Sophia lahir dari keluarga sederhana di pinggiran kota London. Hidupnya tak pernah berlebih, namun penuh kehangatan dari kedua orang tuanya. Hingga suatu hari, datang tawaran yang tampak seperti sebuah pertolongan—keluarga kaya raya, Mr. Rich Charter, menjanjikan masa depan dan kestabilan finansial bagi keluarganya. Namun di balik kebaikan itu, tersimpan jebakan yang tak terduga.
Tanpa sepengetahuan Sophia, orang tuanya diminta menandatangani sebuah dokumen yang mereka kira hanyalah kontrak kerja sama. Padahal, di balik lembaran kertas itu tersembunyi perjanjian gelap. Yakni, pernikahan antara Sophia dan putra tunggal keluarga Charter.
Hari ketika Sophia menandatangani kertas tersebut, hidup Sophia berubah selamanya. Ia bukan lagi gadis bebas yang bermimpi menjadi pelukis. Ia kini terikat pada seorang pria dingin dan penuh misteri, Bill Erthan Charter—pewaris tunggal yang menganggap pernikahan itu hanya permainan kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KAMAR BARU SOPHIA
Lorong panjang itu kini sunyi ketika suara langkah sepatu Alex terdengar pelan di belakang Sophia. Pria itu berjalan mendekat, membawa sebuah kunci kecil berukir emas di tangannya. Sikapnya tenang, suaranya rendah dan sopan—kontras dengan ketegangan yang masih menggantung di dada Sophia setelah kejadian di lorong tadi.
“Ke mari, Nona Sophia,” Ucap Alex lembut. “Tuan Edward memintaku menyiapkan kamar untuk sementara, sampai hari pernikahan nanti.”
Sophia mengangguk pelan, mengikuti langkah Alex tanpa banyak bicara. Ia berjalan dengan kepala sedikit tertunduk, jari-jarinya menggenggam tali tas kecil yang hampir tak berisi. Setiap langkahnya terasa berat, namun juga pasrah—seolah ia sekadar mengikuti alur yang sudah ditentukan tanpa tahu ke mana hati harus berlabuh.
Mereka berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna gading, dihiasi ukiran mawar yang halus di sisi bingkainya. Alex membuka pintu perlahan, dan cahaya hangat dari dalam ruangan menyambut mereka.
Di dalam, kamar itu luas dan lembut dalam nuansa krem dan emas pucat. Sebuah tempat tidur besar berdiri di tengah ruangan, dengan tirai tipis menggantung di sekelilingnya. Di sudut ruangan, ada meja rias dari kayu kenari yang dipoles mengilap, dan di jendela besar tergantung tirai renda yang membiarkan cahaya bulan masuk menembus lembut ke lantai marmer.
Sophia menatap sekeliling—ada keindahan di sana, tapi tak ada kehangatan. Kamar itu indah, namun terasa asing, seperti ruang yang disiapkan bukan untuk dihuni, melainkan untuk ditampilkan.
Alex meletakkan kunci di atas meja kecil di samping ranjang, lalu menatap Sophia dengan raut yang lembut namun menjaga jarak. “Jika Nona membutuhkan apa pun, cukup panggil saya. Mulai malam ini, kamar ini adalah tempat tinggal Anda… sampai nanti, setelah pernikahan, Tuan Edward meminta Anda pindah ke kamar anaknya.”
Kata-kata itu membuat Sophia terpaku sesaat. itu Kamar Bill. Pernyataan tersebut terasa berat, menimbulkan gelombang perasaan yang rumit di dadanya—antara takut, bingung, dan getir.
“Terima kasih, Alex,” Ucap Sophia akhirnya, suaranya hampir seperti bisikan.
"Beristirahatlah," Kata Alex menunduk sopan sambil meletakkan tas Sophia di tempat, lalu beranjak keluar, menutup pintu perlahan di belakangnya.
Begitu pintu tertutup, kesunyian menyelimuti ruangan itu sepenuhnya. Sophia melangkah pelan menuju jendela, menatap keluar ke taman gelap di bawah sinar bulan. Bayangan dirinya terlihat samar di kaca, dan untuk sesaat, ia hampir tak mengenali wajah yang menatap balik—wajah seorang gadis yang kini terjebak di antara kemewahan dan kesepian yang menakutkan.
“Ayah… Ibu…” Gumam Sophia pelAn, hampir tak terdengar, suaranya pecah di antara udara sunyi kamar megah itu.
Ia menurunkan pandangannya, menatap lantai marmer yang berkilau memantulkan cahaya lampu. Sekelilingnya begitu indah—tirai lembut, tempat tidur besar, aroma mawar yang samar—namun semua itu terasa hampa, tak ada yang benar-benar hidup. Yang terdengar hanya detak jam dinding dan napasnya sendiri.
Pelan, Sophia berjalan menuju jendela. Ia membuka tirai renda dan menatap ke luar—ke taman luas yang diterangi cahaya bulan. Angin malam masuk perlahan, menelusup ke kulitnya, membuatnya menggigil ringan. Di luar sana, dunia tampak tenang… tapi di dalam dadanya, segalanya bergejolak.
Ia menempelkan telapak tangannya di kaca dingin, membayangkan wajah Margaret dan Thomas, kedua orang tuanya yang kini entah sedang apa di rumah kecil di pinggir kota London.Tidak! Mungkin di rumah mewah baru mereka.
Air mata Sophia kembali menggenang tanpa ia sadari. “Aku di sini, Ayah… Ibu…” Bisiknya lagi, lebih lirih, suaranya bergetar. “Aku sudah sampai di tempat yang kalian bilang lebih baik. Tapi mengapa… rasanya tidak seperti yang kubayangkan? Apakah kalian masih memikirkan aku?"
Satu tetes air mata jatuh ke lantai, pecah tanpa suara. Sophia menutup matanya, menarik napas panjang, mencoba menahan guncangan kecil di dadanya. Ia melangkah perlahan menuju tepi ranjang. Setiap langkah terasa berat, seolah ia sedang berjalan di antara dua dunia kehidupan lamanya yang sederhana dan kenyataan baru yang belum bisa ia pahami.
Begitu tubuhnya menyentuh kasur, Sophia terdiam. Permukaannya lembut, empuk, bahkan wangi lavender halus. Begitu berbeda dengan kasur tipis di rumahnya yang dulu hanya berlapis kain tua dan bau serbuk kayu. Ia menekan telapak tangannya pada sprei putih bersih itu, merasakan kehangatan yang seharusnya menenangkan, tapi justru membuat dadanya semakin sesak.
****