Hati Davin hancur ketika mengetahui cintanya pada Renata juniornya, bertepuk sebelah tangan dan ternyata hanya dimanfaatkan untuk kepentingan karir.
Dia lalu memilih pergi menjadi relawan medis di daerah bencana, dan bertemu Melodi, gadis yatim piatu nan tangguh merawat adiknya yang lumpuh
Ketulusan dan ketegaran Melodi mampu membuat Davin terpikat. Namun, perbedaan status di antara mereka terlalu besar membuat Melodi ragu.
Mampukah Davin meyakinkan Melodi bahwa cinta sejati tak mengenal batas? Atau justru perbedaan akan memisahkan mereka selamanya?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini;
"Melodi Cinta Untuk Davin" karya Moms TZ, bukan yang lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Menghasut
Melodi terdiam, netranya memandang Bu Risma yang menatapnya penuh permohonan. Kebimbangan menekan kuat sanubarinya. Ia memejamkan mata seraya menarik napas kasar. Seketika, bayangan di mana Dahlia menghina dan merendahkannya berkelebat memenuhi benaknya.
Melodi menggigit bibirnya kuat-kuat berusaha menyingkirkan sesak yang terasa menghimpit dadanya. Ia membuka mata lantas menundukkan kepala.
"Maaf, Bu Risma. Saya tahu Anda sangat baik selama ini pada saya. Tapi..." Melodi menggelengkan kepalanya pelan.
"Tuduhan dan fitnahan dari Bu Bidan sangat kejam." Dipandangnya Bu Risma dengan tatapan terluka.
"Apakah karena saya orang miskin jadi dia bisa semena-mena terhadap saya?" Suaranya tercekat di tenggorokan.
"Mel, maafkan Dahlia, ya. Saya yakin dia hanya khilaf." Bu Risma meraih tangan Melodi dan menggenggamnya erat.
"Saya akan menegurnya nanti jika dia berani berbuat macam-macam sama kamu," lanjutnya meyakinkan.
Melodi tersenyum kecut, dipandangi tangannya yang ada dalam genggaman Bu Risma, lantas menariknya perlahan.
"Maaf, Bu. Tapi saya menolak untuk kembali bekerja di rumah Bu Risma. Sekali lagi saya minta maaf, mungkin Bu Risma bisa mencari orang lain saja."
Melodi bergegas menaiki sepeda lalu mengayuhnya dengan cepat meninggalkan Bu Risma yang masih bengong melihat kepergian Melodi.
"Aah, si*lan!" umpat Bu Risma. "Sudah miskin tapi masih saja belagu. Percuma aku membujuknya kalau akhirnya menolak juga. Dasar...!" Bu Risma lantas menstarter motornya meninggalkan tempat itu.
.
Melodi sampai di Puskesmas Pembantu, ia segera menstandarkan sepedanya. Saat ia berbalik pandangannya langsung berserobok dengan Dahlia yang saat itu baru saja keluar dari dalam.
Melodi terdiam dan berlalu begitu saja tanpa menyapa. Namun, saat berpapasan, Dahlia menarik tangannya kasar.
"Ikut aku!" ucapnya ketus, lalu membawa Melodi ke sudut samping bangunan.
Dahlia kemudian menghempaskan tangan Melodi membuat gadis itu sedikit terhuyung. Dahlia lantas menggosok tangannya berkali-kali seolah merasa jijik telah bersentuhan dengan Melodi.
"Aku ingatkan padamu, ya. Jangan pernah dekati Dokter Davin!" ujar Dahlia, jari telunjuknya menunjuk wajah Melodi.
"Dia itu calon imam masa depanku. Jika besok aku masih melihat dia dekat dengan Alvian, maka aku akan melakukan sesuatu yang akan kamu sesali seumur hidupmu!" lanjutnya mengancam.
Alih-alih merasa takut, Melodi justru tersenyum tipis yang seolah mengejek. "Seharusnya Bu Bidan ngomong itu langsung ke Pak Dokter bukan sama saya," sahut Melodi.
"Lagipula belum tentu juga Pak Dokter mau sama Bu Bidan. Sudah mengklaim, aja." Selesai berkata Melodi langsung pergi begitu saja tak peduli pada Dahlia yang tampak geram dengan ucapannya.
"Aah... Dasar perempuan udik, si*lan!" umpatnya kesal.
"Aku nggak peduli, pokoknya Dokter Davin harus jadi milikku!" Dahlia kemudian meninggalkan tempat itu.
Rupanya tanpa Dahlia dan Melodi sadari, Davin mengetahuinya dan melihat semuanya karena dia merasa curiga ketika Dahlia dengan kasar menarik tangan Melodi.
"Astaga, mengerikan sekali itu wanita. Sebaiknya aku berhati-hati mulai sekarang," gumamnya lalu keluar dari persembunyiannya.
.
Sore itu, seperti biasa Davin pulang ke tenda darurat dengan berjalan kaki. Sepanjang jalan dirinya memikirkan bagaimana membuat Alvian tidak merasa bosan terus-menerus berada di atas tempat tidur.
"Kalau misal aku beliin Alvian kursi roda, kira-kira akan menimbulkan kecemburuan sosial nggak, ya?"
"Atau... Ah, lebih baik aku minta data, siapa saja orang yang membutuhkan kursi roda."
Tiba-tiba dia tersenyum jahil dan menjentikkan ibu jari dengan jari tengahnya. "Yesss... Aku akan meminta mereka berdonasi untuk membeli kursi roda."
Wajah Davin tampak berbinar, dia mengambil ponselnya, lalu membuka group chat dan mengetik pesan.
"Abang, adik minta bantuannya... Please!"
Tak lama kemudian beberapa balasan muncul.
"Bantuan apa, Pin? Kalau tenaga jelas gue nggak bisa." [Danish]
"Yang loe bisa aja. Tapi gue lebih butuh cuan," balas Davin.
"Adik butuh bantuan apa?" [Darren].
"Begini, adik butuh kursi roda untuk beberapa pasien di sini. Adakah yang mau berpartisipasi?"
"Oke, butuh berapa?" tanya Darrel dan Daniel, hampir bersamaan.
"Nanti adik rundingkan dulu dengan yang lain."
"Oh ya, tidak adakah yang tergerak hatinya untuk memberi bantuan perbaikan rumah warga?"
"Itu tugas Bang Rel untuk mengkoordinir. Papi pasti bangga putranya bisa diandalkan."
"Oke, nanti abang akan mengajukan proposal dengan perusahaan properti lainnya siapa tahu mereka juga mau bantu." [Darrel]
Davin tersenyum, keempat saudaranya bisa diandalkan. Dengan langkah ringan dia melanjutkan perjalanan.
.
Dahlia sampai di rumahnya dan melihat ibunya sedang mengepel lantai ruang tamu sambil menggerutu. Dengan langkah santai seolah tak menghargai usaha ibunya, gadis itu lewat begitu saja tanpa rasa bersalah. Bu Risma yang melihat itu, seketika emosinya meledak
"Ya, Dahlia! Apa kamu itu nggak punya perasaan sedikit saja!" tegurnya dengan keras.
"Ibu pulang kantor langsung mengerjakan semuanya dari nyuci piring, nyuci baju, dan membersihkan rumah. Kamu dengan santainya masuk rumah tanpa mau melepas sepatumu. Otakmu itu kamu taruh di mana, hahhh!" marah Bu Risma.
"Kenapa Ibu repot-repot? Memangnya, babu itu ke mana?" tanya Dahlia, seolah tak terpengaruh oleh kemarahan ibunya.
"Ini semua gara-gara kamu!" tuding sang ibu.
"Gara-gara kamu, Melodi nggak mau lagi bekerja di rumah kita. Ke mana harus mencari pekerja yang rajin dan cekatan macam dia!" Emosi Bu Risma makin meluap-luap.
"Coba kalau kamu nggak bertingkah, nggak menuduhnya sembarangan, dia pasti masih bekerja di sini."
"Ibu nggak mau tahu, pokoknya kamu harus nyari orang yang mau bekerja di rumah ini. Kalau sampai nggak dapat, siap-siap aja kamu mencuci dan menyetrika pakaianmu sendiri!" tambahnya dengan napas terengah karena emosi.
"Diih, pakaianku mah, gampang tinggal laundry. Gitu aja, kok repot," ujar Dahlia kemudian berlalu masuk ke dalam kamarnya.
.
Malam harinya, selesai makan malam, Dahlia mendekati ayahnya. "Pak... Bapak mau nggak nolongin, Lia?"
"Memangnya minta tolong apa sih, Lia? Kelihatannya serius amat?" tanya sang ayah.
"Ini mengenai masa depan Lia, Pak...."
"Sudah jangan terbelit-belit kalau ngomong," potong sang ibu.
"Lia menyukai seseorang, tapi sepertinya Melodi menghasutnya supaya dia nggak suka sama Lia. Dia bahkan memanfaatkan adiknya supaya dokter itu merasa kasihan padanya." Dengan licinnya Dahlia mengarang cerita.
"Dia bahkan dengan berani menggoda Dokter Davin yang tampan itu." Dahlia mulai menebar racun fitnahnya pada kedua orangtuanya.
"Apa...!" pekik Bu Risma.
"Jaga ucapan kamu, Lia!" kata Pak Lurah Aris. "Jangan ngomong sembarangan apalagi memfitnah orang. Ingat, kamu itu bidan di desa ini!" Pak Aris mengingatkan anak gadisnya.
"Ya udah kalau Bapak nggak percaya," ucapnya dengan bibir ditekuk.
"Pokoknya Lia mau mulai besok, itu adiknya Melodi nggak lagi tinggal di Puskesmas!"
"Bapak kan, lurah di desa ini. Gunakan dong itu wewenangnya untuk memindahkan mereka biar tinggal sama yang lain di pengungsian!" hasutnya pada sang ayah.
Apakah Pak Lurah Aris akan terhasut dan memenuhi permintaan Dahlia?