Di balik suami yang posesif, menyimpan sebuah rahasia besar!
Alan akan selalu melempar benda-benda yang terdekat dengannya ketika ia kecewa dengan Nesa, ia memang tidak pernah memukul istrinya—pria itu akan menumpahkan kekesalannya pada barang-barang di rumahnya.
Nesa sebenarnya tidak tahan lagi, tapi hanya demi Ribi—putri semata wayangnya dirinya bersabar menghadapi perangai buruk suaminya yang tempra mental. Tapi bencana itu datang, saat Nesa mengetahui jika sang suami tidur dengan wanita lain hanya satu kalimat yang terucap.
"Mari kita cerai!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi wu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 11
Selamat membaca....
Semoga kalian menikmati tiap Chapter yang aku suguhkan.
Kalian bisa follow Instagramku @Novi_wu01
luv,
Novi Wu
___________
Setelah sampai di hotel bintang empat tak jauh dari rumah Nesa, Alan langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuk di dalam kamarnya, ia mendesah keras, ketika teringat perangai istri yang biasanya penurut berubah menjadi acuh padanya. Ia menutup matanya dengan lengan, mencoba memejamkan mata, karena dari semalam ia tidak bisa tidur memikirkan anak dan istrinya. Tapi yang benar saja, ia bahkan seolah lupa bagaimana cara berdamai dengan mimpinya. Raganya letih, tapi jiwanya seolah menuntun otaknya untuk terus memikirkan bagaimana cara membujuk Nesa kembali ke dalam pelukannya.
Iya terbangun dan duduk bersandar di atas kepala tempat tidur, mengacak-acak rambutnya tanda frustasi sedang melanda dirinya. kemudian ia meraih ponsel yang sempat ia letakkan di atas nakas—tadi. Menekan layar sentuh, dan memanggil nomor kontak Nesa istrinya. Kali ini ponsel Nesa masih tidak aktif, ia benar-benar kacau sekacau-kacaunya. dia sendiri di kota dengan sebutan kota Atlas, tanpa ada saudara, yang ia punya adalah kerabat dari Nesa. Tapi, Alan tidak kenal betul dengan mereka, bukannya apa-apa. Alan memang tidak pernah bersilaturahmi dengan keluarga besar istrinya, sejak menikah enam tahun lalu, jadi ... pasti jika ia meminta bantuan akan ditolak mentah-mentah.
Ia memutuskan untuk mengirim pesan lewat sebuah aplikasi chatting berwarna hijau.
[Nesa, aku kangen. Ayo kita pulang!]
Alan mengetik tulisan dengan berhati-hati agar tidak menyinggung perasaan istrinya yang sedang sedih karena ulahnya.
Setelah mengirim pesan tadi, dia langsung kembali merebahkan tubuhnya yang letih dan kembali mencoba memejamkan matanya.
***
"Mbak pengen kerja, deh, Wi," pungkasnya di sela-sela membantu sang adik melipat baju yang baru saja turun dari jemuran.
"Lhoh, bukannya mbak baru tadi sampai ke Semarang?" Siwi heran mendengar Mbaknya ingin berkerja.
Nesa langsung melirik ke arah Ribi yang masih asik bermain game baju di ponsel Ibunya. "Ribi wes gede, aku rak iso bergantung mbek Bapak terus (Ribi sudah besar, aku nggak bisa bergantung dari uang Bapak terus)."
Bisa dimengerti, Nesa memang serba salah, setelah bercerai dari Alan. Mungkin ia akan menumpang di rumah bapak dan ibunya. Jadi jika ia tidak berkerja, tentu saja ia akan merepotkan kedua orang tuanya.
"Cariin mbak kerjaan deh, Wi. Apa aja. Jaga toko atau apa aja, deh," sambungnya lagi, sembari melipat baju.
"Sek ... tak iling-iling, sek! (Sebentar, tak ingat-ingat dulu)," ucapnya seraya berpikir. "Loh ... mbak, kan punya ijasah S1 lulusan UNDIP, masak mau kerja jaga toko," sambungnya sedikit bingung dengan pola pikir kakaknya.
"Kakak temenku lagi butuh Assistent buat rias pengantin, Mbak. Kalau mau nanti aku chat temenku, masih atau enggak," celetuk Salma, yang sedang duduk menyender di dinding sembari mengerjakan tugas dengan laptopnya.
"Nah, tuh. Kan Mbak Nesa dulu suka dandan," sahut Siwi.
"Asissten perias?" gumam Nesa pelan. "Yo wes, Ma. Coba tanyain ke temenmu, masih ada nggak lowongan kerjanya." Nesa sangat berantusias.
"Tapi, Mbak." Salma tampak berucap ragu.
"Tapi opo maneh? (Tapi apa lagi?)," sungut Nesa.
"Kakak temenku itu cowok, lo."
"Hah?" Nesa dan Siwi tampak serempak, kemudian saling memandang. Mungkin sedikit heran mendengar perias pengantin seorang lelaki, tapi ia melupakan Bubah Alfian seorang Make Up Artist kondang di ibukota, juga seorang lelaki tulen.
"Melambai, ya?" tanya Nesa.
"Hus ... enggak. Mas Nendra normal seratus persen, malah ganteng banget. Aku aja naksir," ucap Salma.
"Halah apalanmu, Ma. Dasar moto lanangan! (Halah memang sukamu, Ma. Dasar mata keranjang!)," dengus Siwi.
"Lah emang ganteng kok," gerutu Salma.
"Wes to! Ma ... coba chat temenmu!" perintah Nesa pada Siwi.
"Siap, bos!"
Salma mengirim pesan pada Indri, adik Nendra sahabatnya di kampus. Bertujuan untuk menanyakan lowongan pekerjaan asisstent perias pengantin, apakah sudah terisi.
Tidak butuh waktu lama, Salma mendapat balasan dari temannya itu dan berkata.
[Masih, suruh Mbakmu datang aja ke kantor Masku, di jalan Pleburan]
"Mbak, kamu disuruh ke kantornya langsung di daerah Pleburan," pungkas Salma memperlihatkan isi pesannya.
"Pleburan itu belakang Simpang Lima, ya?" tanya Nesa seolah-olah lupa dengan daerah kota kelahirannya.
"Iyolah mbak, tak anter deh besok. Sekalian aku mau ketemu mas Nendra." Salma tampak begitu antusias dengan kakak sahabatnya itu.
"Apalanmu, Ma!" dengus Siwi, yang tahu tabiat adiknya.
"Opo to, opo? (Apaan sih?)," raung Salma, melotot ke arah kakaknya.
"Wes mbuh! Udah pada gede masih suka berantem!" sungut Nesa, mencoba melerai kedua adiknya. "Isin Mbek Ribi, kae! (Malu sama ribi, tuh!)," sambungnya lagi.
Membuat para tante-tante Ribi seketika diam, karena takut perangai mereka dicontoh oleh ponakan semata wayang mereka.
Siwi adalah mahasiswi AKPER yang sudah memasuki semester lima, sementara Salma kuliah di UNDIP jurusan tehnik sipil sesuai keinginannya. Pak Eriawan memang tidak pernah mengatur pendidikan anak-anaknya, pokoknya yang terbaik buat Nesa, Siwi, dan Salma, yang bisa menentukan ya, mereka sendiri.
"Mbak, kamu beneran udah pengen pisah dari mas Alan?" tanya Siwi serius.
Mendengar ucapan Adiknya, membuat Nesa menghentikan aktifitasnya melipat baju. Lalu menatap kosong ke depan.
"Selama enam tahun hidup sama Mas Alan, Mbak nggak pernah bahagia." Nesa mulai terbuka dengan kedua adiknya, hal itu membuat Siwi langsung mendekat ke arah dua kakaknya.
"Kok bisa mbak?" celetuk Siwi, ingin tahu.
"Mas Alan itu kasar, nggak pernah baik sama aku. Dia juga posesif banget. Aku berasa tercekik hidup sama dia," ungkap Nesa.
"Tapi apa Mas Alan mukul juga, Mbak?" tanya Siwi.
Nesa menggelengkan kepala, tatapannya kosong seolah ingin mengingat kenangan buruk dengan Alan.
"Mas Alan selalu merusak barang-barang di rumah kalau marah. Semua dibanting."
"Astagfirullah ...." Salma paling terkejut mendengar curahan hati Nesa. Ia tidak menyangka jika Alan berperangai buruk.
"Mbak kok tahan sampai enam tahun?" cecar Siwi.
Nesa langsung melirik ke arah Ribi.
"Karena Ribi," jawabnya.
"Tapi kok kali ini mbak mau lepasin Mas Alan?" Kali ini giliran Salma yang mencecar pertanyaan pada Nesa seolah seperti seorang jaksa yang mengintrogasi saksi.
"Karena mas Alan, main sama pe*acur," pungkasnya. Yang membuat kedua adiknya terbengong tidak percaya.
"Tuh ... mbak Siwi, kalau cari laki jangan asal ganteng!" celetuk Salma seolah sedang mewanti-wanti kakaknya.
"Kuwalik! (kebalik!)," dengus Siwi mendorong kepala adiknya.
Bersambung~
suka bgt
mudah2 Han author nya GX lama2 up ny