NovelToon NovelToon
Pewaris Dalam Bayangan

Pewaris Dalam Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Persahabatan / Action / Romantis
Popularitas:252
Nilai: 5
Nama Author: Hime_Hikari

Semua orang melihat Kenji Kazuma sebagai anak lemah dan penakut, tapi apa jadinya jika anak yang selalu dibully itu ternyata pewaris keluarga mafia paling berbahaya di Jepang.
Ketika masa lalu ayahnya muncul kembali lewat seorang siswa bernama Ren Hirano, Kenji terjebak di antara rahasia berdarah, dendam lama, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh.
Bisakah seseorang yang hidup dalam bayangan, benar-benar memilih menjadi manusia biasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hime_Hikari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 – Bayangan Baru di Sekolah

Sudah tiga hari berlalu sejak malam itu. Sejak malam di mana Kenji mendengar percakapan ayahnya dengan Ryo percakapan tentang kematian ibunya, Sayaka, dan nama yang selama ini menghantui hidup mereka, keluarga Hirano.

Sejak malam itu pula, Kenji bukan lagi Kenji yang sama. Pagi itu, ia berdiri di depan cermin kamarnya. Cahaya matahari pagi masuk lewat tirai, menyoroti wajahnya yang tampak lebih dingin dari biasanya.

Matanya tidak lagi lembut seperti dulu. Ada sesuatu di sana tajam, tenang, tapi menyimpan sesuatu yang tak bisa ia pahami sendiri. Tangannya terangkat menyentuh kalung kecil yang tergantung di lehernya, peninggalan ibunya.

“Mama, ” bisiknya lirih, hampir seperti doa.

“Aku akan menemukan mereka. Aku janji.”

Sekolah Emerald tampak sama seperti biasa ramai, penuh tawa, dan hiruk pikuk remaja yang bercanda, namun bagi Kenji semua itu kini terasa jauh dan asing. Yuto dan Akira, dua sahabatnya, memperhatikan dari kejauhan.

“Kenji kelihatan beda, ya?” bisik Akira, menyandarkan dagu di tangan.

Yuto mengangguk sambil mengunyah permen. “Banget. Biasanya dia diam karena takut, tapi sekarang ... diamnya tuh kayak diem orang merencana sesuatu.”

“Merencana?” tanya Yuo

“Ya, lihat aja. Tatapan dia bukan tatapan orang pasrah, seperti sedang mengawasi sesuatu.” Yuto menatap Kenji dari jendela kelas.

Kenji duduk di bangkunya, menatap keluar jendela. Cahaya mentari jatuh di wajahnya, tapi ekspresinya datar, tanpa emosi. Tidak ada lagi kesan lemah. Yang tersisa hanyalah ketenangan yang mencurigakan ketenangan milik seseorang yang sudah menerima kegelapan.

Di barisan depan, Mira juga memperhatikan, ia menggigit ujung pensil, matanya tak lepas dari Kenji. Sesuatu dalam diri Kenji terasa berubah lebih sunyi, tapi juga lebih berbahaya.

Saat pelajaran berakhir, Mira berjalan mendekat.

“Kenji,” panggilnya pelan. “Tangan kamu, kenapa Ken?”

Kenji mengangkat kepala. Saat ia menggulung lengan seragamnya, Mira melihat bekas luka kemerahan di pergelangan tangannya.  Dadanya terasa sesak.

“Itu … kenapa lagi?” tanyanya khawatir.

Kenji menurunkan lengan bajunya cepat-cepat. “Nggak apa-apa, cuma jatuh.”

Kalimat itu keluar begitu tenang, tapi dinginnya membuat Mira merinding.Dulu Kenji berkata begitu karena takut. Entah kenapa sekarang ia merasakan kalau Kenji sedang menyembunyikan sesuatu yang lebih besar. Jam istirahat tiba, tiga sahabat itu duduk di taman belakang sekolah seperti biasa. Tapi kali ini, tidak ada tawa. Hanya angin yang bergerak di antara daun dan suara burung yang jauh diatas sana.

“Ken,” kata Akira akhirnya, pelan. “Akhir-akhir ini kamu aneh. Kamu yakin nggak apa-apa?”

Kenji tersenyum samar. “Aku cuma mulai belajar buat nggak takut lagi.”

Yuto menatapnya dengan dahi berkerut. “Ngomongnya kayak orang lain. Biasanya kamu mengeluh kalau disuruh lawan mereka.”

Kenji mengangkat pandangan. Matanya menatap langit  kosong, tetapi di dalam pikirannya sudah penuh dengan pembicaraan antara Kazuma dan Ryo beberapa hari yang lalu. Kenji langsung menatap ke arah kedua temannya.

“Kadang,” katanya lirih, “Buat bisa hidup, kita harus berhenti jadi diri yang lama.”

Tidak ada yang menjawab dari Yuto dan Akira. Tapi di antara mereka, pasti ada sesuatu yang Kenji sembunyikan. Yuto dan Akira bisa merasakan  berubah  jarak yang tak kasat mata mulai terbentuk.

Sore hari, bel pulang sekolah berbunyi dan siswa mulai berhamburan keluar. Kenji berjalan sendiri melewati koridor, sementara Yuto dan Akira masih tertahan di kelas karena urusan dengan guru. Di depan gerbang, Mira tiba-tiba muncul menghadangnya.

“Kenji!” panggil Mira.

Kenji berhenti. “Mira?”

“Boleh aku tanya sesuatu?” tanya Mira bergetar sedikit.

Kenji hanya diam, menatapnya tenang. Ia bisa melihat tingkah laku Mira yang seperti orang ketakutan, tetapi dia mencoba untuk pura-pura tidak tahu.

“Apa kamu benar-benar baik-baik saja?” lanjutnya.

“Aku tahu kamu nggak suka cerita, tapi aku lihat kamu kayak ... nyembunyiin sesuatu.” Kenji menatap gadis itu lama. Tatapan mereka bertemu, dan untuk sesaat waktu terasa berhenti.

“Mira,” ucapnya perlahan.

“Kadang, kalau kita ingin melindungi sesuatu, kita harus berani berubah. Kalau itu berarti jadi orang yang nggak mereka kenal lagi.” Mira ingin membalas, tetapi Kenji sudah melangkah pergi.

Mira hanya berdiri disana, menatap punggung Kenji yang semakin menjauh langkah yang terasa berat, sudah pasti. Untuk pertama kalinya, Mira merasa takut bukan pada Kenji, tetapi apa yang akan terjadi pada masa depan yang menantinya.

Malam menjelang, di kamarnya, Kenji duduk di depan meja kayu tua. Lampu temaram menciptakan bayangan samar di wajahnya, di atas meja, terbuka sebuah buku catatan lusuh yang ia temukan di gudang bawah tanah rumahnya malam sebelumnya.

Halaman terakhir berisi daftar nama beberapa sudah tercoret dengan tinta merah.

Dan di paling bawah, hanya satu nama yang tersisa. Daisuke Hirano, Jari Kenji menyentuh nama itu pelan.

Matanya memantulkan cahaya redup lampu meja, dan di sana ada sesuatu yang belum pernah muncul sebelumnya kebencian.

“Tunggu sebentar lagi giliran Kamu, Tuan Hirano ” bisiknya dingin.

Di luar, hujan turun perlahan. Petir menyambar di kejauhan, seolah langit ikut memahami niatnya. Bayangan Kenji di jendela tampak memanjang lebih tinggi, lebih tegas, lebih gelap.

Keesokan paginya, sekolah Emerald kembali riuh. Tawa dan suara langkah kaki siswa memenuhi lorong. Tapi di tengah keriuhan itu, Kenji berjalan dengan tenang  berbeda dari semua orang di sekitarnya.

Saat ia melewati koridor utama, seorang siswa baru berdiri di depan kelas bersama guru.

Tinggi, berpenampilan rapi, dengan senyum sopan yang entah kenapa terasa dingin.

Guru memperkenalkan. “Anak-anak, ini murid pindahan baru kita. Silahkan perkenalkan diri.”

Siswa itu melangkah maju, menatap sekeliling untuk melihat teman yang akan menjadi teman sekelasnya nanti. ia pun menuliskan namanya di papan tulis.

“Namaku Ren Hirano. Senang bertemu dengan kalian.” Suasana kelas mendadak sunyi.

Yuto yang duduk di belakang berbisik, “Kenji … denger nggak tadi? Namanya.”

Namun sebelum ia melanjutkan, pandangan Kenji sudah terkunci pada Ren. ia menatap Ren dengan tatapan yang tajam penuh dendam, hanya dengan mendengar nama itu, Hirano. Udara di antara mereka seolah membeku.

Tidak lama terdengar suara bel sebagai tanda sudah waktunya beristirahat dimulai. Tampak semua siswa dan siswi keluar dari kelas untuk menghilangkan rasa lapar mereka. Saat Kenji, Yuto, dan Akira hendak keluar untuk memakan bekal mereka, Ren menghampiri mereka bertiga.

Ren menatapnya dengan senyum tipis, lalu mengulurkan tangan. “Kamu Kenji, kan?”

Kenji menatap balik. “Iya. Kamu baru pindah dari mana?”

“Osaka,” jawab Ren singkat.

“Mungkin kita bakal sering ketemu.”Kenji menatap tangan itu sesaat, lalu membalas uluran tangan tanpa ekspresi.

“Oh, begitu. Selamat datang.” Ia lalu berjalan pergi, meninggalkan Ren yang masih tersenyum di belakang.

Begitu ia berbelok di ujung koridor, tanpa disadari oleh Yuto dan Akira wajah Kenji berubah dan kedua tangannya mengepal kuat, nadinya berdenyut.

“Hirano, ” kata Kenji  lirih. “Jadi, permainan sudah dimulai.”

Dari lantai atas gedung sekolah, seseorang memperhatikan mereka diam-diam terlihat  sosok berjas gelap dengan earphone di telinganya. Di tangannya, alat komunikasi bergetar pelan.

“Boss, anak Kazuma dan cucu Hirano akhirnya bertemu.” Suara berat menjawab dari seberang, tenang tapi mengandung ancaman.

“Jangan ganggu mereka … belum saatnya. Biarkan mereka tumbuh, dan saat waktunya tiba, biarkan mereka saling menghancurkan.” Petir kembali menyambar langit di atas Emerald. Dan di antara suara hujan yang jatuh, dua nama Kenji dan Hirano kembali menggema dalam bayangan masa lalu yang belum selesai.

1
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update
Glastor Roy
up
Glastor Roy
update ya torrr ku
Hime_Hikari: hallo kak di tunggu saja kak untuk update terbarunya
total 1 replies
putri baqis aina
Teruslah menulis dan mempersembahkan cerita yang menakjubkan ini, thor!
Hime_Hikari: Terima kasih kak 😁😁
total 1 replies
Ryner
Author, kapan nih next chapter?
Hime_Hikari: Ditunnggu saja ya kak

Terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!