Ditolak di depan teman-temannya sendiri, harga diri Jaka hancur berkeping-keping. Satu penolakan yang seharusnya cuma luka kecil, kini menjelma dendam yang membutakan.
Demi mendapatkan Dea—perempuan yang menolaknya—Jaka rela menempuh jalan yang tak seharusnya dilalui siapa pun: mencuri, berbohong, dan akhirnya menyerahkan dirinya pada ilmu hitam seorang dukun tua di ujung hutan bambu.
Namun, cinta yang direbut paksa selalu punya harga. Dan harga itu tak pernah berhenti di satu nyawa saja.
PELET LAKNAT 2 — ketika obsesi menemukan jalannya lewat kegelapan, siapa yang benar-benar akan selamat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BISIKAN KEGELAPAN
# PELET LAKNAT 2
## Bab 2: Bisikan Kegelapan
Malam makin larut, namun hawa panas akibat rasa dendam masih membakar dada Jaka. Kamarnya yang remang-remang terasa pengap, hanya diterangi lampu tidur kuning temaram di sudut ruangan. Ia berjalan bolak-balik tanpa henti, sesekali menendang kecil ujung karpet yang berantakan, membiarkan bayangan penolakan Dea terus meracuni pikirannya.
"Ini benar-benar penghinaan buat aku! Belum pernah aku dapat penolakan dari cewek mana pun!" gerutu Jaka seraya memukul meja kayu di kamarnya hingga bergetar, membuat gelas air minum di atasnya nyaris tumpah.
Ia mengepalkan tangan, menatap tajam ke arah dinding kamar yang gelap seolah-olah bayangan Dea tergambar di sana. "Dea... tunggu saja pembalasanku. Aku akan buat kamu bertekuk lutut dan mengemis-ngemis cinta sama aku!"
Setelah puas meluapkan kekesalannya, Jaka menghela napas kasar, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur. Suara jangkrik dari luar jendela terdengar samar, berpadu dengan detak jam dinding yang seolah mengejek kesunyian malamnya. Ia mencoba memejamkan mata, membiarkan rasa lelah dan dendam menuntunnya masuk ke dalam tidur.
Sementara itu, di tempat lain, Dea justru masih gelisah di atas ranjang kamarnya yang rapi dan wangi bunga melati. Tatapannya menerawang menatap langit-langit, sementara rasa tak enak hati terus menyelinap mengisi relung dadanya.
"Apa aku keterlaluan ya menolak Kak Jaka tadi?" gumam Dea pelan pada kegelapan kamar. Ia meraih boneka kelinci kesayangannya, memeluknya erat seolah mencari sedikit ketenangan. "Iya sih, Kak Jaka itu keren sama ganteng... tapi aku nggak kuat sama kelakuannya yang tiap minggu gonta-ganti cewek."
Dea menggerutu kecil, lalu membalikkan posisi tidurnya menjadi tengkurap, menenggelamkan separuh wajahnya di atas bantal.
"Sebenarnya... aku juga ada rasa sedikit sama dia. Tapi—ih! Kamu mikirin apaan sih, Dea! Udah, udah... Jaka itu bukan tipe kamu!" serunya memarahi diri sendiri, menepis segala keraguan sebelum akhirnya memaksakan matanya terpejam, ditemani suara angin malam yang berembus pelan di luar jendela.
Keesokan harinya, matahari pagi yang cerah tak mampu menghangatkan isi hati Jaka. Sepanjang hari, ia hanya mengurung diri di dalam kamar dengan tirai tertutup rapat, pikirannya makin kalut. Bayangan penolakan Dea serta kata-kata provokasi dari Kiki semalam seolah terus terngiang, membakar logikanya sampai habis tak tersisa.
"Aku nggak bisa terus-terusan begini! Aku harus cari cara buat meluluhkan hati Dea," gumam Jaka dalam hati seraya duduk di tepian ranjang, menatap kosong ke lantai yang dipenuhi baju kotor berserakan.
Ia memijat pelipisnya yang mendadak terasa pening. "Tapi gimana caranya? Dan harus ke mana aku minta bantuan?" Kalau aku minta bantuan sama teman-teman yang lain, itu sama saja meruntuhkan harga diriku sebagai cowok. Nggak, itu nggak boleh terjadi."
Sekitar jam empat sore, senja mulai membayang dan suasana kampung terasa kian sepi. Suara adzan Asar dari masjid kecil di ujung gang berbaur dengan kokok ayam yang malas-malasan. Di tengah keheningan itu, suara ketukan terdengar memecah sunyi dari balik pintu depan rumah Jaka.
Tok... tok... tok!
"Jaka! Jak!... Jaka!" Panggilan keras terdengar dari luar. Suara itu milik Kiki.
Jaka segera bangkit dan melangkah membuka pintu. Sesampainya di depan, ia meraih gagang pintu, lalu membukanya perlahan.
"Eh... kamu, Ki. Ada apa?" tanya Jaka dengan nada suara datar.
Kiki mendongakkan kepala, memperhatikan penampilan kusam sahabatnya—rambut acak-acakan, kaus kusut, mata sembap kurang tidur. "Lah, kamu kenapa, Jak? Mukamu kok kusut begitu? Kamu masih galau gara-gara ditolak si Dea semalam?" Ia langsung duduk santai di teras depan rumah Jaka tanpa menunggu dipersilakan.
"Enggak tahu lah, Ki. Mungkin aku lagi agak nggak enak badan," sahut Jaka malas-malasan. "Oh iya, aku buatin kopi dulu, ya. Kamu tunggu di sini sebentar."
Jaka melangkah kembali masuk ke dalam rumah, meninggalkan Kiki yang duduk bersandar di kursi kayu teras sambil merogoh saku celananya, mencari bungkus rokok.
"Jaka... Jaka! Cuma gara-gara ditolak cewek aja sampai segitunya!" gerutu Kiki seraya menggeleng-gelengkan kepala, matanya melirik ke arah jalan kampung yang mulai remang.
Tak butuh waktu lama, Jaka kembali dari dapur membawa nampan berisi dua gelas kopi hitam panas yang masih mengepulkan asap putih tipis, aromanya menguar bercampur bau tanah basah sisa gerimis sore. Ia meletakkannya di atas meja kayu teras, lalu duduk lunglai di samping Kiki.
"Kamu kenapa sih, Jak? Kamu beneran sakit, atau cuma sakit hati gara-gara Dea?" tanya Kiki sembari meraih gelas kopi dan menyeruputnya pelan.
Jaka menarik napas panjang, mencoba menetralkan gelombang amarah dan rasa malu yang makin membuncah di dadanya. "Aku juga nggak tahu, Ki... ini sakit fisik atau sakit batin. Sejak semalam Dea nolak aku, aku nggak bisa tidur. Hancur banget rasanya, Ki. Rasanya harga diriku diinjak-injak."
Bukannya prihatin, Kiki justru tertawa terkekeh sambil menyulut rokoknya. "Alah, sudahlah, Jak! Secantik apa sih Dea itu? Masih banyak cewek lain di luar sana yang mau sama kamu."
"Iya sih, Ki... tapi aku—"
"Ya, kalau kamu emang kebelet dan tetap pengin dapatin Dea, itu mah gampang!" potong Kiki cepat seraya menghisap dalam-dalam rokok di jarinya, membiarkan asapnya mengepul perlahan ke udara sore yang mulai temaram.
Mendengar kata gampang meluncur dari mulut Kiki, mata Jaka seketika membelalak lebar. Jantungnya berdebar kencang, seolah mendapat secercah harapan baru yang menyusup ke dalam dadanya.
"Gampang?! Gimana caranya, Ki?" tanya Jaka penuh rasa penasaran, tubuhnya sedikit condong ke depan.
Kiki mengepulkan asap rokoknya ke udara, lalu menatap Jaka dengan senyum penuh arti. "Gampang... seperti kata pepatah: cinta ditolak, dukun bertindak!"
Seketika raut wajah Jaka berubah ragu. "Hah? Kalau harus urusan sama dukun... aku nggak mau, Ki. Aku takut!"
Kiki menghembuskan napas pendek, mengangkat bahunya cuek, lalu mematikan puntung rokoknya di asbak kaleng bekas di atas meja. "Ya sudah, aku nggak memaksa. Cuma ya... itu satu-satunya jalan paling ampuh buat bikin Dea bertekuk lutut. Emangnya kamu mau tiap hari meratapi nasib kayak gini? Terus-terusan dibayangi rasa malu akibat penolakan Dea?"