NovelToon NovelToon
Gairah Suami Kakakku

Gairah Suami Kakakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

"Celah pintu itu hanya terbuka lima sentimeter. Namun, lima sentimeter itu cukup untuk menghancurkan pernikahan sepuluh tahun. Di dalam, lampu tidur berwarna jingga membingkai siluet dua tubuh yang saling membelit dengan penuh nafsu, acuh terhadap badai yang baru saja dimulai tepat di luar pintu kamar mereka."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Sentuhan di Bawah Kabut Tipis

Sentuhan di Bawah Kabut Tipis

Kampus pagi ini terasa lebih sejuk dari biasanya, sisa hujan semalam masih meninggalkan aroma tanah yang basah. Aku sengaja datang lebih awal, memesan meja di kantin terbuka yang cukup ramai agar sandiwara ini punya penonton.

​Tak lama, pasangan "paling bahagia" itu muncul. Bella dengan gaya protektifnya merangkul lengan Raka, sementara Raka... wajahnya terlihat sangat pucat. Lingkaran hitam di bawah matanya menjelaskan segalanya: dia tidak tidur semalam. Bayanganku di loker itu pasti sukses mengaduk-aduk mimpinya.

​"Pagi, Bel! Pagi, Rak!" sapaku dengan suara paling ceria dan lugu yang pernah aku miliki. Aku tersenyum tulus, seolah kejadian "kancing kemeja" kemarin tidak pernah terjadi.

​Bella mengernyit, langkahnya melambat. "Tumben lo ramah, Rum?"

​"Iya dong. Gue udah mikir semalaman, Bel. Kalian bener, gue nggak boleh egois. Gue mau kita balik temenan kayak dulu. Gue capek musuhan terus," aku memasang wajah melankolis yang sangat meyakinkan. "Gue beliin kalian kopi nih, sebagai tanda damai."

​Raka menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada ketakutan, tapi juga ada kerinduan yang tertahan.

​"Makasih ya, Rum. Gue seneng kalau lo udah sadar," ucap Raka parau.

​"Tuh kan, Raka aja maafin gue. Lo nggak mau maafin gue, Bel?" aku menatap Bella dengan mata berkaca-kaca.

​Bella menghela napas panjang, tampaknya pertahanannya mulai goyah. "Ya udah. Tapi awas ya kalau lo macem-macem lagi."

​"Nggak akan, janji!" aku terkekeh kecil. "Sini duduk, kita bahas tugas bareng."

​Kami bertiga duduk dalam posisi yang sangat strategis. Bella di sebelah kiri Raka, dan aku tepat di depannya. Meja kantin ini memiliki taplak kain yang menjuntai panjang ke bawah, menutupi area kaki kami dari pandangan orang luar.

​"Rak, ini bagian teori lo ada yang kurang deh," ucap Bella sambil fokus menunjuk layar laptop Raka.

​Saat Bella sedang serius membaca, aku mulai melancarkan aksinya. Aku melepaskan flat shoes-ku di bawah meja. Perlahan, kaki telanjangku merayap maju, mencari kaki Raka.

​Aku menyentuhkan ibu jari kakiku ke pergelangan kaki Raka. Aku bisa merasakan tubuh Raka berjengit kaget di kursi, tapi dia segera menguasai diri karena Bella sedang menatapnya.

​"Kenapa, Rak? Kok kaget gitu?" tanya Bella heran.

​"Eh... nggak, ini... semut kayaknya. Gigit dikit," bohong Raka sambil berkeringat dingin.

​Aku tersenyum sangat manis ke arah Bella. "Makanya, Bel. Raka jangan disuruh fokus terus, kasih napas dikit."

​Di bawah meja, kakiku tidak berhenti. Aku menaikkan kakiku perlahan, menelusuri tulang kering Raka hingga ke lututnya. Aku merasakan bulu kuduk Raka meremang. Aku memberikan pijatan halus menggunakan telapak kakiku di betisnya, lalu dengan sengaja menjepit betisnya di antara kedua kakiku.

​Wajah Raka mulai memerah. Dia mencoba menyesap kopinya, tapi tangannya gemetar hebat. Cairan kopi itu hampir tumpah ke kemejanya.

​"Rak, lo sakit ya? Muka lo merah banget, terus lo keringetan parah," Bella memegang dahi Raka dengan cemas.

​"Gue... gue cuma agak gerah aja, Bel. AC-nya nggak kerasa kali ya," suara Raka semakin berat.

​Aku menopang dagu dengan kedua tangan, menatap Raka dengan tatapan yang sangat polos. "Iya ya, panas banget hari ini. Rak, lo kayaknya butuh udara segar deh. Mau gue temenin ke koperasi beli air mineral dingin?"

​"Nggak usah! Gue aja yang temenin!" sergah Bella posesif.

​"Yah, padahal gue mau nanya soal bab dua sama Raka sebentar aja," ucapku dengan nada kecewa yang dibuat-buat.

​Bella berdiri. "Bentar ya, Rak. Gue beliin minum dulu. Lo tunggu sini sama Arum, tapi AWAS ya, Rum!"

​"Iya, Bella sayang... galak amat," aku melambaikan tangan dengan santai.

Bella sedang sibuk mengurus administrasi di gedung rektorat, meninggalkan aku dan Raka untuk memfotokopi tumpukan diktat hukum yang tebalnya minta ampun. Ruang fotokopi itu kecil, terhimpit di sudut lorong, dan hanya ada satu petugas yang sedang asyik bermain ponsel di depan, membiarkan kami menggunakan mesin mandiri di bagian belakang yang tertutup sekat lemari.

​Suara mesin fotokopi yang ritmis—jrek, jrek, jrek—menjadi satu-satunya musik di antara kami. Udara AC yang dingin menusuk kulit, tapi suasana di sudut sempit itu terasa mendidih.

​"Sini, Rak. Biar gue yang susun kertasnya, lo yang masukin ke mesin," ucapku dengan nada yang sangat datar, seolah-olah aku benar-benar hanya ingin membantu.

​Raka tidak berani menatapku. Dia berdiri kaku di depan mesin. "I-iya, Rum. Cepetan ya, Bella bentar lagi balik."

​Aku berdiri tepat di sampingnya. Ruangan itu sangat sempit hingga setiap kali aku bergerak mengambil kertas, pinggulku sengaja menyerempet pahanya. Halus, seperti tidak sengaja karena keterbatasan ruang.

​"Aduh, kertasnya nyangkut ya?" tanyaku polos. Aku membungkuk di depan mesin, tepat di bawah jangkauan tangan Raka.

​Saat membungkuk, aku sengaja membelakanginya. Rok span yang kukenakan tertarik naik, memperlihatkan lekukan tubuhku dengan jelas. Aku berpura-pura kesulitan menarik kertas yang terjepit, membuat tubuhku bergerak-gerak kecil yang memberikan tekanan sugestif pada bagian depan celana Raka yang berdiri tepat di belakangku.

​"Rum... jangan gitu... berdiri, Rum," bisik Raka, suaranya sudah serak, bergetar hebat.

​Aku berdiri perlahan, membalikkan badan hingga kami kini berhadapan, hanya terpisah jarak beberapa sentimeter. Aku menatapnya dengan mata bulat yang tampak sangat lugu.

​"Kenapa, Rak? Gue cuma mau benerin mesinnya kok," ucapku lembut. Aku mengangkat tanganku, pura-pura hendak mengambil debu yang menempel di pundak kemejanya.

​Tapi, bukannya mengambil debu, jari telunjukku justru merayap perlahan ke arah lehernya. Aku menekan kuku jempolku di bagian adam’s apple-nya (jakun) yang sedang bergerak naik turun karena dia kesulitan menelan ludah.

​"Rak, kok lo keringetan? Padahal di sini dingin banget lho," bisikku. Aku mengambil selembar kertas yang masih hangat keluar dari mesin—kertas yang baru saja tercetak dan masih menyimpan suhu panas mesin.

​Aku menempelkan kertas hangat itu di pipi Raka, lalu perlahan menurunkannya ke arah dadanya. "Kertas ini anget ya, Rak? Tapi kayaknya masih kalah anget sama suhu badan lo sekarang."

​Raka memejamkan mata, kepalanya tersandar ke mesin fotokopi di belakangnya. "Rum... please..." sebuah desahan "umhhjhh" yang tertahan keluar dari celah bibirnya.

​Aku mendekat, membisikkan kata-kata yang paling mematikan tepat di lubang telinganya, sembari tanganku yang memegang kertas hangat tadi sengaja aku jatuhkan "tanpa sengaja" ke arah pangkal pahanya, membiarkan suhu panas kertas itu merambat masuk melalui kain celananya.

​"Cuma kita berdua di sini, Rak. Mesinnya berisik, nggak bakal ada yang denger kalau lo mau narik napas lebih panjang... ahhh..."

​Aku memberikan satu sentuhan terakhir: aku menjilat ujung telinganya dengan sangat cepat dan ringan, lalu segera menjauh dan kembali mengambil tumpukan kertas dengan wajah paling polos sedunia.

​"Udah selesai nih, Rak. Yuk balik, kasihan Bella nunggu," ucapku ceria seolah tidak ada satu pun hal terjadi.

​Raka masih mematung. Tangannya mencengkeram pinggiran mesin fotokopi hingga bergetar. Dia menarik napas dalam berkali-kali, wajahnya memerah padam, dan dia harus menunggu hampir tiga menit di sana hanya untuk menenangkan "gejolak" di bawah sana yang sudah benar-benar basah karena keringat dingin dan gairah yang disiksa.

​Aku berjalan keluar lebih dulu sambil tersenyum puas. Aku tahu, setiap kali Raka melihat tumpukan kertas atau mendengar suara mesin fotokopi, dia akan teringat pada sensasi panas-dingin yang baru saja kuberikan padanya.

1
gendiz
Arumnya nakal ya kak 🤭
Moms Shinbi
waduh
gendiz
aseek, makasih ya, Akhirnya Arumi ada yang mau kawal juga 😊
Moms Shinbi
q kawal sampai semua happy end thor
Moms Shinbi
cerita akhirnya siska end so pasti.psangn selingkuh happy dong..


jngan y thor
gendiz: hmmm belum tentu🤭, lihat bab selanjutnya, sudah up tapi belum lolos review nih kayaknya, jadi belum bisa terbit
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!