NovelToon NovelToon
Tak Semanis Madu

Tak Semanis Madu

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Poligami / Selingkuh / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:44.9k
Nilai: 5
Nama Author: syarifatul hidayah

Bukan hanya tentang cinta. Tapi, tentang ikrar dari sebuah pernikahan itu sendiri. Mencintai, tapi tidak dicintai, rasa sakit yang bertubi-tubi. Yang pada akhirnya memilih pergi, setelah sebuah pengorbanan mewakili rasa cinta yang mendalam.

Dua kisah yang berbeda, tapi tujuannya sama. memperjuangkan pernikahan.

Aulya, nama yang simpel, tapi hidupnya penuh kesedihan. Menikah dengan Muhammad Zaen, laki-laki yang tidak mencintainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syarifatul hidayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Melanggar Peraturan Pesantren

"Yang kami sebut namanya mohon maju kedepan," ujar seorang Ustazah, yang berdiri di depan, didalam ruangan kantor.

"Sifa, nena, alya, anis, nina, dan Lexsa. Mohon kedepan."

Merekapun maju, menundukkan kepala, beda dengan Lexsa, dia biasa saja.

"Kalian berlima akan membersihkan halaman pesantren, besok pagi jam 8. Tentunya kalian tahu apa yang kalian lakukan." Ujar ustazah, seorang pengurus pesantren putri.

"Keberatan, ustazah." Jawab Lexsa menatap Ustazah Qorin. Tanpa merasa bersalah dan sungkan.

"Mbak Lexsa sudah jelas bersalah, berbicara dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Apakah mbak Lexsa mau berdosa. Berawal dari kenal, takutnya terjadi fitanah, itu tidak baik. Apalagi Mbak Lexsa santri baru disini. Kami ingin mengajarkan yang baik, bukan yang buruk." ujar sang ustazah tegas.

"Saya tidak sepintar ustazah, tidak sealim ustazah. Tapi saya punya budi pekerti, saya bukan anak kecil yang sok kenal, dan ingin mengajak bercanda orang. Kalia harus tahu, saya pernah ditolong Haikal. Perjalan saya kesini mendapat musibah, karena kebaikan dia dan temannya, saya bisa sampai kepesantren ini. Maaf saja, saya tidak ada hubungan apa-apa dengan dia, tapi saya punya hutang budi padanya. Saya tidak merasa bersalah, jika kalian berada diposisi saya, apa yang akan kalian lakukan. Nina juga tidak bersalah, dia sudah melarang saya menemui tukang servis itu, jadi jangan hukum dia." Ujar Lexsa menjelaskan secara detail apa yang terjadi.

Para ustazah saling berbisik, entah apa yang dibicarakan oleh mereka. Nina tidak menyangka kalau Lexsa masih membelanya. Bahkan dengan lantang berbicara melawan Para ustazah.

"Mbak Lexsa, kami hanya menjalankan tugas, jika kami salah, kami minta maaf. Untuk Mbak Lexsa, tetap kami hukum, untuk Nina kami maafkan." Ujar ustazah Hana, tanpa banyak basa-basi.

"Tidak apa-apa, dengan senang hati saya terima hukuman ini. Bagi saya ini suatu pengalaman yang dapat diingat nanti, kalau saya sudah keluar dari pesantren ini."

Lexsa langsung pergi, rasa kesal dan juga kecewa, ada rasa menyesal masuk pesantren. Karena tujuannya yang tidak baik, membuat Lexsa marah pada dirinya sendiri.

Segala sesuatu yang akan Lexsa lakukan tidak bisa disamakan dengan masa dimana belum masuk pesantren. Banyak aturan yang akan membuat Lexsa tertekan. Kehidupannya yang bebas, kini direnggut seketika. Hanya satu tujuan, demi membuktikan jika dirinya adalah anak dari wanita baik-baik. Yang saat itu ditinggalkan begitu saja oleh seorang suami yang sudah beristri.

Mungkinkah jalan itu akan membuatnya sadar, hingga berubah menjadi hamba Allah yang lebih baik. Atau pergi karena merasa tertekan.

Keegoisan Lexsa membuat dirinya lupa, kalau dirinya sebenarnya baik dan punya rasa keperdulian yang tinggi terhadap orang lain. Mungkin karena lingkungan, karena orang tua yang sudah tidak baik-baik saja, tanpa menunggu Lexsa dewasa, sampai-sampai Lexsa merasa di asingkan oleh ayahnya.

Saat malam tiba, acara sudah pengajian sudah selesai, lexsa pergi keatas atap kamarnya, dimana ada tempat buat menjemur pakaian. Lexsa mencari tempat yang berada di paling pinggir, sambil melihat bulan purnama yang terang menderang. Tidak banyak santri yang berani duduk diatas atap itu, karena tempatnya gelap dan sepi. Karena belakang bangunan itu sawah, bukan pemukiman warga.

"Lexsa," Suara panggilan Nina membuat Lexsa terkejut.

"Untuk apa kamu kesini," tanya Lexsa, yang sangat hafal suara Nina.

"Aku mengikutimu, untuk apa kamu disini?"

"Aku, butuh sendiri," jawab Lexsa singkat.

"Maafkan aku," Ujar Nina duduk di dekat Lexsa.

"Untuk apa minta maaf, kamu tidak salah." jawab Lexsa menoleh kearah Nina.

"Aku salah paham padamu, kamu baik padaku, sudah melindungiku."

"Sudahlah, jangan membahas masalah yang sudah berlalu, anggap saja apa yang terjadi hari ini adalah pengalaman buat kita, khususnya untukku.

"Tetap saja aku merasa bersalah, niatmu baik. Hanya saja kita tidak bisa semaunya berbuat sesuatu disini. apa yang sudah menjadi aturan disini, tidak dapat kita ganggu gugat,"

"Lulusan apa kiai disini? Kenapa aturannya sangat tidak manusiawi." Tanya Lexsa penasaran.

"Semua pesantren seperti itu, dilarang bicara dengan selain mahrom kita. Tapi batasan itu hanya untuk yang tidak dikenal. Dan tidak punya kepentingan, kalau ada kepentingan tidak apa-apa." jelas Nina.

"Lalu kenapa aku di hukum, jelas aku ada kepentingan." Aulya masih membela dirinya benar.

"Kamu masih baru, pasti aneh bagimu. Suatu saat kamu akan memahami sendiri aturan yang memang tidak boleh dilanggar. Mungkin mereka juga merasa heran, kalau kamu kenal laki-laki disini, padahal kamu masih baru. Sebebarnya para ustazah tadi merasa bersalah, tapi mereka hanya mengikuti aturan."

Lexsa tidak bicara lagi, dia memilih diam menatap rembulan.

"Kamu jangan malam-malam turun, disini gelap, dan besok biar tidak kesiangan, nati waktu tahajud terlewatkan. Eman kan"

"Iya," Jawab lexsa singkat.

"Aku turun dulu." Pamit Nina.

Lexsa hanya mengangguk. Tiba-tiba wajah sang ibu mengingatkan semuanya, Lexsa memejamkan matanya.

"Ma, aku merindukan mama. Maafkan Lexsa, apa yang Lexsa lakukan hanya untuk mempertahankan hak Lexsa Ma. Dan membuktikan Mama adalah wanita baik-baik. Andai saja mati bisa dipinta, aku ingin mati Ma, ikut Mama saja. Bajingan itu sudah membuat Mama menderita, sampai Mama sakit-sakitan." Guman lexsa, yang tanpa sengaja menangis terisak. Rasanya sakit mengingat semuanya.

Perlakuan seorang ayah yang tak pernah adil. Semua yang terjadi membuat Lexsa sangat marah dan tidak ingin berdamai dengan keadaan.

Dan perlu belajar banyak hal yang berkaitan dengan akhlak dan tatakramah kehidupan. Agar Sang ayahnya memandang Lexsa anak yang baik.

Keesokan harinya, setelah mengaji, Lexsa langsung mengambil sapu lidi, dan menyapu bersama yang lain. Dia tidak banyak bicara, fokus pada pekerjaannya. Meski sebenarnya Lexsa tidak bisa menyapu, dan bahkan tidak pernah menyapu sama sekali.

"Lexsa, kalau nyapu yang benar, nanti gak bersih, kita juga yang repot,"

"Aku masih belajar, dikeluargaku, gak ada yang bisa nyapu."

"Aduh, belajar dong, apalagi kamu sudah di pesantren, gak ada kata bayar pembantu, semua harus dikerjakan sendiri. Karena kita disini semua sama."

"Iya, paham."

Jawabnya singkat. Dan fokus lagi menyapu halaman pesantren putri.

Setelah selesai, Lexsa langsung mandi dan mengambil jatah makannya. Tidak mengeluh lagi, apa yang dimakan sudah mulai bisa di cerna dengan baik oleh perutnya.

Di kamar ustazah, sedang membicarakan Lexsa, mereka mempertimbangkan, agar Lexsa bisa mengajari santri bahasa inggris, karena mengikuti kemajuan zaman, pesantren ingin mengajarkan santri bahasa inggris juga, karena bahasa inggris adalah bahasa internasional.

Para ustazah tahu kalau Lexsa pintar berbahasa inggris, dengan diskusi bersama, maka semua ustazah setuju, asal tidak mengganggu kegiatan para santri belajar ilmu agama.

1
Dewi Dama
kok di sisksa sama zain parah...bangat salah ketiknya
Dewi Dama
kok aurel...autoor nya ngantuk y
Dewi Dama
arumi siapa..membingungkan
Amilawati
TDK sella TDK Aulia sama perempuan murahan
Yunita Rimbe
cerita tdk jls
Yunita Rimbe
novel toon klw mlas cari cerita yg kreatif d jgn d up dong, kita sd hbis kn data, baca cerita bgtu" smua, sklian d hpus sja aplikasi novel toon mls aq ceritanya sm smua
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Terima kasih banyak ka Iffa 😊 Semoga dilancarkan dan sukses untuk RL nya dan semangat untuk berkarya kembali
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Ooohhh ternyata bapak Fakhri dulu menduakan bu Irma juga... buah jatuh tak jauh dari pohonnya yaa.
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Ada beberapa kesalahan dalam penulisan nama ya kak, seharusnya Sela ditulis Aulya, di paragraf terakhir seharusnya di tulis Sela ditulis Zaen.
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜: paragraf ketiga sebelum paragraf terakhir maksudnya.
total 1 replies
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Terimalah setiap rasa sakit yang Zaen berikan kepadamu Aulya bukankah itu juga kemauanmu... Maaf bukan maksud menentang pernikahan poligami. Tapi setiap orang berbeda pemahamanmya🙏
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Hhhhhhmmmm... sudah tertebak, Zaen mencintai Aulya dan juga Sela.
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Tidak mau Aulya pergi tapi tidak mau melepas Sela juga yaa mas Zaen...
May Apa Adanya
gk sabar kedok si sella kebongkar..
Ni Putu Kasihlini
Lanjut kan ya
Ni Putu Kasihlini
Lanjut ,ceritaya bagus
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Yesss Aulya tidak ada di rumah orang tuanya. Biarkan Zaen merasakan penyesalan dulu... jangan pertemukan Aulya dengan Zaen. Enak saja kalau langsung bertemu.
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Terus Aulya harusnya gimana mas Zaen... tetap diam walaupun terus-menerus kau sakiti hatinya.
May Apa Adanya
aulya gk bakal kerumah orang tuanya zaen..
ratapi penyesalanmu..
apalagi ketika kau liat perlakuan istri tersayangmu pada ibumu kau akan nyesel zaen telah mempertahankanya...
aliffzharif
bagus aulya..
May Apa Adanya
biar rasa kau zaen.. belum dengar penjelasan langsung main mulut aja..
pergi yg jauh aulia biar zaen tau rasa..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!