NovelToon NovelToon
Aku Kembali

Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Hantu
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: UmakAy

Fitnah keji dan pengkhianatan merebut segalanya dari Nina, seorang gadis desa yatim piatu yang dituduh berzina dan dibuang ke hutan bersama putri kecilnya, Gendis. Di bawah naungan sihir hitam dan racun dendam mertua serta kakak iparnya, Roni, suami yang dulu sangat mencintainya, tega membiarkan mereka ..
Kini, dari kegelapan hutan belakang desa, Nina kembali. Satu per satu, mereka yang terlibat dalam kematian tragisnya akan membayar hutang darah ini dengan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UmakAy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Sudah beberapa bulan sejak Ruhi dan Rukmini menumpang di rumah Roni. Dalam rentang waktu yang menyiksa karena perlakuan Hana, kabar kematian Herman di dalam penjara sempat menyapa mereka. Namun, tak ada sedikit pun air mata atau kesedihan di wajah Ruhi. Bagi Ruhi, statusnya sebagai istri Herman hanyalah masa lalu dan suaminya itu tak lebih dari pria gagal yang hanya meninggalkan tumpukan utang.

Janji yang di berikan Ruhi pada orang-orang yang di tipu Herman tak ia tepati. Ia lebih memilih sembunyi di rumah Roni.

Hari ini, secercah harapan akhirnya muncul. Ada seorang calon pembeli yang berjanji akan datang untuk melihat kondisi rumah milik Rukmini.

Ruhi yang sedang membilas piring di dapur menoleh sebentar ke arah ibunya. Hidungnya masih mencium aroma tajam sabun cair yang menempel di jemarinya. Dengan suara pelan dia berkata, "Bu, hari ini akan ada orang yang melihat rumah kita. Apa Ibu mau ikut ke rumah lama?"

Rukmini yang sedang duduk melamun di meja makan hanya membisu. Di wajah tuanya, garis-garis kelelahan dan penderitaan terpahat kian dalam. Sejak menumpang di rumah Roni, dunia Rukmini berbalik seratus delapan puluh derajat. Hana, menantu yang dulu ia bantu masuk ke hidup Roni, kini memperlakukannya tak ubahnya pembantu. Perintah demi perintah, sindiran tajam, dan tatapan meremehkan dari Hana memukul telak harga dirinya setiap hari.

"Iya, Ibu ikut," jawab Rukmini akhirnya dengan tatapan layu. "Sekalian berhenti dulu dari rutinitas di sini. Aku tidak menyangka jika Hana setega ini. Dan Roni pun diam saja."

Ruhi menghentikan gerakannya sejenak, menatap ibunya dengan rasa prihatin. Ia mengangguk pelan, lalu mengeringkan tangannya dengan kain lap, membiarkan keheningan mengisi udara di antara mereka.

Pagi menjelang siang, Ruhi dan Rukmini sudah menunggu di ruang tamu rumah lama mereka yang mulai berdebu. Pintu depan sengaja dibiarkan sedikit terbuka, memberi penanda bahwa pemiliknya sedang ada di dalam. Ruhi gelisah melirik jam di pergelangan tangannya. Para korban investasi bodong Herman memang sudah muak karena setiap kali mendatangi rumah ini, kondisinya selalu kosong melompong tanpa jejak keberadaan Ruhi. Harapan Ruhi untuk menjual rumah ini secepatnya sudah berada di titik puncak.

Tiba-tiba, suara derum mesin mobil mewah terdengar berhenti di depan gerbang. Ruhi bergegas berdiri dan melangkah ke pintu, sementara Rukmini tetap duduk di sofa dengan tubuh gemetar pelan.

Seorang pria paruh baya berusia sekitar lima puluh tahunan turun dari mobil. Penampilannya rapi mengenakan jas setelan kemeja yang mahal. "Selamat pagi," ucap pria itu ramah saat melangkah menaiki teras.

"Selamat pagi, Pak. Terima kasih banyak sudah menyempatkan datang," sambut Ruhi dengan senyum seanggun mungkin.

Pria itu mengangguk dan mengikuti Ruhi masuk ke dalam. Ketika langkah pertama mereka melewati ambang pintu, hawa sunyi seketika menyambut. Meskipun sudah berbulan-bulan tidak dihuni, struktur bangunan itu masih tampak kokoh dan menawan, lengkap dengan langit-langitnya yang tinggi serta desain lantai dua yang elegan. Ruhi mulai memandu, memamerkan setiap sudut ruangan, sementara Rukmini sesekali menambahkan penjelasan dengan suara pelan.

Setelah belasan menit berkeliling di lantai bawah, sang calon pembeli tampak amat berminat. Matanya mencermati setiap detail dinding dan mengangguk-angguk puas sambil mencatat beberapa hal di buku kecilnya. "Rumahnya sangat luas, dan arsitekturnya masih sangat kokoh meskipun sudah lama berdiri," puji pria itu dengan raut wajah berbinar.

Namun, bencana itu terjadi ketika mereka mulai melangkah menaiki tangga kayu yang mengarah ke lantai atas.

Baru menapaki anak tangga ketiga, ekspresi pria itu mendadak berubah drastis. Wajahnya yang semula hangat seketika pucat pasi, menyusutkan seluruh rona darah di kulitnya.

Ruhi yang berada satu anak tangga di depannya refleks menoleh, bingung melihat perubahan drastis pada sang calon pembeli. "Kenapa, Pak?" tanyanya terheran-heran.

Pria itu tidak menjawab. Di ujung tangga lantai atas, di balik bayangan remang yang pekat, berdiri sebuah entitas yang memancarkan aura yang amat mengerikan. Sosok itu tampak begitu nyata bagi mata sang pembeli. Sosok wanita bergaung putih pucat dengan wajah hancur dipenuhi bekas luka bakar yang membusuk, tengah menggendong seorang anak kecil. Dan yang paling mengerikan, anak kecil di gendongannya itu memiliki keretakan parah di kepalanya ,tampak bolong dan mengalirkan cairan hitam! Ruhi dan Rukmini sama sekali tak melihatnya, namun pria itu melihat Nina secara jelas.

Dengan panik, pria itu berbalik secara terburu-buru hingga hampir tersandung anak tangga. Tangannya mencengkeram pegangan tangga dengan sangat gemetar.

"Apa.. apa itu?!" bisiknya.

Sosok arwah Nina di atas tangga, seolah menyadari ketakutan pria itu, menyunggingkan seringai melebar yang sobek hingga ke telinga. Anak kecil di gendongannya,Gendis, turut melambaikan tangan dengan mata hitam pekat tanpa selaput putih. Keringat dingin sebesar bulir jagung membasahi dahi sang pembeli.

"Bapak kenapa, Pak?" Ruhi semakin panik dan bingung, mencoba menenangkan.

Namun pria itu menggelengkan kepalanya,.

Ia mundur menuju pintu keluar. "Maaf! Saya tidak bisa melanjutkan ini!" katanya dengan suara gemetar. "Terima kasih sudah menunjukkan rumah ini, tapi saya... saya tidak bisa melanjutkan proses pembelian!"

Tanpa menunggu balasan kata dari Ruhi, pria itu berlari keluar rumah, menyalakan mesin mobilnya secara terburu-buru, dan langsung menancap gas meninggalkan pekarangan.

Saat mobilnya melaju kencang menjauhi pagar, sang pembeli sempat melempar pandangan ketakutan ke arah jendela lantai atas. Di sana, dari balik kaca yang berdebu, sosok arwah Nina berdiri menatap mobilnya sambil melayangkan tawa tanpa suara.

"Hiiiii..." Lelaki itu bergidik ngeri.

Ruhi mengejar lelaki itu sampai depan pintu. Ia terpaku melihat sang calon pembeli batal tanpa alasan yang jelas.

"Ada apa, Ruhi? Kenapa orang itu pergi.?" tanya Rukmini dengan nada bingung.

Ruhi yang sudah masuk ke rumah pun menggelengkan kepala tak mengerti.

"Tidak tahu, Bu. Tiba-tiba saja orang itu membatalkan transaksi begitu saja." Ruhi benar-benar tidak habis pikir.

"Orang itu mendadak ketakutan setengah mati waktu kita baru mau naik tangga," gumam Ruhi lagi.

"Ruhi... apa baiknya kita tinggal di sini lagi saja?" ucap Rukmini tiba-tiba.

"Ibu sudah tidak kuat berada di rumah Roni. Perlakuan Hana... kata-kata pedasnya setiap hari..." Suara Rukmini tercekat, tak sanggup melanjutkan luka hatinya yang terus-terusan diinjak oleh menantunya sendiri.

"Tapi Bu, kalau kita tinggal di sini lagi, orang-orang yang ditipu Herman akan terus datang. Aku tidak sanggup menghadapi kemarahan mereka, Bu!" Bayangan wajah-wajah garang para korban yang mengancam akan membakar rumah ini membuat dada Ruhi bergemuruh ketakutan.

Rukmini terdiam. Ia tahu putrinya benar. Namun, haruskah ia terus menelan hinaan di rumah anak kandungnya sendiri? Apakah sisa harga dirinya sudah tak bernilai lagi?

Tiba-tiba, ingatan Rukmini melayang pada raut wajah panik calon pembeli tadi di depan tangga. Bayangan ketakutan pria itu.

"Apakah... apakah dia menampakkan wujudnya lagi?" gumam Rukmini pelan, namun masih sanggup tertangkap oleh indra pendengaran Ruhi.

Ruhi menoleh cepat. "Dia siapa, Bu?"

"Arwah Nina..." bisik Rukmini dengan napas tertahan.

"Mungkinkah dia menampakkan dirinya pada pembeli tadi?"

Ekspresi Ruhi seketika berubah pucat pasi. Bulu kuduknya berdiri serentak. Kemungkinan yang diucapkan ibunya terasa sangat masuk akal.

Wuuussshh...

Tiba-tiba, sebuah hembusan angin dingin yang tidak jelas darimana asalnya berhembus menembus tengkuk Rukmini.

Leher bagian belakangnya terasa diusap dan ditiup oleh hawa dingin. Rukmini bergidik ngeri memegangi lehernya.

Mengingat Nina, Rukmini membatalkan niat untuk kembali ke rumahnya.

Menghadapi sikap mulut racun Hana di rumah Roni terasa jauh lebih aman daripada harus berdiam di rumah ini dan berhadapan langsung dengan arwah Nina yang menuntut dendam. Apalagi jika harus melihat wujud tragis hantu Gendis dengan kepala bolongnya yang mengerikan.

Dengan ketakutan, kedua wanita itu bergegas mengunci kembali pintu depan dan melangkah pergi.

1
UmakAy
ayo baca ...ceritanya seru
Nur Baiti
up thorrrrrrr
UmakAy: siap kak...
total 1 replies
UmakAy
kasih rate dong kakak² yg baca biar aku makin semangat
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Oooh... Jadi begitu, ya... Cara licik keluarga Roni...

🤨🤨🤨🤨🤨
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Pengen rasanya masuk ke cerita di BAB ini, terus bantuin Roni buat nonjokin Herman!!! /Determined//Determined//Determined/
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Ah, sumpah... Merinding pas baca adegan ini... /Panic//Panic//Panic/
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
MANTAP!!! SAYA SUKA GAYAMU RONI!!!
UDAH, PINDAH AJA KE DESA NINA, RON...

💪💪💪
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Kalo saya yang jadi Nina, pasti udah bales ngomong, "Masih mending kangkung yang saya masak, Bu! Tadinya malah pengen saya masakin OSENG PAKU SAMA BAUT!"

🤣🤣🤣🤣🤣
UmakAy: ngakak kak 🤣
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Duuuh... Sabar ya Nina... 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Seru juga ceritanya...

Terus, gimana Ruhi (kakaknya Roni) bisa punya calon suami? Lah wong sikapnya aja seperti itu sama adiknya sendiri...

Dan Nina, karakternya langsung bikin meleleh... 🤭🤭🤭
UmakAy: biasanya jodoh adalah cerminan diri 🤭
total 1 replies
the virtuso
saling support thor
UmakAy: siap 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!