Lin Xiaoxi tewas kelaparan, namun jiwanya digantikan oleh Chu Yue, Putri Tabib jenius dari masa kuno. Terbangun di tubuh gadis desa miskin, ia dibekali Ruang Dimensi berisi herbal ajaib untuk mengubah nasibnya.
Di kota, sang penguasa Mo Yan sedang sekarat karena penyakit aneh yang tak tersembuhkan. Takdir mempertemukan mereka di jalanan, di mana satu tusukan jarum Xiaoxi menyelamatkan nyawa sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19 十九
Pagi itu, suasana di kediaman Mo Yan terasa sedikit lebih sibuk dari biasanya. Mo Yan, yang sudah tampil rapi dengan setelan kasual namun tetap terlihat sangat berkelas, berdiri di depan pintu laboratorium Xi'er. Ia telah memutuskan bahwa asisten medisnya, dan juga adik kecilnya A-Chen tidak bisa terus-menerus memakai pakaian yang itu-itu saja. Meskipun Xi’er selalu merasa cukup dengan baju-baju sederhananya, bagi seorang Mo Yan, penampilan adalah representasi dari siapa yang berada di bawah perlindungannya.
"Xi'er, segera bersiap. Kita akan pergi ke tempat bernama Mal." ucap Mo Yan singkat saat pintu otomatis terbuka.
Xi'er yang sedang sibuk merapikan botol-botol bubuknya di sabuk kulit pemberian Mo Yan, mendongak dengan alis bertaut. "Mal? Tempat macam apa itu? Apakah itu semacam hutan terlarang atau tempat ujian nyali bagi para pendekar? Mengapa kau terlihat begitu serius?"
A-Chen, yang sedang asyik bermain dengan mobil-mobilan pemberian Zuo Fan, ikut berdiri dengan mata berbinar. "Kakak, apakah di sana ada banyak mainan?"
Mo Yan tersenyum tipis, sebuah pemandangan yang kini mulai sering terlihat. "Bisa dibilang begitu, A-Chen. Itu adalah labirin besar yang terbuat dari kaca dan besi, tempat orang-orang menukar kepingan emas mereka dengan barang-barang indah."
"Hmph! Tempat pemujaan harta ternyata." gumam Xi'er ketus, namun ia tetap melangkah mengikuti Mo Yan. Ia tidak lupa memastikan sabuk senjata kimianya tersembunyi dengan baik di balik tunik panjangnya. Baginya, pergi ke tempat yang asing tanpa membawa Bubuk Tarian Cacing Panas adalah tindakan bunuh diri.
Perjalanan menuju pusat kota memakan waktu tiga puluh menit. Begitu mobil mewah Mo Yan berhenti di depan sebuah bangunan raksasa dengan dinding kaca yang memantulkan cahaya matahari, mulut Xi'er sedikit terbuka. Ia menatap gedung itu dari bawah ke atas, merasa seolah-olah gedung itu akan tumbang menimpanya kapan saja.
"Bagaimana manusia di sini bisa menumpuk kaca setinggi ini tanpa bantuan mantera pengeras?" bisik Xi'er saat mereka mulai melangkah masuk.
Namun, tantangan pertama Xi'er muncul tepat di depan matanya Eskalator.
Xi'er membeku di depan tangga yang bergerak sendiri itu. Matanya membelalak melihat orang-orang dengan santainya menginjakkan kaki di sana dan terbawa ke atas. Baginya, itu bukan sekadar tangga, melainkan lidah raksasa dari monster besi yang sedang menelan manusia satu per satu.
"Tuan kaku! Kau ingin membunuhku?!" seru Xi'er sambil menarik ujung jas Mo Yan dengan kuat. "Lihat tangga itu! Dia hidup! Dia bergerak sendiri seperti ular piton raksasa! Aku tidak akan menginjakkan kakiku di atas punggung monster itu!"
Orang-orang yang lewat mulai menoleh, beberapa mulai berbisik sambil menutupi mulut mereka, menertawakan gadis yang dianggap kampungan itu. Mo Yan merasakan amarah mulai merayap di dadanya saat melihat tatapan merendahkan itu. Tanpa banyak bicara, ia menggenggam tangan Xi'er dengan sangat erat, sebuah genggaman yang kuat namun memberikan rasa aman yang luar biasa.
"Ini bukan monster Xi'er. Ini hanya mesin. Kau adalah Tabib Agung yang bisa membedah beruang gunung, masa kau kalah oleh sebuah tangga?" ucap Mo Yan dengan nada rendah yang menenangkan. "Pegang tanganku, tutup matamu jika kau takut. Aku tidak akan membiarkanmu jatuh."
Xi'er merasakan panas menjalar dari telapak tangan Mo Yan ke seluruh tubuhnya. Dengan gemetar, ia melangkah. Satu... dua... dan hap! Mereka sudah berada di atas eskalator. Xi'er mencengkeram lengan Mo Yan begitu kuat hingga kuku-kukunya hampir menembus kain jas mahal itu. A-Chen, di sisi lain, justru tertawa kegirangan seolah sedang menaiki wahana permainan.
"Kau lihat? Kita sudah sampai di atas." bisik Mo Yan tepat di telinga Xi'er saat mereka mendarat di lantai dua.
Xi'er membuka satu matanya, lalu mengembuskan napas panjang. "Sialan! Jantungku hampir melompat keluar! Kota ini benar-benar penuh dengan sihir hitam yang tidak masuk akal!"
Masalah berikutnya muncul saat mereka memasuki sebuah butik pakaian internasional yang sangat mewah. Lantainya berkilau seperti cermin, membuat Xi'er harus berjalan dengan sangat hati-hati karena takut terpeleset. Di sekelilingnya, berjejer manekin-manekin tanpa kepala yang mengenakan gaun-gaun cantik.
Xi'er berhenti di depan salah satu manekin dan memicingkan mata. "Tuan kaku, kenapa orang-orang di sini sangat pucat dan tidak punya kepala? Apakah mereka dikutuk karena terlalu sering menghamburkan uang di tempat ini?"
Vania yang ikut mendampingi berusaha menahan tawa. "Itu manekin Nona Xi'er. Patung untuk memajang baju."
"Patung?" Xi'er menyentuh permukaan manekin itu dengan curiga. "Dingin sekali. Aku pikir mereka adalah roh-roh yang diperbudak untuk berdiri selamanya."
Seorang pelayan toko dengan riasan tebal dan seragam ketat mendekat. Ia menatap penampilan Xi'er yang sederhana, hanya memakai celana longgar dan tunik tradisional, lalu menatap Mo Yan yang terlihat seperti pangeran. Ia berasumsi bahwa Xi'er mungkin hanya seorang pengasuh atau saudara jauh dari desa yang membebani sang CEO.
"Maaf Tuan." ucap pelayan itu dengan nada yang dibuat-buat manis namun matanya menatap sinis pada Xi'er. "Koleksi di bagian depan ini sangat terbatas dan harganya sangat tinggi. Mungkin nona ini lebih cocok melihat koleksi diskon di bagian belakang agar tidak merusak kain sutranya dengan... tangan yang kasar."
Suasana seketika menjadi dingin. Mo Yan melepaskan genggaman tangannya dari Xi'er, namun auranya mendadak berubah menjadi sangat mematikan. Ia menatap pelayan itu dengan pandangan yang sanggup membekukan seluruh butik.
"Ulangi apa yang kau katakan?" tanya Mo Yan dengan suara pelan namun menggelegar.
Pelayan itu mulai gemetar, menyadari bahwa ia baru saja membangunkan naga yang salah. "M-maksud saya... kain ini sangat sensitif, Tuan..."
Xi'er, yang sejak tadi sudah menahan diri, maju selangkah. Ia mencium aroma parfum pelayan itu yang sangat menyengat dan langsung mengerutkan hidung. "Kau bicara tentang tangan yang kasar? Kau tahu, tanganku ini sudah menyelamatkan nyawa yang lebih banyak daripada jumlah helai rambut di kepalamu yang penuh bahan kimia itu!"
Xi'er kemudian merogoh sabuknya, mengambil sebuah botol kecil berisi bubuk transparan. "Tuan kaku, biarkan aku memberikan sedikit tip kecantikan padanya."
"Xi'er jangan." sela Mo Yan. Xi'er mendengus, mengira Mo Yan akan membelanya, tapi kalimat Mo Yan selanjutnya justru lebih kejam. "Jangan membuang bubukmu yang berharga pada orang yang tidak berharga. Biarkan aku yang menyelesaikannya."
Mo Yan menoleh pada manajer toko yang baru saja datang dengan wajah pucat. "Siapa nama pelayan ini?"
"N-namanya Karina, Tuan Mo" jawab manajer itu terbata-bata.
"Mulai detik ini, Karina tidak boleh lagi bekerja di seluruh jaringan ritel di bawah naungan Mo Group dan aliansinya. Dan untuk butik ini..." Mo Yan menjeda kalimatnya, matanya menyapu seluruh ruangan. "Zuo Fan, beli seluruh koleksi di lantai ini. Bungkus semuanya untuk Nona Lin. Jika ada satu helai benang pun yang tertinggal, aku akan menutup toko ini selamanya."
Seluruh butik menjadi sunyi senyap. Karina si pelayan toko jatuh terduduk di lantai, menyadari bahwa kariernya benar-benar berakhir hanya karena satu penghinaan.
Xi'er justru melotot. "Membeli semuanya?! Tuan kaku, kau gila! Aku hanya punya satu tubuh, bagaimana aku bisa memakai ribuan kain ini?! Dan di mana aku akan menyimpannya? Di laboratoriumku tidak ada tempat untuk kain-kain tak berguna ini!"
"Kau bisa memakainya satu baju setiap jam jika kau mau." jawab Mo Yan santai, seolah baru saja membeli permen. "Dan soal tempat penyimpanan, aku akan membangunkan ruangan khusus di kantorku hanya untuk pakaianmu."
A-Chen menarik-narik tangan Xi'er. "Kakak, aku lapar! Aku ingin makan sesuatu yang ada gambarnya di kotak sihirmu!"
Mereka akhirnya berpindah ke area restoran di lantai atas. Xi'er kembali dibuat pusing dengan buku menu yang menggunakan bahasa asing. Ia menunjuk sebuah gambar minuman berwarna-warni yang terlihat seperti pelangi.
"Aku ingin air ajaib ini!" seru Xi'er. "Kenapa airnya bisa berlapis-lapis warna tanpa tercampur? Apakah ini mantera pemisah unsur?"
Saat makanan datang, Xi'er kembali melakukan hal yang nyeleneh. Ia mengeluarkan jarum perak dari balik bajunya dan menusukkannya ke dalam makanan Mo Yan sebelum sang CEO sempat menyuap.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Mo Yan bingung.
"Memastikan tidak ada racun!" jawab Xi'er serius. "Tempat ini terlalu ramai, sangat mudah bagi musuhmu untuk menaruh bubuk pelumpuh di dalam sup ini. Di duniaku... maksudku, di tempat asalku, jamuan besar adalah tempat pembantaian yang paling efisien."
Mo Yan menatap jarum perak Xi'er, lalu menatap orang-orang di sekitar yang menatap mereka dengan heran. Ia tidak merasa malu sebaliknya, ia merasa ada kehangatan yang menjalar di hatinya. Di dunia yang penuh dengan kepalsuan ini, hanya Xi'er yang begitu tulus memikirkan keselamatannya, bahkan dengan cara yang dianggap gila oleh orang lain.
"Tidak ada racun di sini Xi'er. Hanya ada banyak kalori yang akan membuatmu mengantuk." ucap Mo Yan sambil menarik tangan Xi'er agar berhenti menusuk-nusuk makanannya.
Setelah makan, mereka melewati toko mainan raksasa. A-Chen berlari masuk dan terpesona melihat sebuah istana plastik yang sangat besar. Xi'er melihat harganya dan langsung berteriak.
"Sepuluh juta keping perak hanya untuk rumah-rumahan plastik ini?! Tuan kaku, ayo pergi! Ini perampokan terang-terangan! Aku bisa membuatkan A-Chen istana dari bambu asli yang jauh lebih kuat dari ini!"
Mo Yan justru mengabaikan protes Xi'er. Ia mengangkat A-Chen dan mendudukkannya di bahunya. "Jika kau suka, istana ini milikmu. Zuo Fan, kirimkan satu yang paling besar ke kediaman."
"Yeay! Paman Mo adalah pahlawan!" seru A-Chen kegirangan.
Xi'er hanya bisa memegangi kepalanya yang mulai berdenyut. "Kalian berdua benar-benar akan membuat peradaban ini bangkrut. Manusia modern benar-benar gila harta dan benda plastik!"
Sambil berjalan menuju tempat parkir, Xi'er tanpa sadar menggandeng tangan Mo Yan lagi saat melewati eskalator turun. Ia menatap tumpukan tas belanjaan yang dibawa oleh beberapa staf toko di belakang mereka.
"Tuan kaku." panggil Xi'er pelan.
"Hmm?"
"Meskipun tempat ini sangat bising dan penuh dengan orang-orang sombong berwajah cat... terima kasih. A-Chen terlihat sangat bahagia. Dan aku... aku rasa aku tidak terlalu benci dengan sihir tangga berjalanmu itu."
Mo Yan berhenti melangkah, menatap wajah Xi'er yang terkena pendar lampu mal. Di bawah cahaya buatan itu, Xi'er terlihat sangat cantik dengan kejujurannya yang murni. Mo Yan mendekat, tangannya yang besar merapikan beberapa helai rambut Xi'er yang berantakan.
"Dunia ini memang luas dan kadang menakutkan Xi'er. Tapi selama kau berada di sampingku, kau tidak perlu takut pada tangga berjalan, pelayan sombong, atau apa pun. Aku akan memastikan duniamu selalu aman."
Xi'er terdiam, matanya terpaku pada mata Mo Yan yang biasanya sedingin es kini berubah menjadi sangat hangat. Ia segera memalingkan wajahnya yang memerah padam, berusaha menutupi detak jantungnya yang berdebar jauh lebih kencang daripada saat ia menaiki eskalator tadi.
"Dasar pria kaku! Bicaramu terlalu banyak gula, lama-lama kau bisa kena penyakit kencing manis! Cepat jalan, aku ingin segera pulang dan meracik bubuk pahit untuk menetralkan hatiku yang aneh ini!"
Mo Yan terkekeh pelan, mengikuti langkah cepat Xi'er yang berusaha menyembunyikan rasa malunya. Di balik kemegahan mal itu, sebuah ikatan yang lebih kuat dari sekadar tabib dan pasien mulai terjalin, sebuah rahasia yang bahkan belum berani mereka akui sendiri.
Makasih double up nya othor tayaaaangg/Kiss/