Viola dan Rasta dipertemukan kembali setelah lima tahun perceraian mereka. Rasta pikir, Viola telah bahagia bersama selingkuhannya dan anak dari hasil perselingkuhan mereka dulu. Namun ia dibuat bertanya-tanya saat melihat anak perempuan berusia empat tahun yang sangat mirip dengannya.
Benarkah dia anak dari hasil perselingkuhan Viola dulu, atau justru anak kandungnya Rasta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
"Gue udah dapetin rambutnya Vita. Rencananya mau tes DNA," Rasta bicara dengan Baim melalui sambungan telepon sambil berdiri, menatap ke luar kaca ruangannya. "Gimana sama orang itu? Lo udah dapetin informasinya?"
Baim di seberang sana menjawab, "Belum. Gue lagi suruh orang buat lacak keberadaan orang itu. Agak susah, karena dia udah gak tinggal di Jakarta. Lo udah ke rumah sakit?"
"Udah kemarin. Tinggal nunggu hasil tes DNAnya."
"Bagus, Ta. Semoga secepatnya terungkap, ya?"
Rasta menghela napas, lalu mengangguk. "Thanks ya udah bantuin gue."
"Sama-sama."
Setelah bicara beberapa patah kata lagi, Rasta mengakhiri teleponnya dengan Baim. Ponselnya ia simpan ke atas meja, berganti dengan sebuah foto yang ia raih dari dalam laci mejanya.
Foto pernikahannya dengan Viola tujuh tahun lalu, Rasta tatap lekat-lekat. Mereka telah lama saling mengenal, hubungan sebelum menikah sudah terjalin selama beberapa tahun, dan bisa-bisanya Rasta percaya begitu saja saat ada yang memfitnah Viola.
Baim bilang, laki-laki yang ada di foto bersama Viola, yang diduga adalah selingkuhannya Viola itu, sudah tidak tinggal di Jakarta lagi. Itu artinya, dia tidak tinggal bersama Viola dan tidak pernah terlibat hubungan dengan Viola sebelumya.
Rasta harus bisa mengumpulkan semua bukti, untuk mendapatkan kebenaran dan keadilan untuk Viola.
Dia semakin merasa jijik, ilfeel pada dirinya sendiri. Seharusnya, masa-masa Viola hamil dan melahirkan itu, bisa mereka lakukan sama-sama. Tetapi, Viola harus melewati masa-masa sulit itu sendirian.
Sedangkan Rasta? Malah enak-enakan tinggal di luar negeri. Bagaimana Rasta bisa menebus semua kesalahannya?
Sekadar kata maaf rasanya tidak pantas. Terlebih lagi kini, Rasta tidak mempunyai keberanian untuk sekedar bertatap muka dengan Viola. Ia terlalu malu, rendah, dan merasa tidak pantas.
*
"Kemarin tuh ada yang transfer gue uang, jumlahnya lumayan banyak. Gue gak tau dari siapa, soalnya orang itu kayaknya kirim pake e-wallet deh, enggak pake rekening pribadi." Viola bercerita dengan Widia tentang misteri uang transferan yang ia dapat kemarin.
Sampai saat ini, Viola tidak tahu dari siapa datangnya uang itu.
"Apa orang salah tf kali, ya?" terka Widia. "Berapa emang jumlahnya?"
Viola ragu sejenak ingin menjawab, namun akhirnya ia mendekatkan bibirnya ke telinga Widia, berbisik, "Sepuluh juta."
Widia tersedak makanannya, karena mereka sedang istirahat bersama. Perempuan itu terbatuk-batuk, kemudian mengambil minuman yang diulurkan Viola.
"Buset. Dapat rezeki nomplok ya lo. Sepuluh juta, banyak itu cuy."
"Makanya gue takut nih harus gimana. Nggak ada yang hubungi gue sama sekali, kalo bukan orang salah kirim, terus siapa dong yang kirim cuma-cuma ke gue sampai sebanyak itu?"
Seperti biasa, Widia sedang berpikir. Tampangnya cukup terlihat serius. "Dari saudara atau keluarga lo kali," terkanya.
"Nggak mungkin. Nggak bakalan ada saudara atau keluarga gue ngirim uang sebanyak itu," sahut Viola. "Gue takut kalau itu penipuan atau jebakan. Uangnya harus gue apain ya?"
Widia tersenyum jahil, mendadak ia mendapatkan ide cemerlang. "Kita tunggu sampai tiga hari ke depan, kalau nggak ada yang hubungin lo, itu berati emang rejeki lo, Vi. Nah, nanti uangnya kita bagi dua aja gimana?"
Widia menarik turunkan kedua alisnya, sementara Viola menjitak kepalanya. "Yeeee, sembarangan lo, Wid. Kalau uang itu ternyata buat jadiin gue tumbal gimana? Mau jadi tumbal juga lo?"
Mereka lantas tergelak. Entah dari mana datangnya uang itu, Viola tidak mau memakainya jika belum mendapatkan informasi yang jelas siapa pengirimnya.
Rasta diam-diam mendengarkan obrolan Viola dan Widia dari balik tembok. Ia membuang napas, sambil menyugar rambutnya.
"Uang itu dari aku, Vi, buat kamu sama Vita. Bukan buat jadiin kamu tumbal," batin Rasta. "gimana ya cara jelasinnya?"
...****************...
Guys, maaf, pendek dulu ya? Besok update lagi.
ini di dunia nyata ada Thor dekat rumahku ya itu ujungya bercerai
mantan istri mu tuh tukut kalau balikkan lagi nanti mama bersaksi lagi ta
terbuka kan, ibu mu dalang nya.. biang korek di balik prahara rumah tangga mu dulu