Mengorbankan cinta untuk sahabat?
Cintanya pada seorang laki-laki ia pertaruhkan demi kesembuhan sahabat yang menderita depresi.
Bisakah Salma mengikhlaskan Doni hidup bersama Esti. Atau mereka akan tetap bersatu dengan cinta mereka?
Temukan jawabannya di Biarkan Ku Mengalah cerita yang seru dan mengharukan tapi ga usah baper. Happy reading💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 Menolak Perjodohan
Rasanya lega setelah menyaksikan dua sahabatnya melangsungkan akad nikah. Tangis bahagia terlihat saat acara sungkeman berlangsung walaupun kedua orang tua Doni tidak dapat menghadiri acara sakral tersebut. Terlihat para tamu undangan memberikan selamat dan mendoakan kedua mempelai, kemudian mereka mencicipi hidangan yang telah disediakan. Di tengah-tengah tamu undangan pun tampak keluarga Salma datang turut mendoakan kedua mempelai. Setelah keluarga Salma mengucapkan selamat, Salma menghampiri keduanya. Salma memeluk erat Esti sahabatnya. Ia bersyukur akhirnya Esti melepas masa lajangnya.
"Terimakasih Salma. Terimakasih kamu sudah memberikan Doni untukku." Bisik Esti disela pelukannya.
"Bersyukurlah pada Allah karena Dialah kalian bisa bersatu. Sehat selalu ya Esti. Insyaallah Doni adalah orang yang tepat menjadi pendamping hidupmu. SAMAWA semoga langgeng dan cepat dapat momongan" Salma melepas pelukannya. Kemudian beralih pada Doni, menangkupkan tangannya.
"Selamat Doni... terimakasih ya! Cintai dan sayangi Esti dengan tulus dan ikhlas semoga kalian SAMAWA" Salma tersenyum. Doni membalas senyuman itu dengan terpaksa. Salma bergegas turun dari singgasana mereka, namun dirinya menoleh saat Doni mengatakan sesuatu,
"Sal tunggu pembalasanku!" Salma mengerutkan kening, tidak memahami ucapan Doni. Doni memalingkan muka tertuju pada tamu yang hendak bersalaman.
Salma ikut bergabung dengan teman-teman alumni SMA setelah mengambil seporsi makanan sekaligus kudapan. Doni memperhatikan Salma dari kejauhan. Sesekali Salma tertawa lepas tak terlihat kesedihan di raut wajahnya yang ayu. Hal itu sudah membuktikan bahwa Salma sudah melepas Doni dengan ikhlas. Melihat itu Doni yakin orang yang kini berada di sampingnya adalah yang terbaik untuk masa depannya. Yang ada dalam pikiran Doni saat ini adalah bagaimana membalas perbuatan Salma yang menyebabkan dia dan Esti bersatu.
" Salma kau tunggu pembalasanku! " Senyum sinis tercipta di sudut bibir Doni.
Salma tidak habis pikir mengapa Doni mengatakan tunggu pembalasanku, pembalasan apa? memang apa yang sudah diperbuat Salma? Hah sudahlah Salma tidak memperdulikan hal itu. Ia yakin Doni tidak akan mencelakakannya.
Salma konsen mengoreksi hasil ulangan anak-anak yang diselenggarakan kemarin. Belum lagi tugas-tugas perkuliahan yang masih numpuk belum tersentuh karena beberapa hari yang lalu Salma disibukkan dengan acara pernikahan dua sahabatnya. Salma membawa air yang ia simpan di dalam wadah yang berukuran sedang. Wadah tersebut ia simpan di bawah meja belajar, telapak kakinya direndam di dalam wadah tersebut, ini dilakukan untuk menghindari ketiduran saat belajar.
Pagi hari yang cerah. Banyak orang yang bilang awali pagi ini dengan senyuman namun bagi Salma pagi-pagi harus diawali dengan sarapan biar tidak oleng saat beraktivitas. Dengan sarapan sebelum beraktifitas, kita akan bekerja dan belajar dengan sungguh-sungguh dan bisa konsentrasi. Di meja makan sudah menunggu ayah Dahlan, ibu Astuti dan Tegar. Salma mengambil nasi goreng plus pindang bandeng kesukaannya.
"Salma kamu kenal sama Mas Tora? Itu loh mantri kesehatan di puskesmas . Dia sudah mapan, sudah jadi pegawai negeri sipil. Ibu rasa ia cocok buatmu" Salma yang mendengar itu tersedak.
"Duh hati - hati dong, Sal." ibunya sambil memijat tengkuk Salma.
"ibu ingin kalian saling mengenal agar lebih akrab. Semoga jodoh." Sambung Astuti
"Ibu yang baik, Salma kan masih kuliah. Kalau sudah lulus baru Salma pikirkan lagi"
"Pokoknya ibu setuju kamu menikah dengan Tora" Ayah Dahlan hanya menyimak dalam diam. Orang tuanya sangat ingin ia menikah secepatnya.
"Bu kalau ternyata Salma sudah ada yang mau, gimana?" Ucapnya pelan tidak ingin menyakiti ibunya dengan menolak secara halus perjodohan itu.
"Oh bagus kalau gitu. Bawa ke sini kenalkan dengan ayah dan ibu."
Deg
Hadeuh.....bagaimana ini??