasus kecil hingga konspirasi besar, ia mulai mengguncang dunia hukum yang korup.
Namun satu hal segera ia sadari...
Keadilan sejati tidak selalu sama dengan hukum.
Dan kali ini...dia yang akan menentukan mana yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Setelah mendengarkan dan meneliti setiap rincian hingga ke titik paling kecil, akhirnya Arga paham gambaran utuh kasus ini beserta segala kebenaran yang selama ini tertutup rapat.
Begini kisah sebenarnya.
Keluarga Krisanto hidup serba kekurangan, sampai akhirnya mereka terpaksa meminjam uang pada Surya. Waktu itu mereka sama sekali tidak tahu kalau pinjaman itu dibebani bunga yang sangat tinggi. Lama-kelamaan, utang itu makin membesar, sampai pada titik di mana mereka tak lagi sanggup melunasinya.
Padahal sejak awal, Surya sudah mengincar keindahan Yunita, istri Krisanto. Semakin lama, dia makin berani bertindak semena-mena. Berulang kali dia memperkosa Yunita, bahkan berani melakukannya tepat di depan mata kepala Krisanto sendiri. Penindasan demi penindasan terjadi setiap hari, tanpa henti.
Krisanto memang orang yang pendiam, penakut, dan selalu berusaha menghindari masalah. Apalagi untuk melawan keluarga Surya yang punya kuasa dan pengaruh besar di sana, rasanya mustahil baginya. Dia memilih diam dan bertahan, tak berani melapor ke polisi, berharap kesabarannya akan membawa akhir yang baik. Padahal sikap mengalah itu justru membuat Surya makin berani dan kejam. Penderitaan yang mereka rasakan makin berat dan menyakitkan.
Hingga suatu hari, Surya datang lagi untuk menagih utang. Karena Krisanto sama sekali tak punya uang sepeser pun, Surya bicara terus terang dengan nada menghina dan merendahkan.
“Kalau tak ada uang, suruh istrimu saja yang melunasi. Cukup bayar lima puluh ribu sekali pertemuan, selesai urusan kita.”
Krisanto nekat mencoba melawan, tapi tenaganya jauh kalah kuat. Dia dipukuli habis-habisan sampai tak berdaya. Anjing peliharaan keluarga itu yang sejak tadi melihat kelakuan buruk Surya, menggonggong keras dan menggigit kaki orang itu karena marah. Tanpa rasa kasihan sedikit pun, Surya membunuh hewan kesayangan itu dengan cara yang sangat kejam. Setelah hewan itu mati, dia melepas kalung lehernya, mengikatkan erat-erat ke leher Krisanto seolah menjadikannya binatang peliharaan lalu berjalan masuk ke kamar untuk kembali berbuat jahat pada Yunita.
Yunita melawan sekuat tenaga, tapi kekuatannya tak sebanding dengan kekerasan yang diterimanya. Setelah kejadian itu, wanita itu menangis sejadi-jadinya. Melalui bahasa isyarat, dia menyampaikan kalau ia sudah tak kuat lagi hidup begini, sudah tak sanggup bertahan lebih lama menanggung semua penderitaan ini.
Saat itulah, amarah Krisanto meledak. Batas kesabarannya sudah habis, hilang tak bersisa. Dia akhirnya memberanikan diri melawan dan berkelahi dengan Surya. Melihat keberanian itu, Surya makin marah besar, lalu mengancam akan membunuh Krisanto sekeluarga saat itu juga. Dia pun berjalan menuju mobilnya, hendak mengambil pisau besar yang biasa dibawanya ke mana-mana.
Dalam ketakutan luar biasa dan rasa terancam nyawa, Krisanto mengambil gunting yang ada di dekatnya. Didorong rasa panik dan keinginan kuat untuk selamat, dia menusukkan benda tajam itu berkali-kali ke tubuh Surya, sampai orang itu jatuh terkulai dan meninggal dunia seketika.
Namun setelah kejadian itu, nasib buruk seolah tak berhenti menghampiri Krisanto. Dia ditangkap polisi, diperiksa, dan akhirnya divonis hukuman mati.
Tentu saja… masalah tak berhenti sampai di situ.
Keluarga Surya orang kaya raya dengan koneksi yang luas ke mana-mana. Ayahnya, Pak Harun, menyewa pengacara paling jago dan paling mahal di negeri ini untuk menangani kasus itu, semata-mata demi membalas dendam. Pak Harun bahkan berani mengancam nyawa anak kecil Yunita, memaksa ibu dan anak itu menandatangani serta membubuhkan cap jempol pada surat pernyataan palsu. Isi surat itu menyatakan hubungan antara Yunita dan Surya adalah hubungan atas dasar suka sama suka, sama sekali bukan pemerkosaan.
Padahal kenyataannya, Yunita itu tuna rungu, bisu, dan sama sekali buta huruf. Dia tak pernah mengenyam pendidikan sedikit pun. Di seluruh Desa Bukit Indah, tak ada satu pun warga yang berani bicara jujur untuk membela Krisanto. Beberapa orang yang sempat memberikan keterangan di media, sebenarnya sudah disogok dan diatur oleh Pak Harun agar berkata buruk tentang pasangan suami istri itu.
Semua fakta ini kini ada di tangan Arga.
Polisi sudah menutup berkas perkara, mendefinisikan kejadian itu sebagai pembunuhan berencana akibat rasa cemburu buta. Pengadilan tingkat pertama pun sudah menjatuhkan vonis mati. Warga desa seragam berkata hal yang sama, akses jalan masuk desa ditutup rapat, wartawan maupun penyidik dari luar dilarang mendekat atau masuk. Akibatnya, tak ada kemajuan sama sekali dalam kasus ini, dan tak ada satu pun pengacara yang berani atau sanggup menolong Krisanto.
Arga segera meminta Indah untuk merawat serta menjaga keamanan Yunita dan anaknya sebaik mungkin, menjauhkan mereka dari bahaya.
Malam itu juga, Arga tak tidur semalaman. Dia duduk berjam-jam meneliti berkas-berkas, rekaman, dan semua catatan kasus itu hingga ke rincian terkecil yang mungkin terlewatkan orang lain.
Di sistem hukum tempat ini, jarak antara sidang pertama dan kedua sangat singkat hanya sekitar dua minggu saja. Waktu yang sangat sempit, tak cukup panjang untuk persiapan yang matang. Jika dalam waktu itu kebenaran tak terungkap dan bukti baru tak ditemukan, nyawa Krisanto akan hilang selamanya.
“Perbuatan Krisanto membunuh Surya itu adalah tindakan membela diri, bukan pembunuhan berencana,” gumam Arga pelan sambil menatap tumpukan kertas di depannya.
Dia kembali berpikir keras, menyusuri setiap kemungkinan.
“Surya yang lebih dulu mengancam nyawa dan hendak menusuk dengan pisau. Tindakan Krisanto melawan itu wajar dan sah secara hukum. Tapi sekarang ada dua masalah besar yang menghadang kami,” lanjutnya dalam hati, menganalisis situasi dengan cermat.
“Masalah pertama: pisau yang dibawa Surya hilang entah ke mana. Rekaman CCTV yang seharusnya merekam kejadian itu dikabarkan rusak total. Tak ada bukti fisik, tak ada rekaman, jadi sangat sulit membuktikan bahwa ini murni pembelaan diri.”
“Masalah kedua: ada surat pernyataan yang ditandatangani dan dicap jempol oleh Yunita, yang menyatakan dia menjalin hubungan sukarela dengan Surya… Karena ada dokumen itu, pengadilan jadi percaya kalau Krisanto membunuh karena cemburu dan sakit hati, lalu punya niat jahat untuk menghabisi nyawa orang.”
Arga menghela napas panjang, menatap berkas-berkas yang menggunung di sekelilingnya. “Tanpa bukti baru, mustahil membela mereka. Kasus ini penuh duri dan tantangan, dua minggu rasanya terlalu sebentar untuk menyelesaikan semua ini.”
Dia berpikir semalaman, memutar otak mencari jalan keluar. Harus ada cara untuk membongkar semua jaringan kebohongan ini, supaya vonis mati bisa dibatalkan.
“Membela diri itu tak melanggar hukum. Tapi kalau dianggap pembunuhan berencana, hukumannya pasti mati… Masalahnya, lawan kami adalah pengacara profesional yang sangat jago dan licik,” batinnya lagi.
Keluarga Surya sama sekali tak kekurangan uang. Mereka membayar mahal jasa pengacara terbaik dari Firma Hukum Rasman Nasution & Partners—firma hukum paling elit dan paling disegani di seluruh negeri ini.
Perjuangan ini terasa begitu berat. Pengacara lawan bukan orang sembarangan yang bisa dikalahkan dengan mudah.
Sejak dulu, aturan hukum soal pembunuhan itu tegas: nyawa dibayar nyawa. Namun, garis batas antara membela diri dan melampaui batas pertahanan itu sangat sulit dibedakan di mata hukum.
Dan masalah terbesar tetap sama: tak ada bukti.
Tak ada saksi mata yang netral. Warga desa yang tahu apa yang sebenarnya terjadi, tak akan berani angkat suara demi menjaga keselamatan diri mereka sendiri.
Pisau yang ada di dalam mobil itu lenyap begitu saja, polisi pun gagal melacak jejaknya ke mana.
Apakah benar kamera-kamera di desa itu semuanya rusak? Di mana sebenarnya benda bukti itu disembunyikan?
Kalau pisau itu tak ditemukan, bagaimana caranya membuktikan kalau Krisanto membunuh bukan karena dendam atau rencana jahat, melainkan karena nyawanya sendiri sedang terancam?
Arga masih terus meneliti setiap baris tulisan di berkas-berkas itu, mencari celah atau rincian kecil yang mungkin terlewatkan orang lain. Dia sadar, kasus ini ternyata jauh lebih rumit dan sulit dibandingkan kasus-kasus yang pernah dia tangani sebelumnya.
Berita tentang kasus ini menyebar sangat cepat ke mana-mana, sampai akhirnya warga internet pun mulai sadar betapa pelik dan rumitnya masalah ini. Beragam pendapat bermunculan, semua membahas soal pembunuhan yang dilakukan Krisanto pada Surya, serta fakta bahwa istrinya adalah wanita tuna rungu dan bisu yang tak bisa bicara membela diri.
Di media sosial, kolom komentar penuh dengan perdebatan:
“Pembunuh harus mati kan? Hukum kan prinsipnya nyawa dibayar nyawa!”
“Setuju banget sama hukuman mati. Sekalipun istrinya selingkuh, membunuh tetap saja salah dan melanggar hukum.”
“Betul tuh. Kalau cemburu sampai membunuh, sama saja kamu yang salah besar di mata hukum.”
“Krisanto sih kelihatannya berani dan keren, tapi tetap saja salah membunuh. Hukuman mati itu pantas banget buat pembunuh.”
“Tunggu dulu… kayaknya kasus ini nggak sesimpel itu deh. Ada yang aneh banget rasanya. Saya lihat wawancara Krisanto, dia bilang Surya yang mau bunuh dia pakai pisau duluan, dia cuma melawan pas terdesak. Katanya juga Surya berkali-kali perkosa istrinya, bukan saling suka kayak yang orang-orang bilang!”
Di satu sisi ada yang dengan mudah menghakimi, tapi di sisi lain mulai banyak orang yang curiga ada ketidakadilan besar di sini. Kasus ini penuh tanda tanya yang belum terjawab. Setidaknya, Krisanto sendiri terus-menerus membantah soal isu perselingkuhan itu. Dia tetap tegas berkata di mana saja: dia hanya membela diri karena diancam senjata tajam.
“Emang omongan Krisanto bisa dipercaya? Surya kan udah mati, yang cerita cuma dia sendiri. Pasti dia bakal bilang dia yang benar kan biar selamat?”
“Saya lihat sih Krisanto kelihatannya agak nggak waras… apa dia memang punya gangguan jiwa? Makanya dikasih obat penenang pas lagi diwawancara polisi?”
“Emang bener Surya perkosa Yunita? Denger-denger sih Yunita yang mau-mauan lho…”
“Saya juga denger kabar kalau Yunita itu manja dan malah goda Surya duluan. Warga desa pada bilang begitu lho. Katanya dia suka cari perhatian dan sensasi.”
“Masa sih? Kok jadi makin bingung nih denger cerita beda-beda gini…”
“Ada bukti tulisan dan cap jempol Yunita kan? Mungkin beneran dia selingkuh, jadi bukan pemerkosaan seperti yang dikira orang.”
“Belum tentu juga, teman-teman… Tunggu penyelidikan lebih lanjut aja deh, jangan buru-buru menghakimi siapa pun sebelum jelas faktanya.”
Netizen jadi makin bingung dan ragu, tak tahu mana kabar yang benar dan mana yang hanya isu belaka.
Saat itulah, tiba-tiba ada seorang pengguna internet yang mengunggah cuplikan rekaman siaran langsung Arga yang terjadi sehari sebelumnya.
[Coba lihat ini semua! Ini rekaman waktu teman dekat Yunita ngomong langsung di siaran langsung Arga! Dia bilang kalau Yunita itu dipaksa keras banget, diancam nyawa anaknya, baru mau tanda tangan dan kasih cap jempol! Surya emang beneran perkosa dia berulang kali, nindas keluarga mereka sampai hancur lebur, makanya Krisanto sampai nekat begitu! Jangan cuma percaya satu sisi cerita aja ya, dengerin dulu yang ini!]
semangat author/Determined/
tapi kali ini, saya akan lawan💪
semoga endingnya nggak mengecewakan🤭