Azzam Bernabas Dirgantara, seorang Milyader berhati dingin. Bagi Dirga, hatinya sudah lama mati. CEO dari Dirgantara Group tersebut sudah mengubur dalam cintanya bersama sang tunangan yang pergi untuk selama-lamanya.
Lalu tiba-tiba muncul wanita seperti alien yang mulai mengusik kedamaian Dirga. Apa Dirga akan bertahan menjadi perjaka tua sampai akhir hayat karena cintanya yang sudah mati? Atau jangan-jangan pria seperti kanebo kering itu malah berpindah haluan, ketika hidupnya diusik sosok gadis yang sama sekali tidak akan membuatnya jatuh cinta lagi.
Dirga berani bersumpah, ia akan membujang selama-lamanya. Percaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Broken Heart
Dinikahi Milyader Bagian 11
Oleh Sept
Rate 18 +
Suasana di apartment Dirga sedikit menegangkan. Dirga bergegas menyusul adik serta sang mami masuk ke dalam. Di mana sudah ada Levia yang sedang duduk sambil membaca laporan medis miliknya.
"Eh ...!" Jean berhenti melangkah. Mami jelas kaget, karena selama ini yang dia tahu Dirga sama sekali tidak berhubungan dengan wanita manapun. Dan sekarang malah ada anak gadis di depannya.
[Apa lagi ini?]
Levia nampak canggung, ia tersenyum tipis menyapa Jean yang terus saja menatapnya.
"Jangan-jangan ini pacar Mas Zio, apa wanita ini yang mbak Naomi maksud semalam?" gumam Diska.
Tidak seperti maminya yang masih diam terpaku, Diska malah langsung duduk di samping Levia.
Sementara itu, Levia malah beranjak. Ia berdiri dan bangkit dari duduknya.
"Maaf, sepertinya saya menganggu. Permisi ...!" ucap Levia. Kesempatan, ia mau kabur mumpung ada tamu.
Settt ...
"Mau ke mana, kita belum selesai bicara!"
Begitu Levia melewati Dirga, pria itu langsung memegang tangan Levia.
Mata Diska melotot, melihat kakak satu-satunya itu memegangi tangan seorang wanita. Sebenarnya tidak apa-apa, masalahnya itu ada pada si wanita. Semalam katanya jalan sama Mas Zio, paginya sama abangnya. Lah? Apa wanita tersebut wanita yang gampangan? Mudah sekali digilir. Tiba-tiba, Diska menjadi kurang respect.
Lain halnya dengan Jean, matanya berbinar-binar melihat sentuhan fisik tersebut. Ia pikir, Dirga akan jomblo sampai akhir hayat karena rasa trauman dan luka hatinya. Ternyata ia salah. Dilihat dari mata Dirga sekarang, Jean yakin. Putranya itu menginginkan gadis tersebut. Mendadak ia jadi ingat dengan Rayyan, suaminya.
"Tuan ... lepasin!" bisik Levia sembari menarik tangan.
Dirga lantas mendekat, ia berbisik sangat pelan hingga hanya mampu didegar oleh Levia seorang.
Mami Jean tambah sumringah, dikira itu bisikin sayang. Nyatanya, itu adalah sebuah ancaman, yang langsung membuat Levia patuh.
"Mi ... Diska ... kenalin ini Levi. Teman dekat Dirga."
Seketika Levia memejamkan mata sesaat, kemudian menundukkan kepala. Setelah menyerap kekuatan yang cukup, barulah ia mendongak dan tersenyum ramah pada Jean dan juga Diska.
"Salam kenal, Tante ... Salam kenal Diska," ucap Levia dengan terpaksa karena tangan pria tersebut mencengkram bahunya.
"Oh ... Mami sepertinya yang menganggu waktu kalian. Sepertinya lain kali Mami ke sini lagi." Jean menggoda Levia. Karena melihat kecemasan di wajah gadis itu. Jean pikir mungkin nervous ketemu mereka. Padahal, Levia begitu karena dibawah tekanan pria pemaksa. Anaknya sendiri.
"Nggak Tante, saya memang sudah mau pergi."
Levia mencoba menjauh, tapi Dirga malah merapatkan tangannya. Hal itu amati oleh Diska sejak tadi.
[Oh, cinta bertepuk sebelah tangan. Malang sekali Mas nasibmu, begitu jatuh cinta lagi, wanita itu tidak membalas perasaanmu. Tapi ... tenang saja, kali ini aku ada di pihakmu. Maaf Mas Zio, gadis ini harus jadi milik abangku!]
Diska menatap keduanya lekat-lekat, sepertinya setelah melihat pengakuan sang kakak. Ia akan berusaha menjadi dewi amor untuk Dirga dan Levia.
Singkat cerita, Levia langsung diseret Diska untuk duduk kembali di sampingnya. Melihat betapa cooperativenya sang adik, Dirga merasa punya pendukung yang berdiri di kubunya.
"Ajak ke rumah ya, Dirga!" ucap Jean sambil membawa camilan dari dalam lemari pendingin.
Dirga hanya mengangguk sambil senyum. Sedangkan Levia semakin panik. Apalagi si Diska sejak tadi memegangi tangannya.
[Astaga ... Ada apa dengan keluarga ini]
Levia seperti terjebak seorang diri.
"Minggu depan aku ulang tahun, ada pesta kecil-kecilan. Mbak Levi datang ya?" pinta Diska setelah mereka berkenalan.
"Pasti!" potong Dirga tiba-tiba.
[Demi papa ... Demi papa!]
Levia hanya bisa pasrah.
Satu jam kemudian.
"Aku anterin dia dulu, Mi."
"Iya, hati-hati!" seru Jean sambil memeluk Levia. Entah mengapa, ia sudah sangat cocok dengan gadis itu. Padahal baru kenal. Tapi ia merasa kehadiran Levia bisa menjadi awal lembaran baru bagi putranya yang lama tengelam dalam rasa penyesalan dan bersalah yang mendalam. Tanpa sadar, Jean memiliki ekpetasi yang tinggi pada hubungan keduanya.
"Jangan lupa ya, minggu depan!" teriak Diska menggoda.
Levia hanya bisa memegangi tengkuk lehernya. Serba salah.
Di dalam mobil
"Tidak usah bekerja di sana lagi. Kamu mau kerja apa? Aku ada banyak chanel. Kalau kamu sepakat, aku bawa papamu ke Jerman untuk berobat!"
Seketika Levia menoleh. Menatap Dirga yang sedang fokus menyetir.
Jadi tadi pas di dalam, Levia diancam, disuruh pura-pura di depan keluarga Dirga. Nanti, ia akan bantu penyembuhan papanya. Levia pikir itu hanya omong kosong untuk sekedar menekan dirinya. Ternyata, sepertinya pria itu serius dengan ucapannya.
"Tidak ada yang gratis di dunia ini, katakan di awal. Sebenarnya Tuan mau apa? Saya masih ingat ketika Tuan melempar uang di depan saya!"
"Dasar pendendam!" cibir Dirga dengan tatapan lurus ke depan. Tidak menoleh sama sekali.
"Turunkan saya di sini, dan terima kasih atas tawaran Tuan. Maaf ... saya tidak mau. Dan jangan mengikuti saya!"
Chittttt ...
[Jual mahal sekali wanita ini! Apa kelebihan dia? Tidak ada!]
KLEK
"Keluarlah!" ujar Dirga kemudian setelah mereka berhenti mendadak di tengah jalan.
Tanpa suara, Levia langsung turun dan naik taksi yang kebetulan lewat. Sedangkan Dirga, ia mengsuap wajahnya dengan kasar. Ada yang salah dengan kepalanya.
Beberapa hari kemudian
Di sebuah tempat praktek pribadi. Dirga sedang dihipnotis oleh terapisnya. Matanya terpejam. Namun, ia terus saja bicara.
"Katakan, apa yang menganggumu akhir-akhir ini!" tanya seorang pria dengan wajah serius.
Ia duduk sambil mengamati Dirga yang sedang melakukan sesi terapi sekaligus untuk healing pasca kecelakaan. Dirga memang punya ganguan kesulitan tidur, karena baru beberapa saat ia tidur, bayangan kecelakaan dan wajah Arunika yang bersimbah darah, terus saja muncul menjadi mimpi buruk yang terus mengejarnya.
"Dia tidak cantik!"
Dahi dokter Robert langsung mengkerut. Pria itu kemudian memasukkan tangannya ke dalam saku. Lalu berjalan memutari kursi panjang yang dipakai Dirga rebahan.
[Ini perkembangan cukup bagus, ia sudah tidak menyebut darah dan kecelakaan serta kematian tragis kekasihnya]
Dokter Robert nampak berpikir, kemudian kembali bertanya.
"Siapa namanya?"
"Gadis jelek!"
Spontan dokter Robert tersenyum. Dokter lulusan Jerman itu hanya bisa geleng kepala.
"Apa kau tertarik padanya?"
"Tidak!"
"Benarkah?"
Dirga mulai gelisah. Terlihat dari kedua alis dan dahinya yang mengerut dan bergerak-gerak.
"Tidak ... Aku tidak boleh tertarik pada wanita lain. Aku tidak pantas bahagia setelah apa yang terjadi pada Arunika!"
Suara Dirga terdengar serak, sepertinya ingatan tentang Arunika mengunci kebahagian Dirga. Menciptakan ruang derita di dalam sudut hatinya.
"Bagaimana bila Arunika ingin melihatmu bahagia?"
"Tidak ... dia selalu datang dengan baju penuh darah. Dia selalu menangis saat menatapku."
Dokter Robert memijit pelipisnya.
"Tapi aku dengar akhir-akhir ini kamu tidak memimpinkan Arunika lagi."
Dirga terdiam lama.
"Jawab aku, apa yang akhir-akhir ini muncul dalam mimpimu dan membuatmu tidur lebih lama?" tanya dokter Robert pelan-pelan.
"Seorang gadis ... dia tiba-tiba datang dan mengulurkan tangan padaku!"
Tok tok tok ....
Suara ketukan pintu membuat Dirga membuka mata perlahan. Dirga mengusap dahinya yang penuh keringat. Lalu menatap dokter pribadi sekaligus terapisnya yang selama ini menjadi satu-satunya orang yang memahami penyakit Dirga selama ini.
"Apa yang terjadi?" tanya Dirga kemudian.
"Aku resepkan sedikit obat, dan akan ku kurangi dosisnya."
"Dikurangi? Aku bahkan belum bisa tidur normal, Dok!"
Dokter Robert kemudian menepuk bahu Dirga.
"Obatmu bukan ini, kau sedang dekat dengan siapa?"
"Hah?" Dirga nampak bingung.
"Dia obatmu."
"Dokter bicara apa?" Dirga sepertinya tahu arah pembicaraan keduanya.
"Buat dia di sisihmu ... gadis tidak cantik itu, lebih ampuh dari pada resep yang aku tulis selama ini untukmu."
Glek
Dirga hanya bisa menelan ludah. Sepertinya dokternya benar. Karena sejak tragedi di kamar mandi itu, bukannya mimpi dihantui bayang-bayang Arunika, ia malah selalu melihat wajah jelek Levia.
Malam harinya
Tidak sulit bagi Dirga untuk menemukan rumah Levia. Malam itu, ia berencana akan menemui Levia. Sambil membawa ponsel sebagai alasan.
Depan rumah Levia.
Dari dalam mobil, sambil memegang ponsel milik Levia, Dirga menghela napas panjang sebelum memutuskan untuk turun dan menemui pemilik ponsel tersebut.
Dirga mencoba tersenyum ramah, demi kesembuhan dan bisa menjalani hidup dengan normal kembali, ia akan mencoba minta tolong Levia. Ia akan mendekati gadis itu, dimulai dengan mengajaknya berteman dahulu. Siapa tahu kata dokter Robert ada benarnya.
Bibir sudah senyum sumringah, hati sudah ditata untuk siap merendah sedikit saja. Tapi, rahangnya seketika megeras ketika melihat Levia keluar dari sebuah mobil yang tidak asing. Mobil itu tiba-tiba berhenti tepat di depannya. Kemudian Zio muncul sambil membuka pintu untuk Levia.
BERSAMBUNG
[Kami bukan kekasih! Tapi ini cukup sakit]
Lev ... jangan patahin hati babang yang baru ingin bertunas... Kan jadi biji terong lagi ... Kan .. Kan... hehheh