Noari Liora, gadis sederhana yang hidup dalam keterbatasan, tiba-tiba ditarik masuk ke dunia mewah keluarga Van Bodden, ketika Riana, sepupu perempuan kaya yang pernah menyakitinya di masa lalu, justru memintanya menjadi istri pengganti untuk suaminya, Landerik.
Di tengah rasa iba, dan desakan keadaan, Noa menerima tawaran itu. Pernikahan yang seharusnya hampa justru menyeretnya ke dalam lingkar emosi yang rumit, cinta, kehilangan, luka dan harapan.
Ketika Riana meninggal karena sakit yang dideritanya, Noa dituduh sebagai penyebabnya dan kehilangan pegangan hidup. Dalam rumah megah yang penuh keheningan, Noa harus belajar menemukan dirinya sendiri di antara dinginnya sikap Landerik, dan kehadiran Louis, lelaki hangat yang tanpa sengaja membuat hatinya goyah.
Akankah Noa bertahan di pernikahan tanpa cinta ini?
Atau justru menemukan dirinya terjebak dalam perasaan yang tidak pernah ia duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purpledee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11. Hari pernikahan
Sore itu langit ibu kota mulai berubah warna keemasan lembut menyelimuti gedung-gedung tinggi ketika mobil sederhana milik keluarga Noa berhenti di depan hotel mewah tempat mereka akan menginap. Kontrasnya sangat terlihat jauh berbeda, mobil mereka tampak sangat biasa di antara deretan mobil sport dan limosine milik keluarga kaya yang sudah lebih dulu hadir.
Pintu mobil dibuka oleh staf hotel. Ibu Noa langsung terpaku, matanya berbinar melihat interior lobi yang mewah, lampu kristal menggantung megah, lantai marmer mengkilap, dan para staf hotel berjalan anggun dengan seragam rapi. Ayah Noa bahkan sempat memeriksa kerah kemejanya sendiri, memastikan tidak terlihat terlalu lusuh.
Sementara itu Noa turun terakhir gaun musim dinginnya sederhana, surai coklatnya tergerai panjang, wajahnya lembut dan tampak tegang. Ia selalu menjadi gadis desa yang tidak terbiasa dengan kemewahan seperti ini. Dan hari ini, ia datang bukan sebagai tamu biasa. Ia datang sebagai mempelai wanita.
Begitu masuk, Noa merasa puluhan pasang mata memperhatikannya atau mungkin ia hanya terlalu gugup hingga merasa seperti itu. Ayah dan ibunya berjalan dengan langkah yang lebih cepat, seolah takut dianggap rendah oleh para tamu yang berpenampilan glamor.
“Noa, tegakkan badanmu,” bisik ibunya. “Kau akan jadi keluarga orang kaya. Jangan tampak canggung angkat dagumu.”
Noa tidak menjawab.
Ia hanya menarik napas panjang. Di lobi, beberapa anggota keluarga sudah berkumpul. Salah satu bibi Riana, wanita peruhbaya dengan perhiasan yang berkilauan melihat mereka dan berbisik pada sepupunya.
“Itu mereka.”
Suaranya tidak terlalu pelan untuk tidak terdengar.
“Ya Tuhan, sederhana sekali,” kata yang lain sambil mengamati pakaian orang tua Noa dari atas sampai bawah. Ibu Noa mendengar, Senyumannya langsung mengeras, tapi ia tetap memasang wajah manis. Ayah Noa menggenggam lengan istrinya seolah menyuruhnya sabar.
Tidak ada satu pun dari keluarga Riana yang mendekat untuk menyapa padahal mereka masih terikat saudara. Mereka hanya menatap dari jauh, ada yang iba, ada yang meremehkan, ada yang sekadar ingin tahu. Hanya satu orang yang berjalan mendekat, yaitu Riana.
Meski tubuhnya lemah, langkahnya begitu ringan, Ia mengenakan gaun lembut berwarna krem, wajahnya pucat namun tersenyum tulus saat mendekat.
“Noa…” panggilnya pelan. Noa langsung memeluknya erat.
“Kau datang,” kata Riana dengan suara yang bergetar senang.
“Iya,” Noa membalas, meski dadanya sesak melihat kondisi Riana yang semakin memburuk. Riana kemudian menatap orang tua Noa dengan sopan.
“Paman, bibi, silakan ikut aku. Kamar kalian sudah disiapkan.” ucapnya hangat. Ayah dan ibu Noa tersenyum, kali ini senyum yang benar-benar bangga. Mereka pun mengikuti Riana dan petugas hotel menuju lift. Lift besar itu naik perlahan, Noa berdiri di samping Riana sambil memperhatikan sisi wajah sepupunya.
“Riana, kau tidak memaksakan diri, kan?” tanya Noa pelan.
Riana menoleh. Senyumnya tenang, tapi matanya berkaca-kaca.
“Aku hanya ingin memastikan semuanya berjalan sempurna. Setidaknya, untukmu dan Lander.”
Noa menunduk.
Ada sesuatu yang berat mengendap di dadanya, ketidakpastian, ketakutan, dan rasa bersalah yang perlahan merayap. Ibu Noa di sudut lift meremas tangan suaminya dengan penuh antusias. “Aku tak percaya ini terjadi pada anak kita, anak kita akan menikah dengan keluarga Van Bodden.”
Suaranya berdesis penuh kegirangan. Noa memejamkan mata sebentar. Di antara semua suara itu, hanya jantungnya sendiri yang terasa seperti berdetak terlalu keras.
Pintu lift terbuka pada lantai khusus tamu keluarga utama.
Di lorong, beberapa keluarga besar Riana kembali melirik mereka dengan tatapan menilai. Sebagian berbisik pelan, sebagian mengangguk dingin. Noa merasakan dadanya semakin sesak. Namun ketika mereka berjalan menjauh dari depan sana, Noa melihat sosok yang berdiri di ujung lorong tubuh tinggi, tegap, mengenakan kemeja hitam dan jas sederhana.
Landerik.
Ia sedang berbicara dengan seorang staf hotel, tetapi begitu melihat Riana dan Noa berjalan mendekat, ia langsung menghentikan pembicaraan. Tatapannya bergerak ke arah Noa.
Wajahnya tenang, namun dingin. Seperti seseorang yang sudah memutuskan untuk tidak menunjukkan lebih dari sekadar formalitas. Noa menelan salivanya. Ini pertama kalinya mereka bertemu sejak percakapan di taman itu.
Dan kini, jarak di antara mereka semakin mengecil, besok mereka akan menjadi suami istri.
...♡...
Di ke esokan harinya.
Para tamu keluarga berdiri dari kursinya, bertepuk tangan pelan ketika janji suci selesai diucapkan. Musik lembut memenuhi ruangan ballroom kecil yang sudah disulap menjadi tempat pernikahan intim dan elegan. Aroma bunga putih memenuhi ruangan. Landerik memegang kedua tangan Noa, matanya tajam tapi tatapannya tetap tertahan, jauh dari romantis. Saat penghulu mempersilakan mereka untuk “mencium pengantin”, Landerik hanya mencondongkan tubuh dan mengecup pipi Noa sekilas, sentuhan yang begitu singkat hingga beberapa tamu bahkan tidak sempat melihatnya.
Bisikan pelan terdengar dari keluarga
“Kasihan Riana,”
“Apa yang Riana rasakan melihat suaminya mencium wanita lain?"
“Ini pernikahan yang sangat dramatis” bisik salah satu keluarga.
Noa menunduk halus, pipinya memanas. Bukan karena malu, tapi karena perasaan aneh yang kembali muncul, antara lega, pasrah, dan sesuatu yang ia tidak sanggup artikan.
Riana yang duduk di kursi barisan depan tersenyum sangat lebar. Matanya berair, bukan hanya karena kebahagiaan, tapi juga karena rasa sakit yang ia tahan dari hasil kemo beberapa hari sebelumnya. Ia bertepuk tangan dengan bangga, terlihat sangat puas melihat dua orang yang ia cintai berdiri bersama di pelaminan.
Landerik melepaskan tangan Noa perlahan, mempersilakannya berbalik menghadapi keluarga. Dari sudut pandang semua orang, keduanya tampak seperti pasangan baru yang pemalu. Namun dari jarak dekat, Noa bisa merasakan betapa dingin dan tegangnya tubuh Landerik.
Sementara itu, Ibu Noa menahan haru melihat putrinya kini resmi menjadi bagian keluarga kaya itu. Ayahnya menyeka air mata, antara bangga dan merasa semua ini terlalu cepat. Noa mencoba tersenyum pada mereka. Setelah itu, foto keluarga dimulai. Riana langsung berdiri dan memeluk Noa, hangat dan erat, seolah mengisi jarak yang tak mampu dilakukan Landerik.
“Aku sangat bahagia kau mau menikah dengan suamiku,” bisiknya. “Terima kasih sudah membuat aku tenang.” Noa mengangguk, meski hatinya sedikit mencelos.
Ketika giliran foto bersama Landerik dan Noa saja, fotografer meminta mereka berdiri lebih dekat.
“Mendekat sedikit lagi, ya.” katanya ramah.
Landerik mendesis kecil, tapi akhirnya meraih pinggang Noa dengan satu tangan. Sentuhan itu kaku, tapi membuat Noa membeku sesaat, bukan karena romantis, tapi rasa asing yang membungkus seluruh dirinya.
Klik.
Foto diambil.
Di tengah sorak sorai kecil keluarga, Noa sadar, Hari ini hidupnya akan berubah selamanya. Dan Landerik, lelaki dingin dengan tatapan abu-abu itu, kini resmi menjadi suaminya.
To Be Countinue...