NovelToon NovelToon
Kakak, Aku Mau "Naik Pangkat"

Kakak, Aku Mau "Naik Pangkat"

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Diam-Diam Cinta / Office Romance
Popularitas:679
Nilai: 5
Nama Author: Aluna Senja

Beda Usia + Berondong + Manis-Cemburu + Ambigu Kantoran + Cinta Diam-Diam + Cerita Per Unit】
Katanya pacaran sama berondong itu bahaya. Tapi kenapa makin bahaya, makin nagih?
Kirana cuma mau relaksasi otot di gym. Bukannya rileks, dia malah "khilaf" satu malam sama pelatih pengganti yang mukanya polos kayak anak anjing. Besok paginya? Cowok itu ternyata suami in-game sahabatnya di Raja Nusantara, anak semata wayang bos-nya Pak Handoko, dan… anak magang baru di divisinya.
Kirana pengin kabur. Tapi si adik malah bisik-bisik: "Kak, malam ini sekali lagi, ya?"
Dan Kirana bukan satu-satunya yang kejeblos.
Ada yang salah jemput di bandara, eh malah bawa pulang "pacar bayaran" yang ternyata naksir dia diam-diam sejak lima tahun lalu. Ada yang mabuk lalu nikah dadakan sama "cowok bayaran"—yang ternyata putra mahkota konglomerat. Ada manajer artis yang, semalam sebelum resign buat nikah, malah "termakan" sama aktor papan atas asuhannya sendiri selama sepuluh tahun. Ada dokter relawan yang dikejar-kejar adik tetangga yang dulu ia besarkan—sekarang balik jadi dokter pulangan luar negeri yang… nggak mau ngalah.
20 berondong. 20 kisah. Satu pola yang bikin jantungan: siang hari manis manggil "Kakak", malam hari berubah jadi serigala yang nggak mau dipanggil adik lagi.
Mereka polos di depan, tapi posesif di belakang. Mereka bilang "aku masih kecil, Kak", tapi merekalah yang ngejar sampai ke ujung dunia, beliin rumah diam-diam, jagain sampai babak belur, dan bilang: "Berhenti nganggap aku adik. Anggap aku laki-laki yang sejajar sama kamu."
Masalahnya… si Kakak keburu kabur duluan tiap pagi.
Pertanyaannya sekarang: berapa lama Kakak bisa lari, kalau tiap berondong ini nagihnya minta ampun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14

Ternyata Kamu yang Dulu

"Besok aku balik ke Daneswara."

Janendra mengatakan itu di meja makan seolah hanya sedang mengumumkan akan membeli sabun.

Bu Sulastri langsung menolak. Pak Prawira menyuruhnya menunggu Bimo agar bisa berangkat bersama. Hanya Anindita yang diam terlalu lama, menatap potongan tempe di piring.

Seusai makan, ia menemukan Janendra melipat pakaian di kamar Bimo.

"Kamu benar-benar mau balik?"

"Ada kelas dan eksperimen."

"Di sini juga boleh tinggal beberapa hari lagi."

Janendra berhenti melipat. "Kenapa?"

"Ya, supaya Bimo ada teman di jalan nanti."

"Kak Nindi juga kerja di Daneswara. Kenapa nggak bilang aku bisa pulang bareng Kakak saja?"

Anindita merapikan masker yang bahkan tidak sedang dipakainya. "Kan kita cuma pura-pura pacaran. Setelah Lebaran selesai, kontraknya juga selesai."

Senyum Janendra hilang.

"Nindi, kamu benar-benar pikir aku tipe orang yang bisa ditarik sembarangan dari bandara, lalu mau pura-pura pacaran sama orang asing?"

Untuk pertama kalinya dia menghilangkan kata Kak. Nama Anindita terdengar lebih dekat sekaligus lebih serius.

"Maksudmu apa?"

Janendra memasukkan kaus terakhir ke koper. "Pikir sendiri. Katanya guru."

Dia keluar sebelum Anindita sempat menahan.

Malamnya, rasa penasaran membuat Anindita menyeret Bimo keluar lewat pintu samping. Mereka berjalan ke angkringan dekat kompleks, memesan nasi kucing, sate usus, dan teh hangat.

"Kenapa harus diam-diam?" tanya Bimo.

"Kalau Ibu tahu, kita disuruh bawa Janendra."

"Bukannya bagus?"

"Aku mau tanya sesuatu."

Bimo langsung menyandarkan punggung. "Gue nggak mau mati dibunuh teman sekamar."

"Kenapa Janendra ikut aku dari bandara?"

"Karena dia suka sama lo."

Jawaban itu keluar begitu saja. Anindita hampir menjatuhkan tusuk sate.

"Sejak kapan?"

"Lama. Makanya dia mau nemenin lo main pacar-pacaran. Janendra itu paling malas bersosialisasi kalau nggak perlu. Lo kira dia tahan ditanya Ibu soal nikah karena butuh uang sewa?"

"Tapi kami baru ketemu di bandara."

Bimo mengunyah pelan, lalu menunjuk kakaknya dengan tusuk sate. "Kalian sudah pernah ketemu."

"Kapan?"

"Tanya sendiri."

"Bimo!"

"Gue sudah terlalu banyak bocor."

Anindita mencondongkan tubuh. "Setidaknya bilang kenapa dia menyimpan rahasia."

"Karena dia mau lo mengingat sendiri. Lima tahun ini dia selalu bertanya kapan lo pulang, masih mengajar di sekolah yang sama atau nggak, punya pacar atau belum. Waktu gue unggah foto pacar, dia tahu Ibu bakal mulai menekan lo mudik bawa pasangan."

"Jadi dia sengaja ada di bandara?"

"Bagian itu tanya dia."

Anindita memukul meja kecil. Penjual angkringan menoleh, dan Bimo buru-buru memesan dua sate tambahan sebagai permintaan maaf. Di perjalanan pulang, ia mengingat cara Janendra sama sekali tidak kaget ketika ditarik dari terminal. Pemuda itu bukan tersesat ke rumahnya. Dia berjalan masuk dengan sadar.

Anindita pulang dengan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Ia duduk di teras sampai hampir subuh, memaksa ingatan menyisir lima tahun terakhir. Udara dini hari dingin, tetapi ia tidak masuk sampai bersin berkali-kali.

Saat bangun menjelang siang, kepalanya berat dan tubuhnya panas.

Suara Bimo terdengar samar di dekat pintu.

"Gue cari obat. Lo bantu kompres?"

"Biar aku saja," jawab Janendra. "Lo temani Ibu belanja. Kalau semuanya berkumpul di sini, dia nggak bisa istirahat."

Kain dingin menyentuh dahi Anindita. Aroma sabun yang sama dengan malam di kamar gelap memenuhi kesadarannya. Ia membuka mata sedikit dan melihat Janendra duduk di sisi ranjang.

"Katanya mau pulang," gumamnya.

"Nunggu Bu Guru sembuh dulu."

"Aku pernah melihat kamu sakit?"

Tangan Janendra berhenti di mangkuk air. "Akhirnya mulai ingat?"

Satu kalimat itu membuka pintu yang lama terkunci.

Lima tahun lalu, Anindita yang berusia dua puluh tiga datang ke Daneswara untuk ulang tahun Bimo. Adiknya sibuk menyiapkan acara kampus dan mengirim teman sekamar menjemput di bandara.

Pemuda itu memperkenalkan diri sebagai Nara. Usianya baru delapan belas, wajahnya pucat, dengan lesung pipi yang muncul setiap kali meminta maaf karena Bimo tak bisa datang sendiri.

"Kamu yakin bisa menyetir?" tanya Anindita saat itu.

"Bisa. Cuma masuk angin."

Di mobil, Nara terlalu diam. Saat berhenti di lampu merah, kepalanya sempat menyentuh kemudi. Anindita menempelkan telapak tangan ke dahinya dan menemukan panas tinggi.

Di ruang IGD, Nara berusaha mengisi formulir sendiri, tetapi tulisan tangannya bergetar. Anindita mengambil pena, mencatat alamat kos dan nomor Bimo, lalu membelikan air hangat. Ketika petugas meminta keluarga pendamping, Nara diam terlalu lama.

"Tulis nomor aku dulu," kata Anindita. "Nanti kalau ada apa-apa, aku yang jawab."

Pemuda itu menatapnya seperti kalimat sederhana tersebut jauh lebih besar daripada bantuan administrasi. Saat infus dipasang, ia sempat meringis lalu menyembunyikan tangan di bawah selimut. Anindita memegang pergelangannya sampai jarum terpasang.

"Takut jarum?"

"Nggak. Cuma malu dilihat Kakak."

"Sakit kok masih sempat gombal?"

Lesung pipinya muncul untuk pertama kali malam itu.

"Kita ke rumah sakit."

"Nanti acara Bimo..."

"Bimo bisa ulang tahun lagi tahun depan. Kamu cuma punya satu tubuh."

Anindita mengambil alih kemudi, membawa Nara ke rumah sakit, mengurus pendaftaran, dan menunggu cairan infus habis. Pemuda itu berbaring sambil memperhatikannya mengomeli perawat, Bimo lewat telepon, dan dirinya sendiri karena tetap menyetir saat demam.

"Kenapa senyum?" tanya Anindita.

"Aku suka dengar Kakak ngomong. Senang ada yang perhatian."

Jantung Anindita berdebar saat itu. Ia bahkan sempat berpikir pemuda dengan lesung pipi tersebut sangat manis. Namun begitu tahu usianya delapan belas dan statusnya teman adik, ia menarik garis tegas. Seusai kunjungan, hidup bergerak. Nara menjadi potongan kenangan tanpa nama lengkap.

Kini lesung pipi yang sama berada di sisi ranjangnya.

"Kamu si Nara," bisik Anindita.

Janendra tersenyum. "Teman-teman kos masih panggil begitu."

"Dulu yang menjemput aku di bandara itu kamu."

"Sekarang Kakak yang menjemput aku. Tetap salah orang, sih."

Anindita memukul lengannya lemah. Janendra menangkap tangannya lalu mengembalikannya ke dalam selimut.

"Kenapa nggak bilang dari awal?"

"Aku tanya kita pernah ketemu atau nggak. Kakak bilang bahas detail sandiwara di mobil."

Anindita menutup mata karena malu. "Aku benar-benar lupa."

"Aku nggak."

Dua kata itu menghapus sisa humornya. Janendra bercerita bahwa setelah malam di rumah sakit, dia berkali-kali bertanya tentang Anindita kepada Bimo. Ia menyimpan nomor yang tak pernah berani dihubungi, mengikuti kabar dari cerita adiknya, dan mengenali Anindita begitu perempuan itu datang dengan papan nama di bandara.

"Aku ikut bukan karena nggak punya tujuan," katanya. "Tujuanku memang Kakak."

Anindita merasakan panas berbeda menjalar dari dada ke wajah.

"Lima tahun?"

"Lima tahun. Waktu itu aku sadar aku masih terlalu muda. Jadi aku sekolah, lanjut S2, dan menunggu kalau suatu hari kita ketemu lagi."

"Kenapa perempuan yang kamu suka lebih tua itu tidak bilang dari awal saja?"

"Karena perempuan itu memasang masker, menarik koperku, dan bicara tanpa memberi aku kesempatan."

"Salahmu pakai jaket biru."

"Salahku jatuh cinta sama guru yang keras kepala."

Anindita terdiam. Dulu ia ingin sekali mencium Nara, tetapi menahan diri karena usia dan hubungan dengan Bimo. Hari ini Janendra sudah dua puluh tiga, dewasa, dan menatapnya dengan kesungguhan yang sama sekali tidak palsu.

"Waktu itu aku sebenarnya tertarik," aku Anindita. "Tapi kamu baru delapan belas. Aku nggak tega mengganggu hidupmu."

Janendra mendekat. "Sekarang aku sudah dua puluh tiga."

"Masih lebih muda lima tahun."

"Tapi bukan anak kecil."

"Benar."

"Jadi kontrak pacar bayarannya selesai?"

Anindita menarik kerah kausnya sampai wajah mereka dekat. "Selesai. Sekarang Kakak nggak sungkan lagi."

Kali ini tidak ada kaki yang terinjak. Janendra berhenti sejengkal dari bibirnya, memberi ruang untuk mundur. Anindita justru menutup jarak.

Ciuman pertama itu lembut, singkat, dan cukup membuat demamnya seolah naik satu derajat. Ketika menjauh, Janendra menyentuhkan dahi ke dahinya sambil tertawa tanpa suara.

"Ternyata Kak Nindi benar-benar belum pernah ciuman."

"Diam."

"Aku bisa ajari."

"Sombong sekali."

Pintu terbuka. Bimo berdiri membawa obat, lalu menutup mata.

"Gue nggak lihat apa-apa. Tapi kalau kalian merusak ranjang gue, bayar."

Anindita melempar bantal. Janendra melindungi kepalanya sambil tertawa.

Menjelang sore, demam Anindita turun. Bu Sulastri membawa bubur, Pak Prawira menambah kipas, dan Bimo terus mengeluh karena kamarnya diambil alih.

"Besok berangkatnya ditunda saja," kata Pak Prawira. "Nindi juga perlu kembali ke Daneswara setelah sehat. Kalian bertiga bisa bersama."

Bu Sulastri menatap Janendra. "Kamu jangan hilang setelah Lebaran. Telepon Ibu kalau Nindi terlalu galak."

"Bu, dia pacarku atau anak Ibu?" protes Anindita.

"Jendra lebih nurut. Bisa dipertimbangkan jadi anak utama."

Bimo mengangkat tangan. "Aku menolak keputusan keluarga ini."

Tawa memenuhi kamar. Janendra menunduk agar orang lain tidak melihat matanya yang kembali basah. Di bawah selimut, Anindita mengusap buku jarinya dengan ibu jari, mengulang perhatian kecil yang dulu diberikan Janendra kepadanya.

Janendra tidak jadi pulang hari itu. Dia duduk di lantai dekat ranjang, tangan mereka bertaut di balik selimut agar keluarga tidak melihat.

"Jadi sekarang aku panggil kamu apa?" tanya Anindita pelan. "Jendra, Nara, atau oppa?"

Janendra mengernyit. "Aku lebih muda. Harusnya bukan oppa."

"Aku tahu. Aku cuma mau lihat wajahmu kesal."

"Panggil pacar saja."

Anindita menggenggam tangannya lebih erat. Lima tahun lalu ia meninggalkan satu perasaan di ruang rumah sakit dan melupakannya. Janendra memungut perasaan itu, menjaganya, lalu mengembalikannya di ranjang yang sama-sama bukan milik mereka.

"Baik, pacar," bisiknya.

Lesung pipi Janendra muncul. Kali ini Anindita tahu persis kepada siapa senyum itu ditujukan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!