Valery Arnold adalah seorang wanita pengusaha pertambangan berlian yang sukses dan kaya raya. Ia hidup sebatang kara namun ia bisa sukses dalam kehidupannya setelah ia bekerja keras selama bertahun tahun. Wanita yang akrab disapa Vale ini tidak pernah memikirkan pasangan hidupnya hingga berumur 30 tahun.
Jeffry Sean adalah pria pengusaha yang kaya raya satu bidang usaha seperti Valery. Ia pria sukses berumur 33 tahun. Perusahaannya merupakan saingan berat perusahaan Valery. Namun seperti halnya Vale, pria ini belum memiliki pasangan hidup.
Bertemu di sebuah mall secara tak sengaja, Jeffry jatuh cinta pada pandangan pertama pada Valery. Untuk mendapatkan cinta wanita itu. Jeffry menyamar sebagai supir pribadi Valery dan menutupi identitas aslinya dengan menggunakan nama Jecko.
Akankah Valery jatuh cinta pada Jeffry Sean dan mengetahui identitas aslinya???
Ikuti kisahnya disini "Aku Mencintai Supir Tampanku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 💞💋😘M!$$ Y0U😘💋💞, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
"Jangan tinggalkan kami bu. Jangan pergi." ujar Jeffry.
"Maafkan ibu nak, ibu harus pergi. Ibu sudah memiliki suami. Ibu harus ikut dengannya ke Kanada. Ibu tak bisa bersama kalian ataupun mengajak kalian pergi. Maafkan ibu jaga diri kalian." jawab Susi.
"Bagaimana aku bisa mengurus Paul yang masih kecil bu, kami tak punya siapapun disini." teriak Jeffry sambil menangis.
"Dengar Jeff, ibu akan mengirimkan uang setiap bulan. Kau bisa menjaga adikmu sampai besar nanti. Ibu harus pergi sekarang." jawab wanita itu.
"Jangan bu...jangan pergi...jangan tinggalkan kami...jangan pergi..." teriak Jeffry.
Jeffry terbangun dengan peluh yang membasahi tubuhnya, nafasnya terengah engah karena lelah.
"Sialan...mimpi itu lagi." gumamnya. Ia terbangun dan turun dari ranjangnya menuju dapur untuk minum.
Jeffry memang selalu bermimpi buruk, ia selalu memimpikan ibunya saat ia ditinggalkan wanita itu begitu saja. Ia melihat jam dindingnya, masih jam 3 pagi. Tapi ia tak bisa tidur lagi. Ia menuju ruang santai dan menonton televisi sampai pagi.
"Apa yang kau lakukan bang?" tanya Paul.
"Ya Tuhan, kau membuatku terkejut." jawab Jeffry. "Mengapa kau sudah bangun?" tanyanya.
"Aku belum tidur, aku masih mengerjakan tugas kuliah bang. Tapi aku mendengar suara televisi, makanya aku menghampirinya. Ternyata bang Jeff." jawab Paul.
"Kau terlalu keras belajar Paul, sudah waktunya tidur." ujar Jeffry.
"Aku kuliah siang bang, aku masih banyak waktu. Tapi abang sudah bangun." kata Paul.
"Aku tak bisa tidur." jawab Jeffry datar.
"Apa abang mimpi buruk tentang ibu lagi?" tanya Paul. Adiknya memang tahu, jika Jeffry sering bermimpi buruk dan berteriak tentang ibunya.
"Tidak apa apa Paul, abang tidak memimpikannya." jawab Jeffry berbohong.
"Baiklah." ujar Paul lalu meninggalkannya.
Jeffry menyenderkan tubuhnya di sofa. Ia tak tahu apa yang ia lihat di televisi. Karena tentu saja hanya ada beberapa saluran televisi yang masih on. Lalu ia mematikan televisi nya dan menuju ke dapur. Ia akan membuat sandwich buat sarapan pagi ini karena hanya itu yang ia bisa.
Sejak ibunya meninggalkannya, Jeffry memang melakukan apapun sendiri. Ia sama sekali tak pernah mau merepotkan orang lain termasuk mengurus adik semata wayangnya.
*****
Valery Arnold tak bisa bangun dari tempat tidurnya. Tubuhnya tiba tiba sakit dan ia mulai demam. Valery meraih ponselnya berkali kali untuk menghubungi dokter pribadinya, tapi tangannya bergetar hebat. Ia kembali meraih gelas minumnya.
Praaaannggg... Suara pecahan gelas terdengar. Di jam seperti ini tentu saja mbok Karmi belum datang. Ini masih jam 4 pagi. Valery kembali memaksakan dirinya untuk bangun. Tapi ia malah pingsan dan jatuh disamping ranjangnya.
*****
Jeffry berangkat pukul 5 pagi menuju rumah Valery. Seperti biasa yang ia lakukan. Tapi ia heran saat di rumah wanita itu, pintu gerbang yang biasa terbuka lebar. Kali ini masih tertutup.
"Vale...mbok Karmi..." teriak Jeffry.
Tak lama mbok Karmi membukakan pintu gerbang.
"Kok pintu gerbang tidak dibuka mbok." tanya Jeffry.
"Mbok juga bingung den ganteng. Non Vale juga belum bangun. Mbok tidak berani membangunkannya." jawab mbok Karmi.
Tiba tiba perasaan Jeffry tidak enak. "Aku akan mencoba membangunkannya mbok." ujar Jeffry. Ia segera naik keatas. Jeffry mengetuk pintu kamar perlahan.
"Vale...kau belum bangun. Ini sudah siang Vale, kau tidak suka terlambat kan." ujar Jeffry. Ia menempelkan telinganya di pintu. Tapi tak ada suara. "Vale, kau baik baik saja kan?" Jeffry mulai berteriak. "Vale...aku masuk." ujarnya lagi.
Jeffry membuka pintu kamar. Kamar itu masih gelap, hanya lampu malam yang temaram menghiasinya. Jeffry melihat ranjang itu kosong. "Vale kau dimana?" teriak Jeffry. Samar samar Jeffry mendengar suara erangan. Ia segera menghampiri asal suara.
Alangkah terkejutnya Jeffry saat melihat Valery berada di lantai dengan tubuhnya yang bergetar hebat. "Vale..." teriak Jeffry. Ia mengangkat tubuh Valery ke ranjang. "Ya Tuhan, kau demam. Mengapa tak menelponku." bentak Jeffry.
"Mbok siapkan handuk kecil dan air hangat." teriak Jeffry.
Mbok Karmi mendengar teriakan Jeffry. Lalu segera menuju kamar. "Buka jendela mbok." pinta Jeffry.
Kamar itu akhirnya terang, dan terlihat keadaan kamar berantakan. Bahkan Jeffry bisa melihat luka goresan di dahi Valery.
"Vale, bangunlah...Mbok aku akan membawanya ke rumah sakit setelah membersihkan luka dan keringatnya." ujar Jeffry panik.
"Baik den." jawab mbok Karmi.
Jeffry membersihkan luka Valery dan mengelap peluh yang ada dileher dan keningnya. Berkali kali Jeffry menyentuh kulitnya yang lembut. Setelah itu ia membopong Valery masuk kedalam mobilnya. Ia segera memacu mobilnya menuju rumah sakit.
Sesampainya disana Valery langsung ditangani di ruang UGD. Tiba tiba seorang dokter mengenalinya.
"Valery, apa yang terjadi?" tanya dokter tersebut. "Kau siapa?" sambungnya.
"Aku Jecko supirnya, non Vale pingsan di kamarnya dan tubuhnya sangat panas." jawab Jeffry.
"Aku dokter Andrew. Aku dokter pribadinya. Terima kasih kau telah membawanya kemari." ujarnya. Jeffry mengangguk. "Aku akan menanganinya terlebih dahulu, kau boleh tunggu diluar." sambung dokter Andrew.
Jeffry mengikuti perintah dokter, ia menunggu Valery di ruang tunggu. Beberapa menit kemudian, Valery keluar dari UGD dan dibawa ke ruang rawat inap.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Jeffry.
"Ia hanya kelelahan, demamnya juga sudah mulai turun. Kau benar benar supirnya bukan kekasihnya?" tanya Andrew.
Jeffry tersenyum. "Aku lebih pantas menjadi seorang supir." jawabnya.
"Omong kosong, aku baru tahu Vale memperkerjakan seorang pria disampingnya. Selama ini ia anti pria. Dan aku harap kau bukan sekedar supirnya. Vale membutuhkan seseorang yang selalu berada disampingnya." ujar Andrew.
"Aku tak ingin bermimpi dok, aku kira dokter kekasihnya." jawab Jeffry.
Andrew tertawa. "Aku harap ia mau denganku. Tapi selama bertahun tahun, ia hanya menganggapku seorang dokter."
Jeffry merasakan kecemburuan luar biasa. Dokter Andrew sangat tampan. Selama ini Valery dekat dengannya. Bagaimana jika dokter tersebut mendahuluinya.
"Aku akan menjaganya dok, terima kasih." jawab Jeffry seraya meninggalkan dokter Andrew.
Andrew tersenyum melihat raut wajah Jeffry. Ia berbohong soal keinginannya memiliki Valery, karena ia sudah memiliki istri dan 2 orang anak. Ia hanya ingin melihat reaksi pria itu. Dan tebakannya benar, pria itu menyukai Valery. Terlihat sangat jelas rasa cemburu diwajahnya.
*****
Jeffry masuk ke ruangan rawat Valery. Ia memperhatikan wajah wanita itu. "Bagaimana kau bisa sakit sendirian Vale, jika tidak ada aku. Lalu siapa yang akan menolongmu tadi." gumamnya.
Jeffry menggenggam tangan Valery. Ia mengelus punggung tangannya. "Vale, hiduplah bersamaku. Aku menyukaimu, aku ingin menjaga dan melindungimu. Aku akan mengatakan siapa sebenarnya diriku jika kau mau menerima cintaku Vale. Aku hanya ingin kau selalu bahagia." ujarnya.
"Ehem..." dehaman dokter Andrew mengagetkannya. Seketika itu juga Jeffry melepaskan tangan Valery. "Aku akan memeriksanya sebentar." ujarnya.
Jeffry mengangguk. "Silahkan dok."
Andrew mulai memeriksa keadaan Valery dan menyuntikkan cairan pada selang infus ditangannya. "Menurut hasil tes darah, Vale tipes nya positif kambuh. Ia memang memilikinya. Aku sudah seringkali memperingatkannya agar tidak bekerja terlalu keras, dan makan yang teratur. Tapi sepertinya wanita ini sangat keras kepala." ujarnya.
"Berapa lama ia akan dirawat?" tanya Jeffry.
"Paling cepat 4 hari. Jeck, jagalah Valery dengan baik. Wanita ini butuh pendamping. Dan yang aku katakan tadi hanya bercanda. Aku sudah memiliki istri dan 2 orang anak. Aku tahu kau bukan pria biasa." Andrew mendekati Jeffry. "Kau Jeffry Sean pemilik PT. Sean Permata kan." bisiknya.
Jeffry membelalakkan matanya. "Bagaimana..."
"Kau tak perlu tahu aku tahu darimana, aku percayakan wanita cantik ini padamu." ujar Andrew memotong perkataan Jeffry. "Kau tenang saja." Andrew mengangkat tangannya ke mulutnya memperagakan riseleting, yang artinya ia akan menjaga rahasia Jeffry.
Jeffry tersenyum. "Terima kasih dok." jawabnya.
Andrew mengangguk dan meninggalkan ruangan Valery.
*****
Happy Reading All...😘😘
Dukung, Like n Komen ya...🙏
Terima Kasih...
LO SAMPERIN TU SI SAMUEL