Tak pernah di sangka kehidupan bahagia keluarga Azka akan berakhir mengerikan hanya karena Ayahnya di tuduh menghamili anak dari seorang kaya dan sangat berpengaruh di desanya.
Azka yang sakit hati, terpaksa mengambil jalan pintas untuk membalaskan kekejaman para warga yang sudah di butakan oleh uang.
Dia terpaksa bersekutu dengan Iblis untuk membalaskan sakit hatinya.
Bagaimanakah nasib Azka, selanjutnya? Yu ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KETAKUTAN PRAPTO
Acara pemakaman berlangsung begitu mencekam. Langit yang semula telah menampakkan sinarnya, kini tertutup oleh awan hitam tebal menyelimuti area sekitar desa tesebut.
Para penggali tanah di repotkan dengan tanah yang begitu keras saat di cangkul.
"astagfirullah, ini kenapa ya, Rin. Kok tumben tanahnya keras sekali, tidak seperti biasanya." tanya Embah Rofik, yang memang ahli dalam menggali liang kubur bersama Sobirin.
"saya juga tidak paham, Embah. Sampe pegel tangan saya ini, sudah dua jam, tapi tanah yang kita gali masih saja beberapa centimeter kedalamannya. Mana cuaca macam mau turun hujan lagi, Embah." keluh Sobirin, mengusap peluh keringat yang nampak sudah membasahi wajahnya.
"waduh, iya juga nih. Ayo kita gali lagi sedapatnya."
Keduanya pun kembali menggali lagi. Namun tetap, hingga tenaga mereka hampir terkuras habis, tanah tak kunjung juga tergali penuh.
Hingga Mang Karim dan Prapto datang. "astaga, Embah?! Kok sedari tadi belum kelar-kelar? Rombongan sudah di jalan menuju kesini."
"walah Rim, tanahnya alot banget! Kita sampe kuwalahan ini. Sudah berapa kali pindah tempat, tetap sama, keras sekali!."
"kok bisa sih, Embah! Sini mau saya coba." Prapto pun mencoba menggali, satu cangkulan ia layangkan, dan saat cangkul mata cangkul menyentuh tanah, benar saja, mata cangkul itu seolah menatap batu.
"wah...! Ini pasti karena desa kita kemarau berkepanjangan hingga tanah menjadi keras." kilah Prapto yang tidak mau berpikir buruk. Namun ujung matanya melihat sesosok yang dia masih ragu, apakah benar apa yang di lihatnya. Saat dia menoleh, sosok itu pun hilang.
Prapto menghela napas lega.
"Cuma bayanganku saja sepertinya." Gumam Prapto yang terdengar samar oleh Karim.
"Kamu kenapa, Prap? Kok makanya terilhat tegang begitu. Lihat setan, kamu!" Gurau Karim.
"Enggak. Ini lo, tanah kok atos sekali." Kilah Prapto yang tidak ingin menceritakan sosok yang ia lihat tadi.
"ya sudah, ayo kita bergantian saja, biar kita bisa menggali nya tidak terlalu capek." Ujar Karim. Tanpa ia sadari, Prapto menelan air liurnya kasar, tak berani menatap sosok yang berada di belakang punggung, Karim.
ke empatnya pun bergotong royong. Namun, baru 10 menit mereka telah kelelahan.
"ya ampun. Capek sekali rasanya." karim mengelap
keringatnya yang terus saja jatuh bercucuran. Tiba-tiba hujan deras pun turun. Prapto yang sejak tadi selalu curi-curi pandang, terlihat matanya mencari sesuatu, yang membuat yang lain penasaran.
"Kamu kenapa sih, Prap?! Sedari tadi kayak orang ketakutan, sekarang malah kayak orang kehilangan sesuatu. Kamu kerasukan setan kuburan apa?!" Bentak Karim yang merasa risih dengan sikap Prapto.
Prapto yang tidak ingin jujur menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Eh! Hehe! Nggak ada kok, nggak ada. Sudah! Ayo kita lanjutin. Takut rombongan sampai, kita malah belum selesai." Kilah Prapto yang sebenarnya merasa lega, sosok itu sudah lenyap. Dia pun berharap, itu hanya halusinasinya saja. Namun tetap! Sosok itu mulai membuatnya tidak tenang.
"alhamdulillah. Hujan! Memang Allah maha tau. Ayo gali lagi." ucap Sobirin yang hampir putus asa.
Yang lain pun ikutan semangat.
Namun, kendala pun terjadi lagi. Yang mana, tanah yang sudah di gali, kini terus saja di genangi air.
"sial! Repot sekali sih?! Menggali tanah buat si Jaka itu. Selalu saja membuat kita kerepotan." keluh Karim.
"betul! Padahal hujan sudah reda." sambung Prapto, yang kelelahan. Sobirin dan Embah Rofik hanya saling pandang, keduanya pun merasakan ada hal yang janggal. Bulu kuduk mereka terus saja meremang, dan seperti ada mata yang terus mengawasi mereka.
"Embah! Perasaan saya makin nggak enak." Bisik Sobirin.
"Istigfar. Jangan perdulikan hal-hal itu. Mari kita berdoa yang terbaik." Ujar Embah Rofik.
Sampai tibalah rombongan pengantar jenazah tiba.
"gimana, Embah?" Tanya Pak RT yang berada di barisan depan. Karena selain RT, dia adalah Ayah kandung dari Jaka.
"Walah, Pak. Lobangnya tergenang air terus. Kami sudah coba pindah beberapa tempat, namun masih tetap sama." Jelas Embak Rofik.
"Ya ampun. Padahal waktu sangat panjang buat kalian menggali, dan hujan pun cuma lima menit, kenapa belum juga selesai?! Sebelumnya kan, cuaca belum hujan, Embah? Kenapa nggak dari sebelum hujan?" Protes Pak RT kesal.
"Wah, Pak RT. Kita juga sudah menggali dari sebelum hujan tadi. Tapi tanah macam batu! Susah di cangkul pak." Imbuh Karim.
"Kan, benar. Jaka memang kena karma! Bukan di guna-guna." Tegas pengantar jenazah yang berada di belakang.
"Enak saja! Anak saya tidak seperti itu! Dia pemuda yang baik dan suka menolong. Dan saya yakin! Ada seseorang yang iri kepada anak saya. Awas saja kalian kalau menjelek-jelekkan anak saya lagi!" Kesal Pak RT, yang ia yakini, kematian anaknya pasti ada sangkut pautnya dengan ilmu hitam. Dia yang tidak mau nama anaknya jelek di mata masyarakat, mulai berpikir mencari kambing hitam untuk sementara atas meninggalnya Jaka, putra tersayangnya.
Semua pun kembali diam.
"Terus gimana ini, Pak RT! Masa kita lelepin mayatnya begitu saja." Ujar salah satu warga.
"Enak saja kalian bilang. Mari kita buang airnya bersama-sama. Saya tidak mau anak saya di kuburkan dengan tidak selayaknya, ya?" Semua warga pun mau tidak mau menguras lubang tersebut. Tapi tetap saja banjir lagi, banjir lagi.
Pak Imam pun akhirnya maju turun tangan, karena melihat keganjilan tersebut.
"Sebaiknya kita berdoa bersama, meminta kepada sang Khaleq agar membantu kita." Ucap Pak Imam.
Semua pun patuh tanpa bertanya. Karena mereka sudah melihat sendiri lubang itu tak jua surut dari air.
Doa-doa pun di panjatkan. Sampai akhirnya, lobang itu surut juga.
"Alhamdulillah." Ucap semuanya merasa bersyukur.
Setelah pemakaman selesai. Semua warga berduyun-duyun meninggalkan tempat itu.
Prapto yang sejak tadi merasa tak nyaman, di tengah
perjalanannya, dia menoleh kebelakang, dan kembali ia melihat sesosok yang sangat ia kenal, menatapnya tajam.
Yang awalnya wajahnya hanya pucat, kini tiba-tiba memerah penuh ketakutan.
Prapto segera berlari terbirit-birit, membuat heran yang lainnya.
SREEK... SREEK...!
"Aaakkhhh!!!" Teriaknya. Tiba-tiba ia tersungkur ke tanah.
"Ampun! Tolong jangan ganggu saya. Saya cuma di suruh!" Racaunya sambil menangkupkan kedua tangannya. Beringsut mundur, dengan wajah penuh kotoran tanah yang masih sangat basah.
Karim yang perasaanya tidak enak. Segera memapah, Prapto. Ia yakin Prapto, pasti melihat makhluk yang tak kasat mata. Ia segera membawa Prapto pergi.
"Prap! Kamu pasti kecapekan. Ayo kita pulang." Karim tergesa-gesa memapah Prapto pergi.
Prapto masih menoleh kebelakang. Di pandangannya, makhluk itu berubah menjadi monster yang di penuhi api.
Dan terus mengikutinya.
"Tidak! Ayo, Rim. Kita harus segera lari. Ayo!" Prapto menarik lengan Karim supaya berlari kencang.
Karim yang masih belum paham, hanya bisa menuruti perintah Prapto.
Keduanya pun sampai di gardu desa. Prapto menoleh kembali, mengecek sosok itu. Tapi sudah tidak terlihat lagi.
Dia pun menyandarkan tubuhnya di tugu tersebut lalu merosot. Napasnya tersengal, sambil memejamkan mata sejenak.
Pas di buka.
"HUAAAAHHH!!!" teriaknya persis seperti orang melihat hantu yang siap menerkamnya.
"Prapto!!! Sadar!!!" Karim menggoyang-goyangkan tubuh Prapto.
"Mang! Ada apa? Ini saya." Ujar Azram. Prapto terlihat panik.
"Loh! Loh! Kok kamu? Bu-bukannya... di hadapanku tadi..."
Prapto terlihat linglung.
"Mamang kecapekan kali. Sebaiknya cepat pulang." Ucap Azram.
Mang Karim tanpa sepatah pun segera memapah temannya itu.
Azram tersenyum menatap punggung keduanya.
Pak Imam menepuk punggung Azram.
"Asalamualaikum, Azram." Sapa Pak Imam.
Azram hanya melirik lalu tanpa sepatah pun segera
pergi meninggalkan Pak Imam yang menghela napas dalam.