Zee Chou, atau yang dikenal dengan nama panggung Choi Heesung, adalah idola K-Pop paling populer dan dicintai jutaan penggemar. Di atas panggung, ia bersinar sempurna, tampan, dan memiliki citra bersih yang dijaga sangat ketat. Namun di balik kemegahan itu, ia menyembunyikan satu kenyataan pahit: warisan perusahaan keluarga yang terancam bangkrut. Demi menyelamatkan segalanya, Zee terpaksa menyetujui pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan—menikahi Park Hye-ri, gadis biasa dan sederhana, putri sahabat orang tuanya yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia hiburan.
Pernikahan ini hanyalah sebuah kesepakatan di atas kertas, rahasia yang harus dijaga mati-matian dari publik dan penggemar. Tidak ada cinta, tidak ada perasaan, hanya kewajiban dan aturan ketat. Bagi Zee, Hye-ri hanyalah kewajiban yang mengganggu karir cemerlangnya. Bagi Hye-ri, Zee hanyalah idola dingin, angkuh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao Eunbi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang Masa Lalu dan Janji yang Terinjak
Ruang rapat utama agensi terasa sedingin ruang mayat. Udara di dalamnya begitu padat dan menyesakkan, penuh dengan amarah, tekanan, dan ketegangan yang meluap-luap. Di ujung meja panjang itu, Choi Heesung duduk diam, wajahnya pucat namun matanya tetap menatap lurus ke depan dengan tekad yang tak tergoyahkan. Di sampingnya, ayahnya dan manajer utama berdiri dengan wajah cemas.
Pemimpin agensi, Tuan Kang, menggebrak meja dengan keras, suaranya menggelegar marah.
"Kau gila, Heesung?! Apakah kau tidak sadar posisimu saat ini? Kau adalah aset terbesar kami! Harapan seluruh staf, anggota grup, dan keluargamu! Dan kau berani-beraninya mau mengumumkan hubungan asmara di puncak karirmu?! Kau mau menghancurkan semuanya?!"
"Aku tidak menghancurkan apa pun, Tuan Kang," jawab Heesung tenang namun tegas. "Aku hanya ingin jujur pada diriku sendiri dan pada penggemar. Wanita itu... dia segalanya bagiku. Tanpa dia, aku mungkin sudah menyerah bertahan di industri ini sejak lama."
"Omong kosong!" Tuan Kang berdiri tegak, menatap tajam ke arah pintu ruang rapat yang terbuka perlahan. "Kau pikir kau satu-satunya yang punya pilihan? Kau pikir kau bisa berbuat sesuka hati? Ingat, Heesung... kami yang membangunmu dari nol. Dan kami pun bisa menghancurkanmu kembali menjadi nol dalam sekejap."
Pintu itu terbuka lebar.
Dan di situlah dia berdiri.
Seorang wanita dengan penampilan yang mempesona, rambut panjang bergelombang indah, pakaian berkelas, dan wajah yang sangat familiar. Wanita itu tersenyum manis, senyum yang penuh percaya diri dan sedikit keangkuhan.
Jung Soo-ah.
Nama itu melintas di benak Heesung seperti petir menyambar. Wanita ini... kekasih pertamanya, wanita yang pernah menduduki seluruh isi hatinya bertahun-tahun lalu, wanita yang memilih pergi meninggalkannya saat Heesung masih berjuang di titik terendah karirnya demi mengejar ketenaran di luar negeri.
"Soo-ah..." gumam Heesung pelan, matanya membelalak tak percaya.
Wanita itu melangkah masuk dengan anggun, berjalan mendekati Heesung dan berhenti tepat di samping kursinya. Ia menatap Heesung lekat-lekat, lalu tersenyum lembut seolah mereka baru berpisah kemarin saja.
"Sudah lama tidak bertemu, Zee Chou. Kau makin bersinar saja rupanya," ucap Soo-ah dengan suara merdu dan menggoda.
Tuan Kang kembali bersuara, nada bicaranya berubah menjadi senyum licik.
"Kau lihat, Heesung? Ini solusi yang paling sempurna. Jung Soo-ah, aktris papan atas, wanita yang pernah menjadi kekasihmu dan memiliki hubungan indah denganmu di masa lalu. Dia baru saja pulang dari luar negeri, dan kami sudah sepakat... kalian akan mengonfirmasi hubungan asmara kalian kembali. Gosip tentang wanita misterius di Pulau Jeju itu akan hilang, digantikan oleh berita romantis kembalinya pasangan emas industri hiburan."
Heesung bangkit berdiri dengan kasar, wajahnya merah padam menahan amarah yang meluap.
"Apa?! Tidak mungkin! Aku tidak mencintai Soo-ah lagi! Dan wanita di Pulau Jeju itu adalah Hye-ri, istriku! Aku tidak akan berbohong dan mempermainkan perasaan publik seperti ini!"
Tapi ayahnya, Tuan Chou, tiba-tiba maju ke depan dan menatap putranya dengan tatapan memohon namun tajam.
"Heesung, dengarkan Ayah. Dengar baik-baik. Perusahaan kita sudah di ambang kehancuran. Hutang menumpuk, dan saham kita anjlok parah setelah berita kemarin keluar. Satu-satunya cara menyelamatkan nama keluarga, menyelamatkan agensi, dan menyelamatkan karirmu... adalah ini."
Tuan Chou menatap mata putranya dalam-dalam, mengucapkan kalimat yang menjadi pisau tajam bagi hati Heesung.
"Dan ingat satu hal, Nak... Pernikahanmu dengan Park Hye-ri itu hanyalah kontrak. Hanyalah kertas. Kalian berdua sama-sama tahu itu. Tidak ada cinta di sana, kan? Kau sendiri yang bilang itu dulu. Jadi... apa salahnya menyembunyikan sedikit lebih lama? Apa salahnya membiarkan hubungan itu tetap rahasia sampai kondisimu stabil kembali?"
"ADA!" Heesung hampir berteriak, suaranya parau. "Ada bedanya, Ayah! Sekarang semuanya berbeda! Aku mencintai Hye-ri! Dia bukan sekadar kertas bagiku lagi!"
"Kalau kau benar-benar mencintainya," potong Soo-ah tiba-tiba, suaranya lembut namun menusuk, "kalau kau benar-benar peduli padanya... maka jangan biarkan nama wanita itu dicemari. Jangan biarkan dia dihujat jutaan orang, dipanggil perebut laki orang, atau diancam keselamatannya. Kau tahu kan bagaimana kerasnya dunia ini pada wanita di samping idola? Kau ingin dia terluka?"
Kalimat itu menohok tepat di ulu hati Heesung.
Ia teringat wajah Hye-ri yang lembut, ketakutan wanita itu akan sorotan dunia, dan ancaman bahaya yang akan menimpa istrinya jika identitasnya terbongkar. Ia membayangkan Hye-ri dihujat, dicaci, diancam... dan rasa takut itu lebih menyakitkan daripada rasa sakit apa pun.
Tuan Kang memanfaatkan kebisuan itu secepat kilat.
"Keputusan ada di tanganmu, Heesung. Pilihanmu: Mengaku menikah dan menghancurkan segalanya—karirmu, perusahaan, masa depan keluargamu, dan keselamatan wanita yang kau katakan kau cintai—atau... menyembunyikan pernikahan itu, berpura-pura kembali bersama Soo-ah sementara waktu, dan menyelamatkan semuanya. Ingat... ini hanya sementara. Hanya sampai badai ini lewat."
Heesung berdiri kaku di tempatnya. Napasnya tersengal berat. Di kepalanya, pertempuran hebat terjadi antara hatinya dan akal sehatnya. Antara janjinya pada Hye-ri, dan rasa takutnya akan bahaya yang mengancam wanita itu.
Ia teringat kata-katanya kemarin: Aku memilihmu. Selamanya aku memilihmu.
Tapi kini... demi melindungi wanita itu, apakah ia harus mengkhianatinya? Apakah ia harus menjadi penjahat di mata Hye-ri demi menjaganya tetap aman?
Heesung menundukkan kepalanya. Bahunya gemetar hebat. Rasa sakit di dadanya begitu perih, seolah jantungnya sedang dicabut paksa.
"Aku mengerti..." jawab Heesung lirih, suaranya terdengar mati rasa dan hancur. Ia mengangkat wajahnya, matanya yang dulu berkilau penuh cinta kini redup dan basah. "Aku akan melakukan apa yang kalian minta. Aku akan menyembunyikan pernikahanku. Aku akan berpura-pura bersama Soo-ah. Tapi ingat... ini hanya sementara. Dan jangan sekali-kali menyakiti rambut pun dari kepala Hye-ri."
Soo-ah tersenyum menang, matanya berkilat penuh kemenangan. Ia tahu, bagaimanapun juga, posisinya sebagai kekasih lama selalu memiliki tempat istimewa.
"Bagus," ucap Tuan Kang puas. "Besok kita akan menggelar konferensi pers. Kau akan membantah isu wanita misterius itu, dan mengonfirmasi hubunganmu dengan Nona Jung Soo-ah."
Sore itu, langit di atas kediaman besar itu terlihat kelabu dan mendung, persis seperti hati Hye-ri yang mulai merasa gelisah luar biasa.
Ia menunggu di ruang tengah, menunggu kepulangan Heesung dengan cemas. Jam dinding berdetak lambat, seolah memperlama siksaan batinnya. Pikirannya penuh dengan ketakutan, membayangkan segala kemungkinan buruk yang terjadi pada suaminya itu.
Pintu depan akhirnya terbuka.
Heesung masuk. Namun, bukan Heesung yang dikenalnya seminggu terakhir ini. Bukan Heesung yang datang berlari memeluknya, bukan Heesung yang matanya bersinar saat melihatnya.
Heesung berjalan masuk dengan langkah berat, punggungnya membungkuk seolah memikul beban dunia. Wajahnya pucat pasi, matanya merah dan bengkak, dan di belakangnya... berjalan masuk sosok wanita asing yang sangat cantik, berjalan dengan angkuh dan penuh percaya diri.
Hye-ri bangkit berdiri perlahan, jantungnya berdegup kencang karena firasat buruk yang semakin menjadi-jadi.
"Heesung..." panggil Hye-ri pelan, matanya beralih dari wajah suaminya ke wanita itu. "Siapa dia?"
Heesung berhenti beberapa langkah di depan Hye-ri. Ia tidak berani menatap mata istrinya. Ia memalingkan wajah, menatap lantai dengan pandangan kosong dan menyakitkan.
"Dia... dia Jung Soo-ah," jawab Heesung dengan suara yang berat dan serak. "Dia mantan kekasihku."
Hye-ri mundur selangkah, tubuhnya terasa dingin dan kaku. "Mantan kekasihmu... kenapa dia ada di sini? Kenapa kau membawanya ke rumah kita?"
Soo-ah maju selangkah, menyela dengan senyum manis namun tajam.
"Rumah kita? Maaf ya, Nona... tapi rumah ini adalah kediaman resmi keluarga Chou. Dan mulai sekarang, aku akan sering ke sini. Bahkan... aku mungkin akan tinggal di sini untuk sementara waktu."
Hye-ri menatap Heesung dengan tatapan tak percaya, matanya mulai berkaca-kaca.
"Apa maksudnya ini, Heesung? Apa yang terjadi di agensi? Kau bilang kau akan melindungiku. Kau bilang kau akan memilihku. Apa yang terjadi?!"
Heesung mengangkat wajahnya perlahan. Matanya penuh rasa sakit, namun bibirnya melengkung membentuk senyum dingin yang dipaksakan—topeng yang harus ia kenakan demi menjalankan keputusan berat ini.
"Keputusan sudah diambil, Hye-ri," ucap Heesung datar, suaranya tidak memiliki kehidupan sama sekali. "Agensi, ayahku, dan semua pihak sepakat... satu-satunya cara menyelamatkan karirku, menyelamatkan perusahaan, dan mencegahmu terkena kebencian publik... adalah kita harus kembali ke posisi semula."
Heesung menelan ludah susah payah, rasa bersalahnya hampir membunuhnya, tapi ia teruskan demi alasan yang ia yakini benar: melindungi Hye-ri dari dunia luar yang kejam.
"Pernikahan kontrak ini... rahasianya harus dikunci lebih rapat lagi. Tidak ada lagi kemesraan. Tidak ada lagi aku yang memanggilmu sayang. Tidak ada lagi kita."
Hye-ri merasa seolah tanah terbelah di bawah kakinya. Air matanya jatuh deras tanpa bisa ditahan. Ia menggeleng kuat-kuat, tidak percaya dengan apa yang didengar telinganya.
"Kau bohong... Kau berjanji, Heesung! Kau bilang dinding itu sudah runtuh! Kau bilang kau mencintaiku! Kau bilang kau akan memilihku daripada dunia!" teriak Hye-ri parau, suaranya pecah menahan tangis.
Heesung memejamkan matanya rapat-rapat, menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia harus menjadi jahat. Ia harus menjadi penjahat. Jika tidak, Hye-ri tidak akan pergi, dan Hye-ri akan terluka lebih parah nantinya.
Ia membuka matanya kembali, menatap Hye-ri dengan tatapan sedingin es, tatapan yang membunuh semua harapan wanita itu.
"Perasaan itu... hanyalah kebodohan sesaat. Aku hanya merasa kasihan padamu. Aku hanya bosan. Kau pikir aku benar-benar bisa mencintai wanita sepertimu? Wanita biasa, tidak ada apa-apanya, tidak berguna selain menjadi jaminan kontrak?"
Kalimat itu meluncur dari mulutnya, setiap kata terasa seperti belati yang menikam jantungnya sendiri lebih dulu sebelum menusuk hati Hye-ri.
Heesung menunjuk pintu dengan tangan gemetar.
"Kita berdua sama-sama tahu posisi kita, Hye-ri. Kau istri kontrakku. Dan dia... Soo-ah... dia adalah wanita yang pantas berdiri di sampingku di dunia ini. Jadi mulai sekarang, ingat tempatmu. Tetaplah di bayang-bayang. Jangan menampakkan diri. Dan jangan pernah berpikir kau memiliki tempat di hatiku lagi. Karena hatiku... sudah kembali milik Soo-ah."
Soo-ah tersenyum puas, lalu berjalan mendekat ke arah Heesung dan merangkul lengannya dengan akrab, seolah memamerkan kemenangannya.
"Kau dengar itu, Nona Park? Sudah seharusnya kau sadar dari awal. Burung gereja tidak akan pernah bisa bersanding dengan elang. Sekarang... silakan masuk ke kamarmu, atau pergi ke mana saja. Asalkan jangan menghalangi kami."
Hye-ri berdiri di sana, hancur lebur. Rasanya ia ingin mati saat itu juga. Semua janji indah, semua momen manis, semua kata cinta... ternyata hanya asap belaka. Ternyata ia benar-benar hanya istri kontrak. Ternyata ia hanyalah tempat persinggahan sementara sampai kekasih sejati sang idola kembali.
Air matanya mengalir deras, membasahi pipinya yang pucat. Ia menatap Heesung untuk terakhir kalinya, menatap pria yang ia cintai lebih dari nyawanya sendiri, pria yang baru saja meremukkan hatinya menjadi debu.
"Baiklah..." jawab Hye-ri dengan suara lirih yang penuh kepedihan mendalam. "Aku mengerti sekarang. Terima kasih... sudah membukakan mataku."
Hye-ri berbalik perlahan, berjalan dengan langkah gontai dan gemetar menaiki tangga menuju kamarnya. Di belakangnya, ia mendengar suara tawa renyah Soo-ah dan suara Heesung yang diam membisu, tidak memanggilnya, tidak menahannya, tidak melakukan apa pun.
Begitu pintu kamarnya tertutup dan dikunci dari dalam, Hye-ri akhirnya runtuh. Ia merosot jatuh ke lantai, memeluk lututnya dan menangis sejadi-jadinya, menumpahkan semua rasa sakit, kecewa, dan hancur yang dirasakannya.
Di bawah sana, di ruang tamu, Heesung berdiri diam. Begitu pintu kamar Hye-ri tertutup, begitu suara tangis istrinya samar terdengar dari atas... kaki Heesung langsung lemas. Ia merosot jatuh bersandar ke dinding, menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis dalam diam, menangis lebih perih daripada Hye-ri.
Ia rela dibenci. Ia rela dianggap pengkhianat. Ia rela menghancurkan dirinya sendiri... asalkan wanita yang dicintainya itu aman, terlindungi, dan jauh dari bahaya dunia yang kejam ini.
"Maafkan aku, Hye-ri... Maafkan aku..." batin Heesung meraung dalam hati. "Tunggu aku sebentar saja. Tunggu sampai badai ini berlalu. Saat itu nanti... aku akan berlutut di hadapanmu seumur hidupku untuk meminta maaf. Dan aku akan membuktikan padamu... bahwa cintaku padamu adalah satu-satunya kebenaran yang kumiliki."
Namun, Heesung tidak tahu... bahwa rasa sakit yang ia berikan hari ini... mungkin terlalu dalam untuk bisa disembuhkan nanti. Dan ia tidak tahu... bahwa Soo-ah tidak akan membiarkannya hidup tenang, dan rahasia pernikahan mereka terancam terbongkar oleh orang yang tidak disangka-sangka.