"Saya nikahkan engkau dengan Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin satu set perhiasan emas dan uang seratus juta rupiah di bayar tunai"
"Saya terima nikah Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin tersebut tunai" sahut Xena.
"Sah"
" Sah"
Air mata Rasti mengalir deras. Dengan cepat ia mengusapnya agar tak terlihat oleh ibu dan adiknya. Sementara itu Budi ayah Xena tersenyum senang. Namun berbeda dengan Mira istrinya ,raut wajahnya menunjukkan ketidaksenangan melihat pernikahan putranya. Namun ia sebisa mungkin menutupinya.
"Selamat ya Nak, kini kau sudah menjadi seorang istri." ucap Siti, ibu Rasti sambil memeluk putrinya.
Rasti hanya bisa mengangguk pelan. Sungguh ini suatu mimpi buruk baginya. Ia tak pernah mengira akan menikah dengan pria yang sama sekali belum mengenalnya bahkan untuk melihat juga belum pernah.
"Siti, terima kasih atas semuanya. Akhirnya hutangku pada sahabatku lunas. Kini aku akan menjaga Rasti seperti putriku sendiri." Ujar Budi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irh Djuanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai perhatian
Lorong rumah sakit terasa dingin. Xena duduk menunduk di kursi tunggu. Kedua tangannya menggenggam erat sampai buku-buku jarinya memutih. Sementara Mira berjalan mondar-mandir dengan wajah penuh cemas.
Budi hanya diam, namun sesekali menatap pintu ruang pemeriksaan dengan nafas berat. Sudah hampir tiga puluh menit. Tapi bagi Xena rasanya sudah berjam-jam. Setiap detik terasa menyiksa. Tidak lama waktu berselang Pintu itu akhirnya terbuka.
Xena langsung berdiri paling cepat, "Dok, bagaimana istri saya?"
Dokter wanita itu melepas maskernya perlahan. Wajahnya terlihat tenang, membuat semua orang sedikit bernafas lega.
"Ibu dan bayinya selamat."
Kalimat itu membuat tubuh Xena melemas seketika. Ia sampai harus menahan diri agar tidak jatuh terduduk lagi.
"Tapi pasien mengalami kontraksi ringan akibat kelelahan dan store berlebihan," lanjut dokter itu serius.
Dokter langsung berpindah menatap ke Xena, "Kehamilan muda sangat sensitif. Kalau ibunya mengalami tekanan emosional seperti ini terus, kondisinya bisa membahayakan kandungan."
DEG
Xena terdiam. Karena ia sadar,bahwa dialah penyebab semua ini.
"Bisakah kami menemuinya?" tanya Mira cepat.
Dokter mengangguk, "Satu orang dulu. Pasien masih lemah."
Hening sesaat.
"Kau saja,"
Mira dan Budi langsung menoleh. Xena juga terlihat terkejut.
"Kau suaminya," lanjut Mira pelan.
Xena menatap ibunya cukup lama. Ada ras bersalah bercampur haru di sana. Namun ia tidak berkata apa-apa. Ia langsung melangkah menuju ruangan itu. Tangannya sempat berhenti di gagang pintu. Perasaan takut kembali datang.
Namun perlahan ia membuka pintu itu. Ruangan terasa redup dan tenang. Rasti terbaring di ranjang rumah sakit. Wajahnya pucat. Infus terpasang di tangannya.
Xena berjalan mendekat perlahan. Mendengar langkah kaki, Rasti membuka matanya sedikit. Tatapannya langsung menemukan Xena. Tidak ada keterkejutan di sana. Seolah ia sudah tau Xena yang akan datang.
"Maaf..." ucap Xena lirih,
Rasti menatap diam.
"Aku membuatmu sampai seperti ini," lanjutnya.
Xena duduk perlahan di kursi samping ranjang. Kali ini ia tidak menyentuh Rasti. Ia mengingat batas itu. Namun matanya tidak bisa berbohong.
Rasanya, ia ingin sekali memeluk dan membelai Rasti yang terbaring lemah.
"Aku hampir kehilangan kalian..." bisiknya lagi.
Rasti mengalihkan pandangannya ke langitan beberapa detik, lalu kembali menatap suaminya.
"Xena."
"Iya?"
"Jangan meminta maaf terus."
Xena terdiam sejenak, "Aku..."
"Buktikan."
DEG
"Buktikan jika kau benar-benar ingin memperbaikinya..."
Xena langsung menatapnya. Untuk pertama kalinya Rasti tidak menolak. Tapi belum juga menerima. Dan Xena tau, kesempatan itu masih ada.
"Aku akan membuktikannya."
***
Hari-hari berlalu. Xena selalu menjaga Rasti selama di rumah sakit. Ia sengaja meninggalkan urusan pekerjaan demi tetap berada di sisi Rasti. Bahkan untuk hal kecil sekalipun, Xena melakukannya sendiri. Mengambil air minum, membantu mengatur bantal. Sampai memastikan obat Rasti diminum tepat waktu. Namun Rasti masih sama. Tenang. Tidak marah. Tapi juga tidak benar-benar membuka dirinya.
Pagi itu, sinar matahari masuk melalui jendela kamar rawat. Rasti sedang duduk bersandar sambil membaca buku kehamilan yang diberikan Mira. Sesekali tangannya menyentuh perutnya pelan.
Pintu terbuka perlahan. Xena masuk membawa kantong makanan hangat di tangannya.
"Aku membeli sarapan," ucapnya pelan.
Rasti menoleh sekilas, lalu kembali melihat bukunya, "Terima kasih."
Xena mendekat ke meja kecil di samping ranjang. Ia mengeluarkan satu per satu isi kantong itu dengan hati-hati.
"Bubur ayam tanpa bawang. Dan jus jeruk hangat. Kata dokter kau harus makan dulu sebelum minum obat."
Rasti sedikit terdiam. Xena mengingat semuanya.
Hal kecil yang dulu bahkan jarang ia perhatikan.
"Aku bisa makan sendiri," ucap Rasti pelan.
Xena mengangguk cepat, "Iya. Aku cuma menyiapkannya."
Tidak memaksa. Tidak membantah. Rasti meliriknya sekilas. Xena terlihat lelah. Matanya sedikit merah seperti kurang tidur. Kemejanya bahkan kusut.
"Kau tidak pulang?" tanya Rasti tiba-tiba.
Xena yang sedang membuka sendok plastik langsung berhenti.
"Aku di sini."
"Selama dua hari?"
Xena mengangguk kecil, "Aku takut sesuatu terjadi lagi."
Hening.
Rasti menunduk pelan. Entah kenapa dadanya terasa sesak mendengar nada suara itu. Bukan karena kasihan. Tapi karena untuk pertama kalinya ia melihat ketakutan nyata di mata Xena.
Pintu kembali terbuka. Mira dan Budi masuk sambil membawa beberapa barang dari rumah.
"Wah, menantuku sudah bangun rupanya," ucap Mira mencoba mencairkan suasana.
Rasti tersenyum kecil, "Ma."
Budi mendekat lalu menatap Xena yang masih berdiri di dekat meja.
"Kau belum mandi?" tanyanya heran.
Xena menggeleng pelan.
Budi menghela nafas kasar, "Dasar keras kepala."
Namun kali ini tidak ada amarah dalam nada suaranya. Mira justru memperhatikan sesuatu. Semangkuk bubur di meja. Obat yang sudah disusun rapi. Dan Xena yang berdiri menjaga jarak dari Rasti. Mira diam sesaat. Ia sadar, putranya benar-benar sedang berusaha.
"Xena," panggil Mira pelan.
"Iya, Ma?"
"Pulanglah sebentar. Mandi dan ganti baju. Mama yang akan menjaga Rasti."
Xena langsung menggeleng, "Tidak usah. Aku masih bisa di sini."
"Xena," kali ini Budi yang bicara tegas. "Kau mau menjaga istrimu dalam keadaan seperti pengemis?"
Rasti refleks menahan senyum kecil mendengar ucapan itu. Dan untuk pertama kalinya sejak masuk rumah sakit, Xena melihat senyum kecil itu lagi.
DEG
Xena langsung terdiam menatap Rasti. Senyum itu kecil sekali. Bahkan cepat menghilang. Tapi cukup membuat dada Xena terasa hangat. Rasti yang sadar sedang diperhatikan langsung mengalihkan wajahnya cepat.
"Aku baik-baik saja dijaga Mama," ucap Rasti pelan.
Xena menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil.
"Kalau begitu... aku pulang sebentar."
Sebelum pergi, langkah Xena kembali berhenti di sisi ranjang. Ia tidak menyentuh Rasti. Tidak juga mendekat terlalu jauh.
"Aku kembali secepatnya," katanya pelan.
Rasti tidak menjawab cepat. Namun beberapa detik kemudian ia mengangguk kecil. Dan hal sederhana itu saja sudah cukup membuat Xena pergi dengan hati yang sedikit lebih tenang.
***
Di ruangan hanya tinggallah Mira, Budi yang menemani Rasti. Mira mengupas buah apel yang dibawanya tadi, Budi membereskan sisa makanan yang ada di lemari nakas.
"Bagaimana perutmu, Nak. Apakah sudah baikan?" tanya Mira pelan.
Rasti mengangguk pelan, "Berkat Xena, Rasti sudah lebih baik, Ma."
Mira tersenyum tipis, "Kau sudah memaafkan dia?"
Rasti terdiam sejenak, "Rasti sudah memaafkannya. Dan Rasti memberikan kesempatan Xena untuk membuktikan kesungguhannya."
Mira tersenyum senang. Ia tahu Rasti bukan orang yang egois.
"Ma..."
"Iya?"
"Bolehkah Rasti berkunjung ke rumah ibu?"
Mira meletakkan pisaunya di nakas. Lalu menggenggam tangan Rasti lembut.
"Kau merindukan ibumu?" tanya Mira lembut, meskipun ia tau jawabannya.
Rasti mengangguk pelan.
"Mama akan menemani mu,"
"Papa juga."
Mira dan Rasti langsung menoleh.