NovelToon NovelToon
Ambisi Anak Perempuan Pertama

Ambisi Anak Perempuan Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Ibu Tiri / Slice of Life / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:271
Nilai: 5
Nama Author: Annisa Khoiriyah

laki-laki diuji tiga hal, harta, keluarga dan wanita.
Semuanya bisa mereka atasi tetapi satu yang kerap membuatnya lemah yaitu godaan wanita.
Sepuluh tahun pernikahan kandas karena satu wanita yang dizinkan Alim hadir di tengah keluarganya. Erna tak sanggup hidup dengan laki-laki yang sudah berani mengkhianati janji suci, merobohkan komitmen, dan merusak kepercayaan. Erna memutuskan pergi jauh meninggalkan kedua putrinya, Zaskia Alifta dan Rania Anggraeni di usia masih kecil. kelahiran mereka hanya selisih setahun dan terpaksa menjadi korban keegoisan orang tua. Kepergian Erna justru dicap istri yang durhaka dengan suaminya, dan itu membuat Alim tidak ada rasa bersalah dan berencana menikah dengan selingkuhannya. Zaskia tidak menerima Ibu tirinya dan lebih memilih hidup sendiri. Sementara Rania ikut sang ayah dan hidup enak bersama keluarga barunya tanpa memikirkan sang kakak.

Bagaimana nasib dan masa depan kedua saudara itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Khoiriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alistair Intel Agency II

Tiga jam perjalanan dari rumah, Zaskia akhirnya sampai di alamat yang tertera di kartu nama yang diberikan Nadine. Sedikit gugup. Ada berani, ada takut—bahkan perasaannya sendiri pun sulit ia gambarkan. Telapak tangannya terasa sedikit dingin, tapi ia memaksa dirinya tetap tenang.

Zaskia datang seorang diri. Nadine tidak bisa menemani, apalagi membantu lebih jauh lagi—itu syarat dari orang tuanya.

Dengan rambut sebahu dan poni miring ke kanan yang membuatnya tampak cerdas, wajah putih-pinky, alis hitam tebal, serta bibir pink natural yang tidak memerlukan make up berlebihan—semuanya tampak kontras dengan dirinya yang sebenarnya tidak menyukai dandan. Rok panjang sampai mata kaki warna broken white, dan atasan manset senada yang dibalut cardigan crop warna coklat susu membuat penampilannya terlihat elegan di tubuhnya yang setinggi 160 cm.

Ia berdiri di depan gerbang tinggi berwarna hitam, milik sebuah rumah mewah. Bangunan tiga lantai itu bercat putih dengan atap abu-abu. Halamannya sangat luas menuju pintu utama, dilapisi keramik bermotif zebra cross. Ia mengintip melalui celah gerbang—sunyi. Tidak ada satu pun tanda keberadaan orang. “Ini beneran aku boleh masuk ke tempat semewah ini?” batinnya, setengah ragu.

Tanpa ia sadari, seseorang muncul di balik gerbang. Seorang laki-laki berpakaian sangat rapi, namun jelas bukan satpam. Kemeja putih, jas hitam, celana dan sepatu yang sama gelapnya membuatnya tampak berwibawa. Cara laki-laki itu memandangnya seolah menunjukkan bahwa ia sudah tahu Zaskia akan datang. Aura orang itu tenang, tapi ada wibawa yang membuat Zaskia refleks merapikan cardigan-nya.

Ia memberi instruksi agar Zaskia menempelkan barcode pada kartu nama yang ia bawa. Seperti konfirmasi bahwa tidak sembarang orang bisa masuk ke rumah itu. Begitu ia menempelkannya, gerbang pun terbuka. Suara klik halus itu membuat jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Zaskia melangkah masuk dengan hati-hati—seperti perasaannya yang sedang gugup.

“Selamat datang, Nyonya,” sapa laki-laki itu sambil sedikit menunduk, satu tangan bertumpu di dada. Zaskia membelalak ketika mendengar sapaan itu. Nyonya? Ia pernah mendengar sapaan seperti itu—biasanya untuk pemilik rumah atau seseorang yang penting. Tapi ia memilih cuek. Ia hanya tersenyum dan ikut menunduk sedikit.

“Anda bisa langsung masuk. Tunggu di sofa warna krem. Sekitar tiga menit lagi akan ada yang membantu Anda, dan Anda bisa menjelaskan tujuan kedatangan Anda. Silakan.”

Zaskia mengangguk sopan. “Baik, Pak. Terima kasih.” Ia berjalan menuju pintu utama, matanya beredar ke sekeliling dengan senyum lebarnya—senyum manis yang hanya ia tunjukkan pada orang-orang terdekat. Dadanya terasa hangat melihat kemewahan rumah itu, membuat langkahnya otomatis lebih pelan, seakan ingin menyerap tiap detail. Semoga suatu saat nanti pasti aku bisa tinggal di rumah seperti ini, bisiknya dalam hati, muncul begitu saja.

Sampai di depan pintu utama, ia menatap sedikit kaku. Sesuai arahan, ia dipersilakan langsung masuk. Tangan Zaskia baru terangkat hendak memutar gagang pintu panjang itu ketika tiba-tiba pintu terbuka sendiri. Ia tersentak, mundur setapak. “Eh... dih, ngagetin nih pintu. Kenapa jadi serem,” gumamnya sambil mengelus dadanya yang berdetak lebih cepat dari tadi. Sensasi merinding ringan menjalari lengannya.

Dengan langkah pelan, ia masuk. Pandangannya tertuju pada sofa krem di sebelah kanan pintu. Ia merapikan rok lebarnya sebelum duduk. Di depannya, meja kaca berbingkai emas terisi cemilan dan jus. Rapi, seperti sudah disiapkan khusus. Zaskia sempat melirik kanan–kiri. Rumah sebesar ini… tapi heningnya seperti gedung yang baru saja dikosongkan.

Jika bagian depan saja sudah membuatnya kagum, bagian dalam rumah ini membuat Zaskia hampir menganga. Sangat...sangat indah, tapi entah kenapa keindahan itu terasa dingin.

Tiga menit kemudian, seorang perempuan muda turun dari lantai atas dan mendekat. “Permisi, Nyonya. Saya Dara. Ada yang bisa saya bantu?” sapanya ramah, kedua tangan disatukan di depan dada. Rautnya menenangkan, membuat detak jantung Zaskia sedikit stabil.

Baru hendak berdiri, Dara menghentikannya. “Duduk saja, Nyonya.”

Zaskia kembali duduk, sedangkan Dara tetap berdiri. “Em...saya Zaskia, Kak Dara. Saya ke sini mau bertemu pemilik Alistair Intel Agency.”

Dara mengangguk. “Baik. Sebelum bertemu dengan tuan muda, Nyonya harus bertemu dulu dengan Bapak Bos ya. Silakan Nyonya mencicipi suguhan kami.” Senyumnya santun, tapi ada sesuatu dalam sorot matanya yang terasa… disiplin.

“Tidak usah, Kak Dara. Langsung saja bertemu Bapak Bos,” tolak Zaskia, tidak ingin membuang waktu. Tangannya meremas rok tanpa sadar.

“Maaf, Nyonya. Ini memang tradisi di rumah ini. Tamu harus makan meskipun sedikit, sebagai bentuk apresiasi pada maid.”

Akhirnya Zaskia menurut. Begitu banyak cemilan dan buah-buahan. Ia memilih roti kecil berbentuk bulat dengan leci di atasnya—yang paling cepat ia habiskan agar tidak membuat Dara menunggu. Saat menggigitnya, ia merasakan ruangan itu seperti terlalu sunyi untuk ukuran rumah megah.

“Sudah, Kak.”

Dara tersenyum. “Baik, mari saya antar.”

Zaskia mengikuti dari belakang. Ruangannya ternyata ada di lantai dua. Tangga marmer tinggi itu berkilau, dan lantainya begitu luas seperti bisa dilintasi motor. Suara langkah mereka menggema, tidak ada suara lain. Tidak ada pelayan lalu-lalang. Tidak ada aktivitas rumah. Hanya mereka berdua. Zaskia menelan ludah kecil; rasa penasaran bercampur waspada.

Karena ia tipe yang tak ingin diam jika bersama perempuan, ia bertanya, “Kak, saya baru pertama kali ke sini. Rumahnya megah, tapi kenapa sepi banget? Kayak tidak berpenghuni.”

“Saya ingin menjawab, Nyonya,” ucap Dara. Kali ini suaranya lebih tegas. “Tapi maaf… itu bukan bagian saya. Dan pertanyaan Anda termasuk privasi kami.”

Zaskia tertegun. Dara yang tadi sangat lembut kini berubah formal. Ada garis tipis di antara ramah dan profesional yang tidak berani ia langkahi. Dan benar, mungkin tidak sepantasnya ia bertanya lebih jauh.

Tanpa sadar, mereka sudah sampai di depan sebuah pintu besar.

“Silakan masuk, Nyonya.” Dara membukakan pintu.

Saat Dara hendak menutupnya, Zaskia buru-buru memanggil, “Kak Dara!”

Pintu sedikit terbuka kembali. “Ada apa, Nyonya?”

“Ini...sepi banget, Kak. Mana Bapak Bosnya?” Suaranya bergetar tanpa ia rencanakan. Ada rasa dingin di antara udara ruangan itu.

Dara tersenyum lembut, kembali seperti awal. “Nyonya duduk saja. Beliau akan segera menemui Anda.”

Dengan wajah terpaksa dan napas yang berusaha ia atur, Zaskia menurutinya.

Zaskia duduk kaku, jemarinya tanpa sadar meremas ujung rok. Ruangan itu luas, tapi sunyinya seperti menekan dadanya. Udara AC terasa terlalu dingin, membuat kulit lengannya merinding halus.

Tiba-tiba, suara langkah pelan terdengar dari pintu lain di ruangan itu.

Zaskia menegakkan punggung. Jantungnya berdebar, entah karena tegang atau karena firasat aneh yang mengikutinya sejak memasuki rumah.

Hingga akhirnya...seseorang muncul dari balik pintu samping.

Seorang pria dengan kemeja putih rapi. Bahunya lebar. Wajahnya serius, dan mata itu…

mata yang pernah ia lihat.

Zaskia membeku.

Tidak mungkin.

Tidak...mungkin.

Pria itu berjalan menuju kursi di depan Zaskia dengan sorot mata tenang.

“Pak Irwan...” suara Zaskia nyaris tidak terdengar, seperti tercekat.

Pak Irwan menghela napas perlahan, seakan mengumpulkan kata. “Zaskia,” ia berhenti sebentar, menatap lebih dalam. “Maaf membuatmu menunggu.”

Tubuh Zaskia terasa dingin dari ujung kaki hingga tengkuk. Rasanya dunia berhenti berputar.

Pemilik Alistair Intel Agency—yang katanya berpengaruh, ternyata orang yang sering ia temui di pabrik sepatu.

Zaskia menggeleng cepat. “Tidak, Pak. Em...” Ia menggaruk pelipis, mencoba menyusun pikirannya. “Saya tidak menyangka kalau Bapak Bos itu Pak Irwan. Sungguh...saya masih belum bisa percaya. Apalagi mengingat omongan Bapak waktu di pabrik, dan sekarang...?” Ia menunduk sebentar. “Jadi banyak sekali pertanyaan di kepala saya. Apa ini ada hubungannya dengan Bapak ingin saya menceritakan masalah saya? Itu berarti Bapak juga kenal Papanya Nadine. Plot twist banget.”

Senyum tipis muncul di bibir Irwan. “Oke, Zaskia. Saya tahu kamu terkejut sampai bertanya berurutan begitu. Saya jawab satu-satu, ya.”

Ia merapikan duduknya.

“Pertama, saya bukan pemilik agency ini, tapi anak saya. Dan sekarang, saya akan jelaskan kenapa kamu bisa sampai di sini.”

Irwan menghela napas sebelum melanjutkan.

“Saya pernah bilang, kan? Kalau saya tahu latar belakang orang-orang yang berhubungan dengan saya. Termasuk kamu.” Suaranya mantap. “Saya tahu kamu berusaha mencari ibumu lewat detektif karena proses polisi lambat. Nadine ingin membantumu lewat ayahnya. Dan kebetulan, saya kenal Papanya Nadine karena dia sering meminta bantuan pada anak saya. Mungkin...sudah jalannya kita bertemu lagi.”

Zaskia memberanikan diri menatapnya lekat-lekat, mencoba memahami.

“Soal ucapan saya bahwa kamu akan mendapat uang lebih dari yang pernah kamu dapat...kamu akan tahu jawabannya setelah bertemu dengan anak saya nanti.”

Zaskia mengernyit. Semuanya masih sulit masuk ke kepalanya, tapi perlahan ia mulai melihat benang merahnya.

“Baik, Pak. Saya...mencoba memahami. Intinya, kapan saya bisa bertemu dengan anak Bapak?”

“Kamu bisa menemuinya besok.”

“Terus kenapa saya disuruh ke sini hari ini kalau ketemunya besok?” Nada Zaskia naik sedikit tanpa ia sadari. Ia merasa seperti dipermainkan.

Irwan mengangguk kecil, memahami. “Tenang, Zaskia. Memang begini prosedur agency di sini. Mereka tidak melayani lewat online.”

Ia mengambil sebuah map dari laci. “Ini. Kamu bawa pulang, baca, dan isi sesuai instruksi. Sebenarnya bukan saya yang seharusnya menangani kamu, ada petugas lain. Tapi karena saya tahu kamu yang akan datang...jadi saya yang melayanimu.”

Zaskia mengerjap. “Memang, Pak, Bapak kan bos. Tapi...kenapa kalau saya?”

“Karena kamu istimewa,” jawab Irwan pelan. “Dan itu sudah saya buktikan ketika kamu masuk ke rumah ini.”

Deg.

“Oh...jadi pelayanan tadi sudah direncanakan? Tapi kenapa? Dan...panggilan ‘Nyonya’ itu?” gumamnya dalam hati. Ia cepat-cepat menggeleng untuk tidak berpikir terlalu jauh. Yang penting sekarang adalah ibunya.

“Kamu kenapa, Zaskia?” tanya Irwan.

Zaskia tersentak kecil. “Ah, tidak, Pak. Ini saya terima map-nya.” Ia mengambil map itu hati-hati.

“Kalau begitu saya pamit.”

Irwan mengangguk. “Di depan ada mobil yang siap mengantar kamu pulang.”

Zaskia tertegun. “Tidak usah, Pak,” tolaknya cepat. Menurutnya ini terlalu berlebihan.

“Sudah sore menjelang magrib. Tiga jam itu lumayan lama. Kamu akan aman dengan sopir saya.”

Zaskia menimbang. Dalam hati, ia tahu Pak Irwan benar. Akhirnya ia mengangguk.

“Baik, Pak. Sekali lagi, terima kasih.”

1
Takagi Saya
Terhibur!
zeyy's: haloo, ayo saling support. tolong like + komen karya ku juga ya kak, semangat!
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!