NovelToon NovelToon
Buku Harian Keyla

Buku Harian Keyla

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Fantasi Wanita
Popularitas:773
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

Keyla, seorang mahasiswi berparas menawan dengan hati yang begitu lugu, menghabiskan bertahun-tahun masa remajanya hanya untuk mengejar punggung seorang pria yang tak ubahnya bongkahan es di kutub terdalam: Rendi.
Sejak hari pertama di bangku kelas 3 SMA, Keyla telah menambatkan hatinya secara mutlak. Namun, Rendi bukanlah pangeran dongeng yang siap menyambut cintanya. Di tengah rasa putus asa akibat penolakan Rendi yang terus-menerus, hadir sosok Indra, pria hangat yang merengkuh Keyla saat ia hancur. Mampukah Keyla bertahan ketika dunia dan sahabatnya sendiri berkonspirasi untuk menghancurkannya? Dan akankah Rendi, sang pria gunung es, menyadari bahwa ia telah mematahkan hati satu-satunya wanita yang bersedia mati untuknya, sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Ternyata

​"Indra ada di sana saat duniaku runtuh, menadah air mataku dengan kedua tangannya yang hangat tanpa pernah mengeluh. Ia menawarkan surga yang diimpikan semua wanita. Tapi mengapa, ya Tuhan... mengapa di dalam pelukannya yang paling aman sekalipun, hatiku yang keras kepala ini tetap buta mencari bayangan sosokmu yang telah membuangku ke dasar jurang?" (Buku Harian Keyla, Halaman 118)

​Hujan mengguyur kaca mobil sedan mewah milik Indra dengan brutal, menciptakan tirai air yang mengaburkan gemerlap lampu jalanan ibu kota. Di dalam kabin mobil yang kedap suara dan beraroma maskulin yang menenangkan itu, hanya terdengar suara isakanku yang sesekali memecah keheningan, berpadu dengan alunan musik instrumental bernada rendah yang sengaja Indra putar untuk meredam kecanggunganku.

​Sejak kami meninggalkan kafe di Kemang, Indra tidak mengucapkan sepatah kata pun. Laki-laki itu menyetir dengan satu tangan bertumpu santai di kemudi, sementara tangan kirinya terulur di atas konsol tengah, sengaja diletakkan di sana agar jika aku butuh sesuatu untuk digenggam, tangannya selalu tersedia. Sebuah gestur pelindung yang begitu natural dan tidak memaksa.

​Aku menyandarkan kepalaku di kaca jendela yang dingin. Kelopak mataku terasa tebal dan panas. Ponsel ibuku yang layarnya retak dan tak lagi bernyawa itu masih tergenggam erat di pangkuanku, layaknya sebuah nisan portabel yang selalu mengingatkanku pada kalimat kematian itu.

​Maaf, jangan ganggu saya.

​Setiap kali empat kata itu terngiang di kepalaku, dadaku kembali berdenyut ngilu. Rendi telah memenggal seluruh harapanku. Ia telah mengusirku dari orbit kehidupannya dengan cara yang paling absolut. Di matanya, aku bukanlah seorang gadis yang tulus mencintainya; aku hanyalah lalat pengganggu yang terus berdengung di telinganya saat ia sedang berjuang mati-matian melawan kerasnya dunia.

​Mobil Indra berbelok memasuki kompleks perumahanku yang sepi. Deretan lampu taman yang kekuningan menyambut kami. Indra menghentikan mobilnya tepat di depan pagar besi rumahku yang menjulang tinggi, namun ia tidak langsung mematikan mesinnya.

​Ia membiarkan mesin mobil tetap menyala, menjaga agar AC tetap mengembuskan udara hangat ke arahku yang masih menggigil samar.

​Aku menarik napas panjang yang terdengar bergetar, lalu menoleh ke arahnya. "Makasih banyak ya, Ndra. Maaf malam ini aku udah ngerusak suasana kumpul-kumpul kalian. Aku bener-bener minta maaf karena kamu harus repot-repot nganterin aku pulang dalam keadaan kacau begini."

​Indra tidak langsung menjawab. Ia mematikan musik instrumental di head unit mobilnya, lalu memutar tubuhnya sepenuhnya menghadapku. Lampu jalanan menyorot separuh wajahnya, memperlihatkan garis rahangnya yang mengeras dan sorot matanya yang memancarkan sebuah kepedihan yang sangat dalam. Kepedihan yang bukan miliknya, melainkan kepedihan karena melihat orang yang ia sayangi hancur.

​"Key," panggil Indra dengan suara baritonnya yang parau dan sangat lembut.

​Aku menunduk, tak sanggup menatap matanya yang begitu tulus. "Aku masuk dulu ya, Ndra. Hati-hati di jala—"

​"Sampai kapan kamu mau menyiksa diri kamu sendiri kayak gini?" potong Indra pelan, tangannya bergerak cepat menahan pergelangan tanganku saat aku hendak membuka seatbelt. Sentuhannya sangat berhati-hati, seolah takut aku akan hancur menjadi debu jika ia mencengkeramnya terlalu kuat.

​Aku terdiam kaku.

​"Aku mungkin nggak tahu persis apa isi pesan di handphone itu," lanjut Indra, matanya menyapu wajahku yang sembab, lalu turun ke arah ponsel rusak di pangkuanku. "Dan aku juga nggak mau maksa kamu buat cerita kalau kamu belum siap. Tapi aku nggak buta, Keyla. Aku tahu siapa yang udah bikin kamu menangis sampai sesak napas di lorong toilet tadi. Cowok itu lagi, kan? Rendi."

​Mendengar nama itu disebut oleh Indra, air mataku yang sudah mengering kembali menggenang. Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat, meremas ujung kardiganku.

​Indra menghela napas panjang, sebuah embusan napas frustrasi yang tertahan. Ia memindahkan tangannya dari pergelanganku, lalu perlahan menangkup kedua pipiku dengan telapak tangannya yang besar dan hangat. Ia mengangkat wajahku dengan sangat lembut, memaksaku untuk menatap langsung ke dalam manik matanya yang terang benderang.

​"Keyla, lihat aku," pinta Indra, suaranya kini bergetar menahan luapan emosi yang telah ia pendam sekian lama. "Aku udah berusaha sabar. Aku udah berusaha ngasih kamu ruang. Waktu kejadian di kelas itu, aku mundur karena aku tahu caraku salah dan malah nyakitin kamu. Aku biarin kamu sendiri karena aku pikir kamu butuh waktu buat nyembuhin luka kamu dari cowok brengsek itu."

​Indra menjeda kalimatnya, ibu jarinya bergerak mengusap sisa air mata di bawah kelopak mataku dengan penuh kelembutan.

​"Tapi malam ini, ngelihat kamu hancur lagi, jatuh terduduk di lantai kotor cuma gara-gara dia... aku sadar aku nggak bisa terus-terusan diam, Key," suara Indra terdengar semakin serak, sarat akan keputusasaan seorang laki-laki yang cintanya tertahan oleh bayangan orang lain. "Aku nggak bisa terus-terusan jadi penonton yang cuma bisa ngasih kamu sekotak tisu setelah cowok lain bikin kamu berdarah-darah."

​"Indra... tolong, jangan..." rintihku pelan, menggelengkan kepalaku di dalam tangkupannya. Aku tahu ke mana arah pembicaraan ini bermuara, dan aku belum siap mendengarnya.

​"Nggak, Key. Kali ini biarin aku ngomong. Tolong dengerin aku," sela Indra tegas namun memohon.

​Mata Indra menatapku dengan intensitas yang begitu dalam, seolah ia sedang menelanjangi jiwanya di hadapanku saat ini juga. "Ternyata, diam dan membiarkanmu memilih jalanmu sendiri justru membuatmu semakin hancur. Keyla... aku sayang sama kamu. Sangat sayang. Bukan sayang sebagai teman biasa. Aku udah jatuh cinta sama kamu sejak pertama kali kita ngobrol di lapangan waktu kelas sepuluh dulu."

​Pengakuan itu akhirnya meluncur dari bibirnya. Tegas, tanpa keraguan, dan tanpa metafora yang membingungkan.

​Jantungku berdebar tak karuan. Lidahku kelu. Di depanku, kapten futsal yang digilai ratusan gadis di sekolah, yang berasal dari keluarga terpandang, sedang menjatuhkan harga dirinya untuk menyatakan perasaannya pada seorang gadis bermata bengkak yang hatinya telah hancur lebur oleh laki-laki lain.

​"Aku tahu hatimu masih tertinggal sama dia," lanjut Indra, tersenyum miris menelan kepahitan dari kenyataan yang ia ucapkan sendiri. "Aku tahu kamu belum bisa ngelupain cowok itu, biarpun dia udah ngebuang kamu berkali-kali. Tapi aku mohon sama kamu, Key... beri aku kesempatan."

​Indra melepaskan tangannya dari pipiku, lalu menggenggam kedua tanganku erat-erat, membawanya ke dadanya agar aku bisa merasakan detak jantungnya yang berpacu kencang demi diriku.

​"Beri aku kesempatan buat jadi tempat kamu pulang," bisik Indra memelas. "Kamu nggak perlu balas perasaanku sekarang. Kamu nggak perlu langsung cinta sama aku. Aku cuma minta izin buat berdiri di samping kamu, buat ngelindungin kamu, dan buat mastiin nggak ada lagi satu pun laki-laki yang berani bikin air mata kamu jatuh. Biarin aku yang nyembuhin luka kamu, Key. Aku bakal lakuin apa pun asal kamu bahagia."

​Tangisku kembali pecah mendengar ketulusannya. Ya Tuhan, mengapa takdir begitu mempermainkan perasaanku?

​Indra menawarkan sebuah oase yang damai, sebuah istana pelindung di mana aku akan diperlakukan layaknya seorang ratu. Siska benar. Lidya dan Bella benar. Laki-laki inilah yang seharusnya kucintai. Logikaku berteriak histeris, menyuruhku untuk mengangguk, menyuruhku untuk menyandarkan kepalaku di dadanya dan membiarkannya menghapus jejak Rendi dari hidupku.

​Ternyata, dicintai dengan sebegitu hebatnya oleh seseorang yang tepat adalah sebuah anugerah yang luar biasa.

​Namun... mengapa bayangan Rendi yang sedang memeluk lututnya sendiri di dekat tempat sampah pasar malam itu masih lebih mendominasi kepalaku daripada wajah tampan Indra di depanku? Mengapa aku merasa seperti seorang pengkhianat saat Indra menggenggam tanganku?

​"Ndra..." isakku tersedu-sedu, berusaha menarik tanganku namun Indra menahannya dengan lembut. "Aku nggak pantas buat kamu. Kamu terlalu baik... Kamu terlalu sempurna. Kalau aku nerima kamu sekarang, aku cuma bakal manfaatin kamu buat pelarian. Dan aku nggak mau jadi cewek jahat yang ngancurin hati kamu."

​"Aku rela kamu manfaatin, Key!" sahut Indra tanpa pikir panjang, sebuah keputusasaan yang membutakan logikanya sendiri. "Aku rela jadi pelarianmu, asalkan pada akhirnya kamu sadar kalau aku yang selalu ada buat kamu. Aku rela nunggu sampai sisa-sisa cowok itu hilang dari hatimu."

​"Tapi rasanya sakit banget, Ndra..." gumamku merintih, menundukkan kepalaku dalam-dalam karena tak sanggup menatap ketulusannya. "Hatiku sakit banget... Aku butuh waktu. Aku bener-bener butuh waktu buat napas. Kalau kamu paksa aku milih sekarang, aku... aku bisa gila."

​Mendengar keputusasaanku, bahu Indra yang tadinya tegang perlahan mengendur. Ia menghela napas panjang yang terdengar seperti sebuah kekalahan kecil, namun ia tidak menyerah. Laki-laki itu memaksakan sebuah senyum yang sangat menenangkan, lalu perlahan melepaskan genggaman tangannya dan menepuk puncak kepalaku pelan.

​"Aku ngerti, Key. Maaf kalau aku terlalu menekanmu malam ini," ucap Indra lembut, berusaha mengembalikan suasana agar aku tak merasa terpojok. "Aku nggak minta jawaban sekarang. Seperti yang aku bilang, aku cuma mau kamu tahu perasaanku, biar kamu sadar kalau kamu nggak sendirian di dunia ini. Kamu berharga, Keyla. Tolong jangan pernah lupa itu."

​Aku mengangguk pelan, menghapus air mataku dengan punggung tangan. "Makasih, Indra. Makasih banyak untuk semuanya."

​Indra mengangguk. Ia turun dari mobil, berlari memutar di tengah rintik hujan, dan membukakan pintu untukku. Ia bahkan memayungiku dengan jaketnya hingga aku masuk ke dalam teras rumah dengan aman. Setelah memastikan aku memegang kunci rumah, ia baru berbalik dan melaju pergi dengan mobilnya.

1
Yuni Uni
bagus banget ceritanya kak ,,,,,,kayak zaman sma zamanku dulu
semangat ya kak
partini
benar an ini dah berakhir Thor
so happy next cerita mereka dah dewasa
partini
ko waktu buat indra ,buat kamu sendiri dong tata hatimu dulu kubur semua kenangan itu dalam" berjalan kedapan dengan nanggung urusan asmara nanti menyusul lah,, siapapun orangnya pasti terbaik buat kamu kalau jodoh sama Indra bagus sama Rendy nanti jug bagus,,cintai dirimu sendiri dulu
partini
sekarang kamu bisa bilang Kya gitu NDRA mencintai orng yg hatinya udah mati kusus untuk dia itu melelahkan sekali loh,,pikir dulu lah sebelum bertindak
partini: hati Kay udah ga bisa ke lain hati udah mentok ke satu orang jadi yg lain lewat
total 2 replies
partini
tapi kalau di pikir" Kayla sangat menggangu sih Thor
lama" muak ga sih di GITUIN Mulu udah tau ga mau masih aja
biarpun niatnya baik
partini
mereka bertemu lagi setelah beberapa tahun Thor ,i hope mereka bertemu udah pada kerja Rendi jug udah sukses biar saling bersaing ga Jomblang kaya sekarang
Pengamat Senja: iya kasian banget Keyla /Frown/
total 3 replies
partini
biarkan Rendi sendiri aja lah ,jangan di ganggu dulu mungkin lebih baik kamu pergi jauh dari pada Rendi makin stres
partini
orang sederhana yg apa ini mananya susah di Jabar kan si Rendi ini orangnya ,belagu iya, egois iya ,sok kuat iya padahall butuh seseorang untuk berbagi kesedihan
Nacill Chan
semangatt kakkk 😉
partini
kadang menurut kita baik belum tentu itu baik untuk mereka
partini
lanjut
Pengamat Senja: jangan lupa follow ya kak 🙏
total 1 replies
Pengamat Senja
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!