Di sebuah kota modern, ada sebuah toko antik yang hanya muncul saat hujan deras. Pemiliknya bukan manusia, dan barang yang ia jual bukan benda mati, melainkan "waktu" yang hilang dari masa lalu pembelinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke masa lalu
Aris merasakan tenggorokannya tercekat. Melihat Sonia berdiri di sana—hidup, tersenyum, dan mengenakan syal kuning yang dulu ia hadiahkan—membuat napasnya seolah berhenti. Ia ingin berlari dan memeluknya, tapi peringatan Elias terngiang jelas: Jangan sentuh dirimu di masa lalu.
Ia melihat truk besar itu muncul di tikungan. Kecepatannya tidak wajar.
"Sonia! Aris! Menepi! CEPAT KE TROTOAR!" teriakan Aris menggelegar, membelah kebisingan jalanan.
Aris masa lalu tersentak. Ia menoleh ke arah sumber suara, tampak bingung karena melihat seseorang yang sangat mirip dengannya namun terlihat jauh lebih dewasa dan berantakan. Namun, teriakan itu berhasil. Karena kebingungan itu, Aris masa lalu menarik lengan Sonia untuk berhenti melangkah lebih jauh ke tengah aspal.
BRAKKKK!
Truk itu melesat hanya beberapa sentimeter di depan ujung sepatu mereka, menghantam tiang listrik dengan dentuman yang memekakkan telinga. Debu dan serpihan kaca beterbangan.
Sonia jatuh terduduk, syok, tapi ia selamat. Aris masa lalu memeluknya erat, wajahnya pucat pasi.
Aris yang sekarang berdiri di seberang jalan, air mata mengalir di pipinya. Ia berhasil. Ia mengubah takdir itu. Namun, tiba-tiba rasa sakit yang luar biasa menghujam jantungnya. Kulit tangannya mulai mengerut, rambutnya yang hitam legam berubah menjadi abu-abu dalam hitungan detik. Napasnya menjadi berat dan sendi-sendinya terasa kaku.
Sepuluh tahun masa depannya baru saja direnggut paksa sebagai bayaran.
"Sudah waktunya," sebuah suara dingin berbisik di telinganya.
Pemandangan jalanan itu mulai memudar, tersedot masuk ke dalam pusaran warna abu-abu. Saat kesadarannya kembali, Aris sudah terduduk di lantai kayu Toko Kembali. Elias berdiri di depannya, memegang botol kaca yang kini berisi asap hitam pekat.
Aris mencoba berdiri, tapi tubuhnya terasa jauh lebih berat dari sebelumnya. Ia melihat pantulan dirinya di jam saku yang tergeletak di meja. Wajahnya kini tampak seperti pria berusia akhir tiga puluhan, dengan gari-garis lelah yang permanen di bawah matanya.
"Kau menyelamatkannya," kata Elias datar. "Tapi kau harus tahu satu hal, Aris. Setiap lubang yang kau tutup di masa lalu, akan membuka lubang baru di tempat lain. Waktu tidak suka dicurangi."
Tiba-tiba, pintu toko terbuka dengan keras. Seorang wanita masuk dengan napas tersengal-sengal. Aris membeku. Wanita itu adalah Sonia, tapi dia tampak jauh lebih tua dari yang seharusnya, dan di tangannya, ia memegang sebuah foto tua yang menunjukkan Aris sedang berdiri di depan toko kayu ini.
"Elias!" teriak wanita itu. "Aku ingin menukar sisa hidupku. Kembalikan dia! Kembalikan Aris yang hilang sepuluh tahun lalu!"
Aris terperangah. Apa yang terjadi? Mengapa Sonia mencarinya seolah-olah ia sudah menghilang selama sepuluh tahun?
Aris merasa dunianya berputar. Kalimat Sonia barusan tidak masuk akal. Ia baru saja menyelamatkan Sonia, tapi mengapa wanita itu bicara seolah-olah Aris sudah menghilang selama satu dekade?
Aris mencengkeram tepi meja counter yang dingin, menahan tubuhnya yang terasa kaku dan menua. Ia menatap tajam ke arah Elias.
"Elias, apa maksudnya ini?" bisik Aris dengan suara yang kini terdengar lebih berat dan serak. "Aku menyelamatkannya lima tahun lalu. Aku hanya pergi selama beberapa menit! Mengapa dia bilang aku hilang sepuluh tahun? Apa yang kau lakukan?!"
Elias tidak bergeming. Ia hanya menatap botol berisi asap hitam di tangannya dengan raut wajah datar.
"Aku sudah memperingatimu, Aris. Waktu tidak suka dicurangi," sahut Elias pelan. "Kau membayar sepuluh tahun untuk kembali ke masa lalu. Kau pikir sepuluh tahun itu diambil dari 'akhir' hidupmu nanti? Tidak. Waktu mengambilnya secara linear."
Mata Aris membelalak. "Maksudmu..."
"Bagi dunia luar, kau menghilang tepat saat kau menghembuskan napas ke dalam botol ini," lanjut Elias. "Kau melompati sepuluh tahun dalam sekejap mata. Bagimu ini hanya beberapa menit, tapi bagi Sonia, kau menghilang tanpa jejak di tengah hujan sepuluh tahun yang lalu. Kau dianggap hilang, atau mati."
Aris lemas. Ia menyelamatkan nyawa Sonia, tapi sebagai gantinya, ia membiarkan Sonia hidup dalam kesedihan dan ketidakpastian selama sepuluh tahun tanpa dirinya. Ia memberikan nyawa, tapi merampas kehadiran.
Sonia masih berdiri di dekat pintu, tidak menyadari kehadiran pria "tua" di balik rak itu. Ia tampak hancur, memegang foto lama mereka dengan jemari yang gemetar.
"Elias!" teriak Sonia lagi, air mata jatuh ke lantai kayu. "Toko ini adalah legenda terakhir yang aku punya. Kau bilang kau bisa mengembalikan yang hilang. Ambil sisa hidupku, aku tidak peduli. Kembalikan Aris!"
Elias menoleh ke arah Aris, seolah memberikan pilihan tanpa kata-kata
Aris menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang kini terasa lebih berat di dadanya yang menua. Ia menatap tangan keriputnya, lalu menatap wajah Sonia yang penuh guratan kesedihan. Jika ia mengaku sekarang, ia hanya akan menambah beban hidup Sonia—Sonia akan merasa bersalah karena telah membuat Aris kehilangan masa mudanya demi menyelamatkannya.
Aris melangkah keluar dari balik bayangan rak, tapi ia sengaja membungkukkan bahunya agar terlihat lebih tua.
"Nona..." suara Aris keluar, serak dan tenang, sangat berbeda dengan suara Aris yang Sonia kenal sepuluh tahun lalu.
Sonia tersentak, ia menyeka air matanya dan menatap pria tua yang berdiri di dekat Elias. "Siapa Anda? Apakah Anda... bekerja di sini?"
Aris tersenyum tipis, sebuah senyum yang ia sembunyikan di balik tangannya. "Bukan. Saya hanya seorang pengembara yang kebetulan mengenal Aris. Kami bertemu di... tempat yang sangat jauh."
Langkah Sonia tertahan. "Anda mengenal Aris? Di mana dia? Kenapa dia tidak pulang?"
Aris mendekat, namun tetap menjaga jarak agar Sonia tidak melihat matanya terlalu jelas. "Dia tidak bisa kembali, Sonia. Tapi dia menitipkan pesan padaku. Dia bilang, kecelakaan di jalan raya sepuluh tahun lalu itu adalah kesempatan kedua yang ia berikan untukmu. Dia ingin kau menggunakan kesempatan itu untuk hidup, bukan untuk mencarinya di tempat-tempat gelap seperti toko ini."
Sonia terdiam, tubuhnya gemetar. "Bagaimana Anda tahu tentang kecelakaan itu? Tidak ada yang tahu bahwa ada seseorang yang berteriak memperingatkan kami hari itu..."
"Dia selalu menjagamu," potong Aris lembut. "Dia memberikan apa yang dia miliki agar kau bisa melihat matahari hari ini. Jika kau terus mengurung diri dalam kesedihan, maka pengorbanannya akan sia-sia."
Aris merogoh sakunya dan menemukan saputangan tua miliknya yang masih tersisa. Ia meletakkannya di atas meja counter. "Pergilah, Sonia. Hiduplah dengan bahagia. Itu satu-satunya bayaran yang diinginkan Aris."
Sonia menatap saputangan itu, lalu menatap pria tua di hadapannya dengan tatapan penuh tanya. Ada sesuatu yang akrab, namun logikanya menolak. Setelah keheningan yang panjang, Sonia mengambil saputangan itu, mengangguk pelan, dan berjalan keluar menuju pintu.
Begitu pintu tertutup dan lonceng berdenting, Aris terduduk lemas di lantai.
Elias mendekat, menatap botol asap hitam yang kini mulai memudar. "Pilihan yang berani. Kau menyelamatkan hidupnya dua kali: sekali dari maut, dan sekali dari rasa bersalah."
Aris menatap pintu kayu hijau itu. "Lalu sekarang, apa yang terjadi padaku, Elias? Aku tidak punya masa depan untuk ditukar lagi."
Elias menyimpan jam saku ke dalam sakunya. "Toko ini selalu butuh asisten yang mengerti nilai dari setiap detik. Kau sudah kehilangan duniamu, Aris. Bagaimana kalau kau membantuku menjaga gerbang ini untuk mereka yang tersesat berikutnya?"
Aris menatap ruangan yang penuh dengan jam pasir dan aroma melati itu. Ia tidak lagi memiliki tempat di dunia luar yang sudah berjalan sepuluh tahun tanpanya. Ia perlahan berdiri, merapikan rompinya, dan menatap Elias.
"Sebutkan tugas pertamaku," ucap Aris mantap
sesuatu yg berlebihan itu tidak baik, meskipun dengan niat untuk menolong ..
andai waktu bisa di putar ....
ah sudahlah
baru bab 1 z udah menarik ini bikin penasaran, lanjut thor