Dijadikan ladang emas oleh sang paman. Fio yang semula setuju dijodohkan oleh anak politisi sekaligus pengusaha besar oleh pamannya memilih berontak.
Fio bersekutu dengan Gio, mafia yang ternyata sudah lama memendam perasaan padanya. Hingga, perlahan semua tabir keluarganya terungkap.
"Aku bukan laki - laki yang bisa menyentuh perempuan sembarang. Tapi, aku juga bukan laki - laki yang bisa menahan untuk tidak menyentuh kamu." -Giorgio Abraham-
Sequel Gairah Cinta Sang Pembalap
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setengah gila
Tok
Tok
Tok
“Fio.”
Gala meletakkan tangannya pada handle dan …
“Si4l! kenapa dikunci?” gumamnya pelan.
Sedangkan di dalam, Fiona masih terkungkung pria yang baru saja dibalut lukanya.
“Lepas! Atau aku pukul lukamu!”
Gio menyeringai. “Tidak mungkin. Kamu tidak melakukan itu.”
“Oh ya, kamu pikir aku takut?”
“Tidak.” Gio menggeleng. “Aku tidak meragukan keberanianmu. Tapi, aku meragukan rasa kemanusiaanmu. Kamu tidak akan mampu melumpuhkan lawanmu yang terluka.”
Sontak, Fio memalingkan wajahnya. Bicara dengan Gio memang susah. Ia selalu kalah. Pria itu semakin senang. Senyumnya mengembang dan …
“Gal …”
“Mmmppphhh.”
Kali ini, Gio membekap mulutnya tidak dengan mulutnya, melainkan dengan tangannya yang lebar.
“Mmmpppphhh!”
Fio meronta. Kaki dan tangannya dibekukan. Gio mengungkungnya cukup erat. Bahkan, sekarang mulutnya dikunci. Hanya kedua matanya yang membulat yang tampak sempurna. Tak kehabisan akal, Fio menggigit tangan yang membungkamnya itu dan ….
“Akh!” Gio meringis pelan. Dia membuka dekapan dan saat Fio dengan cepat mengambil kesempatan, Gio lebih dulu mengambil kesempatan itu.
“Aaa … Mmmpphht.”
Gio terpaksa membungkam mulut Fio lagi tapi tidak dengan tangannya melainkan kembali dengan bibirnya.
“Suster.” Di depan pintu ruangan itu, Gala memanggil perempuan yang melintas.
Rumah sakit ini miliknya, milik ayahnya dan semua orang mengenalnya termasuk suster ini.
“Iya, Pak.”
“Kamu lihat dokter Fio? Dia masih di ruang laboratorium ini kan?”
“Hm …” Suster itu berpkir.
Sementara, Gala menatapnya intens. Dia menatap suster yang masih sangat muda dibalut seragam yang sangat pas di badan.
“Kamu suster magang?” tanyanya kemudian.
Matanya menelisik dari ujung kepala hingga kaki suster itu.
“Iya, Pak.”
“Kamu tahu saya?” tanya lagi
“Iya.” Gadis itu mengangguk. “Bapak, pemilik rumah sakit ini kan?”
Meski, tidak sering berada di rumah sakit. Namun, wajah Gala terpampang di beberapa sudut banner rumah sakit ini.
“Kamu tahu dokter Fio?”
Lagi – lagi, kepala suster itu mengangguk. “Iya, tadi saya lihat dokter Fio masih di dalam. Tapi, mungkin dia sudah pulang.”
“Sudah pulang? Tidak mungkin. Atau dia masih sibuk dengan pekerjaannya di dalam?”
Suster itu mengangguk. “Mungkin.”
Kemudian, kaki Gala berjalan mendekati suster itu. Suster itu tampak tak menolak. Dia malah tersenyum, membalas senyum liar Gala yang tidak bisa melihat gadis muda.
Perlahan, langkahnya menjauh dari ruangan Fio, hingga keduanya menghilang mencari tempat sepi di balik tembok sana.
“Akh!” Akhirnya, Fio terbebas dari bibir Gio yang membungkam bibirnya, lalu tangannya melayang.
Plak
“Sekali lagi, kamu menciumku. Maka, akan aku tembak kamu!”
“Kalau begitu tembak aku sekarang.”
“Jangan gila, Gio!”
Gio tersenyum miring. “Bukankah di sini, ditembak itu artinya menyatakan cinta? Aku mau.”
“Gila!”
Fio sudah kehabisan akal. Lagi – lagi, pria ini mencuri ciuman darinya. Bahkan, hingga sekarang, Gala yang sudah menjadi tunangannya saja belum pernah dia berikan ciumannya.Sedangkan ini, Gio? Pria yang bukan apa – apa dan bukan siapa – siapa untuknya. Tidak ada status hubungan apa pun di antara mereka.
Telinga Fio tak mendengar ketukan lagi di sana.
“Sekarang, menjauh dariku!” pintanya tegas.
Gio juga tak mendengar ketukan Gala lagi. Dia pun melepaskan Fio.
“Oke, fine!” ucapnya sembari angkat tangan. “Dia sudah pulang kan? Itu artinya, kamu akan pulang bersamaku.”
Fio mengernyit. “Siapa yang mau? Mimpi!”
“Kenapa kamu selalu menolakku?” tanya Gio lemah.
“Karena kamu mafia.” Fio pun menjawab santai.
Sembari membereskan barangnya dan meletakkan kembali peralatan kesehatan yang digunakan untuk mengobati luka Gio juga alat laboratorium yang berserakan karena kegaduhan tadi, Fio menatap Gio yang kini memilih duduk kembali di atas ranjang pasien.
“Jangan karena kamu kakaknya Jihan, terus aku langsung luluh. Tidak. Jihan ya Jihan, kamu ya kamu. Kalian tidak sama.”
“Di dalam d4r4h Jihan juga mengalir d4r4hku. Kami sama. Sama – sama memiliki ayah seorang mafia.”
Sebelum mengenal Gio, justru Fio lebih dulu mengenal Jihan karena mereka sama – sama tim medis, dokter yang peduli pada zat adiktif dan miris dengan generasi muda yang hidupnya tragis.
Tapi, siapa sangka misi itu menjadi ajang Jihan menemukan keluarganya, yaitu Gio.
“Aku sudah berubah,” jawab Gio.
“Oh ya? Aku rasa belum. Namamu masih dalam daftar pencarian.”
“Itu karena aku banyak memegang kartu As, termasuk orang – orang penting di negaramu.”
Fio langsung melirik, menatap inten pria dingin tapi bucin padanya ini.
“Kalau begitu, sebutkan. Siapa orang penting yang melindungimu.”
“Lalu, kamu mau menikah denganku?”
Fio mengangkat bahunya. “Aku akan melindungimu.”
Gio tertawa. “Tidak bisa. melindungi itu artinya hidup bersamanya. satu atap, satu ranjang, dan satu …”
Tiba – tiba, pria itu sudah di dekatnya. Bahkan, suara Gio kini berada tepat dibelakang telinga Fio.
“Menjauh! Jangan kurang ajar kamu!”
Gio tertawa. Cukup lama, dia tak tertawa sekeras ini.
“Gila!” Fio kesal dan langsung meninggalkannya.
Dia emngambil tas, kemudian keluar dengan membanting pintu itu. Fio marah. Namun, dadanya terus berdebar. Sepanjang bersama Gio tadi, jantungnya tak tinggal diam. Terus bergemuruh dengan perasaan tak menentu. Memang selalu seperti ini jika berada dekat dengan pria mesvm macam Gio. Oleh sebab itu, Fio memilih jauh, memilih menghindar, memilih menerima perjodohan demi mengenyahkan perasaan yang tidak mau ada untuknya.
“Tidak. Dia mafia, Fio. Dia musuhmu. Jangan tergoda pada ketampanannya!”
Sepanjang langkah mencari keberadaan Gala yang mengetuk pintu ruangannya tadi, Fio komat kamit seraya berdoa agar dia tak memiliki perasaan pada mafia gila yang menurutnya setengah tidak waras.
Bugh
tiba – tiba, tubuh Fio terbentur seseorang.
“Sayang, kamu sudah selesai?”
Ternyata, itu adalah Gala. Fio menatap tunangannya dengan rambut berantakan dan bibir yang merah.
“Kamu dar mana?”
“kamar mandi kecil di sana.” Gala menunjuk sembarang dan kebetulan tepat karena tentunya dia tahu seluk beluk letak rumah sakit ini.
“Bibirmu merah.”
“Oh ini! Iya, tadi aku habis minum soda merah dan menempel di sini,” jawabnya sembari mengusap bibir.
“Ayo, kita sudah ditunggu Papa dan Mama. Mereka ingin mengenalkan kita pada orang penting yang baru datang dari Italia.”
Fio mengangguk. Dia menurut. Dari balik tubuh mereka yang sudah berjalan menuju luar, seorang suster keluar dari ruangan sembari membereskan pakaiannya yang berantakan. Di tangannya terselip cek dengan nominal dua puluh juta.
“Lumayan, buat biaya hidup tiga bulan,” ujarnya terang dengan senyum menyeringai.
Setelah kepergian dan gumaman suster itu yang terdengar seseorang. Sembari menyandarkan tubuhnya di dinding dan memasukkan satu tangannya ke dalam saku, Gio menyeringai.
“Ternyata, dia tidak pintar dalam urusan cinta. Lihat saja, sebentar lagi kamu akan menjadi milikku, Fiona!”
Meski, masih terluka. Gio tetap keluar dari sana dan bergegas bertemu dengan salah satu kolega yang melindunginya di sini. Konon, dia akan memperkenalkan pada putranya.
Dengan berjalan tegap, Gio kembali menyeringai membayangkan pertemuannya nanti dengan Fiona lagi.