Bertemu kembali dengan Althan Alaric, mantan pacarnya yang sekarang menjadi aktor terkenal, bukanlah kabar baik bagi Vivi. Ia berusaha menjauh, tapi pria itu seolah sengaja mendekatinya untuk membalas dendam.
Vivi bisa memahami alasan Althan bersikap demikian. Namun masalahnya bukan itu. Jika Althan terus berada di dekatnya, Vivi takut pria itu akan mengetahui keberadaan Mikaila, anak yang dirahasiakan Vivi selama ini. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Sanggupkah Vivi terus menyembunyikan anak itu dari sang superstar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HANA ADACHI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 : Kenangan Indah
"Apapun yang terjadi, aku akan selalu ada di samping kamu, Althan,"
"Pembohong!" Althan melemparkan bantal ke sembarang arah dengan wajah kesal. Nafasnya ngos ngosan, terlihat jelas sekali kalau dia sedang marah.
Ucapan Vivi yang pernah ditujukan padanya beberapa tahun lalu tiba-tiba muncul lagi di pikirannya. Dan entah kenapa hal itu membuat hati Althan terasa panas.
"Dasar wanita bermulut manis, munafik! Dia pasti mengatakan hal yang sama pada pacar barunya, huh!"
Althan tidak tau kenapa dia tiba-tiba menjadi kesal sekali. Padahal, setelah Vivi meninggalkannya dulu, dia sudah bertekad untuk menghapus perasaannya pada Vivi. Tapi kenapa sekarang dia merasa marah karena tau Vivi punya pacar?
"Nggak, nggak, aku bukannya marah karena dia sudah punya pacar," Althan berusaha meyakinkan diri sendiri. "Aku marah karena dia terlihat baik baik saja padahal sudah menyakiti hatiku segitunya,"
Pria itu lantas bangkit dari ranjang, dan berjalan ke jendela kaca besar yang menunjukkan pemandangan kota di malam hari.
"Aku hanya nggak ikhlas, karena dia bisa punya kehidupan yang bahagia setelah dia menghancurkanku,"
Kedua tangan Althan terkepal dengan kuat. "Tenang saja Vivi, sampai dendam ku terbalas, kamu tidak akan pernah merasakan kebahagiaan sedikit pun,"
***
"Sayang..."
Pagi pagi sekali, Vivi sudah menjemput Mikaila di rumah Rika. Mikaila langsung loncat loncat kesenangan dan menghampiri Vivi.
"Mama!"
"Aduh, anakku yang pinter.. Kamu semalem nggak ngerepotin mamanya Rika, kan?"
"Nggak kok Vi, anakmu itu nurut banget loh," Anita yang menjawab. "Dia malah mengajari Rika cara menggosok gigi dengan benar, cuci kaki dan tangan sebelum tidur, padahal sebelum sebelumnya, Rika nggak pernah mau melakukannya,"
Vivi tersenyum. "Makasih loh mbak, karena sudah mau menjaga Mikaila. Aku benar-benar nggak tau harus berterimakasih kaya gimana lagi,"
"Aduh, udahlah Vi, nggak usah bicara begitu. Aku kan sudah bilang, aku melakukannya dengan senang hati, karena aku pun merasa berterimakasih karena Mikaila mau berteman dengan Rika,"
"Tapi kan tetep aja nggak enak akunya mbak, setiap hari harus merepotkan kamu,"
"Apanya yang ngerepotin sih, Vi? Orang anakmu sepintar dan senurut ini kok. Pokoknya, jangan sungkan sungkan ya. kalau besok besok kamu perlu pergi kerja sampe malam lagi, bilang saja. Aku akan menjaga Mikaila di sini,"
"Makasih ya Mbak,"
"Mama, mama," Mikaila menarik narik ujung lengan Vivi, membuat Vivi langsung menoleh. "Bos jahat mama sudah nggak marah lagi sama mama, makanya mama sudah boleh pulang?"
Vivi tersenyum sembari mengusap kepala Vivi. "Iya, kerjaan mama sudah selesai, jadi mama sudah boleh pulang. Nanti malam, kita bisa tidur bareng lagi,"
"Asikkkkk!" Mikaila mengangkat kedua tangannya karena gembira. "Aku mau dibacain buku cerita!"
"Oke. Ya sudah, sekarang pamit dulu sama Rika dan mamanya,"
"Iya Ma!" Mikaila menganggukkan kepala, lalu ia menghadap ke arah Anita dan Rika.
"Tante Anita, makasih ya sudah mau menampung Mikaila tidur tadi malam," ucap gadis kecil itu, yang membuat Anita dan Vivi sontak tertawa.
"Menampung apanya? Itu namanya menginap, Mikaila," Anita membetulkan. "Makasih juga ya, karena Mikaila mau mengajari Rika cara gosok gigi dan cuci kaki sebelum tidur,"
"Sama sama Tante," Mikaila lalu mendekati Rika dan memeluknya. "Rika, aku pulang dulu ya,"
"Iya, nanti telepon aku ya,"
"Oke siap,"
"Dadah..."
"Dah.."
Dan begitulah drama pamitan anak anak umur lima tahun itu berakhir. Setelah itu, mereka pun pulang ke rumah.
Karena hari ini Roni bilang tidak perlu datang, jadi Vivi memutuskan untuk memasak setelah sekian lama. Bukan memasak yang mewah, hanya nasi goreng spesial yang banyak topingnya seperti udang dan cumi. Meski hanya sederhana, tapi Mikaila sangat menyukainya.
"Wah, nasi goreng spesial dari Mama! Enak banget!" Mikaila berulang kali mengacungkan jempol setiap ia menyuapkan nasi goreng ke mulut. "Masakan Mama memang yang terbaik!"
Vivi tertawa. "Kamu nggak usah lebay, deh. Mama kan cuma bisa masak nasi goreng doang, sayang.."
"Ya nggak papa Ma.. Meskipun harus makan nasi goreng seumur hidup, asal sama Mama, aku mau kok!"
Ucapan Mikaila sontak membuat Vivi terhenyak. Sebenarnya, apa yang diucapkan Mikaila hanya celotehan anak kecil biasa, tapi entah kenapa, hal itu langsung membawa Vivi kepada kenangan beberapa tahun lalu.
..."Gimana, enak?" Vivi bertanya penuh harap pada Althan yang sedang mencicipi nasi goreng buatannya. "Aku liat resepnya dari buku, nggak tau deh enak apa nggak," lanjutnya dengan wajah sedikit khawatir. ...
...Althan tidak menjawab. Pria itu tampak sibuk merasakan butir demi butir nasi yang ia santap, wajahnya terlihat sangat serius, seolah dirinya sekarang adalah seorang Chef yang sedang menilai masakan bawahannya. ...
..."Ih, Althan, jangan diem aja dong," Vivi memukul pelan bahu Althan, sedikit merajuk. ...
...Althan tertawa. "Kamu mau aku bilang jujur apa bohong?"...
...Vivi menggigit bibir. "Rasanya nggak enak, ya?"...
...Althan meletakkan sendok ke atas piring. "Kalau boleh berkata bohong aku akan bilang kalau nasi goreng buatan kamu ini enakkkkk bangetttt,"...
...Mata Vivi langsung melotot. "Jadi beneran nggak enak?!"...
...Wajah gadis itu langsung terlihat lesu. "Tuh, kan, aku emang nggak bakat masak sama sekali,"...
..."Eh, eh, nggak, bukan gitu sayang, aku cuma bercanda tadi," melihat wajah Vivi yang terlihat sedih, membuat Althan langsung kelimpungan. "Aku bohong. Sebenarnya, masakan kamu ini enak kok,"...
..."Ck, gimana sih? Jadi yang bener enak apa nggak?" Vivi jadi emosi. ...
..."Enak sih, tapi..." Althan sengaja menggantungkan Kalimatnya, membuat Vivi menjadi makin kesal. ...
..."Ck, udahlah, kamu banyak bohongnya," Vivi hendak beranjak pergi dari sana, tapi Althan buru buru menahan lengannya. ...
..."Sayang... jangan marah dong... aku kan cuma bercanda.." Althan berusaha membujuk. ...
..."Gini ya Althan, aku emang seneng kalau kamu ajak aku bercanda, tapi jangan bercanda terus menerus, aku juga bisa capek tau," Vivi mengerucutkan bibir. ...
..."Iya iya, aku tau aku salah, maafin aku ya..." Althan memeluk Vivi dengan lembut. "Aku bercanda tadi.. Masakan kamu tuh beneran enak banget, suer deh,"...
..."Beneran?" Vivi menatap Althan dengan wajah penuh harap. ...
..."Iya, beneran, aku berani bersumpah,"...
..."Kalau misalnya aku jualan nasi goreng, menurut kamu bakalan laku nggak?"...
...Althan langsung kelabakan. "Eng, kalau menurut aku, sebaiknya jangan deh,"...
...Vivi mengerutkan dahi. "Kenapa jangan?"...
..."Soalnya..." Althan tampak bersiap dengan reaksi Vivi, ia memundurkan langkah. "Aku takut mereka keracunan,"...
...Mata Vivi langsung terbelalak. "Althan, kamu tuh, ya! bener bener deh!"...
...Althan tertawa terbahak-bahak. Vivi mengejarnya, dan Althan berusaha menghindar sembari menjulurkan lidah. Saat jarak mereka sudah dekat, Althan menangkap tubuh Vivi ke dalam pelukannya. ...
..."Kamu tenang saja. Meskipun seumur hidup aku harus makan nasi goreng, asalkan sama kamu, aku udah sangat bahagia,"...
...Vivi memukul pelan dada Althan. "Dasar gombal," Meski begitu, ia tak menyangkal jika perkataan itu membuat pipinya memerah. ...
Kala itu, meskipun kemesraan mereka hanya sesaat, dengan sedikit mencuri waktu di sela sela istirahat sebagai pelayan restoran, mereka sudah sangat bahagia. Seakan dunia hanya milik berdua, dan mereka akan bersama selamanya.
Tanpa mereka tau, kalau takdir kejam akan memisahkan mereka dengan paksa.
Vivi menghela napas panjang. Kenangan itu membuat dadanya terasa sesak. Ia menatap ke arah putrinya yang sedang asyik menyantap nasi goreng.
Setidaknya, aku punya Mikaila, sebagai bukti kalau cinta kita pernah nyata, Althan...
semoga althan segera tau kebenaran ny ,, klo vivi ninggalin dy krn Selina ,,
mungkin vivi di bawah ancaman Selina ,,
next kak
kalau kamu g membuat mereka berpisah juga g bakalan mereka pisah😡
/Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle/
sebenarnya vivi juga pengin ngaku kalau Mikaila anak althan, tapi dia takut kejadian masa lalu terulang kembali.
harusnya Vivi terus terang kenapa dia dulu ninggalin althan, biar althan kasih pelajaran sama wanita serakah itu kalau kebahagiaan althan sama Vivi g bakalan menghambat karirnya.
yang bukan dari harga, tapi dari nilainya siapa yang memberi dan kenanganny😭😭😭😭
sabar vi semua pasti akan terungkap tanpa harus kamu bicara