Raelyn Elamora, mahasiswi cerdas yang keras kepala dan doyan balapan liar, mendadak lemas saat sang papa menjodohkannya demi melunasi utang. Calon suaminya adalah Alvarez Arran Danadiaksa CEO muda super dingin dan cekatan yang menguasai bisnis sekota. Raelyn bersumpah tidak akan tunduk pada si "balok es," sementara Alvarez punya seribu cara pintar untuk menjinakkan istri liarnya. Apakah si kepala batu bisa meluluhkan hati si raja es?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
Begitu pintu terbuka, Raelyn langsung melangkah lebar-lebar dengan mengentakkan kakinya, berniat langsung masuk ke dalam kamarnya untuk menumpahkan segala kekesalannya.
Namun, baru beberapa langkah, pergelangan tangannya dicekal dengan kuat namun lembut oleh Alvarez.
"Raelyn," panggil Alvarez, suaranya berat dan menuntut penjelasan.
Raelyn menyentak tangannya hingga terlepas, lalu berbalik menatap Alvarez dengan mata yang berapi-api.
"Apa?! Kenapa? Lo mau marah-marah?! Mau pamer kalau lo menang?!" ketus Raelyn beruntun.
Alvarez menatap mata gadis itu lekat-lekat, wajahnya tetap sedingin es.
"Kenapa kamu keluar di luar jam malam? Dan kenapa harus dengan cara kabur lewat jendela?"
Raelyn mendengus sinis, menatap suaminya menantang.
"Gue bosen! Lagian, dari awal kan kita udah sepakat buat gak ikut campur urusan masing-masing! Pernikahan ini cuma bisnis, inget? Lo gak punya hak buat ngatur hobi atau kebebasan gue!" jelas Raelyn berapi-api, menggunakan tameng argumen kesepakatan awal mereka.
"Tapi kalau kejadiannya kayak tadi gimana?" tanya Alvarez, suaranya naik satu oktav, menunjukkan riak emosi yang jarang dia perlihatkan.
"Kalau tadi polisi tidak melepaskanmu? Kalau nama baik keluarga kita hancur di media?"
Raelyn yang sudah terlanjur emosi dan kelelahan tidak mau kalah.
"Ya kalau tadi lo ngerasa gak ikhlas buat datang ngejemput gue, ya gak usah datang sekalian! Biarin aja gue tidur di sel! Gue gak butuh kasihan dari lo!"
Setelah meneriakkan kalimat egois itu, Raelyn langsung berbalik, masuk ke dalam kamarnya, dan BRAK! membanting pintu kamar dengan sangat keras hingga menimbulkan gema di seluruh ruangan.
Alvarez berdiri terpaku di ruang tengah. Dia membuang napas panjang yang terasa sangat berat. Pria itu menyugar rambutnya frustrasi. Rencana dan ide licik yang dia buat dengan maksud agar Raelyn jera dan kapok, justru berbalik menjadi senjata makan tuan. Hubungan mereka yang suram kini jauh lebih dingin dari sebelumnya.
Keesokan paginya, matahari sudah naik cukup tinggi, namun tawang mewah itu masih diselimuti keheningan. Raelyn belum juga keluar dari kamarnya karena dia baru bisa memejamkan mata saat menjelang subuh akibat sisa emosi semalam.
Asisten Rumah Tangga (ART) yang bekerja di sana tampak cemas. Dia sudah berdiri di depan kamar Raelyn selama sepuluh menit, mengetuk pintu kayu itu berkali-kali.
"Non Raelyn... Non, ini sudah jam delapan pagi. Sarapannya sudah siap, Non," panggil si bibi.
Namun, tetap tidak ada jawaban sama sekali dari dalam. Melihat hal itu, sang ART langsung menghampiri Alvarez yang sedang duduk di meja makan sembari menatap tablet kerjanya dengan pandangan kosong.
"Anu, Pak... Non Raelyn saya panggil dari tadi tidak ada jawaban. Kamarnya dikunci dari dalam. Saya takut Non Raelyn kenapa-napa di dalam karena kejadian semalam," lapor si bibi cemas.
Alvarez meletakkan tabletnya. Rasa khawatir yang sempat dia tekan sejak semalam kini kembali mencuat. Pria itu langsung turun tangan.
Dia beranjak dari kursinya, berjalan menuju laci ruang kerja untuk mengambil kunci cadangan seluruh ruangan tawang.Dengan langkah cepat, Alvarez berdiri di depan kamar Raelyn.
Dia memasukkan kunci cadangan itu, memutarnya perlahan hingga terdengar bunyi klik, lalu membuka pintu dengan perlahan.
Begitu pintu terbuka, pemandangan di dalam kamar langsung menyambutnya. Kamar itu tampak agak berantakan dengan jaket jins yang tergeletak di lantai.
Di atas tempat tidur besar, Raelyn sedang meringkuk di balik selimut tebal, tertidur dengan sangat lelap hingga napasnya terdengar teratur.
Alvarez menghela napas lega, mengetahui istrinya baik-baik saja. Dia berjalan mendekat dengan langkah sangat pelan, seolah takut suara langkah kakinya bisa mengusik istirahat gadis itu.
Alvarez berdiri di tepi ranjang, menunduk untuk memandangi wajah Raelyn yang sedang tertidur.Tanpa balutan riasan atau ekspresi ketat menantang seperti biasanya, wajah Raelyn terlihat sangat cantik natural.
Kulitnya yang bersih, bulu matanya yang lentik, dan bibirnya yang sedikit mengerucut membuat Alvarez terpaku untuk beberapa saat.
Sifat keras kepala dan garang gadis itu mendadak hilang sepenuhnya saat tidur, menyisakan sosok gadis muda yang tampak rapuh dan polos.
Tanpa sadar, tangan kanan Alvarez bergerak maju. Jari-jarinya yang panjang menyentuh pipi Raelyn yang halus dengan sangat lembut, lalu dengan perlahan menyingkirkan beberapa anak rambut yang menutupi kening dan mata istrinya.
"Cantik," gumam Alvarez sangat pelan, sebuah pujian tulus yang keluar begitu saja dari bibirnya tanpa bisa dia kendalikan.
Namun, sentuhan tangan hangat Alvarez di wajahnya mendadak membuat tidur Raelyn terganggu. Kulitnya yang sensitif merasakan ada sesuatu yang asing.
Raelyn menggolet pelan, melenguh kecil, dan perlahan membuka kedua kelopak matanya yang terasa berat.
Hal pertama yang tertangkap oleh penglihatan Raelyn yang masih agak buram adalah wajah tampan Alvarez yang berada sangat dekat di depannya.
Raelyn mengerjipkan matanya beberapa kali, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang masih tertinggal di alam mimpi. Begitu otaknya memproses situasi dengan sempurna, mata Raelyn langsung membelalak lebar karena kaget. Jiwa defensifnya langsung aktif seketika.
"Ngapain lo?! Mesum ya?!" teriak Raelyn histeris, suaranya serak khas orang baru bangun tidur.
Dengan gerakan refleks yang sangat cepat, dia langsung menarik selimut tebalnya hingga menutupi dada dan seluruh tubuhnya, menatap Alvarez dengan pandangan penuh tuduhan dan waspada.