Apa jadinya ketika seorang pria yang tidak memiliki perasaan harus disandingkan dengan seorang wanita yang mampu merubah seluruh hidupnya, Raja Gustaf pria dingin keturunan bangsawan itu sudah memiliki dua istri, akan tetapi selama pernikahan dengan kedua istrinya dia tidak merasakan arti cinta yang sesungguhnya.
Namun dengan datangnya Layla Candra kedalam hidupnya menjadi istri ke tiga Gustaf merasakan adanya perasaan cinta untuk Layla...
Namun Layla sendiri merasa pernikahnya dengan Raja Gustaf adalah kematiannya setiap hari, karena ia di paksa menikah oleh Ayahnya sebagai aliansi demi sebuah wilayah benteng Candra...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom young, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter~11 Mutiara di tanah asing
Sementara itu, di Istana Candra sedang bersiap, Raja Batara akan datang ke Jaya Wijaya untuk menjemput putrinya dari kerajaan Jaya Wijaya.
Karena Raja Batara, terus menerus merasa bersalah, menukar kebahagiaan Putri Layla demi kedamaian kerajaan Candra. Pangeran Kudus dan Mahesa juga bersiap.
Jika Raja Gustaf menolak ia akan meminta perang, karena sekarang pasukan Raja Arta juga telah mendukungnya.
Suasana di Istana Candra tegang tapi sunyi. Lentera perak berjejer di sepanjang lorong marmer, tapi tak ada suara tawa seperti biasanya.
Raja Batara, berdiri di balkon tertinggi, jubah ungu gelapnya berkibar pelan diterpa angin malam. Di tangannya, ada kalung mutiara milik Layla yang belum sempat ia berikan dulu.
“Semua ini kulakukan atas nama Candra,” gumamnya pelan. “Tapi berapa harga damai itu… kalau anakku sendiri yang membayarnya?”
Di halaman istana, Pangeran Kudus memeriksa tali busur terakhirnya. Ia tak banyak bicara. Tapi matanya tajam—bukan karena ingin perang, tapi karena takut terlambat.
“Kalau Raja Gustaf menolak, Ayah,” katanya tanpa menoleh, “apakah kita benar-benar siap membawa perang ke tanah yang pernah melindungi Layla?”
Mahesa yang baru datang dari kandang kuda mendengus kecil sambil menyandang pedang.
“Siap atau tidak, pasukan Jaya Wijaya bukan lawan yang bisa kita remehkan. Tapi sekarang Raja Arta sudah berpihak pada kita.” Ia menatap Raja Batara.
“Kecuali… Ayah memang berniat menebus kesalahan dengan darah.”
Raja Batara menutup matanya sejenak. Ia tahu, jika ia maju dengan pasukan, ia akan dicap pengkhianat oleh rakyat Candra sendiri. Tapi jika ia mundur, ia kehilangan Layla selamanya.
Dari kejauhan, genderang perang mulai terdengar. Utusan dari Raja Arta sudah tiba—membawa bendera merah dengan lambang singa berkepala dua.
Apakah Raja Batara akan datang sebagai ayah yang menjemput anaknya, atau sebagai raja yang membawa kembali pertumpahan darah.
__
Sementara itu, di istana Jaya Wijaya, Raja Gustaf sedang membaca sebuah surat yang baru saja sampai dari Raja Batara dari Candra.
"Rupanya-dia bukanlah Raja yang bodoh! Bagimana bisa, aliansi pernikahan ini sudah berjalan tapi ia meminta aku melepaskan putrinya begitu saja." kata Raja Gustaf sambil meremas surat yang ada di tangannya.
Raja Gustaf melempar surat itu ke atas meja marmer. Suaranya menggelegar memecah keheningan ruang tahta Jaya Wijaya.
“Melepaskan Layla? Setelah aku menerima dia sebagai aliansi, dan perjanjian sudah dibacakan di hadapan para dewa dan Qadhi?”
Tangannya mengepal. “Dia pikir aku Raja Gustaf bisa dipermainkan dua kali!”
Di sampingnya, Permaisuri Ratna berdiri diam, wajahnya pucat. Ia sudah mendengar kabar bahwa Layla menangis di kamarnya sejak semalam.
“Gustaf,” katanya pelan, “Layla bukan alat politik. Dia adalah putri Candra." Ibu Ratu, yang baru saja pulang Haji langsung syok... Saat mendengar kabar anaknya menikah lagi namun pernikahan ini dibuat atas aliansi kerajaan.
Gustaf menoleh, matanya menyala. "Ibu, kau sudah sampai?" Raja Gustaf menarik nafas dalam.
"Iya-Anaku, aku dengar Layla adalah putri candra yang tercantik dan juga bijaksana," Ibu Ratu sekilas memahami tentang bagsawan Candra.
“Dan karena itu aku harus melindunginya! Kalau aku lepaskan sekarang, Candra akan pikir Jaya Wijaya lemah. Raja Arta yang licik itu hanya menunggu kita goyah untuk mencaplok perbatasan timur!” Raja Gustaf mulai termakan emosi.
"Gustaf, tenanglah, jika semua masalah bisa di atasi dengan kepala dingin, untuk apa kau menentang mertuamu dan kembali perang. Kau seorang Raja ambilah keputusan yang bijak." Ibu Ratu berusaha menasehati putranya.
Di luar ruang tahta, Putri Layla berdiri di balik pilar, mendengar semuanya. Jari-jarinya mencengkeram kain kebayanya sampai putih.
"Yang dikatakan, Ibu Ratu benar, beliau adalah seorang yang sangat bijak, tidak seperti putranya yang sombong dan juga angkuh. Jika Raja Gustaf tidak mau melepaskan aku menjadi Janda, berarti Ayah akan menarik pedangnya dan akan kembali banyak korban yang berjatuhan, dan bukan hanya Candra dan Jaya Wijaya saja yang terluka, namun kerajaan Arta juga akan kehilangan banyak prajurit... Ya- Dewa. Tolong aku, tolong bukalah jalan keluar dari masalah ini." Layla begitu ketakutan, ia menjadi merasa serba salah.
__
Sementara itu, suara genderang dari kejauhan semakin dekat. Bendera merah singa berkepala dua sudah terlihat di bukit utara. Pasukan Candra dan Arta bergerak bersama, menuju Istana Jaya Wijaya.
Ibu Ratu menggenggam tangan Raja Gustaf erat. Keriput di wajahnya bergetar, tapi suaranya tetap tenang seperti saat ia dulu menenangkan Gustaf waktu kecil.
“Seorang raja bijaksana tidak diukur dari berapa banyak perang yang ia menangkan, Gustaf. Tapi dari berapa banyak darah yang ia cegah tumpah.”
Ia menatap lurus ke mata putranya. “Kalau kau melepaskan Layla sekarang, kau tidak kehilangan muka. Kau justru menunjukkan Jaya Wijaya lebih besar dari rasa dendam.”
Gustaf diam. Rahangnya mengeras. Tapi kata-kata ibunya menghantam dadanya lebih keras dari genderang di luar sana.
__
Raja Batara menahan tali kekang kudanya di gerbang utara. Di belakangnya, Pangeran Kudus dan Mahesa, plus pasukan Arta yang berbaris rapat. Jubah ungu gelapnya kini tertutup debu perjalanan.
Ia tidak mengangkat pedang. Ia hanya mengangkat kalung mutiara Layla tinggi-tinggi agar penjaga gerbang bisa melihat.
“Aku tidak datang membawa perang!” teriak Raja Batara, suaranya pecah tapi jelas. “Aku datang sebagai Ayah yang gagal menjaga anaknya. Buka gerbang ini, Gustaf. Biarkan aku bicara… bukan dengan pasukan, tapi dengan seorang ayah ke ayah lain.”
Di balik pilar, Layla menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air matanya jatuh. Untuk pertama kalinya sejak pernikahan aliansi itu, ia mendengar ayahnya menyebut dirinya “anak” bukan “bagian dari perjanjian”.
Qadhi istana melangkah maju, jubah putihnya berkibar. Ia berdiri di tengah antara dua raja.
“Atas nama Allah dan hukum, aku tawarkan jalan tengah. Tidak ada penaklukan, tidak ada janda paksa. Biarkan Putri Layla yang bicara. Pilihannya, adalah hukum tertinggi hari ini.”
Keheningan turun. Seribu tombak tertahan. Seribu napas tertahan.
Putri Layla melangkah keluar. Kebaya biru mudanya sederhana, tanpa mahkota, tanpa perhiasan. Wajahnya begitu pucat pasi.
Ribuan mata menatap. Pasukan Candra, Arta, penjaga Jaya Wijaya. Semua menunggu.
Layla berhenti tepat di tengah, antara ayahnya dan suaminya. Ia menunduk dulu, memberi hormat pada Raja Batara. Air matanya jatuh ke tanah berdebu.
“Ayahanda…” suaranya bergetar tapi jelas. “Ampuni hamba. Hamba tidak bisa pulang.” Layla mengepalkan tangannya kuat, matanya terpejam airmatanya hampir jatuh.
Raja Batara seperti ditusuk. Kalung di tangannya bergetar. “Layla… nak…”
Layla lalu berbalik, menatap Raja Gustaf. Matanya merah, tapi tidak ada benci di sana. Hanya lelah. “Baginda… hamba akan tetap di sini. Bukan karena hamba mencintai aliansi ini. Tapi karena jika hamba pergi sekarang, ribuan prajurit Candra, Jaya Wijaya, dan Arta akan jadi tumbal ego kita.”
Ia menarik napas. “Ibu Ratu benar. Seorang raja bijaksana mencegah darah tumpah. Hamba… hanya ingin jadi jembatan, bukan pisau.”
Mahesa mengepalkan pedangnya sampai buku jarinya putih. Pangeran Kudus menutup mata, menahan amarah.
Raja Gustaf terpaku. Ia mengira Layla akan memilih pulang bersama Ayahnya. Raja Batara. Tapi gadis ini justru memilih penderitaan demi damai. Rasa sombong di dadanya runtuh pelan-pelan. Raja Gustaf diam-diam mulai mengangumi kerendahan hati Layla.
Raja Batara berlutut di depan kudanya. Untuk pertama kalinya, Raja meneteskan air mata di depan semua orang. “Maafkan Ayah, Layla… Ayah menukar senyummu demi mahkota. Dan kau… kau mengorbankan dirimu demi mahkota orang lain.”
Ia meletakkan kalung mutiara itu di tanah, mendorongnya pelan ke arah Layla. “Simpan ini. Biar kau ingat… kau selalu putri Candra. Sekalipun kau tinggal di Jaya Wijaya.”
Layla memungut kalung itu. Ia tidak menangis lagi. Hanya mengangguk pelan.
Qadhi mengangkat tangannya tinggi. “Demi Allah, hari ini tidak ada perang. Hari ini, seorang putri memilih damai di atas takhta!”
Genderang berhenti. Bendera merah singa berkepala dua diturunkan setengah tiang—bukan tanda kalah, tapi tanda hormat.