Demi balas dendam pada orang-orang yang sudah menjualnya, Aradella terpaksa setuju untuk menikah dengan Devandra, seorang CEO yang dingin dan arogan. Sebuah kisah pernikahan pilu tanpa adanya cinta.
Ketika cinta mulai menyatukan mereka, tiba-tiba saja seorang wanita lain datang mengaku sebagai tunangan Devandra.
~Follow Instagram @asti.amanda24
~Facebook : Asti Amanda
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asti Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 : Dijual Oleh Ibu Tiri
Devandra Welfin, Presdir baru perusahaan Welfin Rich, duduk tegak di kursi kebesarannya. Sorot mata birunya yang memesona tampak tajam namun dingin, kontras dengan ketampanannya yang memikat, bulu matanya lentik dan garis wajah sempurna. Di usia 24 tahun, ia sudah menggantikan posisi ayahnya, Raka Alendra Welfin.
Pria yang dikenal sangat cool, pendiam, dan alergi terhadap wanita (kecuali ibu dan adik-adiknya) itu kini menoleh pada sekretarisnya.
"Hansel, bagaimana hari ini? Apakah ada acara pelelangan di Gedung Ghou?" tanya Devandra, suaranya terdengar datar.
Hansel, sang sekretaris, berdiri tegak di depan meja besar itu. "Dari laporan yang saya terima, akan ada pelelangan, Presdir. Ini adalah lelang ilegal, namun fokusnya hanya pada benda-benda antik kali ini," jelasnya.
"Oh, begitu," respons Devandra tak tertarik. "Sepertinya tidak penting."
"Tapi, Presdir," sela Hansel sopan, "bagaimana kalau kita hadiri kali ini? Siapa tahu ada benda antik langka yang disukai Nyonya Besar—Ibu Anda."
Devandra terdiam sejenak, mempertimbangkan usul tersebut. Kelembutan sifatnya hanya berlaku pada keluarganya, dan ide untuk menyenangkan ibunya terasa menarik.
"Hmm, usul Hansel bagus juga. Siapa tahu Mami menyukai sesuatu di sana," gumamnya. "Baiklah. Jadwalkan kepergianku ke Gedung Ghou. Aku akan datang melihat lelang kali ini." Ia setuju, kemudian memutar kursi, membelakangi Hansel.
"Baik, Presdir." Hansel membungkuk hormat lalu segera meninggalkan ruangan untuk mengatur jadwal.
Setelah sendirian, Devandra meraih ponselnya. Layar ponsel menampilkan foto keluarga yang sudah lama. Raut wajahnya berubah muram.
"Sial. Kenapa harus aku yang jadi Presdir perusahaan ini? Cita-citaku adalah menjadi Chief terkenal! Tapi Papi malah pergi berlibur ke luar negeri bersama Mami dan adik-adikku, meninggalkanku sendirian di sini," keluhnya, menyandarkan punggung ke sandaran kursi.
Ia mendesis kesal. Mata birunya menatap kosong ke langit-langit, membayangkan keluarganya bersenang-senang di negara orang sementara ia terjebak dengan pekerjaan yang melelahkan ini.
__
Di sudut kota lain, suasana kamar hotel yang remang-remang disinari oleh lampu yang redup dan silau. Di atas ranjang, Aradella terbaring. Tubuh gadis berambut pendek itu, hanya dibalut kemeja putih yang panjang dan tak menutup sepenuhnya. Ia tak sadarkan diri karena pengaruh obat bius yang diberikan oleh ibu tirinya.
Sebuah suara serak terdengar. Pria bertubuh gempal dengan rokok terselip di jemarinya duduk di kursi, mengamati Aradella.
"Bos, bagaimana? Gadis ini lumayan untuk dijual di pelelangan Gedung Ghou. Kita bisa dapat banyak uang hasil menjual perawan ini," kata Pria Gempal itu kepada bosnya.
Bos Pria itu tersenyum miring, matanya penuh nafsu. "Hmm, ide bagus. Tapi sebelum itu, bagaimana kalau kita 'cicipi' tubuh indahnya sebelum dijual?"
"Jangan, Bos!" Pria Gempal cepat-cepat menyela. "Kalau gadis ini sudah tidak perawan, harga jualnya jatuh dan kita dalam bahaya. Lebih baik tidak ambil risiko."
Si Bos mengangguk setuju. "Baiklah. Kalau begitu, kita bawa gadis ini sekarang juga."
Si Bos berdiri. Ia mengeluarkan tali untuk mengikat tangan Aradella. Begitu sentuhan dingin tali menyentuh kulitnya, Aradella tersentak bangun.
Ia terkejut hebat. Di mana dirinya? Ia berada di kamar asing, telanjang, dan di hadapannya ada dua pria asing berwajah menyeramkan yang siap mengikatnya. Aradella segera memberontak. Ia berusaha berteriak, namun suaranya tercekat dan tak bisa keluar. Ia baru ingat, terakhir kali yang ia minum adalah teh hangat buatan ibu tirinya. Ini adalah jebakan Kalista.
Aradella terus meronta, membuat kedua pria itu geram. Si Bos mengeluarkan pisau lipat, mengancam agar Aradella diam atau pisau itu akan mengoyak lehernya.
Aradella menelan ludah, air mata mulai mengalir deras. Keputusasaan memukulnya.
'Tolong, lepaskan aku!' rintih Aradella dalam hati saat Si Bos dengan paksa menarik rantai yang kini melilit tangannya. Ia diseret, menyedihkan seperti hewan ternak yang dibawa ke penjagalan. Isak tangis tertahan di tenggorokannya.
Ibu, kenapa kamu tega menjualku... hiks! tangis Aradella, meratapi nasibnya yang dijual oleh ibu tirinya sendiri.
yg bener masuk ke dalam selimut atau ke dlm bed cover...