NovelToon NovelToon
Pemilik Kuasa Absolut : Penguasa Alam Roh Surgawi

Pemilik Kuasa Absolut : Penguasa Alam Roh Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Fantasi Isekai / Reinkarnasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ali Rayyan

Di kehidupan sebelumnya, ia adalah Penguasa Langit Surgawi—pemilik kuasa absolut yang bahkan para dewa segani. Namun ia memilih bereinkarnasi sebagai manusia biasa, hidup tenang dengan nama Douma Amatsuki, demi merasakan kehidupan normal yang tak pernah ia miliki.

Semua berubah ketika ia tanpa sengaja memasuki dimensi terlarang, memicu perhatian para iblis yang diam-diam menguasai dunia. Tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya, mereka menetapkannya sebagai target untuk dilenyapkan sebelum menjadi ancaman.

Douma hanya ingin hidup sebagai manusia biasa.
Namun ketika seluruh dunia mulai memburunya…
berapa lama ia bisa terus berpura-pura lemah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ali Rayyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan tak disengaja

Malam turun lebih cepat dari biasanya.

Lampu-lampu kota menyala satu per satu, memantulkan cahaya putih dan jingga di jalan yang masih basah oleh sisa hujan sore. Udara terasa berat — bukan karena cuaca, melainkan karena sesuatu yang tak terlihat, tekanan halus yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang cukup peka.

Aurelia berjalan sendirian.

Langkahnya cepat, tapi tidak benar-benar terarah. Matanya kosong menatap lurus ke depan, seolah jalan panjang di depannya hanyalah bayangan kabur. Pikirannya dipenuhi satu hal yang terus berulang tanpa henti.

Ayahnya.

Kabar itu menyebar seperti api. Transaksi gelap. Manipulasi data. Nama keluarga Kazehaya disebut-sebut sebagai kambing hitam dalam skandal bisnis yang tiba-tiba mencuat. Tidak ada bukti yang benar-benar jelas — tapi rumor selalu lebih tajam daripada fakta.

Dan rumor itu tidak memberi ruang bernapas.

Aurelia sudah mencoba berpikir logis. Ayahnya bukan orang seperti itu. Ia tahu. Ia yakin. Tapi keyakinan tidak menghentikan tatapan orang-orang, bisikan di koridor sekolah, atau notifikasi berita yang terus bermunculan.

“Siapa… yang tega melakukan ini…” gumamnya pelan.

Suara kendaraan melintas terasa jauh. Dunia seperti tertutup lapisan kabut.

Ia tidak menyadari langkahnya sudah keluar dari trotoar.

Lampu depan mobil memotong gelap.

Klakson.

Terlambat—

atau seharusnya terlambat.

Mobil itu tiba-tiba bergeser beberapa sentimeter ke samping — gerakan kecil, nyaris mustahil untuk disadari pengemudi. Ban berdecit halus, angin menyambar ujung rambut Aurelia saat kendaraan itu melintas hanya sejengkal dari tubuhnya.

Jantungnya berdetak keras.

Baru sekarang ia sadar ia hampir tertabrak.

“Hei!”

Suara seseorang memanggil.

Aurelia menoleh.

Seorang pria berdiri beberapa langkah darinya — tinggi, tenang, sorot matanya tajam namun tidak mengancam. Tangannya masih sedikit terangkat, seolah refleks ingin menariknya menjauh.

Itu Douma.

Ia berjalan mendekat, ekspresinya datar namun fokus.

“Kau hampir saja tertabrak,” katanya singkat.

Aurelia menelan napas. “A.. aku… tidak sadar.”

Douma mengamati wajahnya beberapa detik. Mata sembab. Bahu tegang. Pikiran kacau — jelas terlihat.

“Jalan malam bukan tempat yang bagus untuk melamun, ini berbahaya. ” ujarnya tenang.

Nada suaranya tidak menghakimi. Hanya fakta.

Aurelia mengangguk pelan. “Terima kasih…”

Douma melirik jalan sebentar — lalu kembali padanya.

“Kau mau ke mana?”

“Pulang… kurasa.”

“Kurasa bukan jawaban yang meyakinkan.”

Aurelia menghela napas. “Aku cuma… ingin berjalan sebentar, sesak berada dirumah, disekolah bahkan dimanapun”

Douma tidak langsung membalas. Ia mengangkat perangkatnya, mengetik cepat.

“Sebuah taksi akan tiba dalam dua menit,” katanya.

Aurelia mengerjap. “Kau tidak perlu—”

“Menurut saja. Lebih aman,” potong Douma singkat.

Tidak ada ruang untuk perdebatan dalam nada itu — bukan karena keras, tapi karena rasional.

Mereka berdiri dalam diam beberapa detik. Suara kota kembali terasa nyata. Aurelia memeluk lengannya sendiri.

“Semua orang bicara… tentang keluargaku,” katanya tiba-tiba. “Padahal mereka tidak tahu apa pun.”

Douma tidak bertanya detail. Ia hanya mendengar.

“Kau percaya ayahmu?” tanyanya.

Aurelia mengangkat kepala. Jawabannya datang tanpa ragu.

“Tentu.”

“Kalau begitu,” kata Douma tenang, “itu cukup untuk sekarang.”

Sebuah mobil berhenti di depan mereka. Taksi.

Douma membuka pintu belakang.

“Pulanglah. Malam ini bukan waktu yang baik untuk memikirkan semuanya sendirian.”

Aurelia menatapnya beberapa detik — lalu masuk.

“Terima kasih… Douma.”

Ia hanya mengangguk kecil.

Mobil itu pergi, lampunya memudar di kejauhan.

Douma berdiri beberapa saat, memandang jalan kosong.

Udara malam terasa berbeda.

Ada riak halus dalam ruang — sesuatu yang tidak terlihat, tapi nyata baginya. Energi yang tidak sinkron. Sama seperti beberapa hari terakhir.

Dan semuanya… terjadi berdekatan.

Rumor keluarga Kazehaya.

Percakapan ayahnya malam itu — yang ia dengar tanpa sengaja. Nada tegang. Tawaran kerja sama. Ancaman terselubung. Penolakan.

Semua potongan itu mulai membentuk pola.

Douma berjalan pulang dengan langkah santai, namun pikirannya bergerak cepat.

Ayah Aurelia dijebak.

Ayahnya sendiri hampir ditarik ke dalam transaksi yang sama — produksi teknologi yang disamarkan, izin yang dipalsukan. Ia ingat jelas bagaimana ayahnya menutup panggilan malam itu dengan napas berat… lalu menelepon kembali untuk menolak.

Ancaman reputasi.

Tekanan.

Pola yang sama.

Dan sekarang—

getaran aneh di kota.

Douma berhenti sejenak di bawah lampu jalan.

Energi di udara terasa seperti arus bawah tanah — samar, tapi konsisten. Sesuatu sedang bergerak. Tidak acak. Terarah.

Namun…

apakah ini cukup untuk bertindak?

Ia menghembuskan napas pelan.

Informasi belum lengkap.

Kesimpulan tanpa data adalah kesalahan.

Dan lawan yang bermain di balik layar… jelas bukan orang biasa. Licik. Terorganisir. Berbahaya.

Turun tangan sekarang berarti masuk ke permainan tanpa memahami papan catur.

Tidak bijak.

“Aku akan mengamati dulu…” pikirnya.

Keputusan itu datang tanpa emosi — murni perhitungan.

Douma melanjutkan langkahnya.

Kota tampak normal. Kendaraan melintas. Orang-orang tertawa di kejauhan. Dunia berjalan seperti biasa.

Namun di balik permukaan itu—

pola mulai bergerak.

Dan Douma… memilih menjadi pengamat.

Untuk saat ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!