Akia tengah lari dari Ayahnya, yang menikah lagi pasca kepergian Ibunya. Kia bersembunyi dan bekerja di sebuah Rumah sakit sebagai seorang perawat disana. Akia dipertemukan oleh seorang pasien dengan trauma kecelakaan yang menyebab kan pengelihatan nya hilang.
Bisma Guntur Prayoga. Seorang pria yang harusnya menjadi ahli waris untuk hotel besar milik Ayahnya, justru memiliki nasib tragis dengan harus kehilangan cahaya dari matanya.
Kedua dipertemukan dalam sebuah instiden, ketika Kia dituduh akan mencelakai Bisma. Padahal, itulah yang membuat Bisma sadar dari tidur panjangnya selama ini.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Akan kan mereka akan bersatu, dan Kia menerima Bisma sebagai pengisi cahaya dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di balik kegelapan
Bisma baru keluar dari kamar mandi. Ia mengusap rambut dengan handuk putihnya yang bersih, lalu meraba ranjang untuk mencari pakaiannya.
"Tuan, biar saya bantu." Nining datang menghampirinya.
"Kau tak harus membantuku. Karena itu memang tugasmu. Mana pakaianku?" tanya Bisma dengan deep voice nya yang terdengar datar namun menggetarkan jiwa. Tak pelak, membuan Nining gemetar dan deru jantungnya meningkat cepat.
Dengan langkah sedikit gontai, Nining mengambilkan semua keperluan Bisma dan membantu memakai semuanya. Tak hanya itu, Nining juga membantu Bisma mengeringkan rambutnya dengan hairdyrer.
"Kau bisa memakainya?"
"Bisa, Tuan."
"Tanganmu gemetar."
"Maaf, hanya belum terbiasa." Nining mulai menyalakan alatnya dan mengatur suhunya. Mengarahkan alat itu pada rambut Bisma agar segera kering dan mudah di atur.
"Aaakkh!" Bisma spontan memekik. Agaknya, suhu hairdryer itu terlalu panas di kepalanya.
Nining segera mencabut dan menyingkirkan alat itu, jauh dari Bisma. Yang tadinya berusaha menahan diri, namun kini tak bisa lagi. Ia tremor hebat, bahkan lututnya serasa kehilangan penyangga dan nyaris ambruk di tempatnya.
Bisma hanya diam, mematung dengan mata setengah terpejam. Ia pun tengah berusaha menahan diri dari semua arogansinya. Tapi nampaknya memang sulit, hingga sebuah kata pemecatan kembali keluar dari mulutnya secara sepihak.
Mungkin pemecatan lebih baik, daripada Ia harus bertindak lebih keras lagi pada perawat yang baru beberapa jam bekerja itu.
"Tuan... Maafkan saya. Saya tidak sengaja, saya bersumpah akan berusaha lebih baik lagi dalam pelayanan yang saya berikan." Nining bersimpuh, memohon dengan mengusap kedua telapak tangan nya menghadap Bisma. Meski Ia tahu, Bisma sama sekali tak dapat melihat apa yang Ia lakukan demi mencari simpatinya.
Nining terus saja memohon. Bahkan Ia tak segan menceritakan tentang kisahnya yang malang. Adiknya yang masih kecil, dan orang tuanya yang sakit-sakitan. Bisma dengan cermat menganalisa semua pengakuan yang Naning berikan padanya.
Kreeek! Oma sekar mendengar tangisan histeris itu, dan langsung masuk ke kamar Bisma tanpa mengetuknya. Terkejut bukan main, melihat posisi Nining tengah memohon pengampunan pada sang cucu.
"Bisma! Kamu... Kamu kenapa lagi, Nak? Kamu apain Nining?" Oma Sekar mengelus dadanya sendiri.
Tak hanya Oma, tapi Jinan dan Surya ikut melihat ke kamar Bisma untuk memastikan apa yang terjadi. Terkejut dan panik, karena mereka takut jika Bisma terlalu arogan pada perawat barunya itu. Karena dari segi psikologis, memang Bisma tengah dalam tahap tak menerima keadaan diri sendiri saat ini. Mereka takut, Bisma akan melampiaskan segala amarah dan kekecewaan nya pada orang lain.
"Kak Bisma!" Jinan memekik, dan langsung meraih Nining untuk segera berdiri dari tempat permohonan nya. Bahkan, Ia menyerahkan anaknya pada sang Mama dan menghampiri Nining kala itu.
Ia menatap nyalang pada Kakak yang merespon nya datar. Ya, jangan ditanya lagi kenapa seperti itu.
"Keterlaluan!" sergah Jinan. "Jinan tahu, kalau Kakak kecewa dengan kondisi saat ini. Tapi jangan begini, Kak. Jangan melampiaskan pada orang lain."
"Kalian pergi." Bisma berdiri, melangkah ke dekat jendela dan termenung disana.
Berkali-kali Jinan memanggil, tapi Bisma bahkan tak menoleh sama sekali padanya. Bahkan hanya merespon dengan kedikan bahu dan yang lain nya. Bisma mematung, menatap ke depan yang biasanya terlihat taman indah buatan sang Mama disana.
"Aku rindu? Tidak. Rasanya nyaman seperti ini meski di pandang lemah orang lain. Saat seperti ini, hatiku lebih tenang dari segala hal yang mengganggu pandangan ku."
Kala buta, justru semua tampak jelas olehnya. Tak seperti ketika Ia dapat melihat semuanya dengan jelas, tapi semua orang dapat mengelabuhinya dengan mudah.
koq rubah² mulu