NovelToon NovelToon
Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Pihak Ketiga / Pengganti / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Cintapertama / Tamat
Popularitas:445.9k
Nilai: 4.8
Nama Author: Mrlyn

Banyak yang bilang jika persahabatan antara seorang pria dan wanita tidak akan bisa terjalin dengan murni, selalu ada perasaan cinta tersembunyi yang tertutup oleh status sahabat dan itu terjadi pada ku ...
Entah sejak kapan itu bermula, nama ku Jasmine, aku memiliki sahabat sejak kecil bernama Gibran, kami tumbuh besar bersama bahkan kedua keluarga kami juga kenal dekat sampai suatu hari ada usulan untuk menjodohkan kami berdua, saat itulah aku sangat senang tapi tidak dengan dia.
Dia mencintai orang lain, sahabat ku yang lain, Ruby.
Aku mencoba ikhlas, aku merelakan cinta pertama ku menikah dengan wanita pilihannya, tapi aku tidak pernah berpikir kalau takdir mengejutkan akan membawaku pada posisi menjadi istri ke dua Gibran.
Hanya saja kisah kami bukan kisah manis yang bisa membuatku mengungkapkan bahwa aku bahagia dapat menikah dengan sahabat sekaligus cinta pertama ku.

...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrlyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yang paling perduli

Aku menarik nafas dalam, air mataku sudah kering dan kepalaku semakin pening karena hari ini aku terlalu banyak menangis.

Sambil membawa kantung belanjaan berisikan pembalut, Gibran menggandeng tanganku dan membawaku menuju toilet.

"Aku tunggu disini," ucap Gibran sambil menyerahkan kantung belanjaan itu padaku.

"Makasih...," sahutku pelan setelah menerima kantung itu dan langsung melangkah meninggalkan Gibran yang seolah enggan melepaskan tanganku.

Haruskah aku bersyukur karena kami telah berbaikan hari ini? Kehadirannya membuatku sedikit lebih kuat menghadapi kenyataan jika ayahku sudah tidak mengenaliku lagi.

"Jangan lama-lama. Kalau masih mau nangis, gue siap jadi sandaran lo," pesan Gibran sebelum akhirnya aku memasuki toilet.

Perutku kram, kepalaku pening dan perasaanku kacau. Aku tidak bisa marah, aku bahkan tidak bisa menangis lagi. Semuanya terasa hampa.

Mungkin ini adalah efek datang bulan, hingga perasanku jadi seburuk ini atau mungkin rasa sakit itu terlalu besar.

Tidak lama setelah itu aku keluar dari dalam toilet, kulihat Gibran nyaris terlelap saat menungguku di depan pintu toilet. Dia bersandar pada dinding sambil melipat kedua tangannya di dadanya sementara kepalanya menunduk dan kedua matanya terpejam.

"Gibran..." Aku memanggil pelan dan Gibran langsung membuka kedua matanya lalu tersenyum padaku.

"Udah?" tanya Gibran seraya mendekat.

"Udah...," jawabku pelan sambil tersenyum tipis. "Yuk pulang...," ajakku yang kali ini memberanikan diri menyentuh tangannya dan menggandengnya lebih dulu, tapi Gibran tidak mau melangkah bersamaku.

"Kenapa?" tanyaku menoleh bingung.

Gibran kemudian melepaskan genggaman tanganku, dia membuatku merasa seperti baru saja di tolak.

"Kenapa lama banget sih?" tanya Ruby yang tiba-tiba datang menghampiri kami atau lebih tepatnya menghampiri Gibran karena gadis itu langsung memukul dada Gibran dengan manja. Seketika aku merasa jika Gibran sengaja melepaskan tanganku karena ia sudah melihat kedatangan Ruby lebih dulu.

Sekarang hatiku dua kali lebih sakit dari sebelumnya. Mungkin aku terlalu terluka, atau aku merasa tidak akan sanggup lagi melihat kedekatan mereka dengan kondisiku sekarang jadi aku memilih melangkah lebih dulu meninggalkan mereka.

"Jasmine!" Gibran terdengar memanggil, tapi aku tidak menghiraukannya. Aku terus melangkah meninggalkan mereka di belakang ku. Aku hanya ingin pulang sekarang, bersembunyi di kamarku dan mengurung diriku disana jadi aku bisa menangis sepuasnya hingga aku lelah dan ketiduran.

"Jasmine..."

Tubuhku akhirnya terhenti ketika Gibran menahan langkahku dengan mencekal lenganku. Dia menatapku dalam, air mataku yang sudah menumpuk di pelupuk mataku dan siap untuk menetes, menghalangiku untuk melihat dengan jelas ekspresi yang Gibran tunjukkan.

"Sakit banget ya?" tanya Gibran, suaranya terdengar khawatir. Aku menganggukkan kepalaku sebagai tanda jawabanku lalu menunduk karena aku tidak lagi kuasa menahan air mataku untuk tidak menetes.

Gibran lantas membuka jaketnya, ia kemudian mengikatkannya di pinggangku. Aku memang memiliki kebiasaan mengikat pinggangku ketika datang bulan agar rasa nyerinya sedikit berkurang dan Gibran selalu meledekku setiap kali aku melakukannya, tapi kali ini ia yang mengikatkan perutku sendiri dan memastikan jika ikatan itu tidak terlalu kencang melilit pinggangku.

"Ayo naik...," pinta Gibran yang berdiri membelakangi ku dengan sedikit membungkuk.

"Ayo gue gendong, udah malam ini," ucap Gibran lagi terdengar tidak sabar.

Dengan ragu-ragu aku menyentuh bahu Gibran dan Gibran mulai mengangkat tubuhku dan menggendongku di punggungnya dan mulai melangkah diikuti dengan Ruby yang berjalan di belakang kami.

"Turun berapa kilo?" tanya Gibran sambil membetulkan posisi gendongannya agar aku bisa berpegangan lebih erat lagi.

"Tiga kilo," jawabku tanpa semangat.

"Pantesan jadi enteng. Makan yang banyak, nanti Mama liat lo kurus, gue yang dimarahin."

"Iya... lo juga kurusan, kan?"

"Emang gara-gara siapa gue kurus?"

"Siapa?"

"Ya elo lah! Gue jadi gak enak makan gara-gara mikirin lo terus."

"Siapa suruh lo galak..."

"Gue khawatir, refleks karena terlalu syok. Lo hampir ketabrak mobil di hadapan gue. Gue gak mau kehilangan lo, Jasmine..."

Terus kenapa lo cuekin gue? Kenapa lo dorong gue kebelakang dan cuma melihat Ruby saat itu?

Perasan tersingkirkan itu muncul lagi, tapi kali ini rasa sakit itu hanya seperti sebuah kenangan pahit karena Gibran sudah kembali peduli padaku meskipun ada Ruby bersama kami sekarang.

Terdengar Ruby menghela nafas kesal, aku menoleh ke arahnya dan gadis itu tersenyum. Tidak ada yang salah dengan senyumannya karena Ruby memang sering tersenyum, tapi kali ini terasa lain.

"Kak Gibran sering gendong Jasmine kalau dia lagi dateng bulan ya?" tanya Ruby yang dengan sengaja mempercepat langkahnya agar ia bisa melangkah tepat di sebelah Gibran.

"Iya kadang, biasanya dia ngerengek kesakitan kalau hari pertama datang bulan."

"Enak ya ada yang merhatiin kayak kak Gibran. Kalian bener-bener kayak kakak-adik beneran."

Aku dan Gibran seketika menoleh secara berbarengan setelah mendengar ucapan Ruby.

"Ya gak lah, kita cuma sahabatan," jawabku dengan cepat sebelum Gibran menjawabnya lebih dulu dan mungkin jawabannya akan membuatku kecewa.

"Sahabat gak mungkin jadi cinta, kan?"

"Ya?" Aku sungguh tidak bisa memprediksi ucapan provokatif Ruby. Dia seolah sengaja membuatku dan Gibran merasa canggung.

"Emangnya kenapa kalau sahabat jadi cinta?" tanya Gibran sontak membuatku tertegun.

"Ya takut aja, kan sayang banget kalian udah sedekat ini terus tiba-tiba pacaran nanti tau-taunya putus malah jadi musuh."

"Terus kalau hubungan kalian disebutnya apa?" tanyaku saat kami tiba di tempat parkir.

"Kalau aku sih tergantung kak Gibran anggap aku apa," jawab Ruby tersenyum malu-malu.

Gibran tidak langsung menanggapi ucapan Ruby, ia hanya membuka pintu mobil di sebelah kemudi lalu menurunkanku di sana, menggantikan tempat Ruby sebelumnya.

"Pakai sabuk pengamannya," pinta Gibran sambil mengaitkan sabuk pengaman untuk ku, perlakuannya sekali lagi membuat jantungku berdebar-debar. Gibran selalu menemukan cara untuk menenangkanku yang sedang gelisah setelah itu ia menutup pintu mobil rapat-rapat.

Terlihat Ruby dan Gibran bicara sejenak. Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, yang pasti wajah Ruby terlihat cemberut saat memasuki mobil dan ekspresi Gibran terlihat dingin.

Sungguh, sikap mereka membuatku berpikir jika mereka adalah sepasang kekasih yang sedang bertengkar.

Tidak ada percakapan lagi setelah itu. Gibran mengantarkan Ruby lebih dulu pulang ke rumahnya.

"Kok berhenti di sini? Kita gak anter Jasmine dulu?" tanya Ruby saat mereka tiba di depan pintu gerbang rumahnya yang megah itu.

"Udah malem, kasian Jasmine butuh istirahat," jawab Gibran.

"Tapi kan bisa anter Jasmine duluan baru kamu anterin aku," protes Ruby yang masih tidak mau turun dari dalam mobil.

"Aku mau nemenin Jasmine, kalau kamu ikut nanti kemalaman."

Ruby menghela nafas kesal entah sudah yang ke berapa kalinya. Ia lantas keluar dari dalam mobil lalu mengetuk kaca jendela di sisi Gibran hingga Gibran menurunkan kaca jendelanya.

Aku melihat Ruby meletakkan tangannya di atas tangan Gibran yang berpegangan pada kaca jendela yang tidak sepenuhnya terbuka, ia lantas tersenyum dengan manis dan berkata, "Besok jemput aku ya..."

"Iya," jawab Gibran singkat.

"Telepon aku kalau udah sampai," tukas Ruby sambil melambaikan tangannya dan terus tersenyum pada Gibran. Hanya padanya seolah aku tidaklah terlihat.

***

1
Felycia Fernandez
Remaja labil, Jasmine cinta tapi gak berani ngomong.merasa posesif ke Gibran padahal hanya sahabat.kalau mank cinta ngomong donk.gak ada salahnya Gibran dekat ma Ruby karena kalian tidak ada hubungan.hanya pertemanan
Shifa Burhan
thor jika kau diposisi gibran manta, kau ketemu mantan dan dia bahagia berhubungan dengan wanita lain, dan kau berkali2 melihat kemesraan mereka, kau berkali2 ditolak dan tidak dianggap, apakah kau masih mau mengemis cinta pada mantan mu itu

jadi novel adil tu buang sisi wanitamu, bersikaplah netral lihat dari semua sisi, rasakan posisi semua sudut padang, jangan hanya melihat dan merasakan dari sudut padang pemeran utama wanita saja karena itu membuat jadi egois karena
Mrlyn: makasih kak masukannya 🫶🏻
total 1 replies
Rika
bagus
Kurnia Hany Aljafar
greget sma jasmin yg lemah
Siti Aminah
kayanya Gibran terpaksa menikahi Ruby krn desakan Bpknya Ruby krn Ruby mengidap suatu penyakit. sdngkan Gibran sblnya cintanya sm Jasmin.
Siti Aminah
sukurin....mkn tuh cinta kamu yg gila
Siti Aminah
jasmin mau jd pahlawan dgn mati sekatar krn sllu tersakiti.
Siti Aminah
malas bahas Jasmin
Siti Aminah
aku malas sama Jas.in terlalu cinta membuat dia jd wanita lemah.
Siti Aminah
jgn cpt terbuai Jasmin. ttp kamu hrs cuekin Gibran
Siti Aminah
kamu egois Gibran. sangat2 egois
Siti Aminah
apa mungkin papanya Jasmin jg papanya Ruby
Siti Aminah
nah loh
Siti Aminah
gibran kmbali baik sm Jasmin..jgn2 dia sdh putus sm Ruby makanya balik lg
Siti Aminah
awas hati2 Jasmin..kau akan lbh sakit lg nantinya teteplah jaga jarak
Siti Aminah
menjauhlah dan fokus lah Jasmin hindari mereka sebisa mungkin agar hatimu tdk lbh sakit lg.
Siti Aminah
seru thor...
Siti Aminah
bqru nyimak thor. kayanya ceeita nya bagus
Mrlyn: makasih kak, selamat membaca 💚✨
total 1 replies
Miche Rahmaya
mampus...😁
Miche Rahmaya
serah kau lah jasmine
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!