INVESTASI CINTA YANG SALAH
Oleh: AwandaMw
"Dia mengira aku cuma pelengkap, sampai dia sadar seluruh kerajaannya berdiri atas namaku."
Sinopsis:
Demi mendukung impian Reno, Nadia rela menyembunyikan kejeniusannya dan menyerahkan seluruh asetnya untuk membangun Apex Media dari nol. Namun, begitu bisnis bernilai puluhan miliar itu berada di puncak kejayaan, Reno justru berpaling pada Sella—seorang wanita glamor yang menghasutnya bahwa Nadia hanyalah beban.
Dicampakkan dan dihina tanpa harta gono-gini, Nadia memilih pergi tanpa sepatah kata dendam. Reno merasa menang, tanpa tahu satu rahasia besar: Nadia adalah pemilik tunggal PT Cakrawala Capital, pemegang saham mayoritas 60% yang memegang leher bisnisnya.
Saat Reno dan Sella sibuk merayakan kesuksesan semu, Nadia siap melancarkan takeover dingin dan menagih kembali setiap sen yang telah dicuri darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AwandaMw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
**Bab 2 sosok dibalik layar
🌸🌸🌸
Pagi hari di kediaman Reno dan Nadia selalu dimulai dengan keheningan yang seragam. Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui tirai tipis di ruang makan sebuah rumah mewah berlantai dua di kawasan Jakarta Selatan.
Rumah itu dibeli dua tahun lalu, tepat ketika Apex Media mulai membukukan keuntungan signifikan. Bagi tetangga dan kerabat, rumah tersebut adalah bukti nyata kesuksesan Reno sebagai pengusaha muda yang cemerlang.
Nadia berdiri di dapur, mengenakan celemek kain sederhana berwarna abu-abu. Jemarinya lihai memotong sayuran dan menyiapkan sarapan: roti panggang, telur setengah matang, dan secangkir kopi hitam tanpa gula—persis seperti yang selalu disukai Reno selama lima tahun terakhir.
Di atas meja dapur, ponsel Nadia bergetar pelan. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Bimo.
> Bimo: Nadia, laporan arus kas kuartal ketiga sudah saya kirim ke email pribadi kamu. Ada beberapa pengeluaran yang agak ganjil dari divisi pemasaran minggu ini. Mohon dicek kalau ada waktu.
>
Nadia mengusap layar ponselnya, membaca pesan itu sekilas, lalu membalas singkat.
> Nadia: Terima kasih, Bimo. Nanti malam saya periksa.
>
Nadia mematikan layar ponselnya dan meletakkannya kembali di atas meja. Ia kembali membalik roti di atas wajan teflon. Bagi siapa pun yang melihatnya pagi ini, Nadia tak ubahnya seorang istri rumah tangga biasa yang mengabdikan seluruh waktunya untuk melayani suami.
Namun, di balik celemek dan dapur yang tenang itu, otak Nadia bekerja layaknya sebuah komputer finansial tingkat tinggi.
Sebelum mengenal Reno di bangku kuliah, Nadia adalah lulusan terbaik jurusan Manajemen Keuangan dan Analisis Pasar Modal dari sebuah universitas terkemuka.
Ayahnya adalah seorang pengamat ekonomi senior yang mewariskan portofolio investasi awal serta ilmu analisis aset yang sangat mendalam padanya.
Sejak usia 21 tahun, Nadia sudah aktif mengelola dana investasi independen.
Ketika Reno datang ke dalam hidupnya—seorang pria dengan ambisi besar namun tanpa arah dan tanpa modal—Nadia melihat potensi pada ide-ide kreatif Reno.
Nadia jatuh cinta pada kegigihan pria itu. Karena cinta dan impian untuk membangun masa depan bersama, Nadia rela mengambil keputusan besar: ia memilih mundur ke balik layar.
Nadia sengaja tidak pernah mendaftarkan namanya sebagai jajaran direksi atau pendiri resmi Apex Media di depan akta publik. Ia tahu betapa besarnya ego Reno.
Pria itu ingin diakui, ingin dipuji, dan ingin merasa menjadi kepala keluarga sekaligus pimpinan bisnis yang dominan. Demi menjaga harga diri dan rasa percaya diri Reno, Nadia merancang sebuah struktur perusahaan yang sangat rapi.
Di atas kertas publik, Reno adalah pendiri dan pemilik tunggal Apex Media.
Namun di tingkat induk holding yang memegang seluruh suntikan modal awal dan jaminan hukum, berdiri PT Cakrawala Capital—sebuah perusahaan investasi tertutup yang seluruh sahamnya dimiliki 100% oleh Nadia Kirana.
Melalui perjanjian investasi terselubung dan klausul penyertaan modal yang ditandatangani Reno lima tahun lalu saat ia terdesak utang, Cakrawala Capital memegang 60% saham mayoritas atas Apex Media.
Reno yang saat itu melayang karena mendapat dana segar ratusan juta rupiah, bahkan tidak membaca detail klausul hukum yang disusun oleh tim pengacara pribadi Nadia.
Di otak Reno kala itu, uang dari Nadia adalah "uang istri" yang bisa ia pakai sesuka hati. Reno tidak pernah menyadari bahwa setiap rupiah yang disetorkan Nadia tercatat sebagai saham investasi holding yang sah secara hukum negara.
Langkah kaki terdengar turun dari tangga lantai dua. Reno berjalan menuju ruang makan. Pria itu sudah rapi dengan kemeja putih tajam dan celana kain buatan penjahit ternama.
Namun, raut wajahnya tidak tampak sesegar biasanya. Wajahnya agak pucat, sisa dari pesta perayaan semalam di mana ia minum terlalu banyak bersama para mitra bisnisnya.
"Kamu sudah bangun?" sapa Nadia lembut, menyajikan secangkir kopi hitam panas dan piring berisi sarapan di depan tempat duduk Reno.
Reno duduk tanpa mengucapkan terima kasih. Ia langsung menyambar cangkir kopinya, menyesapnya sedikit, lalu mengernyitkan dahi.
"Pusing banget kepala aku," gumam Reno kasar. Ia meletakkan cangkir itu kembali ke atas piring kecil dengan dentang yang agak keras. "Semalam harusnya kamu nggak usah langsung pulang duluan, Nad.
Mala-malah bikin aku enggak enak sama wartawan dan beberapa tamu penting. Ada wartawan yang nanya mana istri CEO Apex Media, aku bingung mau jawab apa."
Nadia menarik kursi di seberang Reno dan duduk dengan tenang. "Kan dari awal kita sudah sepakat, Reno. Aku nggak terlalu suka berada di keramaian pesta seperti itu. Lagipula, bukannya acara semalam memang panggung kamu?"
Reno mendengus pelan, mengambil sepotong roti panggang lalu mengunyahnya tanpa selera. "Ya tapi setidaknya kamu dandannya yang agak bener dikit kalau datang ke acara kelas atas begitu. Jangan cuma pakai baju hitam polos tanpa perhiasan.
Kemarin pas Sella datang bawain bunga, orang-orang malah ngira dia yang direktur di perusahaan aku. Kamu kelihatan mati gaya banget di pojokan pilar."
Nadia menatap suaminya datar. Tidak ada amarah yang meledak dari matanya, hanya rasa hampa yang perlahan merayap.
Sella. Nama itu kembali terucap dari bibir Reno dengan nada yang terkesan sangat membanggakan.
"Sella itu orangnya pandai membawa diri," lanjut Reno tanpa sadar betapa tajamnya kata-kata itu merobek perasaan istrinya. "Dia tahu cara bersosialisasi dengan para investor besar.
Bajunya berkelas, wawasannya luas. Tadi malam dia bahkan bisa ngenalin aku ke beberapa komisaris bank ternama. Harusnya kamu bisa belajar sedikit dari cara berpakaian dan pembawaan Sella, Nad.
Di level bisnis aku yang sekarang, pencitraan itu nomor satu."
Nadia tersenyum tipis—senyuman yang mengandung ironi mendalam. "Pencitraan memang penting, Reno. Tapi bisnis tidak berjalan cuma pakai baju mahal dan wawasan permukaan di pesta.
Bisnis berjalan karena arus kas yang sehat dan perhitungan rasio risiko yang benar."
Reno langsung meletakkan garpunya dengan kasar. Wajahnya berubah keruh. "Tuh, kan! Kamu mulai lagi belagu soal angka dan teori-teori membosankan itu! Kamu pikir aku bisa bawa Apex Media sampai punya valuasi lima puluh miliar cuma gara-gara ngitungin angka di dapur?"
Reno berdiri dari kursinya, menyambar jas yang tersampir di sandaran kursi. Matanya menatap Nadia dengan pandangan merendahkan.
"Kamu itu makin lama makin nggak berkembang, Nadia," ujar Reno dingin. "Kamu terlalu nyaman duduk di rumah, ngurusin hal-hal kecil, sampai kamu nggak sadar kalau dunia luar itu sudah berjalan jauh di depan kamu. Kamu nggak tahu betapa kerasnya aku bertarung di luar sana buat mempertahankan gaya hidup mewah yang kamu nikmati sekarang ini."
Nadia tidak membalas. Ia tetap duduk tegak, menatap Reno yang sedang merapikan lengan jasnya.
Dalam hati, Nadia ingin sekali tertawa. Gaya hidup mewah? Rumah ini dibeli dengan uang deviden Cakrawala Capital.
Mobil sport yang dipakai Reno adalah aset atas nama perusahaan yang modal awalnya berasal dari tabungan Nadia. Bahkan setiap sen jas yang melekat di tubuh Reno hari ini adalah buah dari kerja keras Nadia yang mengamankan sistem perpajakan dan keuangan Apex Media di tahun-tahun krisis.
Namun, Nadia memilih tetap diam. Baginya, berdebat dengan pria yang sedang mabuk oleh egonya sendiri adalah hal yang sia-sia.
"Hari ini aku pulang malam," kata Reno singkat sambil mengambil kunci mobilnya dari atas meja. "Aku ada janji makan malam sama Sella dan tim pemasok baru dari luar negeri. Kamu nggak usah nungguin."
Tanpa menunggu jawaban dari Nadia, Reno melangkah lebar-lebar keluar dari rumah. Suara deru mesin mobil mewahnya terdengar menderu keras di halaman depan sebelum akhirnya menghilang ditelan keramaian jalan raya.
Ruang makan itu kembali sunyi.
Nadia menatap cangkir kopi Reno yang masih tersisa separuh. Dengan tenang, ia berdiri, membereskan piring-piring kotor di atas meja, lalu membawanya ke wastafel.
Setelah menyelesaikan tugas dapurnya, Nadia berjalan menuju ruang kerjanya di lantai dua—sebuah ruangan kedap suara yang selalu terkunci rapat. Nadia membuka pintunya dengan pemindai sidik jari.
Di dalam ruangan minimalis bernuansa modern itu, terdapat tiga layar monitor raksasa yang menampilkan grafik pergerakan saham, laporan keuangan real-time, dan data portofolio bisnis.
Nadia duduk di kursi kerjanya. Senyum lembut yang tadi ia tunjukkan di depan Reno kini sirna sepenuhnya, berganti dengan tatapan seorang pimpinan tertinggi yang dingin dan penuh perhitungan.
Ia membuka laporan keuangan Apex Media yang dikirimkan oleh Bimo tadi pagi. Jemarinya menari lincah di atas keyboard, menganalisis baris demi baris pengeluaran. Dalam waktu kurang dari lima belas menit, mata tajam Nadia menemukan beberapa kejanggalan.
Ada penarikan dana operasional sebesar lima ratus juta rupiah yang dicatat sebagai "Biaya Hiburan Relasi Pemasaran". Waktu penarikan dana itu bertepatan dengan tanggal di mana sebuah toko perhiasan mewah di pusat kota menerbitkan faktur pembelian kalung berlian.
Nadia bersandar di kursi kerjanya, menatap angka-angka di layar monitor dengan tatapan dingin.
"Kamu bilang aku tidak tahu kerasnya dunia luar, Reno?" gumam Nadia pelan, suaranya menggema di ruangan sepi itu. "Kita lihat saja... seberapa kuat kamu bertahan di luar sana saat aku berhenti menjadi penopangmu."
🌸🌸🌸🌸