NovelToon NovelToon
Gelora Hati Seorang Gus Dan Gadis Mafia.

Gelora Hati Seorang Gus Dan Gadis Mafia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Kriminal dan Bidadari
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sabina

INSPIRASI DARI BULAN RAMADHAN.

Seorang gus bernama Ali Mahendra adalah putra kiyai kharismatik yang dipersiapkan menjadi penerus pesantren—jatuh cinta pada Nayla Malika seorang gadis yang terjebak dalam dunia Mafia karena masa lalunya yang rumit antara ibunya wanita Indonesia dan sang ayah pria Arab Saudi.

Sang Kiyai yang tahu jika Putra tunggalnya mencintai Nayla, berusaha mencarikan calon istri yang baik---anak dari Kiyai di pesantren lain.

Ning Syifa Maulida seorang anak Kiayai yang akan di nikahkan oleh Gus Ali.

Mampukah Ali dan Nayla bersama dalam perbedaan dunia sosial dan lingkungan. Atau Bagaimana Ali mengatasi masalah ini agar tak kehilangan Nayla

Cinta mereka bukan hanya tentang dua hati, tapi tentang dua dunia yang saling bertolak belakang: sajadah dan senjata, doa dan darah, dzikir dan dendam semuanya menjadi satu dalam novel ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Kamar Nayla gelap meski di luar masih siang terlihat dari luar jendela.

Tirai hanya sedikit cahaya yang masuk, menyelinap membentuk garis tipis di lantai marmer.

Nayla duduk di tepi ranjang.

Dirinya mengenakan atasan hijau lengan panjang yang pas di tubuhnya dan bawahannya celana kulot warna ungu.

Lengan kirinya masih terbalut perban, begitu juga betis kanannya.

Luka tembak yang belum juga sembuh.

Pikirannya memikirkan masa lalu, saat masih kecil.

Kampung kecil itu panas dan berdebu.

Rumah-rumah kayu berdempetan, suara ibu-ibu berbisik di sudut warung menatap sinis pada anak perempuan berwajah Arab.

"Anak haram lewat tuh."

“Kasihan… nggak jelas bapaknya siapa.”

“Keturunan dosa.”

Nayla kecil berdiri mematung di tengah jalan tanah.

Mengenakan gaun sederhana dengan rambut di biarkan tergerai.

Tangannya yang kecil mengepal, mereka tak tahu hinaan dan caci maki pada gadis kecil ini akan membawa malapetaka yang menimpa desa mereka.

Anak-anak lain menjauhi, Nayla kecil yang malang.

Seorang anak laki-laki melempar kerikil ke arahnya.

"Eh anak haram!" teriaknya tanpa nurani melempar kerikil.

Kerikil itu mengenai keningnya---perih dengan darah mengalir, tapi yang lebih perih adalah tawa mereka.

Tak ada pembela sedikit pun, bahkan semuanya terasa sakit---sang ibu Ratna juga tak membelanya.

Nayla kecil tak menangis, menatap dengan mata yang sudah menjadi membeku sejak dini.

Anak laki-laki itulah saat besar nanti, Nayla akan jual ke Kamboja sebagai balas dendam.

Juga, ginjal pria itu sudah tak ada sekaligus lambung juga bola mata.

Nayla sudah membalaskan dendam rasa sakitnya kepada anak yang mencaci makinya.

Di rumah reyot itu, ibunya berdiri dengan wajah tegang,

Ratna Maharani muda masih cantik dengan mata penuh tekanan dan emosi.

"Bu...aku salah apa?" tanya Nayla kecil dengan lirih.

Ratna hanya memalingkan wajah.

Ratna menatap anak itu dengan acuh, karena hasil hubungan terlarang dengan majikannya yang dari Arab Saudi.

Hari itu sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah.

Pintu terbuka pria muda turun, Aditya Suradinata jauh lebih muda dari sekarang.

Ratna menatap tajam putrinya, dan menyodorkan Nayla selayaknya barang.

“Kamu akan ikut Om Aditya,” katanya pelan.

Lalu Ratna menatap Aditya dan menawarkan sejumlah uang untuk anak perempuan ini.

"Cantik sakali," puji Aditya memegang wajah Nayla.

Nayla kecil memegang tangan sang ibu, dirinya tak mau pergi.

Namun sang ibu menyodorkannya pada Aditya, hanya sebagai transaksi.

"Kamu anak haram! pergi sana!" hina Ratna mendorong Nayla.

Beruntung Aditya berhasil menahannya, agar gadis kecil ini tak terjatuh.

Kalimat yang membuat sakit hati Nayla terbawa sampai dewasa, masih ingat bagaimana sang ibu memperlakukannya dengan semena-mena.

Masih ingat bagaimana Ratna berdiri di depan rumah, tidak mengejar ketika mobil pergi.

Bahkan wanita itu sangat serakah akan uang.

Tidak berlari dan tidak menyesali perbuatannya.

Kembali ke kamar Nayla.

Napasnya memburu seperti menahan emosi, dadanya naik dan turun cepat.

Tangannya gemetar, kukunya menekan kain hijau di pahanya.

"RATNA!" marah Nayla.

Suara itu pecah secara tiba-tiba menggema di seluruh dinding kamar.

Sebuah gelas di meja samping ranjang jatuh ke lantai pecah berkeping-keping sama seperti hatinya.

"Gua benci lu! Lu mau ambil gua!" ucap Nayla mengingat masa kecilnya.

"Lu buang gua kaya barang, dan sekarang lu mau ambil gua!" teriak Nayla dengan nada lebih keras.

Air mata akhirnya jatuh di pipinya, selama bertahun-tahun menahan tangan itu.

Rasa hina dan rasa trauma terasa di hatinya, Aditya memungut anak-anak ini untuk di latih menjadi Mafia.

Mereka diambil sejak usia tujuh sampai delapan tahun.

Di bawah Aditya belajar satu hal, jangan pernah lemah, balas dendam, dan kalo perlu membunuh.

Nayla tumbuh menjadi gadis dengan darah dingin, sudah berapa nyawa yang lenyap di tangannya---Bahkan dirinya berhasil menghabisi nyawa manusia saat usia 15 tahun.

Itu pertama kalinya darah mengalir di tangannya.

Dunia hanya menghormati ketakutan, tapi di kamar ini, sendirian ia kembali menjadi anak kecil yang di tinggalkan.

"Dani lo udah mati! target selanjutnya Fidia! Dia akan main di film dewasa produksi gua!" tekadnya dengan dendam.

"Anak haram...Anak sundal...anak yang tak punya ayah," bisiknya lirih dengan suara bergetar.

Berdiri berjalan tertatih ke cermin besar di sudut kamar.

Pantulan dirinya terlihat kuat, elegan, berbahaya.

Bukan gadis lemah, bukan anak yang dihina.

Tangannya menyentuh perban di tangannya.

Luka tembak mengingatkannya pada dunia yang dulu---dunia yang menghinanya.

Sekarang semua hampa, saat Aditya mengabarkan jika orangtuanya mau mengambilnya kembali.

"Lu berdua kenapa mau ngakuin gua sekarang...gua udah bahagia ama hidup gua," ujar Nayla yang sudah benci kepada kedua orangtuanya---apalagi ibunya yang tega menjualnya hanya demi uang.

Pintu kamar di ketuk.

Tok...Tok..Tok.

"Nay...Nayla!" panggil Yuka dari depan pintu kamar.

Nayla buru-buru menyeka air matanya, lalu segera menyahut panggilan Yuka.

"I-iya kenapa?" tanyanya.

"Lo nggak apa-apa?" tanya Yuka.

"Kagak, ini gua abis minum obat, mau rehat," jawab Nayla.

"Ada apaan?" tanya Nayla.

"Oh yaudah rehat dah, ini gua mau diskusiin soal pengelolaan Kasino," ujar Yuka.

Yuka pergi berlalu dan akan kembali jika Nayla sudah rehat.

Setelah Yuka pergi---Nayla kembali menatap cermin lebih lama.

"Ratna dan Khalid, apa tujuan kalian mau mengambilku kembali?" tanya Nayla menatap ke depan.

Dirinya sekarang harus fokus.

Fokus menata hidupnya, dan akan meminta Aditya menyiapkan kepergiannya ke luar negeri untuk mengurus bisnisnya.

Bisnis Dewasa kelas atas yang pelanggannya warga asing, atau bisnis sewa wanita untuk memiliki seorang anak.

Nayla sudah tak mau berhubungan apapun dengan orangtua biologisnya.

Dirinya sudah membenci semuanya, agama, orangtua, bahkan tuhan.

Hidupnya berjalan tanpa tuhan, dan semuanya bahagia.

Nayla bisa menghasilkan uang sendiri tanpa harus mengemis pada ayah biologisnya, hal yang memalukan seperti yang Ratna lakukan.

Nayla mengusap air matanya dengan angkuh, berdiri dan berusaha bangkit.

*

1
Dayang Rindu
Hay kak, karya baru? 🔥
Dayang Rindu: sama aja, 😁
total 2 replies
Muhammad Isha
iklan buat mu
Putri Sabina: makasih udah mampir Kak
total 1 replies
Muhammad Isha
jangan lupa mampir
knovitriana
cerita yang menarik
knovitriana: iklan buat mu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!