“Menikahlah denganku, Jia.”
“Berhentilah memikirkan masa lalu!! Kita tidak hidup di sana!!”
“Jadi kamu menolakku?”
“Apa yang kamu harapkan?? Aku sudah menikah!!!!”
Liel terdiam, sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan. Sorot matanya yang tajam itu kembali lagi. “Aku tahu kamu sudah bercerai. Pernikahan macam apa yang sehari setelah menikah sudah tidak tinggal satu atap?”
Sebelas tahun lebih, mereka memutuskan untuk menyerah dan melupakan satu sama lain. Namun, secara ajaib, mereka dipertemukan lagi melalui peristiwa tidak terduga.
Akan kah mereka merajut kembali tali cinta yang sudah kusut tak berbentuk, meski harus melawan Ravindra dan anaknya Kay, wanita yang penuh kekuasaan dan obsesi kepada Liel, atau justru memilih untuk menyerah akibat rasa trauma yang tidak pernah sirna.
Notes : Kalau bingung sama alurnya, bisa baca dari Season 1 dulu ya, Judulnya Beauty in the Struggle
Happy Reading ☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Avalee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Seindah Cahaya Rembulan
Liel duduk di ruang kerjanya. Sesekali matanya menoleh ke jendela. Tidak ada apapun di sana, kecuali malam kelabu tanpa berhiaskan cahaya rembulan.
Dia pun segera meminum air putih dari gelas kaca yang ada di meja kerjanya. Rasa segar dari air putih itu tidak mampu mengalahkan momen manisnya pertemuan antara dirinya dengan Jia semalam.
Dia begitu takjub, gadis remaja aneh yang dulu pernah dia kagumi kini tumbuh menjadi wanita dewasa yang anggun dan cantik. Tidak, dari dulu dia sudah rupawan, namun saat ini, dia semakin elok dipandang. “Classic bob hair” yang selalu melekat pada dirinya sekarang berubah. Jia memanjangkan sedikit rambutnya.
Aroma Vanili yang lembut keluar dari tubuhnya, membuat Liel lebih menginginkan Jia. Bahkan Liel hampir tidak tahan saat melihat bibir mungil Jia sangat dekat wajahnya, membuat Liel bak singa buas yang kelaparan, ingin segera melahap Jia ke dalam dirinya. Namun, niat kotor itu dia tepis, sebab hanya akan menjadi malapetaka jika hanya Liel yang menginginkannya.
Sungguh, Liel sendiri tidak pernah menyangka bahwa secara kebetulan, dia bisa bertemu kembali dengan Jia.
Sejujurnya, Liel bukanlah orang yang menyukai makanan manis. Akan tetapi, entah mengapa saat itu kakinya melangkah tanpa beban dan paksaan menuju toko kue tersebut, membuatnya semakin yakin, bahwa pertemuan yang alami karena alam semesta mendukungnya, itu sungguh ada.
Kemudian ponselnya berbunyi, membuyarkan lamunannya tentang Jia. Tony menelponnya. Liel merasa enggan untuk mengangkatnya, sebab ingatan tentang momen manisnya bersama Jia harus padam.
Namun, Tony terus menelponnya, membuat Liel harus mengangkatnya. “Tidak bisakah kamu menelponku besok hari??”
“Maaf Tuan, tapi ada sesuatu yang harus anda lihat, aku sudah mengirimkan bukti filenya ke email anda.”
Liel segera berdiri. Dia menjadi penasaran dan bersemangat saat Tony menemukan sesuatu. “Aku akan mengeceknya. Hm, dimana posisimu saat ini?”
“Saya sedang berada di rumah ketiga Pak Ravin, tuan. Aku baru saja menemukan lokasi rumah ini. Maka dari itu, aku mengirimkan beberapa file foto untuk Tuan muda analisis sendiri.”
“Apa??? Rumah ketiga? Setahuku dia hanya memiliki dua rumah!! Baiklah terima kasih sudah memberitahuku, sekarang pulanglah, tidak baik berlama-lama di dekat musuh.”
“Baik, tuan muda.”
Liel segera membuka laptop dan membuka emailnya. Disana terdapat beberapa file foto Pak Ravin yang keluar dari rumah. Wajahnya tampak waspada saat ingin keluar dari rumah tersebut.
Tidak ada keistimewaan apapun dari foto yang didapat Liel selain wajah Ravindra dan rumah yang cukup sederhana itu. Liel cukup kecewa karena tidak mendapatkan bukti apapun.
Liel berkomentar serta menggerutu tidak jelas di depan laptopnya. “Melihat wajah tua bangka ini menghabiskan waktu ku saja!! Semua foto ini menunjukkan bahwa dia hanya keluar dari rumah sederhananya, dari pintu rumah yang terbuka sampai dia tertutup sendiri … WAIT!!!! PINTU TERTUTUP SENDIRI???”
Liel dengan cepat mengulang kembali untuk melihat keempat foto tersebut dengan seksama. Liel penasaran mengapa pintu rumah tersebut tertutup sendiri tanpa Pak Ravin menutupnya. Dia mencurigai bahwa ada orang lain yang menutup pintu itu dari belakang.
Segera dirinya memperbesar semua foto yang berada di balik pintu. Nampak seperti orang berdiri dari balik pintu. Meski gelap dan terlihat tidak jelas, namun Liel cukup yakin dengan rupa orang yang menutup pintu setelah Pak Ravin keluar. Liel dengan cepat segera menelpon Tony.
“Ya, ada yang bisa saya bantu, tuan muda?”
“Cari tahu latar belakang serta keseharian Denetor saat ini, karena yang aku tahu, dia dikabarkan meninggal beberapa tahun silam. Ah satu hal lagi, tolong perjelas keempat foto ini di bagian pintu yang terbuka saja, apapun caranya, lakukan itu untukku Tony.”
“Baik, akan saya lakukan secepatnya, tuan muda.”
Kecurigaan Liel pada orang di balik pintu bukan tanpa alasan. Seraya tersenyum tipis, dia menduga bahwa orang yang dibalik pintu adalah Den. “Dua musuhku sekarang bersatu! Jika dugaanku terbukti benar, apa hubungan antara Ravindra dan Den?”
Teleponnya berbunyi kembali, membuyarkan konsentrasinya.
“Aku telah mengirimkan peta lokasinya, jadi datanglah kemari, temani aku,” ucap Doris dengan nada memelas.
“'Our Nights Lounge'? Ah aku sedang tidak ingin ke bar dan semacamnya. Aku tidur dulu … ”
“Ah, Jangan banyak alasan, nenekku saja belum tidur! Jadi, kamu harus datang, aku menunggumu.”
...****************...
Terlihat Liel dengan kemeja putih oversizenya dan celana panjang hitam, datang dan menghampiri Doris, yang terlebih dahulu menikmati minuman Whisky dan beberapa cemilan yang ada di meja mereka.
Suasana bar dengan nuansa New York yang dipilih Doris itu cukup membuat Liel terhibur. Sebab, Liel menyukai tempat bar dan cafe dengan suasana yang elegan dan modern.
“Hei … jadi benar dalang di balik perceraian Jia adalah kamu? Apakah kamu masih menyukainya?
“Haaaa … mengapa membahas itu!! Pasti Nata yang mengatakannya padamu!!”
Doris memicingkan matanya, memaksa bahkan merengek, membuat Liel harus membuka mulut untuk menceritakannya.
“Sebenarnya, kasus Jia lebih dari sekedar itu.”
Doris mengerutkan dahinya seraya meneguk sedikit whisky nya. “Hah, aku tidak mengerti?”
“Reonald itu … menyukai sesuatu yang tampan dan gagah, kamu tahu maksudku bukan? Dia menikahi Jia hanya untuk menutupi rahasianya dan karena ini adalah Jia, aku tidak terima dia diperlakukan seperti itu!!”
“Tetapi, Nata mengatakan bahwa dia menikahi wanita lain???”
“Amel? Dia adalah transpuan berwajah cantik dan belum melakukan operasi apapun untuk mengubah gendernya, dan Reonald lah penyokong utama di balik kecantikan Amel.”
Doris terdiam bak patung untuk beberapa saat. “Astagaaaa, kasihan sekali Jia … apa dia tahu? Bagai—”
“Tidak, dia tidak perlu tahu!! Sudahlah, tidak usah membahasnya lagi!! Hm, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan kepadamu … menurutmu, apakah Den masih hidup?” potong Liel seraya mengambil cemilan yang ada di atas meja.
“Mengapa? Memangnya kamu melihatnya hidup layaknya zombie? Katakan padaku, apa yang bisa aku bantu?”
“Aku minta tolong padamu, beritahu padaku jika kamu menemukan suatu kejanggalan dari kasus kematian Den. Aku percaya padamu, kawan!”
Doris tersenyum seraya menuangkan sedikit minuman whisky ke dalam gelasnya Liel. Kemudian matanya mengarah kepada meja di seberang meja mereka.
Terlihat ada tiga orang wanita berpakaian seksi melambaikan tangan kepada mereka. Doris yang melihat hal itu, tidak akan membiarkan kesempatan yang ada.
Doris mengedipkan matanya. Lalu berniat untuk membawa ketiga perempuan tersebut ke meja mereka.
“Liel, apa sebaiknya kita mengajak mereka untuk bergabung?”
“Haaa … Aku tidak tertarik!!!” balas Liel ketus.
“Heii … tidak seru jika hanya kita berdua saja bukan?”
Liel menatap sinis saat Doris mengatakan hal itu padanya. “Tidak! Jangan mengajak para betina itu ke sini!”
Doris menghela napas, ada kekecawaan yabg keluar bersamaan dengan hembusan napasnya. Dia segera mengalihkan pembicaraan. “Ugh, mengapa dia lama sekali datang ke sini??”