Genre: Fantasi Modern, Romantis-Komedi, Isekai
Elia said : Gue boleh jadi antagonis, tapi minimal tetep punya akhlak lah ya!
Gimana jadinya kalau seorang gadis Gen Z super santuy bernama Elia tiba-tiba terbangun di dalam dunia webnovel romansa klise yang sering dia baca? Alih-alih jadi tokoh utama yang disayang semua orang, Elia malah apes tingkat dewa: dia masuk ke tubuh si villainess (tokoh jahat) yang punya nasib tragis dan bakal mati mengenaskan di pertengahan cerita!
Novel itu berjudul "Gadis Desa dan Sang Taipan" sebuah kisah cinta menye-menye tentang gadis kampung polos yang dicintai setengah mati oleh seorang taipan muda nan kaya raya. Masalahnya, si taipan kaya ini adalah tunangan Elia di dunia tersebut. Berdasarkan alur asli, Elia harusnya mati karena terlalu bucin dan terobsesi merusak hubungan mereka.
"Yang bener aja?! Masak gue harus jadi villain? Mana mati di tengah cerita lagi. Sial banget!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 : Berakhlak, tapi Tetap Angkuh
~ HAPPY READING ~
|
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu yang begitu keras memaksa Elia mengerjapkan matanya.
"Siapa sih? Ganggu orang lagi tidur aja!" celoteh Elia malas. Ia mengucek matanya sambil berusaha menyinkronkan kerja otaknya yang masih setengah sadar. Namun, begitu pandangannya memperjelas interior di sekelilingnya, Elia langsung terperanjat.
"What the f— Gu... gue ada di mana?! Kok gue di sini? Ini bukan kamar kosan gue! Astaga, siapa yang nyulik gue pas lagi tidur? Kurang kerjaan banget dah!" teriak Elia panik.
Perlahan, Elia melangkah turun dari ranjang king-size yang luar biasa empuk itu menuju cermin besar di sudut ruangan. Begitu melihat pantulan dirinya, pemandangan di depan sana justru membuat jantungnya mau copot.
"Aaaaa! Setan...!!!"
Teriakan Elia yang melengking kencang seketika memicu kepanikan di luar kamar.
"Nona! Ada apa, Nona?!" ujar seorang pelayan perempuan dengan nada panik. Karena terlampau khawatir, pelayan itu langsung menerobos masuk begitu saja ke dalam kamar.
"Eh...?" Elia mendadak bungkam, menatap pelayan berpakaian rapi itu dengan tatapan kosong.
"Ada apa, Nona? Siapa yang Anda sebut setan?" tanya pelayan itu bingung, bergantian menatap Elia dan cermin.
"Nona? Siapa? Gue?" gumam Elia heran sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, Nona Helena," jawab pelayan itu, tak kalah bingung dengan sikap majikannya yang mendadak linglung.
"Apa? Helena?! Siapa gue?!" seru Elia lagi dengan nada bingung yang semakin menjadi-jadi.
"Iya, Anda Nona Helena..." jawab pelayan itu ragu-ragu. "Anda..." Pelayan itu ingin melanjutkan kalimatnya, namun urung karena takut. Akhirnya, spekulasi bahwa majikannya mungkin sedang agak geser hanya tersimpan rapi di dalam benaknya.
"HELENA..." Elia memegangi kepalanya, berusaha mengingat-ingat. "Benar! Kalau gitu, tunangan gue Arton, kan?!"
"I-iya, Nona. Tunangan Anda adalah Tuan Arton." Pelayan itu menatap Elia khawatir. "Anda terlihat sangat bingung, Nona. Apa ada sesuatu yang salah? Atau Anda sedang kehilangan sesuatu?"
"Nggak, nggak ada! Lo... eh, maksudnya kalian keluar dulu deh. Gue—eh, saya mau ganti baju," usir Elia buru-buru, berusaha menormalkan gaya bahasanya yang hampir kelepasan.
"Baik, Nona." Pelayan itu menuruti perintah. Mereka semua keluar dengan teratur dan menutup pintu dengan sangat lembut.
Bruk!
Begitu para pelayan menghilang di balik pintu, Elia langsung menjatuhkan dirinya ke atas kasur mewah, membenamkan wajahnya ke bantal, lalu berteriak sekuat tenaga. "AAAAAAAAGH!"
Napas Elia naik turun dengan cepat akibat kepanikan yang mendera.
"Sial," umpat Elia. "Helena... Arton... Ini... gue beneran masuk ke dalam buku?!"
Ia bangkit dan kembali berdiri di depan cermin, memandangi wajah barunya lekat-lekat. Kulit putih mulus, mata tajam yang indah, dan proporsi tubuh yang sempurna. "Cantik banget..." gumamnya takjub.
Aww! Elia menjerit pelan saat tangannya mencubit pipinya sendiri dengan kencang. "Sakit, Beneran bukan mimpi. Berarti... gue sekarang jadi orang kaya dong?" Elia bermonolog sendiri, matanya berbinar. "Hahaha! Gue jadi orang kaya raya!" ujarnya sambil melompat-lompat riang di atas kasur.
Namun, sedetik kemudian gerakannya terhenti. "Wait, wait... Gue jadi siapa tadi? Helena?"
Bruk!
Elia langsung merosot dan terduduk di atas kasur, merengek frustrasi. "Huaaa... hiks! Sial banget! Kaya sih kaya, tapi kan gue bakal mati muda! Enggak mau! Gue mau pulang! Huaaa... eh, tapi—hahaha!" Elia tertawa histeris di sela tangisnya, membuat emosinya tampak labil.
Tiba-tiba, saat Elia sedang terlarut dalam drama kesedihannya, sebuah suara imut mendengung tepat di dekat kupingnya.
[ Dasar cengeng. ]
"Siapa itu?! Hantu, ya? Sini kalau berani, tampakin wujud lo!" tantang Elia sambil celingukan panik.
[ Selamat datang, Tuan Rumah, di dunia 'Gadis Desa dan Sang Taipan'. Perkenalkan, aku Riu Riu, sistem pemandu Anda. Peran Anda di novel ini adalah sebagai Villain. Tugas Anda adalah mengubah takdir sang villainess yang awalnya ditakdirkan mati muda di pertengahan cerita. ]
"Sistem? Ada sistem? Wih, keren!" Alih-alih takut atau menjawab pertanyaan sang sistem, Elia malah berdecak kagum menatap visual di depannya. "Ada peri kecil!" lanjutnya, berusaha menangkap perwujudan sistem yang berbentuk mahluk kecil bercahaya itu.
"Loh, kok tembus?" Elia cemberut saat tangannya hanya melewati udara kosong.
Zzzzztttt!
"Aaaaaakkkhhh!" Elia menjerit saat sengatan listrik mini tiba-tiba menyengat ujung jarinya.
[ Tuan Rumah bersikap tidak sopan. Hukuman: Setruman Ringan. ]
"Sistem kurang ajar! Gak sopan banget, tuannya malah disetrum! Sialan!"
[ Jika Tuan Rumah kembali tidak fokus, sistem akan menaikkan daya setruman. ]
"Tunggu, tunggu! Jangan disetrum lagi!" Elia langsung mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah. "Jadi, apa tugas gue yang sebenernya?"
[ Tugas Tuan Rumah sederhana. Anda hanya perlu mengubah takdir kematian Helena. Itu saja. Namun, Anda tidak boleh keluar dari peran asal. ]
"Maksudnya, gue harus tetep jadi orang jahat?"
[ Benar, Tuan. ]
"Hemmm... bisa, bisa diatur. Terus, gue dapet imbalan apa kalau misi ini berhasil?"
[ Anda bisa memilih untuk tetap hidup di dunia ini sebagai Helena, atau kembali ke dunia asal Anda dengan saldo sebesar 10 triliun rupiah. ]
Mata Elia langsung berwujud lambang dolar. "Apa?! 10 triliun?! Deal! Setuju!" Tanpa pikir panjang, Elia langsung menjabat udara kosong. "Eh, tunggu. Gak ada buff khusus gitu? Atau cheat kek?"
[ Maaf, Tuan Rumah. Saya adalah sistem pemandu, bukan sistem cheater. Saya bisa memberikan informasi apa pun tentang dunia ini, tetapi tidak bisa memberikan Anda kemampuan khusus atau sihir. ]
"Yah, gak seru ah..."
[ Maaf jika tidak bisa memenuhi ekspektasi Anda. ]
Setelah mengatakan itu, sang sistem tiba-tiba memudar dan menghilang.
"Loh? Sistem? Sistem! Kok hilang sih? Ngambek ya lo? Hahaha, baru tahu gue ada sistem bisa ngambek," ejek Elia.
[ Sistem sedang ada urusan pembaharuan data. Jika Tuan Rumah memerlukan informasi, Anda bisa memanggil saya kembali. ]
Suara itu menggema di kepalanya sebelum benar-benar hening.
"Halah, sok sibuk lo, huu!" Elia mencibir. Ia kemudian menghela napas panjang. "Huh... oke. Gue sekarang jadi tokoh antagonis, seorang villain. Gak masalah. Gue bakal jadi tokoh antagonis versi Elia Winata. No protes-protes! Dah lah, mandi dulu ah..."
Tiga puluh menit kemudian, Elia selesai membersihkan diri. Ia berdiri di depan walk-in closet yang dipenuhi barang-barang mewah. "Gak nyangka gue bakal pake baju semahal ini. Sumpah, semua fasilitas ini harus dinikmati!"
Tring!
Sebuah notifikasi pesan masuk memecah keheningan dari ponsel mahal milik Helena.
Arton
(Helena, mari bertemu.)
Elia menyipitkan mata menatap layar. "Arton, tunangan Helena... Adegan ini..." Elia memutar otak, mencoba mengingat alur cerita aslinya. "Gue inget! Ini adegan di mana Arton minta Helena dateng ke kantornya. Kalau gak salah, di momen ini Arton bakal minta Helena buat setuju membatalkan pertunangan mereka secara kekeluargaan."
Sudut bibir Elia terangkat. Dengan santai, jemarinya mengetik balasan.
Helena
(Di mana?)
Arton
(Kantor saya.)
Helena
(Oke, lima belas menit lagi gue sampek.)
Elia mengirim pesan itu tanpa menghilangkan gaya bahasa aslinya yang santai dan blak-blakan.
Sementara itu, di lantai teratas gedung perusahaan megah miliknya, Arton menatap layar ponsel dengan kening berkerut dalam.
"Gue...?" gumam Arton bingung. Sejak kapan Helena berubah gaya bicaranya jadi sekasar atau sesantai ini? Biasanya, perempuan itu akan langsung meneleponnya dengan suara manja, menanyakan apakah dia perlu membawakan makan siang atau kopi.
Tapi ini... pesan singkat yang terasa dingin, ketus, sekaligus asing. Arton meletakkan ponselnya dengan benak yang dipenuhi tanda tanya besar. Ada yang berbeda dengan tunangannya itu.
Bersambung 🫰🏻🤗
ku sumpahin lu Arton, jadi bucin sama Helena wlek !!! trus rebutan sama Alex whahahaha
emang kamu dpt apa sih sistem kok gitu amadt, amadt aja gk gitu...
harusnya alex ngomong gitu wkwkwk
duh keinget kartun Syifa dari prindavan 😭