NovelToon NovelToon
Takdir Cinta Kalisha

Takdir Cinta Kalisha

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Keluarga & Kasih Sayang / Tamat
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Yani Wi

Bentuk tubuhku lebar ke samping, rambut gaya kuno dan wajahku tidak sebening kaca.
Sepotong blus potongan sederhana dan padanan rok menutup dengkul, hampir ketinggalan jaman. Gaya busana itu yang kupakai jika mengikuti ekskul di sekolah. Cuma tinggi badanku yang sedikit menolong walaupun tidak bisa dibilang tinggi seperti model.

Kebanyakan temanku lebih sering menggunakan jeans dan kaos saat mejngikuti ekskul. Berbeda dengan mereka, potongan pakaianku selalu sama dengan Minggu lalu. Rok di bawah dengkul dengan blus potongan biasa. Kata mereka aku ketinggalan jaman. Manusia purba dan langka.


"Kamu pikir kamu siapa? Kamu hanya mendatangkan malu untuk keluarga ini!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yani Wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Asyiiik...jualan.

Satu bulan kemudian ujian semester berlangsung dan setelahnya diadakan kegiatan mengisi jam kosong selama waktu menunggu terima hasil ujian . Bermacam kegiatan lomba dilaksanakan dalam berapa hari ini. Aku dan Nai terlibat di bazar sekolah.

Laksono seorang teman yang berbadan lebar sama denganku mengangkat tempat air berisi separoh minuman. Diletakkan di atas meja stan bazar.

"Yaaaak mantap Lak. Terima kasih ya," kataku pada Laksono.

"Ya Cha, angkat apa lagi Icha?" Tanya Laksono.

"Kita ke tempat tadi masih banyak barang di sana," ajakku.

"Ayolah. Tenang saja selagi ada aku semua beres," balas Laksono.

"Horeee hidup Laksono! hahaha!" Aku terkekeh.

Nai sendirian menurunkan barang-barang dari motor untuk dibawa ke stan bazar.

"Nai sini aku bantu!" Seru Laksono.

"Senangnya ada yang bantu. Di mana Andi?" Nai mencari Andi.

"Aku menyuruh Andi yang beli plastik. Kita lupa Nai," kataku

"Oiya kita lupa Cha. Apalagi yang lupa ya?"

"Nggak ada tuh," jawabku.

"Lak kamu bawa sebanyak itu? Separuh saja Lak, yang lainnya aku dan Nai bisa bawa," kataku pada Laksono. Laksono semangat sekali mengangkat barang-barang milik kami. Mentang-mentang badannya besar. Aku saja tidak sanggup mengangkat banyak barang walaupun tubuhku gemuk.

"Bisa, bisa. Tenang saja kalian jalan saja, oke. Serahkan semua padaku." Laksono memang baik.

"Asyik. Demi kelas kita ya Lak.

"Semangat. Jangan mau kalah sama kelas lain," ujar Laksono.

"Lama banget sih Andi. Beli plastik atau bikin plastik? Sudah mau dimulai nih." Nai gelisah Andi belum datang.

"Andi cari bahan untuk buat plastik hahaha." Laksono tertawa.

"Dan angkat airnya buat campuran bahan, hahaah," aku menimpali ucapan Laksono.

"Mencampur bahan lalu mencetak hahaha. Lama sekali tuh anak." Laksono geleng-geleng kepala.

Laksono mengambil gawai dari saku celana. Benda itu berbunyi dua kali.

"Apaan? Di mana Di? Kamu di mana sekarang? Kamu luka parah nggak? Aku jemput sekarang." Wajah Laksono bingung dan kaget saat menjawab panggilan gawai.

"Teman-teman, Andi insiden kecil bertabrakan dan dia butuh pertolonganku. Aku ke sana dulu ya," ijin Laksono pada kami.

"Apa??? Andi kecelakaan? di mana Lak?"Sontak aku kaget. Begitupun Nai.

"Nanti saja ceritanya. Aku tolong Andi dulu biar cepat sampai di sini karena kita juga butuh plastiknya. Andi butuh pertolongan karena motornya ada yang rusak sedikit. Kami antar motor ke bengkel terdekat dan aku bonceng Andi kemari," urai Laksono.

"Andi tidak apa-apa kan Lak?" Tanyaku. Kasihan Andi.

"Tidak kayaknya."

Kemudian Laksono pergi. Aku dan Nai menyiapkan stan kelas kami. Aku dan Nai senang karena tidak butuh waktu lama untuk Laksono menjemput Andi. Mereka datang berdua.

"Minum dulu Ndi. Ini punyamu Lak," kataku menyerahkan segelas air mineral kepada mereka.

"Terima kasih Icha," kata Andi.

Sementara aku dan Nai menyusun perlengkapan di meja stan, Andi bercerita. Sepeda motor Andi melaju lumayan kencang dan dari arah berlawanan sebuah motor lain juga melaju tidak terlalu kencang. Di persimpangan gang, kedua motor bertemu. Motor lawan akan memasuki gang sedangkan motor Andi melaju lurus. Motor bersenggolan dan keduanya jatuh dari motor.

Praaaaaakkk. Brruukk.

Kendaraan saling menyenggol dan jatuh satu sama lain. Masing-masing sadar apa yang terjadi.

Andi meringis dan menggelengkan kepalanya kemudian berusaha bangkit.

"Waduh! Kenapa bisa begini?" Tanya Andi pada diri sendiri.

"Maaf bang, abang baik-baik saja kan?" Tanya Andi lagi pada lelaki yang jatuh bersamaan.

"Oke saya baik saja. Gimana kamu?"

"Saya baik saja bang cuma lecet sedikit," jawab Andi.

"Kalau begitu kita baik-baik saja jadi tidak ada yang perlu dipermasalahkan," kata lelaki asing lebih tua dari Andi. Begitu cerita Andi.

"Aku tak mau masalah ini jadi panjang, akhirnya kami pun menutup masalah ini. Aku tidak menuntut abang itu dan dia juga tidak. Ini salah kami berdua. Aku membawa motor dengan kencang dan dia secara tiba-tiba belok ke kanan memasuki gang. Senggolan terjadi. Untung dia tidak terlempar." Andi terlihat mulai tenang. Tidak seperti ketika baru datang.

"Motor kamu rusak parah Ndi?" Tanya Nai. Dia meletakkan bungkusan sarapan untuk Andi dan Laksono.

"Makanlah ini," kata Nai lagi.

"Terima kasih Nai. Motorku tak terlalu parah. Kap nya saja yang patah." Jelas Andi.

"Motor Andi sudah di bengkel," tambah Laksono.

"Mari kita mulai. Apa yang harus disusun?" Andi bangkit dari duduk dan mengangkat kedua tangan.

"Eh aku ambil obat di ruang PMR ya, buat Andi. Dia sih tak mau diajak ke klinik pengobatan," ijin Laksono pada kami.

"Oke Lak. Aku tunggu di sini saja Kalau ketemu Bu Irita akan banyak pertanyaan buatku. Malas ah membuka cerita kecelakaan ini ke guru," alasan Andi.

"Ya benar juga. Yang penting kamu selamat." Laksono menghibur.

"Betul. Motor bisa diperbaiki Ndi, yang penting kamu masih sehat," kataku.

"Iya Cha. Tabunganku bakalan tergadai nih buat bayar ongkos bengkel hahah!" Tawa Andi lepas.

"Tenang Ndi. Selesai ini aku dan Nai dapat komisi dari penjualan ini. Nah uang itu kuberikan separuh untukmu." Kupikir tidak masalah membantu Andi.

"Aku mau juga. Uangku separuhnya untuk motor Andi," Nai setuju.

"Terima kasih Icha, Nai. Kalian baik sekali. Sebaiknya uang itu untuk kalian saja. Aku tidak apa-apa, tabunganku cukup untuk biaya perbaikan motor. Minta sama orang tuaku aku tak berani, pasti kena omel, hiihiii."

"Tidak apa Andi, diterima saja. Untuk meringankanmu. Kami ikhlas nih," kata Nai.

"Ya Ndi, ini ikhlas loh. Kamu jangan khawatir, ongkosnya kami bantu," tambahku.

"Baiklah kalau begitu kawan-kawan . Terima kasih ya kawan-kawan."

"Sama-sama Andi."

Sekelebat aku melihat Arin lewat di depan kami. Arin sedang membawa sesuatu. Dirinya kembali lagi tepat di depan ku.

"Tak sangka sebelahan sama pasukan gembul!" Arin berdiri dengan sombong. Aku melihatnya tak suka. Dia melihatku lebih tak suka.

"Siapa juga yang mau dekat-dekat sama kalian, pasukan cacing- cacing kepanasan. Cemooh orang terus," kataku sangat pedas.

"Kita lihat saja nanti tempat siapa yang ramai pembeli, pasti tempat kami." Arin sombong.

"Eeh ngapain ini dia di sini. Mau tahu aja urusan orang. Urus sana lu punya!" Nai pun sewot lihat Arin.

"Haaaalaahh jualan gini saja nggak boleh dilihat. Sombong amat!"

"Memang nggak boleh dilihat. Kita lihat saja nanti siapa yang ramai pembelinya," Aku tak mau kalah.

"Kami yang banyak pembeli," Arin sombong.

"Sok percaya diri!" Nai maju keluar mendekati Arin.

"Nai nggak usah dilayan orang seperti itu. Buang-buang waktu," kataku.

"Arin ayo bantu kami!" Arin dipanggil Arni, teman satu geng sekaligus sekelasnya. Arin kembali ke stan mereka.

"Bisa ya kita dapat sebelahan dengan dia?" Nai bertanya padaku.

"Bisa saja Nai, kan cabut undian. Kita dapat nomor 5 tempatnya," jawabku.

"Yang mencabut undian Andi?"

"Ya Andi diperintah Bu Irita," kataku.

"Heeeii, kenapa namaku disebut?" Andi langsung bertanya ketika dia baru datang dari kelas.

"Bukan apa-apaan deh, kami cuma heran aja bisa kita dapat tempat di sebelah si Arin. kamu tahu sendiri seperti apa sikap Arin pada Icha."

"Abaikan saja dia, yang selalu dipikirkan kita ke sini untuk menuntut ilmu dan tugas kita harus selesai tepat pada waktunya, jangan sampai setiap hari itu menghambat keinginan kita datang ke sekolah," Andi berkata bijak

"Itu tuh dengar pembukaannya mau dimulai," kataku.

"Baguslah kita juga sudah siap-siap." Nai semangat.

Matahari semakin naik tinggi karena semakin siang. Sejak pukul 10.00 tempat kami ramai oleh kakak-kakak dan adik kelas yang membeli minuman yang kami sediakan. Haus terasa berada di lapangan dengan sinar matahari yang kuat.

"Kak air yang ini satu bungkus, air ini dua, air yang ini satu ." Seorang siswa membeli air minuman kami dan menunjuk masing-masing jenis air minuman yang kami jual.

"Sebentar ya. Sabar," kataku sambil membungkuskan air minum buatnya.

"Ini minumannya. Nanti datang lagi ya. Terima kasih," kataku.

"Iya kak."

Nai bertugas mengambil uang yang dibayarkan dan dimasukkan ke dalam pouch khusus tempat uang.

Semakin lama semakin ramai yang beli di tempat kami tapi aku heran kenapa Arin masih berdiri di depan kami. Bukannya dia harus mengurus stannya juga?

"Air segitu harganya Rp 2.000,- Mahal amat, jual Rp.1000,- juga laku," kata Arin

"Iiisss kompor datang. Urus sana stan kalian sendiri!" Teriak Nai.

Seorang siswa lain datang untuk membeli. Aku melayani dan siswa itu kembali setelah aku berikan air minuman dingin.

"Coba rasa minuman itu! Coba kamu rasa, enak nggak?" Tanya Arin kepada siswa yang beli air tadi.

"Enak, enak kok kak, saya dua kali ini beli. Murah kak," jawab si anak tadi.

"Huuuuuh nggak usah dengar ya! Jangan didengarkan, beli di sini saja!" Seruku. Wajah Arin semakin sebal melihatku. Hahaa belum tahu dia.

"Apa yang enak, itu kan cuma sirup. Kalian suka ya beli di tempat gembul." Arin terus berceloteh dengan gaya melipat kedua tangan di bawah dada. Kata-kata Arin tidak didengar oleh siswa dan teman-teman yang mau membeli minuman kami.

Namun celotehan Arin membuat siswa lain datang melihat dirinya. Semakin banyak yang datang melihat kami adu mulut. Cuaca panas terik begini membuat telinga semakin panas mendengar Arin bicara yang bukan-bukan dan menghina kami. Aku tahu Arin tidak suka denganku.

"Ayo beli di tempatku saja. Makanan yang enak, bersih, minumannya juga ada," promo Arin.

"Ma'af kak saya ingin beli di sini." Seseorang yang ditahan tangannya oleh Arin menolak untuk membeli di stan Arin squad. Dia memilih membeli minuman di tempatku. Hampir semua yang memperhatikan Arin dan aku, rela berpanas-panasan.

"Uuh dasar, kok maunya cuma air begitu," celetuk Arin.

"Kak minuman ini sesuai dengan uang saku kami. Murah benar," kata seorang siswa yang kebetulan lewat di samping Arin.

"Seger kak! Kakak mau? Ini ambil saja!" kata adik kelas tadi yang ditahan Arin. Menawarkan sebungkus air minum dingin.

"Kamu saja yang minum, aku nggak suka." Arin ketus.

Banyak para siswa di depan stand menyaksikan Arin cuap-cuap menjelekkan aku dan stan kami. Pada akhirnya mereka kehausan karena panas sinar matahari lumayan terik. Lalu banyak dari mereka yang membeli air minuman dingin.

Aku dan Nai tidak sempat lagi melayani tingkah Arin yang tidak jelas itu. Kami berdua fokus melayani pembeli. Hari semakin siang dan pembeli kian ramai.

Andi dan Laksono membantu kami membuatkan air minuman baru menggantikan air minum yang telah habis.

"Waaahh mantap kalian. Laris manis uuuii," kata Andi senang.

"Siapa dulu yang bikin. Niiih! Hahaaa." Laksono menepuk dada.

"Haahaaa, calon bartender nih," canda Andi.

"Hahahaa." Keduanya tertawa.

"Panas banget!" Kataku.

"Betul. Andi, tolong kipas itu arahkan ke kami," pinta Nai.

"Siap! Sudah nih. Sudah kena angin bukan?" Andi mengarahkan kipas angin model berdiri ke arah kami.

"Segaaarrr!" Kataku.

"Eeh sudah hampir siang. Bagaimana kalau ada yang beli dua bungkus, dapat satu bungkus lagi?" Usulku.

"Ehmm boleh juga. Sudah jam segini. Acara hampir selesai," Nai setuju. Andi dan Laksono mengiyakan. Pukul sebelas lewat empat puluh lima menit acara hari ini berakhir. Lebih baik yang tersisa dijual dengan tambahan gratis saja. Hitung-hitung jadi sedikit amal baik.

"Dibeli! Dibeli! Sebelum ditutup. Beli dua gratis satu!" Seru Andi di depan stan kami.

"Mau!" Teriak seorang teman sekelas.

"Ambil Nda," suruh Andi.

"Jangan ketinggalan. Dibeli air minumnya. Ayooo!!"

Satu, dua, empat orang datang membeli. Aku dan Laksono cukup kewalahan melayani mereka.

"Ahaaa asyiiik, duitku banyak." Nai menepuk pouch.

"Laris manis!" Kata Laksono.

Berdatangan lagi pembeli hingga air minuman habis terjual semua.

"Alhamdulillah. Giliran Upi dan Tiar jualan besok. Aku ikut lomba lukis," kataku.

Nai menambahkan, "Iya. Aku jaga di UKS besok."

Andi berkata, "Lanjutkan kegiatan masing-masing. Aku mau nonton lomba debat. Pasti seru."

"Wah iya lomba debat, asyik juga menontonnya tapi aku tak bisa nonton," tambahku.

"Eheemm." Nai berdehem.

"Kenapa Nai?" Tanyaku.

"Tak ada. Baru mulai lombanya, belum final. Masih bisa nonton kok," jawab Nai.

"Eh iya. Semua lomba baru mulai.

Tapi lomba lukis ini nggak dua kali, Nai," kataku.

"Iya sih dan kamu harus menang," kata Nai.

"Entahlah. Pesertanya banyak," ujarku.

"Yakin Cha. Aku do'akan menang." Nai memberiku semangat.

"Semoga. Andi, Laksono, aku minta do'a kalian juga ya," pintaku.

"Tentu saja Icha. Dengan senang hati mendo'akan kamu," kata Laksono.

"Siapa tahu kamu bisa mewakili sekolah kita di lomba tahunan antar sekolah. Anggap saja ini latihan," ucap Andi lagi.

"Waah jauh sekali sampai ke sana Ndi. Apa aku bisa?" Tanyaku tak yakin. Bersaing dengan peserta lain dari setiap sekolah butuh ketrampilan dan bakat mumpuni.

"Bisa saja selagi ada kesempatan dan kemauan," jawab Andi.

"Aku bukan siapa-siapa, Andi. Ini asal ikut saja, mewakili kelas," ucapku. Enggan menaruh harap terlalu tinggi, takut berakhir hampa. Berharap sebagai pemenang pertama lomba, tapi kenyataannya kalah dari peserta lain. Kemungkinan selalu ada bukan?

"Kita semua bukan siapa-siapa, Icha. Pelajar yang ingin mengembangkan diri, menggali potensi. Inilah salah satu cara kita berprestasi." Andi bicara seperti pak guru. Bijak.

"Baiklah pak Guru," kataku sambil senyum pamer gigiku yang putih ini.

"Aku bukan pak guru!" Andi mengangkat kelima jarinya.

"Ralat calon guru," kataku iseng.

"Salah. Cita-citaku bukan itu tapi jadi arsitek weeee."

"Haha Andi, Andi!"

"Jadi barang-barang ini bawa ke mana?" Laksono mengawasi semua barang.

"Paling dekat rumah Icha, ya ke rumah Icha saja. Boleh Cha?" Nai bertanya padaku.

"Ya sudah ke rumahku saja."

"Baiklah. Aku dan Laksono akan mengantar ke rumah Icha. Kalian bisa pulang dulu," kata Andi.

"Kami bawa barang-barang kecil ini," kata Nai sembari mengambil barang-barang yang mau ditenteng.

"Terserah kalian," ucap Andi.

"Kalau begitu, kami jalan dulu ya. Aku antar Icha."

"Oke Nai. Jumpa lagi besok ya."

"Jumpa lagi. Daaaa."

"Aku duluan ya," pamitku.

"Oke Cha. Hati-hati kalian," kata Laksono.

"Ya, bye."

Aku dan Nai pulang. Kami harus istirahat karena besok masih ada kegiatan sekolah yang harus kami ikuti. Aku tersenyum mengingat semua yang kulewati hari ini dan tingkah Arin tak membuatku sedih. Hatiku terhibur dengan lakunya jualan kami tadi.

...🌾bersambung🌾...

1
Embun Kesiangan
season dua Thor 🥰🌹🌹
🌻Yani Wi💕: 😘😘😘😘😘😘🤗😇🌹🙏
total 1 replies
Embun Kesiangan
ternyata dijodohin sama Icha ya Thor 😍
Embun Kesiangan
duh jgn sampai elang dijodohkan
Embun Kesiangan
semangat Icha ☺️
TK
bunga untuk semangat ✍️
TK
semangat othor hebat 👍
R.F
semangat kk
R.F
2like dan 1mawarku hadir k
semamgat
Bening 💫~^-^
semangat kkak 🥰
TK
bunga untuk Thor 🌷👍
IndraAsya
👣👣👣 Jejak 💪💪💪😘😘😘
🌻Yani Wi💕: terima kasih.💐
total 1 replies
R.F
2 like dan satu mawarku hadir
Semangat kaka
Neyna 🎭🖌️
semangat kak 💪💕💕
lina
cakep bner itu tempatnya.. bikin ngiler
R.F
2 like hadie. semangaf kak. lije balik iya
Bening 💫~^-^
terus semangat kkak 🥰
Bening 💫~^-^
semangat kak 🥰
TK
dua bunga untuk Thor 👍✍️
Irma Kirana
Semangat 😁😁👍
🌻Yani Wi💕
Aamiin. 😃😃😄

Terima kasih do'anya author Neyna.😘😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!