NovelToon NovelToon
Mafia'S Innocent Love

Mafia'S Innocent Love

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Mafia / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Balas Dendam / Persaingan Mafia
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nanda wistia fitri

Xaviera Collins, gadis yatim piatu bermata hazel yang biasa dipanggil Xerra, hidup bersama bibi, paman, dan dua sepupunya.
Meski selalu diperlakukan tidak adil oleh bibinya yang kejam, Xerra tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh semangat. Hidupnya nyaris tanpa beban, seolah ia mampu menertawakan setiap luka yang datang.

Namun, malam itu segalanya berubah.
Demi uang, bibinya menjual Xerra ke sebuah rumah bordil di pinggiran kota. Di sanalah ia pertama kali bertemu Evans Pattinson seorang mafia terkenal yang ditakuti banyak orang karena kekejamannya.

Pertemuan itu menjadi awal dari takdir gelap yang tak pernah Xerra bayangkan.
Evans, pria yang terbiasa menumpahkan darah tanpa ragu, justru mulai terobsesi padanya. Di balik tatapan dingin dan dunia yang penuh dosa, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan ingin memiliki dan takut kehilangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda wistia fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Evans membawa Xerra melewati pintu utama mansion tepat saat matahari terbit.

Ben dan Gerry yang baru selesai mandi setelah aksi mereka tengah malam merebut senjata dan membunuh musuh langsung berdiri begitu melihat sang bos.

Namun pandangan mereka bukan ke Evans melainkan ke Xerra yang digendong di punggungnya.

Gerry mengangkat alis.

Ben menahan tawa kecil.

Evans melempar pandangan tajam.

Keduanya langsung menunduk seperti sedang melihat granat tanpa pin.

Di dalam mansion, pelayan-pelayan segera menghampiri.

“Selamat datang kembali, Tuan Evans....”

Evans mengangkat tangan, menghentikan kata-kata mereka.

“Mulai hari ini, siapkan semua kebutuhan Xerra. Dia akan menjadi nyonya muda rumah ini.”

Para pelayan saling pandang, terkejut tapi patuh.

“Baik, Tuan.”

Xerra kaget. Ia hampir melonggarkan pegangan di bahu Evans.

“O...om… kau belum bilang apa-apa soal ini…”

“Baru saja kubilang,” jawab Evans santai, seolah hal itu tidak butuh persetujuan kedua belah pihak.

Setelah sampai ruang tengah, Evans perlahan menurunkan Xerra ke sofa empuk berwarna putih gading.

Ia menatap gadis itu dengan mata gelap namun tenang.

“Kau haus?”

“Lapar?”

“Dingin?”

Xerra gelagapan. “Aku… aku tidak apa-apa.”

Evans mengerling ke pelayan.

“Bawakan susu hangat, sup ayam, selimut, dan baju ganti. Yang lembut.”

Pelayan berlari kecil.

Xerra mengangkat tangan, bingung.

“Om, aku bukan bayi…”

Evans duduk di kursi di depannya, menyilangkan kaki.

Namun sorot matanya tak pergi dari wajah Xerra sedetik pun.

“Kalau aku tidak memperhatikanmu, siapa lagi?”

Kalimatnya sederhana.

Tapi mengandung kepemilikan yang kuat.

Xerra menelan ludah.

Tak lama, salah satu pelayan wanita keluar dari kamar khusus penyimpanan barang.

Di tangannya ada sebuah kotak panjang.

“Ini… yang Tuan Evans minta untuk disiapkan.”

Xerra langsung merasa ada yang tidak beres.

Evans berdiri, mengambil kotak itu, lalu meletakkannya di pangkuan Xerra.

“Buka.”

Dengan tangan gemetar, Xerra membuka kotaknya.

Di dalamnya sebuah gaun putih sederhana, elegan, dan terlihat seperti… gaun pernikahan tradisional yang dimodifikasi.

Xerra memandang gaun itu, lalu memandang Evans.

“Om… ini… ini gaun pernikahan…”

Evans memasukkan kedua tangannya ke saku, ekspresinya tenang tapi tidak memberi ruang keberatan.

“Kita akan menikah dalam tiga hari.”

Xerra tersentak keras.

“Tiga hari? Kenapa cepat sekali?!”

“Supaya tidak ada lagi rencana kabur.”

Xerra langsung memadam.

Dia tidak bisa bantah.

Evans melangkah mendekat, jongkok di depan Xerra, wajahnya hanya beberapa centimeter dari wajah gadis itu.

“Sampai hari itu tiba,” suaranya rendah, “kau tetap harus berada di dalam mansion. Tidak keluar. Tidak menyentuh gerbang. Tidak mendekati hutan.”

Ia mengangkat dagu Xerra dengan dua jarinya.

“Aku tidak suka kehilangan apa pun yang kupilih.”

Xerra membeku, tak mampu menjawab.

Evans tersenyum tipis senyuman yang bukan ramah, tapi puas.

“Kau mengerti, bukan, calon istriku?”

Xerra akhirnya mengangguk kecil, takut dan pasrah campur-aduk.

Evans lalu berdiri, menatap Ben dan Gerry.

“Awasi mansion dua kali lebih ketat. Kalau Xerra keluar lagi tanpa izin…”

Ia tidak melanjutkan. Tidak perlu.

Ben dan Gerry langsung tegang dan mengangguk cepat.

*****

Malam itu, saat semua orang sibuk mempersiapkan pernikahan yang belum dia setujui sepenuhnya,

Xerra duduk sendirian di ranjang besar kamar mewahnya…

sambil memandang gaun putih yang tergantung indah di depan mata.

Ia berbisik lirih.

“Aku… benar-benar terjebak oleh nya?”

Tapi meski takut, ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri

Bagian kecil dalam hatinya merasa… ini mungkin satu-satunya tempat ia bisa bertahan hidup.

Hening menyelimuti kamar besar itu,hening yang terlalu mewah untuk gadis seperti dirinya, namun terlalu menakutkan untuk membuatnya nyaman.

Xerra menarik lutut ke dada, memeluknya erat. Setiap sudut kamar terlihat indah, tapi justru itulah yang membuatnya semakin gelisah.

Semua terlalu sempurna… kecuali aku yang tak tahu nasibku.

Ia mengusap wajahnya, menghela napas yang nyaris bergetar.

“Om… kenapa sih harus aku?” bisiknya lirih.

Pintu kamar tiba-tiba diketuk pelan.

Tok… tok…

Xerra refleks duduk tegak. Suara itu tidak keras, tapi ia tahu siapa pemilik ketukan itu. Tidak ada orang di mansion yang mengetuk pelan kecuali Evans.

Benar saja pintu terbuka perlahan.

Evans masuk tanpa menunggu jawaban, seolah kamar itu milik mereka berdua. Tubuh tinggi dan bahunya yang kokoh langsung memenuhi ruang itu.

Ia tidak langsung bicara. Hanya berjalan menuju gaun putih yang tergantung di dekat jendela, lalu menyentuh kainnya dengan ujung jarinya… seolah gaun itu sesuatu yang hidup.

“Kau belum tidur,” katanya tanpa menoleh.

Xerra diam. Tidak tahu harus menjawab apa.

Evans akhirnya memutar badan, menatapnya. Tatapan itu selalu sama tenang, dingin, tapi… ada sesuatu yang lain di baliknya. Sesuatu yang membuat jantung Xerra tak menentu.

“Kau tidak suka gaunnya?”

Bukan itu masalahnya.

Bukan itu yang membuat dadanya sesak.

“Aku… takut,” jawab Xerra jujur, suara nya kecil seperti anak hilang yang butuh tempat bersandar.

Evans menghela napas pendek jarang sekali ia menunjukkan reaksi, tapi kali ini ada sedikit perubahan pada wajahnya.

Ia berjalan mendekati ranjang, duduk di tepian tanpa menyentuh Xerra.

“Takut padaku?” tanyanya datar.

Xerra menggigit bibir. “…Iya.”

Evans tidak tersinggung. Tidak marah.

Ia justru menatapnya lama, seolah membaca seluruh pikirannya.

“Aku tahu kau mencoba menyusun rencana kabur,” katanya tiba-tiba.

Xerra tersentak.

“what?! Aku tidak......”

“Saat seseorang takut, mereka selalu memikirkan jalan keluar.”

Nada suaranya tenang, tapi menusuk.

Evans melanjutkan, “Aku bukan membatasi gerakanmu karena ingin kau tersiksa, Xerra. Aku lakukan itu karena aku tahu jika kau terlalu jauh dari pengawasanku… kau akan celaka. Dunia di luar sana lebih berbahaya daripada aku.”

Xerra menelan ludah.

“Lebih berbahaya dari… om?”

Evans mendekat perlahan, memiringkan tubuhnya hingga wajah mereka hanya satu jengkal.

Xerra bisa merasakan hangat napasnya.

“Ya. Lebih berbahaya.”

Tatapannya turun pada bibir Xerra sesaat, lalu naik kembali ke mata gadis itu.

“Kau tidak mengerti seberapa banyak orang ingin membunuhku… dan mereka akan menggunakanmu sebagai jalan.”

Xerra terdiam.

Ia tahu Evans bukan orang normal, tapi… mendengar pengakuan itu membuat bulu kuduknya meremang.

“Tapi…” suara Xerra pecah, “kalau begitu, kenapa harus menikahiku? Kenapa aku?”

Evans tidak menjawab langsung.

Ia malah mengangkat tangan dan menyentuh rambut Xerra, merapikan helai yang menutupi pipinya.

“Karena aku memilihmu.”

Kalimat itu sederhana, tapi terasa seperti keputusan yang tidak bisa dibantah siapa pun. Bahkan takdir.

“Dan jika aku sudah memilih,” lanjut Evans dengan suara rendah, “aku tidak akan melepaskan.”

Jantung Xerra berdetak keras.

Evans berdiri.

Ia menarik selimut, lalu menyelimutkan tubuh Xerra perlahan,gerakannya lembut, kontras dengan sifatnya yang keras.

“Tidurlah. Besok pagi kita mulai persiapan pernikahan.”

Xerra menahan napas.

Ia ingin protes.

Ia ingin bilang kalau tiga hari terlalu cepat.

Tapi sebelum sempat bicara, Evans menatapnya sekali lagi tatapan yang membuat setiap kata hilang.

“Jangan takut padaku,” katanya pelan, hanya bisa didengar oleh mereka berdua. “Aku tidak akan menyakitimu.”

Ia memutar badan, berjalan menuju pintu.

Namun sebelum keluar, Evans berhenti.

“Xerra…”

Gadis itu mengangkat wajah.

Evans menoleh sedikit, hanya separuh, tapi cukup membuat siluetnya terlihat mendominasi ruangan.

“Mulai malam ini sampai hari pernikahan…”

suaranya turun menjadi lebih gelap, namun terdengar seperti janji,

"aku tidak akan membiarkanmu berada jauh dariku.”

Pintu menutup.

Xerra membeku.

Ia memeluk selimut, menunduk, tubuhnya terasa gemetar antara takut, bingung, dan… sesuatu yang ia tak ingin akui.

“Apa sebenarnya yang sedang kualami…?”

Di luar kamar, langkah Evans terdengar hilang perlahan.

Hening kembali menyelimuti mansion,

tapi kali ini terasa sangat berbeda.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!