Meet Theora Bathassa Ghazy - gadis berkulit kuning langsat dengan lesung pipi di kedua pipi nya itu harus melanjutkan beasiswa S2 nya di salah satu Universitas ternama di Korea Selatan. Dengan bahasa korea nya yang masih terbata bata, ia harus menjalani kehidupan baru nya di negeri gingseng tersebut.
Meet Lee Elfensius Jeno - Laki laki berdarah korea-Inggris itu terlihat sangat dingin namun lembut secara bersamaan. Dengan garis wajah yang keras, rahang yang sempurna dan kulit putih bersinar khas orang korea. Ia merupakan CEO sekaligus pemilik tunggal Jeora Entertaiment yang kini menjadi agensi terbesar di korea selatan.
Bertemu dengan seseorang yang sulit memahami bahasa korea dengan cepat ketika ia terbiasa berbicara dengan cepat membuat seorang Jeno yang terbiasa menuntut dan bergerak cepat frustasi. Sedangkan Ara yang masih belum terbiasa menggunakan bahasa korea juga harus selalu menajamkan otak serta pendengaran nya ketika Jeno berbicara pada nya. Namun tak terasa kedua nya seolah olah menikmati hal aneh tersebut.
Lalu bagaimanakah kelanjutan dari hubungan mereka? Ikuti terus kisah mereka yaaa...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Theodora Ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bad Liar - Bagian 11
Jeno’s Penthouse, South Korea. 9:00 AM
Dipagi yang cerah ini, suara burung terdengar saling berkicauan di luar sana, menyambut datang nya mentari yang mulai menampakkan diri nya di ufuk timur sana. Terlihat di sebuah kamar bernuansa maskulin dengan warna monokrom diseluruh penjuru kamar tersebut.
Disana, dikasur berukuran king size, seorang laki-laki masih menyembunyikan dirinya di dalam selimut tebal berwarna abu-abu itu. Ia bahkan tidak terusik oleh sinar mentari yang mulai memasuki kamar nya melalui celah-celah jendela. Suara panggilan dari ponsel nya pun seolah menjadi lullaby baginya yang membuatnya makin terlelap.
Drrrrtttt…
Suara ponselnya kembali terdengar untuk yang ke 5 kali nya, dan itu ternyata mengganggu tidur nyenyak nya hingga dengan setengah menggerutu tangan kanan nya mulai bergerak ke atas nakas untuk mencari letak ponsel pintarnya tersebut.
Setelah menemukan letak ponsel pintar nya, dengan mata yang masih terpejam ia menekan tombol hijau dan segera menempelkan nya ke telinga kanan nya.
“Halo,” sapanya dengan suara serak khas orang bangun tidur.
“Halo. Astaga jangan bilang Paman masih tidur?!? Oh my god ini sudah siang Paman. Apa Paman tidak bekerja eh? Jangan semena mena hanya karena Paman seorang bos, itu bukan perilaku yang baik. Aku menelpon hanya ingin memberitahu bahwa dalam 1 jam mendatang aku akan ke tempat Paman. Jadi cepat bangun dan bersiaplah ke kantor. Oke, selamat pagi Paman!?!” Rentetan suara seorang gadis dari seberang sana membuat laki laki yang tidak lain tidak bukan Jeno itu terdiam.
Jeno tidak mengerti apa yang baru saja dikatakan karena saat ini otak nya masih belum bekerja dengan sempurna. Setelah menyadarkan dirinya, Jeno yang hendak mengeluarkan suaranya itu harus menundanya kembali karena gadis itu sudah mematikan panggilan nya dahulu secara sepihak.
Sedangkan Jeno hanya tersenyum kecil dan meletakkan kembali ponsel nya diatas nakas kemudian beranjak dari kasur king size miliknya.
“Sarang, buka gorden jendela nya,” ujar Jeno yang sudah berdiri di depan jendela kamarnya yang masih tertutup sempurna.
“Membuka gorden jendela,” Tak lama setelah nya, gorden penutup jendela mulai bergerak hingga cahaya matahari sepenuhnya masuk ke dalam kamar Jeno. Jeno menutup matanya rapat ketika cahaya matahari itu terasa sangat menyilaukan kedua matanya dan membukanya kembali ketika ia merasa retina nya sudah cukup untuk beradaptasi dengan cahaya tersebut.
Rambut hitam berantakan dengan kaos polos dan training yang melekat di tubuhnya, Jeno tersenyum lebar ketika mengingat ucapan dari Ara tadi. Ia tak menyangka bahwa mood nya hari ini akan sebagus ini ketika mendengar rentetan pertanyaan dari Ara mengenai dirinya yang baru saja bangun.
Ia tak menduga bahwa gadis yang berwajah datar ketika melihat orang baru itu bisa secerewet itu padanya – laki-laki yang juga baru di temuinya beberapa waktu lalu. Orang yang tidak sengaja ia kotori kemeja nya. Bahkan ibunya sendiri pun tak pernah secerewet itu pada nya, tapi Ara --- . Membayangkan nya saja sudah membuat Jeno terkekeh perlahan.
“Sarang, buatkan aku americano," Jeno kembali bersuara. Ia melangkahkan kaki nya ke arah kamar mandi miliknya dan segera bersiap menunggu kehadiran Ara.
“Membuat americano,” Suara sarang – asisten pribadi Jeno yang memang slalu siap membantu Jeno dalam melakukan semua kegiatan nya. System otomatis yang sengaja dibentuk oleh Jeno itu memang cukup membantu kegiatan nya selama ini. Baik di rumah maupun di kantor, bahkan ketika Park Seong Joo, sekertaris Jeno di kantor tengah mengambil cuti dadakan – terdengar ketika Jeno memberi instruksi. Tak lama terdengar suara mesin kopi dari arah dapur.
Laki-laki bertubuh dengan tinggi 185 cm dengan balutan celana bahan berwarna hitam dan kemeja berwarna putih itu terlihat melangkahkan kaki nya ke arah dapur. Mendekati pantry dan segera mengambil americano miliknya yang sudah siap saji dari mesin kopi keluaran terbaru itu.
Ia pun menyesap kopi hitam itu dengan perlahan dan beranjak dari posisi nya ke arah meja makan yang juga terletak di dapur. Mendudukkan dirinya disana dan mengambil tab miliknya yang terletak tidak jauh dari tempat duduknya saat ini. Membaca berita terbaru dan melihat jadwal nya hari ini yang sudah dikirimkan sekertarisnya beberapa waktu lalu.
Drrrrttt…
Suara dering ponsel terdengar di telinga laki-laki berdarah Korea Selatan-Inggris yang masih sibuk membaca berita dalam tab berwarna silver milik nya.
“Sambungkan panggilan itu ke tab di dapur Sarang,” Ujar Jeno tanpa mengalihkan pandangan nya dari tab yang masih di bacanya saat ini.
“Menyambungkan panggilan masuk,” Sahut Sarang menggema di seluruh penjuru penthouse.
Tak lama setelahnya, panggilan masuk yang berasal dari ponsel nya berpindah ke tab yang tengah di pegang oleh Jeno. Laki-laki itu pun segera mengangkat panggilan dari seseorang yang sedari tadi tengah di tunggu oleh laki-laki yang termasuk ke dalam jajaran orang terkaya di Asia itu.
“Selamat pagi Nona,” Ujar Jeno menyapa ketika panggilan nya sudah ia angkat.
“Pagi Paman. Aku sudah di depan pintu, dari tempat yang kau kirimkan kemarin,” Ujar Ara – orang yang memang sudah di tunggu Jeno sedari tadi.
“Baik. Tunggu sebentar,” Jawab Jeno singkat dan segera mematikan sambungan telepon itu secara sepihak. Bermaksud membalas dendam nya, karena biasanya Ara yang melakukan nya bukan dirinya. Jadi ia ingin menjadi orang yang melakukan hal tersebut, bukan orang yang diperlakukan seperti itu. Setelah memutuskan sambungan itu secara sepihak, Jeno tersenyum singkat dan segera beranjak dari posisi nya saat ini.
“Sarang, bukakan pintu masuk,” Ujar Jeno sembari memasukkan kedua tangan nya ke arah saku celana bahan nya dan berjalan mendekat ke arah sofa yang terletak tidak jauh dari pintu masuk.
“Membuka pintu masuk," Sahut Sarang cepat ketika mendengar perintah dari sang pemilik. Tak lama setelahnya, terdengar suara langkah kaki yang bergerak memasuki penthouse milik Jeno yang memang terletak di lantai tertinggi di hotel bintang 5 miliknya.
Ara bergerak memasuki penthouse mewah tersebut dengan perlahan dan raut wajah bingung. Karena ketika pintu masuk tadi dibuka, ia tidak melihat siapapun keluar dari belakang pintu tersebut. Hanya angin yang menyapa dirinya sesaat setelah pintu itu dibuka.
Bingung sebab tidak ada yang mempersilahkan dirinya masuk, Ara dengan terpaksa melangkahkan kaki nya masuk ke dalam penthouse berlantai 2 itu. Tidak perduli jika ada yang melarangnya.
Lagipula ia kemari hanya untuk mengambil barang dan sang pemilik penthouse ini pun sudah mengetahui maksud serta rencana nya datang saat ini. Jadi ia tidak takut.
“Silahkan duduk Nona,” sebuah suara berat dan tegas itu mengagetkan Ara yang tengah menatap sekeliling penthouse itu dengan wajah datar. Mencari sosok pemilik tempat yang dirinya datangi hari ini.
Ara yang sempat terlonjak kaget begitu mendengar suara itu menganggukkan kepalanya singkat dan bergerak ke sofa yang tadi sudah di tunjukkan oleh Jeno – sang pemilik suara.
“Jadi?” Ara memiringkan kepala nya ke kiri, menatap ke arah Jeno yang juga tengah menatap nya. Sedangkan Jeno hanya terdiam, bertanya lewat tatapan matanya. Ara hanya memutar bola matanya malas melihat respon Jeno yang terlihat tidak niat membalas pertanyaan nya tadi.
“Mana kemeja milik Paman? Biarkan aku membawanya sebentar, dan akan segera ku kembalikan bersamaan dengan kemeja baru pengganti kemeja yang ku rusak kemarin," ujar Ara dengan nada malas, terlebih melihat Jeno yang hanya menatap dirinya dengan tatapan datar tanpa berniat membuka suaranya sama sekali.
“Tidak ada, kemeja putih ku tengah di laundry semua dan hanya tinggal ini saja. Aku tidak tau kapan akan datang, jadi kau tidak bisa membawa kemeja ku sekarang,” Sahut Jeno dengan nada yang dibuat yakin, namun Ara bisa melihat bahwa di ada senyuman meledek di akhir perkataan Jeno tadi.
Tapi ia tidak tau apakah yang ia lihat benar atau bukan. Meskipun sebenarnya yang ia lihat memanglah benar terjadi. Sedangkan Jeno yang baru saja menjelaskan alasan tidak masuk akal itu tersenyum kecil, tidak bahkan sangat kecil hingga orang yang tidak teliti tidak akan menyadari senyuman Jeno barusan.
Tidak ada kemeja lain selain yang di pakai dirinya saat ini? Alasan yang sangat tidak masuk akal untuk orang sekelas Jeno. Orang dengan kekayaan yang sangat melimpah ruah mana mungkin tidak memiliki kemeja.
Kemeja dengan berbagai merek terkenal dengan warna yang sebagian besar terdiri dari warna gelap tersusun rapi di walk in closet pribadinya. Tempat yang besarnya setengah dari kamar tidur miliknya bagaimana mungkin tidak memiliki kemeja lagi.
Alasan tadi ia gunakan hanya sebagai alibi agar Ara tidak segera menyelesaikan tanggung jawabnya. Selagi ia memikirkan bagaimana caranya agar gadis itu tetap terikat dengan nya. Sampai waktunya tiba, ia akan terus mengundurkan waktu sebisa mungkin agar Ara tetap berhubungan dengan dirinya.
“Bagaimana dengan warna lain? Tidak mungkin bukan kau hanya menggunakan warna putih. Itu tidak mungkin,” Tanya Ara lagi. Ia harus segera menyelesaikan masalah yang tidak sengaja ia lakukan beberapa waktu lalu.
Ia tidak ingin lagi berurusan dengan laki-laki tidak di kenal nya itu. Terlebih lagi jika ia harus terus menghubungi dan bertemu dengan laki-laki yang – mungkin – jarak usia nya dengan dirinya kisaran 5 tahun itu. Bagaimana pun caranya ia harus segera menyelesaikan semua ini.
“Tidak ada juga, semua kemeja ku berada di tangan stylis pribadi ku. Jadi disini tidak ada kemeja lain,” Jawan Jeno singkat.
“Baiklah lalu dimana stylis pribadi mu itu sekarang?” Tanya Ara lagi, seolah tak habis pertanyaan.
“Ummm… Dia… Dia sekarang tengah di luar kota. Jadi kau tidak bisa menemui nya," Jawab Jeno dengan nada ragu. Sebenarnya ia tidak sepenuhnya berbohong karena memang stylis pribadi nya tengah berada di luar kota. Tapi entah mengapa ia merasa gugup ketika menjawab pertanyaan Ara.
“Ahhh… benarkah? Lalu dari mana asalnya kemeja yang tengah kau pakai sekarang Paman?” Skak mat. Jeno terdiam mendengar pertanyaan Ara yang pada akhirnya menjebak dirinya sendiri. Ia tak menduga bahwa ia akan berada dalam kondisi seperti ini. Berbohong hanya untuk mempertahankan seorang gadis yang baru dikenal nya. Bodoh. Sungguh amat bodoh.
Sialan, aku terjebak.
Jeno mengumpat dalam hati.
***
TBC
Halo semuaaa.... 👋👋👋
Aku lagi ikut kontes nih, jika berkenan bantu aku dengan terus memberi vote, komentar dan like kalian ya. Ditunggu vote nya semuaaa....
Oh iya, jangan lupa mampir di karya ku yang lain yaa!!!
Yang suka tema horror dan misteri bisa baca karya kedua ku yaitu "Haloween",
Ditunggu kehadiran nyya semuaaa!!!
Sampai jumpa di bab selanjutnya 👋👋👋
Yang mau mutualan sama nanya-nanya soal cerita ini bisa chat aku di instagram atau di grup chat yaaa
^ ^
Follow my Instagram :
@chocho_lalattee
Gaspolll👌👍👍😍😍😍