Demi memenuhi permintaan kakeknya yang sekarat, kamilah menikah cepat dengan pria acak yang ternyata musuh kakaknya, begitu tuan rizky syah mendapatkan dirinya, ia tak melepaskannya diadaptasi dari master syah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasanah Yoyoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 DALAM CENGKERAMAN SANG PENGUASA
Cahaya matahari pagi menerobos tipis melalui sela-sela tirai sutra di kamar penthouse mewah perkantoran Syah Corporation. Cahaya itu jatuh tepat di atas wajah seorang gadis yang kini perlahan mulai membuka matanya. Rasa pegal yang luar biasa di sekujur tubuh langsung menyadarkan Kamilah pada peristiwa yang terjadi semalam. Namun, hal yang paling membuat dadanya berdebar liar adalah kehangatan hembusan napas teratur yang terasa tepat di puncak kepalanya.
Kamilah memberanikan diri mendongak secara perlahan. Di sana, tepat di depannya, garis wajah tampan milik Rizky Syah terlihat begitu tenang dalam lelapnya. Lengan berotot pria itu melingkar posesif di pinggang kecil Kamilah, menguncinya rapat tanpa menyisakan celah sedikit pun. Rasa hangat yang menjalar dari tubuh pria itu seolah memberi tekanan tersendiri bagi Kamilah yang belum pernah berada serdekat ini dengan seorang pria.
Fisik Rizky terlalu kuat… bisik Kamilah di dalam hatinya sambil memperhatikan rahang tegas dan hidung mancung pria yang berkuasa di Kota Jakarta ini. Tapi dengan situasi seperti ini, pernikahan dengan keluarga Rizky sepertinya akan segera dijadwalkan, kan? Semua demi Kakek dan demi keselamatan posisi Keluarga Ye.
Dengan sangat hati-hati dan menahan napas, Kamilah mencoba memindahkan lengan kekar Rizky dari pinggangnya. Setiap kali lengan itu bergeser sedikit, Rizky sempat bergumam kecil yang membuat jantung Kamilah serasa mau melompat keluar. Setelah berjuang beberapa menit tanpa memicu kecurigaan, Kamilah akhirnya berhasil melepaskan diri. Ia segera berjingkat menuju kamar mandi yang luas dan mewah di sudut ruangan.
Ia memutar kran, mengguyur tubuhnya dengan air dingin untuk meredakan gejolak di dadanya dan menyegarkan pikirannya yang kacau. Kamilah merapikan pakaian serta rambutnya yang sempat berantakan. Bayangan insiden semalam terus berputar di kepalanya. Meski semuanya terjadi akibat kesalahpahaman dan keputusasaannya mendatangi gedung ini, ia tahu keputusannya tidak bisa ditarik kembali.
Beberapa saat kemudian, Kamilah memutar gagang pintu kamar mandi dan melangkah keluar dengan perlahan. Namun, begitu melangkah ke area kamar utama, langkah kakinya mendadak terhenti seketika. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.
Di atas ranjang megah itu, Rizky Syah ternyata sudah terbangun dan duduk tegap. Pria itu bertelanjang dada, menyandarkan punggung kokohnya pada headboard ranjang. Tatapan matanya yang tajam bak elang langsung mengunci pergerakan Kamilah begitu gadis itu menginjakkan kaki di lantai kamar.
"Kamu mengagetkan aku!" seru Kamilah refleks sambil memegangi dadanya yang berdebar keras. Ia mencoba menetralkan rasa gugup yang memuncak dan memberanikan diri menatap balik mata pria itu. "Karena kamu sudah bangun... bagaimana kalau kita membicarakan pernikahan kita?"
Rizky tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, memperhatikan Kamilah dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan yang sulit diartikan—seolah sedang menilai sebuah barang berharga yang baru saja masuk ke dalam wilayah kekuasaannya.
"Jangan bicarakan pernikahan dulu," ucap Rizky dengan suara serak khas bangun tidur yang begitu dalam dan intimidatif. "Mari kita bicarakan tentang apa yang kamu ketahui tentangku."
Kamilah menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa keberaniannya sambil mengingat deretan informasi yang pernah disiapkan oleh keluarganya. "Tuan Rizky... usia dua puluh lima tahun, tinggi seratus delapan puluh lima sentimeter."
Rizky menaikkan sebelah alisnya, mengamati raut wajah polos gadis di depannya dengan tatapan penuh selidik. "Salah."
"Salah di mana?" dahi Kamilah berkerut bingung. Ia yakin betul data yang ia ingat tidak mungkin keliru.
"Kecuali usia, semuanya salah," balas Rizky dingin tanpa ragu.
Sebuah senyuman tipis dan misterious muncul di sudut bibir pria itu—sebuah ukiran senyum yang justru membuat bulu kuduk Kamilah merinding seketika. Rizky kemudian perlahan turun dari ranjang. Langkah kakinya yang tenang namun mantap membawanya mendekati Kamilah. Tubuhnya yang tinggi menjulang menciptakan bayangan besar yang seolah menelan sosok kecil Kamilah.
"Namaku Rizky Syah, dan tinggiku seratus delapan puluh delapan sentimeter," ucap Rizky. Kini pria itu sudah berdiri tepat di hadapan Kamilah, menundukkan kepala untuk menatap langsung ke dalam manik mata gadis itu dari jarak yang sangat dekat.
Kamilah yang enggan terlihat lemah mencoba mempertahankan sisa harga dirinya meski lututnya terasa lemas. "Kamu adalah Rizky Syah dari Keluarga Syah di kota Jakarta Barat."
"Dan tinggiku seratus delapan puluh delapan sentimeter," ulang Rizky, menekankan fakta detail tersebut seolah ingin menyadarkan Kamilah akan sesuatu yang sangat krusial.
Seketika itu juga, kepanikan luar biasa menyergap benak Kamilah. Pikirannya berputar liar menyambungkan setiap informasi yang baru saja ia dengar.
Apa itu penting?! Gawat… aku salah tidur dengan orang! jerit Kamilah dalam hati dengan kepanikan yang membakar dadanya. Rizky Syah yang ada di hadapanku ini bukan calon yang dijodohkan oleh Keluarga Ye! Berurusan dengan penguasa sekejam dan sedominan pria ini, sepertinya aku akan dapat masalah besar. Aku harus cari cara untuk kabur dari sini sekarang juga!
Mencoba bersikap setenang mungkin demi menyembunyikan getaran di tubuhnya, Kamilah mengambil langkah mundur. Ia membungkukkan badan sedikit dengan sopan. "Maaf ya, aku salah mengenali orang. Anggap saja tidak terjadi apa-apa di antara kita semalam. Aku pergi dulu."
Kamilah langsung memutar tubuhnya dan berderap cepat menuju pintu keluar penthouse tanpa berani menengok ke belakang lagi. Namun, baru dua langkah ia bergerak, pergelangan tangan kirinya mendadak dicengkeram amat erat dari belakang. Cengkeraman yang begitu kokoh dan tak tergoyahkan, tetapi anehnya tidak sampai menyakiti kulitnya.
Dalam satu tarikan napas yang kuat, Rizky menarik tubuh Kamilah hingga punggung gadis itu menabrak dada lapangnya yang hangat dan keras.
"Aku seorang perjaka," bisik Rizky tepat di samping telinga Kamilah. Suaranya rendah, berat, dan sarat akan ancaman kepemilikan. "Dari ciuman pertamaku… sampai tidur denganku, semuanya sudah aku berikan padamu semalam. Kamu hanya meminta maaf, lalu menganggapnya tidak pernah terjadi apa-apa dan ingin pergi selesai begitu saja?"
Kamilah membalikkan badannya dengan cepat, menatap wajah Rizky dengan mata membelalak tak percaya atas tuduhan yang sama sekali tidak berdasar itu.
"Tapi itu juga pertama kalinya bagiku!" protes Kamilah dengan pipi yang merona merah akibat malu dan kesal. "Lagi pula, kamu yang semalam duluan bilang kalau kamu mau tidur denganku!"
Rizky menundukkan kepala semakin dalam, mengunci pandangannya pada bibir Kamilah yang merona dan sedikit gemetar. "Kamu yang duluan menggodaku," bisik Rizky dingin dan penuh penekanan. "Aku hanya tidak menolak."
Sebelum Kamilah sempat menyusun kalimat protes untuk membalas ucapan tidak masuk akal itu, Rizky sudah lebih dulu menundukkan kepalanya secara mendadak. Ia membungkam bibir Kamilah dengan ciuman yang dalam, menuntut, dan dipenuhi dominasi mutlak. Cengkeraman tangannya di pinggang Kamilah semakin mengetat, mengunci gadis itu rapat dalam dekapannya hingga Kamilah kesulitan untuk bernapas bebas.
Sepertinya Rizky Syah sama sekali tidak berniat untuk melepaskanku… apa yang harus aku lakukan sekarang? bisik Kamilah penuh keputusasaan di dalam hatinya yang makin tak karuan.
Merasakan ketegangan tubuh gadis itu serta gigitan-gigitan kecil di bibirnya akibat rasa panik yang meluap, Rizky menyunggingkan senyum tipis di sela-sela ciumannya. Ia memberikan sedikit jarak sejengkal saja dari wajah Kamilah, menatap mata Kamilah yang kini mulai berkaca-kaca.
"Kalau gigimu gatal, gigit saja bibirku," bisik Rizky penuh kelembutan yang sangat berbahaya, sebelum akhirnya kembali menyerbu dan menyesap bibir Kamilah tanpa memberi kesempatan sedikit pun bagi gadis itu untuk melarikan diri dari cengkeramannya.