5 perempuan dengan keturunan setengah Dewa Dewi yang sangat kuat dan darah mereka yang mengalir dengan kekuatan yang melumpuhkan dan petualangan yang akan mereka hadapi di negeri ajaib Euthopia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bsf10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Fakta Sebenarnya
Muncul tangga melingkar itu berakhir di sebuah ruangan bundar yang sunyi, jauh di bawah fondasi akademi. Berbeda dengan perpustakaan di atas yang berdebu, ruangan ini terasa sangat bersih dan dipenuhi dengan kristal-kristal yang memancarkan cahaya biru lembut.
Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja batu bundar dengan lima lubang kecil yang pas dengan bentuk kalung mereka.
"Lihat, mejanya... lubangnya persis seperti bentuk kalung kita," bisik Rachel takjub.
Tanpa perlu komando, kelima sahabat itu mendekat. Mereka melepaskan kalung masing-masing dan meletakkannya ke dalam lubang tersebut. Begitu kalung kelima—milik Azzura—terpasang, meja batu itu bersinar terang. Sebuah proyeksi hologram besar muncul di tengah ruangan, menampilkan sosok-sosok yang sangat mereka rindukan.
Memori yang Terkubur
Proyeksi itu menampilkan orang tua mereka, namun mereka terlihat jauh lebih muda dan mengenakan jubah perang kerajaan Utopia.
"Jika kalian melihat pesan ini, berarti kalian telah menemukan Ruang Arsip Terlarang," suara Daniel Adams terdengar bergema. Di sampingnya, Caryn tampak memegang sebuah benda berbentuk bintang yang bersinar terang—Kunci Mageia.
"Kami tidak mengirim kalian ke Bumi karena kami ingin kalian hidup normal," sambung Jesi Brown, ibu Rachel. "Kami mengirim kalian ke sana karena Euthopia telah jatuh ke tangan pengkhianat. Kunci Mageia ini adalah jantung dari seluruh kekuatan sihir di dunia ini. Penguasa kegelapan menginginkannya, dan hanya kalian—pewaris murni lima elemen—yang bisa mengaktifkannya."
Hologram tersebut berubah, menunjukkan sebuah pertempuran besar di mana para orang tua mereka berjuang mati-matian melawan sosok berjubah hitam yang wajahnya tidak terlihat jelas.
"Kami menyembunyikan Kunci ini di dalam inti akademi ini," ucap Mark Xendrick, ayah Olivia. "Pemerintah dan dewan senior yang sekarang kalian temui adalah mereka yang dulu membiarkan kerajaan runtuh demi kekuasaan. Mereka mencari Kunci ini, tapi mereka butuh kekuatan kalian untuk membukanya. Itulah sebabnya kalian dibawa kembali ke sini. Kalian bukan hanya murid... kalian adalah umpan bagi mereka."
Kebenaran yang Pahit
Mendengar itu, Luna hampir terjatuh. "Jadi... kita dibawa ke sini hanya untuk dimanfaatkan oleh sekolah ini?"
Azzura mengepalkan tangannya hingga percikan listrik kecil muncul di jarinya. "Ayah benar... ada pengkhianat di dalam akademi."
Tiba-tiba, proyeksi itu berubah menunjukkan peta rahasia bangunan akademi. Sebuah titik merah berkedip di bawah asrama mereka sendiri.
"Kunci Mageia tidak ada di perpustakaan ini," lanjut suara Daniel dalam rekaman. "Ruangan ini hanyalah pengalihan. Kunci yang asli ada di bawah menara jam asrama kalian, di sebuah dimensi saku. Segera ambil kunci itu sebelum Gerhana Merah tiba dalam tiga hari, atau kekuatan seluruh Euthopia akan diserap oleh kegelapan."
Hologram itu bergetar sejenak, lalu citranya menjadi lebih stabil dan jernih. Sosok Daniel Adams melangkah maju dalam proyeksi itu, matanya seolah menatap langsung ke arah Azzura.
Momen Terakhir Bersama Orang Tua
"Azzura, putriku..." suara Daniel terdengar bergetar, penuh kerinduan yang tak tertahankan. "Jika kau melihat ini, berarti kau sudah tumbuh menjadi gadis yang kuat. Maafkan ayah dan ibu yang harus melepaskan kalian di dunia yang asing tanpa penjelasan."
Caryn Adams muncul di samping Daniel, ia mencoba menyentuh pipi Azzura dalam proyeksi tersebut. "Kami melihat kalian setiap hari melalui cermin dimensi, sayang. Kami melihat kalian tertawa, belajar, dan tumbuh bersama. Itu adalah kebahagiaan terbesar kami sekaligus siksaan terdalam karena tidak bisa memeluk kalian."
Bukan hanya orang tua Azzura, satu per satu orang tua yang lain muncul dalam pesan rekaman itu. Ibu Rachel, Jesi Brown, menatap putrinya dengan senyum lembut.
"Rachel, jangan pernah ragukan kelembutan hatimu. Air dan udara dalam dirimu adalah sumber kehidupan, bukan hanya penghancur."
Ayah Vera, Jonathan, tampak gagah dengan baju zirahnya. "Vera, tetaplah menjadi gadis yang ceria. Kekuatan tanahmu adalah pelindung bagi teman-temanmu. Jangan biarkan rasa takut mengeraskan hatimu."
"Kami semua mencintai kalian," ucap mereka serempak sebelum citra itu mulai berpendar redup. "Ingatlah, Kunci Mageia bukan hanya benda, ia merespons kasih sayang dan persatuan kalian. Jangan biarkan mereka memecah belah kalian. Kami akan selalu ada di dalam kalung itu... di dalam hati kalian."
Proyeksi itu menghilang dengan suara denting halus, meninggalkan Azzura dan kawan-kawannya dalam isak tangis yang tertahan. Ruangan itu terasa begitu hampa setelah suara orang tua mereka menghilang.
"Aku merindukan mereka," bisik Luna sambil mengusap air matanya.
Hologram itu perlahan memudar dan menghilang, menyisakan keheningan yang menyesakkan di ruang bawah tanah itu.
"Tiga hari?" gumam Vera sambil mengambil kembali kalungnya."Kita baru saja sampai di sini dan sekarang kita harus menyelamatkan dunia?"
"Kita tidak punya pilihan," sahut Olivia tegas. "Sekarang kita tahu kenapa area ini dilarang. Mereka tidak ingin kita tahu kebenarannya."
Baru saja mereka akan berbalik untuk kembali ke atas, terdengar suara tepuk tangan pelan dari bayang-bayang tangga.
"Luar biasa. Aku tidak menyangka kalian akan menemukannya secepat ini."
Seorang pria keluar dari kegelapan. Ia bukan Xander, melainkan Profesor Elian, yang selama ini terlihat baik dan membimbing mereka. Di tangannya, ia memegang sebuah tongkat yang memancarkan aura hitam pekat yang sama dengan para iblis bayangan.
"Profesor?!" seru Azzura kaget. "Jadi... Anda pengkhianatnya?"
"Pengkhianat adalah kata yang kasar, Azzura," ujar Elian dengan senyum dingin. "Aku lebih suka menyebutnya sebagai... perintis era baru. Sekarang, berikan kalung-kalung itu padaku, atau kalian tidak akan pernah melihat matahari esok pagi."