Ameer Alfatih adalah seorang ustaz muda yang menolak dijodohkan dengan Hana Karimah. Sepupunya yang cantik dan penghafal Qur'an.
Satu-satunya alasan Ameer menolak wanita yang hampir sempurna itu adalah Meizia, seorang wanita yang terkesan misterius tetapi berhasil merebut hati Ameer di pertemuan mereka.
Namun, sebuah kenyataan pahit harus Ameer terima ketika ia tahu Meizia adalah seorang wanita malam bahkan putri dari seorang mucikari.
Maukah Ameer memperjuangkan cintanya dan membawa Meizia keluar dari lembah dosa itu?
Dan maukah Meizia menerima pria yang merupakan seorang Ustaz sementara dirinya penuh dosa?
Lalu bagaimana dengan nasib Hana?
"Aku terlahir dari dosa, membawa dosa, sebagai dosa bagi ibuku dan hidupku pun penuh dosa. Kau terlalu suci untukku." Meizia
"Tak ada manusia yang luput dari dosa, tetapi juga tak ada manusia yang lahir membawa dosa meski ia terlahir dari dosa." Ameer Alfatih
"Ikhlas dengan takdir Tuhan adalah kunci ketenangan hidup." Hana Karimah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 - Sebenarnya Juga Cinta
Keesokan harinya, Meizia keluar dari rumah sakit dan dokter memperingatkan agar ia tetap menjaga kesehatannya.
"Kau masih sangat muda," kata Dokter itu sembari melirik pergelangan tangan kiri Meizia yang terdapat bekas sayatan. "Masa depanmu masih panjang, jangan mudah putus asa dalam hidup." Lanjutnya seolah bisa merasakan apa yang membuat Meizia tak menjaga kesehatannya. Bahkan, tampaknya gadis itu pernah berusaha mengakhiri hidupnya.
"Terima kasih," ucap Meizia dengan raut wajah yang datar, kemudian ia menatap Jenny dan bertanya, "Apa kau bawa uang untuk membayar administrasi?"
"Pak Ameer sudah melakukannya," jawab Dokter mendahului Jenny yang sudah membuka mulut.
"Aku akan mengganti uangnya," kata Meizia setelah itu ia bergegas pergi.
"Ameer sangat baik, Mei," bisik Jenny. "Aku yakin dia serius untuk meminang mu."
"Apa kamu tahu bagaimana raut wajah orang tuanya saat tahu aku siapa? Mereka seperti melihat sampah yang menjijikan."
Mendengar itu membuat Jenny tampak kesal. "Apa Mama tahu aku ada di rumah sakit?" tanya Meizia kemudian.
"Katanya tadi malam Mami tidur di rumah bordir, dan tidak bertanya apapun tentang kamu."
Meizia tersenyum sinis dan berkata, "Dia ibu terburuk yang ada di dunia."
"Sangat," sambung Jenny.
Kini keduanya masuk taksi yang sudah dipesan oleh Jenny, bersamaan dengan itu Ameer justru datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Meizia.
Ameer mengernyit karena ruang rawat Meizia sudah kosong dan kini sedang dibersihkan oleh suster.
"Pasien yang di sini ke mana?" tanya Ameer.
"Sudah pergi, Pal," jawab suster itu.
Ameer mengangguk mengerti, saat ia berjalan di lorong rumah sakit ia berpapasan dengan Dokter yang menangani Meizia.
"Pak Ameer, apa kau mencari Meizia?" tanya Dokter itu.
"Iya," jawab Ameer. "Tapi kata suster dia sudah pulang, apa keadaannya sudah membaik?"
"Secara fisik dia terlihat lemah," jawab Dokter. "Dan secara psikis, dia jauh lebih lemah. Aku rasa dia butuh psikiater," ujarnya yang membuat Ameer hanya bisa melongo.
"Aku memang bukan seorang psikiater tapi aku bisa melihat gadis itu sedang dalam tekanan yang luar biasa, bahkan ada sayatan di pergelangan tangannya. Apa kau lihat?"
Ameer mengangguk.
"Dari bekasnya saja sudah dipastikan dia menyayat pergelangannya sangat dalam, seolah dia ingin memastikan itu akan membunuhnya."
Ameer terhenyak, dadanya tiba-tiba bergemuruh.
"Bahkan, tatapan Meizia juga selalu tampak kosong. Jika ini dibiarkan terus menerus, maka besar kemungkinan dia akan kembali mencoba bunuh diri."
Ameer hanya bisa terdiam, tak tahu harus berkata apa atas semua ucapan Dokter itu meski ia mengerti apa yang membuat Meizia tertekan.
"Terima kasih, Dok," ucap Ameer kemudian. "Aku akan berusaha menjaganya."
Dokter mengangguk mengerti dan setelah itu Ameer pun bergegas mengejar Meizia ke rumahnya.
...🦋...
Kini Meizia sudah sampai di rumahnya, ia tampak enggan untuk turun dari taksi.
"Ayo, Mei!" ajak Jenny.
"Aku ingin pergi," kata Meizia kemudian tetapi Jenny langsung menggeleng.
"Kamu lupa apa yang Mami lakukan saat terakhir kali kita mencoba lari?" pekik Jenny.
"Tapi aku lelah, Jen, aku merasa seperti hidup di neraka," seru Meizia dengan air mata yang berlinang. Jenny terdiam, ia pun merasakan hal yang sama tapi mengingat betapa kejamnya Mami pada anak buahnya yang mencoba kabur membuat nyali Jenny menciut.
Yang Mami Lala lakukan sangat mengerikan, dia akan menelanjangi mereka di depan teman-teman yang lain kemudian memukuli mereka hingga mereka pingsan. Oleh karena itu, tak ada pelacur yang berani melarikan diri dari rumah bordil Mami Lala.
"Ayo, Mei!" Jenny memasak Meizia keluar dari taksi dan mau tak mau wanita itu mengikuti Jenny masuk ke rumah.
Bersamaan dengan itu, Ameer pun sampai di rumah Meizia dan ia bernapas lega melihat keadaan wanita itu yang terlihat jauh lebih baik.
Sementara Meizia tampak kesal dengan kehadiran Ameer.
"Apalagi yang kamu cari?" desis Meizia.
"Aku hanya ingin melihat keadaan mu," jawab Ameer. "Dan aku ingin membawamu pergi dari sini."
Meizia tercengang, tetapi sejurus kemudian ia tertawa hambar. Membuat Ameer bingung. "Apa ada yang lucu?" tanyanya.
"Kamu mau menjadi pahlawan kesiangan?" cibir Meizia.
"Aku serius, Zia," tegas Ameer.
"Kamu dipaksa melakukan ini, kan? Kita bisa melaporkannya ke polisi, asal kamu mau bersaksi bahwa kamu dipaksa."
"Urus saja hidupmu Ustaz Ameer, aku tidak butuh bantuan mu," tukas Meizia kemudian ia menarik Jenny masuk ke dalam rumah dan ia mengunci pintunya dari dalam.
"Meizia!" teriak Ameer sambil menggedor-gedor pintu, tetapi Meizia tak memperdulikannya.
"Ini kesempatan kita, Mei," kata Jenny memohon.
"Kamu mau pergi bersama dia?" tanya Meizia. "Silakan!"
"Lalu kenapa kamu tidak mau?" tanya Jenny yang mulai kesal dengan keras kepalanya Meizia. "Ini yang kita mau sejak dulu, berhenti menjadi pelacur dan melarikan diri."
Seketika Meizia tertawa sinis mendengar ucapan Jenny, membuat temannya itu termangu.
"Baru dua menit yang lalu kamu mengingatkanku apa yang akan dilakukan Mama jika kita lari, lalu kenapa sekarang kamu mau lari, Jen? Apa kamu tahu apa yang bisa saja dilakukan Mama pada Ameer jika dia tahu Ameer mencoba membawa pergi kita? Dia bisa membunuh Ameer."
Jenny terdiam, kini ia mengerti apa yang membuat Meizia menolak dibawa oleh Ameer.
"Kamu tidak ingin dia dalam bahaya? Kamu juga menyukainya, kan? Kamu mencintainya? " tanya Jenny. Namun, Meizia menghindar dan ia langsung masuk ke kamarnya.
Meizia membuka ponselnya dan menonton video Ameer yang disebarkan oleh beberapa akun.
Mencintai Ameer?
Meizia tidak tahu, tetapi sejak dulu diam-diam dia memang menyukai sosok Ameer. kajian-kajian yang dipimpin oleh pria itu juga tampaknya menyenangkan bahkan bisa memberi ketenangan untuk orang yang mendengarkannya, tak terkecuali Meizia.
Sementara di luar, Ameer hanya bisa menghela napas berat karena Meizia tak mau mendengarkannya. Mau tak mau ia pun harus pergi dan memberikan waktu untuk wanita itu.
Jenny menyusul Meizia dan kini ia menangkap basah temannya itu sedang mendengarkan kajian Ameer.
"Jadi selama ini kamu bohong sama aku?" seru Jenny. "Kamu bilang hanya tahu Ameer dari sosial media, ternyata kamu mendengarkan kajiannya?"
"Itu muncul di berandaku," elak Meizia.
"Tapi apa yang dia katakan itu indah, bersabar, ikhlas, surga. Ck, tapi sayang semua itu hanya dongeng pengantar tidur."
Jenny tertawa mendengar kata-kata Meizia, ia pun juga mendengarkan kajian Ameer dan seketika wajahnya berubah murung.
"Kita sangat berbeda dengan mereka, bukan? Apa kau merasakan itu?" tanya Jenny.
"Hem, karena itu aku harus menghindarinya. Dia terlalu suci untuk orang-orang seperti kita." Meizia tersenyum getir. "Kita harus menjauhinya agar kesuciannya tidak ternoda oleh dosa kita."