NovelToon NovelToon
Fy Unig

Fy Unig

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di mata tetangga apartemennya di Los Angeles, Faelynn Yosephine (26) hanyalah "perawan tua" pengangguran.

Namun, di balik pintu kamar, ia adalah penulis novel romantis papan atas yang memikat jutaan pembaca.

Dunia tenangnya terusik saat Kingsley Emerson (29 tahun), seorang agen elit CIA yang menyamar sebagai diplomat, mulai mengirim pesan misterius dengan nama akun Son_Roger.

Kingsley, yang baru saja kembali dari misi berdarah di luar negeri, terobsesi dengan detail taktik dalam tulisan Faelynn yang terlalu akurat.

Berawal dari debat teknis hingga gombalan tak terduga, Kingsley mulai memasuki hidup Faelynn, membawa bahaya nyata yang selama ini hanya Faelynn tulis di Novelnya.
.
.
Happy reading dear 🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#29

Sembilan belas tahun telah berlalu sejak Kingsley Emerson meletakkan senjatanya dan memilih untuk hidup dalam ketenangan di balik meja kantor.

Los Angeles masih tetap sama—gemerlap dan penuh mimpi—namun bagi keluarga Emerson, pusat gravitasi dunia mereka kini telah bergeser pada sosok remaja laki-laki yang mewarisi semua sifat dominan sang ayah, namun dengan sentuhan kelicikan lidah ibunya.

Pagi itu, di ruang makan penthouse yang masih semewah dulu, seorang pemuda berdiri di depan cermin besar dekat pintu masuk. Ia memiliki perawakan tinggi tegap, persis seperti Kingsley di masa jayanya. Rahangnya tegas, bahunya lebar, dan cara berjalannya memiliki otoritas alami yang sulit diabaikan.

Namanya adalah Jagad Emerson. Remaja berusia 18 tahun itu mengenakan seragam High School internasionalnya dengan gaya yang bisa dibilang... urakan. Kerah baju yang tidak dikancing sempurna dan tas yang hanya disampirkan di satu bahu.

"Mom... aku akan pulang telat malam ini. Aku mau ke markas," ucap Jagad sambil meraih kunci motor sportnya di atas meja. Ia mendekati Faelynn yang sedang menyesap teh paginya.

Faelynn Emerson tampak hampir tidak menua. Di usianya yang sekarang, ia justru terlihat lima tahun lebih muda, sebagian besar karena ia selalu dibuat tertawa atau terpesona oleh kata-kata manis putra sulungnya.

"Markas? Bukankah kau bilang minggu lalu markas itu sudah diubah jadi tempat belajar kelompok?" Faelynn menaikkan alisnya, mencoba bersikap tegas namun gagal saat Jagad mencium pipinya dengan lembut.

"Belajar strategi, Mom. Strategi untuk menjadi pria sehebat Daddy," jawab Jagad dengan kerlingan mata nakal yang membuat Faelynn hanya bisa menghela napas pasrah.

"Pulang cepat, jangan sampai menginap."

Suara itu bukan berasal dari Faelynn. Itu adalah suara bariton yang berat dan penuh wibawa dari arah ruang kerja. Kingsley Emerson muncul dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Meski rambutnya mulai menampakkan warna perak di sisi-sisinya, tatapan matanya masih setajam silet.

Jagad segera menegakkan posisinya. Jika ada satu orang di dunia ini yang bisa membuat si pemberontak Jagad tunduk, itu adalah ayahnya. "Baik, Dad. Jam sepuluh aku sudah di rumah."

Kingsley menatap putranya lama, seolah bisa membaca setiap rencana nakal di balik mata cokelat Jagad. "Pastikan kata-katamu bisa dipegang, Jagad. Aku tidak ingin menjemputmu di kantor polisi lagi seperti bulan lalu."

"Siap, Kapten," Jagad memberi hormat singkat sebelum melesat keluar pintu, meninggalkan aroma maskulin yang sangat mirip dengan ayahnya.

Di area parkir sekolah yang dipenuhi mobil-mobil mewah, Jagad memarkirkan motor besarnya dengan presisi. Di sana, dua sahabat karibnya sudah menunggu. Bara, remaja dengan tubuh atletis yang selalu tampak tenang, dan William, yang lebih ekspresif dan impulsif. Mereka adalah lingkaran dalam Jagad, trio yang paling disegani sekaligus ditakuti di sekolah itu.

Suasana pagi itu tampak tegang. William langsung menghampiri Jagad begitu kakinya turun dari motor.

"Gad, kabar buruk. Ryan masuk IGD semalam," ucap William dengan nada rendah namun penuh amarah. "Anak-anak dari SMA sebelah mencegatnya di dekat blok barat. Mereka pakai senjata tajam."

Jagad melepas helmnya, menyugar rambutnya yang sedikit berantakan. Matanya yang tadinya penuh tawa saat bersama ibunya, kini berubah menjadi dingin dan datar. Persis seperti tatapan 'Roger' saat sedang menjalankan misi belasan tahun lalu.

"Parah?" tanya Jagad singkat.

"Patah tulang rusuk dan luka robek di lengan. Dia hampir mati kalau Satpam komplek nggak datang," timpal Bara sambil menyandarkan punggungnya di kap mobil.

William mengepalkan tangannya. "Apa kita akan menyerang sekolah mereka, Gad? Anak-anak sudah panas. Mereka cuma nunggu perintah dari lo."

Jagad terdiam sejenak, memutar kunci motor di jarinya. Ia teringat janji pada ayahnya untuk tidak masuk kantor polisi lagi, namun ia juga mewarisi sifat Emerson yang tidak pernah membiarkan keluarganya—atau teman-temannya—tersentuh tanpa balasan.

"Kita serang nanti sore," ucap Jagad akhirnya, suaranya tenang namun mengandung ancaman yang nyata. "Pastikan semua anggota berkumpul di titik biasa. Jangan ada yang membawa senjata api, kita bukan kriminal. Tapi pastikan mereka tahu rasanya menyentuh anggota kita."

"Gue suka gaya lo," William menyeringai puas.

...----------------...

Beberapa kilometer dari sana, di sebuah komplek perumahan elit yang tenang dan asri, suasana jauh berbeda. Di salah satu balkon rumah mewah yang bergaya arsitektur modern, seorang gadis berusia 19 tahun duduk dengan kaki bersilang.

Namanya Callista Zuri. Ia adalah mahasiswi tahun pertama di Fakultas Desain, tipe gadis yang lebih suka menghabiskan waktu dengan pola kain dan gunting daripada berpesta di klub malam. Wajahnya cantik dengan aura kemandirian yang kuat. Kulitnya putih bersih, kontras dengan kain sutra merah yang sedang ia potong dengan teliti.

Namun, fokusnya terganggu. Suara knalpot motor yang memekakkan telinga dan teriakan-teriakan provokasi mulai terdengar dari arah jalan raya di bawah sana.

Callista meletakkan guntingnya, mendengus kesal. Ia bangkit dan melangkah ke tepi balkon. Dari ketinggian itu, ia memiliki pemandangan jelas ke arah gerombolan remaja berseragam SMA yang sedang saling kejar. Ia melihat beberapa dari mereka membawa penggaris besi yang dipasah tajam dan gir motor yang diikat rantai.

"Sok jagoan," cibir Callista sambil memainkan gunting di tangannya, matanya menatap tajam ke arah kerumunan bodoh di bawah sana. "Nanti pulangnya nangis gara-gara berakhir di kantor polisi, baru tahu rasa. Badan krempeng aja belagu mau tawuran."

Callista menggelengkan kepala melihat pemandangan sampah itu. Baginya, keberanian bukan soal siapa yang paling keras memukul atau siapa yang paling banyak membawa massa. Keberanian adalah soal bagaimana tetap waras dan fokus pada masa depan di tengah usia remaja yang penuh godaan bebas.

"Kalau saja aku ada di bawah sana sekarang," gumamnya dengan nada mengancam, "aku tidak akan segan-segan menyiram mereka dengan air atau melempar mereka dengan tongkat bisbol. Benar-benar perusak pemandangan."

Callista kembali ke kursinya, mencoba mengabaikan kebisingan itu. Namun, di dalam hatinya, ia merasa sebuah keresahan yang aneh. Seolah-olah badai yang sedang terjadi di bawah sana akan segera mengetuk pintunya.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto: sama2👌👍
total 2 replies
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
ren_iren
kembalikan king dan faelynn😂
Ros 🍂: maafkan author Buntu 😭🤣🙏🏼
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍
ren_iren
dan tetiba king and faelyn berubah jd gadis angkat jemuran... dirimu kak, ada2 aja.... 😂😂😂
Ros 🍂: Nanti saya revisi kak, biar masuk cerita nya, Makasih Kak 🫶🙏🥰
total 3 replies
winpar
lnjut thorrr
Ros 🍂: siap kak🫶
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍👍
Ros 🍂: ma'aciww kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!