NovelToon NovelToon
Pesonaku Menarik Duda Samping Rumah

Pesonaku Menarik Duda Samping Rumah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Romantis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tasya Chuky

Merantau selama enam tahun di Kalimantan sebagai operator buldoser besar dan ekskavator pengeruk nikel—itulah profesi tangguh seorang Tara Pratiwi. Selama itu pula, ia bekerja keras menjadi "pesuruh" andalan bagi bos-bos asing bermata sipit di area pertambangan.

​Tara pikir, saat ia pulang kampung nanti, semuanya akan tetap sama seperti saat ia tinggalkan dulu. Oh, tentu saja dugaan itu salah besar! Rupa-rupanya, kompleks perumahan tempat tinggal kedua orang tuanya kini sudah sangat padat, berimpitan dengan tetangga-tetangga baru di sisi kanan dan kiri rumah.

​Hingga akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Cakrawala—seorang duda cerai mati dengan satu anak laki-laki super bandel yang siap mengusili hari-hari tenang Tara.

​Tara mengacak rambutnya frustrasi. "Haduh, pusing, pusing! Alamat aku pergi nunggang ekskavator lagi ini mah kalau begini caranya!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sarapan Siang gratis

Hari sudah cukup siang saat Tara akhirnya terbangun dan membuka matanya. Perutnya langsung berbunyi keroncongan minta diisi. Gadis itu bergegas bangun dan berjalan lunglai menuju dapur. Namun, apa yang dia lihat di sana sangat-sangat mengecewakan. Pasalnya, di dalam tudung saji, ia hanya menemukan beberapa potong tahu isi yang sudah dingin dan berminyak.

​Tara kesal setengah mati. Dengan langkah dongkol, gadis itu kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaian. Ia menyambar celana kolor katun combed santai dan kaos hitam kedodoran. Setelah menyambar kunci motor yang tergeletak di meja, Tara melangkahkan kakinya keluar rumah.

​Di halaman rumah, motor Aerox hitam kesayangannya sudah terparkir rapi. Sembari bersiul lembut, Tara mendekati motornya, menaiki joknya, lalu menstarter mesinnya dengan perlahan. Motor matik besar itu pun melaju pelan keluar dari halaman.

​Saat hendak melewati pagar dan menempuh jarak sekitar lima meter dari rumahnya, Tara harus melewati kerumunan ibu-ibu yang sedang berkumpul di sebelah kanan jalan. Tara bisa merasakan tatapan mata mereka yang penuh tanya dan menyelidik melihat penampilannya yang cuek. Namun, gadis itu bersikap bodo amat. Ia benar-benar tidak peduli dengan gunjingan tetangga.

​Tak lama berkendara, Tara melihat lapak penjual nasi kuning tepat di pinggir jalan. Perutnya yang semakin melilit membuat Tara segera menepikan motornya dan lantas turun.

​"Satu nasi kuning pakai ayam, Mbak! Bagian dada, nggih..." ucap Tara memesan.

​"Yoo, sabar ya Mbak. Ini lagi buatin pesanan pegawai bank," jawab si penjual terampil membungkus makanan.

​Tara mengangguk paham.

​"Duduk saja dulu di situ, Mbak'e... Biar ndak capek nungguin," tambah si penjual ramah. Tara kembali mengangguk lalu mendudukkan dirinya di kursi plastik yang disediakan. Ia langsung menunduk, menatap layar ponselnya untuk mengusir bosan.

​"Mbak! Pesenanku sudah siap?" tanya sebuah suara berat seorang pria yang baru saja datang mengejutkannya.

​"Wess, tiga lagi Mas'e... Bentar ya, tak bungkusin. Duduk saja dulu, Mas... Kasihan musti bolak-balik," sahut si penjual nasi kuning.

​Pria itu mengangguk, lalu mengambil posisi duduk tepat beberapa jengkal di samping Tara. Aroma wangi parfum maskulin berbaur dengan aroma khas seragam kerja mendadak menyeruak di dekatnya.

​"Mbak! Tadi sampean pesen pake dada ayam, ya?" tanya si penjual memastikan pesanan Tara.

​Tara mendongak dari ponselnya. "Iya, Mbak. Tolong cepat, ya! Saya laper... banget!" ucap Tara sambil meringis menahan keroncongan.

​"Lah, memangnya belum sarapan toh?" tanya si penjual bingung melihat jam yang sudah bergeser siang.

​"Belum, Mbak! Aku bangun sudah siang. Tak kira Ibu masak... Ndak taunya nggak!" keluh Tara kembali menundukkan kepalanya lesu.

​"Loh, piye sih... Bangun kok siangan," sahut si penjual memancing obrolan.

​Tara menghela napas panjang. "Aku baru datang subuh tadi, Mbak. Semalaman ndak tidur di jalan. Jadi waktu subuh tadi kuputusin buat tidur... Sampai tengah hari ini baru bangun. Soale, badan rasanya greges, ndak nyaman semua."

​Selesai bercerita, Tara refleks menoleh ke samping, menatap pria yang duduk tepat di sebelahnya. Ternyata, pria itu sedari tadi juga sedang memperhatikan dirinya secara terang-terangan. Tara mengerutkan dahinya, mencoba mengingat-ingat wajah familier itu.

​"Loh! Sampean yang tinggal di samping rumah tadi toh?" tanya Tara memastikan dengan nada bicaranya yang spontan.

​Pria itu mengangguk hangat, sembari mengulas senyum simpul yang manis. "Nama saya Cakrawala. Panggil saja Cakra," ucapnya langsung memperkenalkan diri.

​Tara menatap wajah tampan itu datar tanpa senyum sedikit pun. "Sudah tau, Mas! Itu di dada... Nama sampean kelihatan gedee," kata Tara ketus sembari menunjuk papan nama (nametag) yang tersemat rapi di seragam milik Cakra.

​Cakra spontan menoleh ke arah dadanya sendiri, lalu tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

​"Mbak, ini pesanannya sudah jadi! Masnya juga, ini sudah siap semua," seru si penjual memotong kecanggungan di antara mereka.

​Cakra dan Tara menoleh bersamaan ke arah meja jualan.

​"Oh, nggih Mbak! Ini duite..." ucap Cakra cekatan. Pria itu menyodorkan selembar uang seratus ribuan dan gocap secara bersamaan, total seratus lima puluh ribu rupiah.

​Si penjual sempat tertegun. "Walah, ini kebanyakan, Mas."

​"Ndak apa-apa, Mbak! Sekalian saya bayarin sama punya mbaknya yang ini," ucap Cakra santai lalu menoleh ke arah Tara yang langsung melotot.

​"Eh—apa-apaan toh, Mas? Akh... Aku ndak mau, ndak usah! Aku bisa bayar sendiri," protes Tara langsung merasa tidak enak. Gengsi dong, baru kenal sudah dibayari.

​"Ndak apa, Mbak! Hitung-hitung sebagai awal perkenalan kita. Oh iya, nama sampean siapa?" tanya Cakra lembut, sama sekali tidak terpengaruh dengan protes judes Tara.

​Tara sempat terdiam sesaat. Pikirannya berputar cepat. 'Lumayan lah, hitung-hitung makan gratis. Rezeki anak berbakti yang kelaparan,' batinnya bersorak senang di dalam hati.

​"Tara. Tara Pratiwi," ucap Tara akhirnya bersedia memperkenalkan namanya.

​Senyum di bibir Cakra semakin melebar mendengar nama itu. "Oke, Mbak Tara. Selamat menikmati sarapan siangnya," ucap pria bertubuh tegap itu. Ia kemudian berbalik dan berjalan pergi menuju motornya dengan langkah santai yang terlihat berwibawa.

​Tara hanya bisa melongo menatap punggung tegap itu. Ia kemudian melirik ke arah Mbak penjual nasi kuning yang ternyata sedang menahan tawanya sedari tadi.

​"Ngopo, Mbak?" tanya Tara heran.

​"Ndak, Mbak... Sampean jangan kaget ya. Kalau begitu berarti hatinya Mas Cakra lagi adem, Mbak. Dia itu memang suka bercanda dan baik orangnya. Kadang ya... Banyak perempuan yang suka salah mengartikan kebaikannya," ucap Mbak penjual memberi tahu.

​Tara manggut-manggut paham dalam hati. Setelah menerima bungkusan nasi kuningnya, wanita itu akhirnya berbalik dan menaiki Aerox hitam kesayangannya.

••••••••••••••○○○

Dari mana, Tar?" tanya Bu Hayati saat melihat Tara masuk ke halaman sembari memarkirkan motor Aerox-nya.

​"Beli makan, Buk!... Ibuk gimana sih? Masa ndak masak, aku bangun-bangun kelaparan," ucap Tara mengeluh heran.

​"Maaf, Tar! Tadi Ibuk buru-buru mau pergi arisan," sahut Bu Hayati merasa agak bersalah.

​"Halah, arisanan..." gerutu Tara kesal sembari melangkahkan kakinya menuju dapur untuk menyantap nasi kuningnya.

​Bu Hayati membuntuti anaknya ke dapur dengan wajah berseri-seri. "Eh, Tar! Tadi Ibuk ketemu Gion, loh!"

​"Terus ngopo (kenapa)?" tanya Tara cuek bebek.

​Bu Hayati tersenyum lebar. "Dia tanyain kamu, Tar!... Betul! Dia sekarang jadi sukses lho, sudah diterima jadi karyawan tetap di perusahaan yang terkenal itu. Perusahaan opo ya namanya..." ucap Bu Hayati sembari memegang kepalanya, mencoba mengingat-ingat.

​"Ndak peduli, Buk," potong Tara sangat acuh.

​"Ish, kok gitu? Lagian dulu kenapa sih kalian bisa putus?" tanya Bu Hayati heran, masih penasaran dengan hubungan masa lalu anaknya.

​Tara menatap ibunya dengan tatapan kesal yang tidak ditutup-tutupi. "Halah, Buk... Nggak jodoh. Lagian aku ndak suka. Si Gion tuh mesum! Masa dulu minta-minta foto bugilku? Sopo (siapa) yang mau? Langsung kuputusin aja lah! Jadi suami saja belum, sudah minta macem-macem, mana maulah aku."

​Bu Hayati terkejut mendengar penuturan jujur anaknya. "Loh! Kok gitu dia... Tapi, Tar! Gajinya katanya besar lho, kisaran enam sampai tujuh juta per bulan," ucap Bu Hayati, masih merasa sayang jika melewatkan lelaki mapan.

​"Opo? Tujuh juta?..." tanya Tara memastikan.

​Bu Hayati mengangguk mantap.

​Detik itu juga, Tara langsung tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya. "Buk! Gajinya dia karo (dibanding) gajiku yang kukirim tiap bulan untuk Ibuk, ya jelas lebih besar gajiku toh! Aku sepuluh juta, sedangkan dia tujuh juta, Buk... Ya Allah..." ucap Tara tak habis pikir dengan pola pikir ibunya yang gampang silau dengan pencapaian orang lain.

​"Ya... Maksud Ibuk juga bukan sekadar soal uang itu, Tar. Ibuk pengen kamu cepet nikah. Wong umurmu sudah 26 tahun loh... Ibuk kepengen gendong cucu juga, kaya temen-temen arisan Ibuk tadi," ucap Bu Hayati dengan nada memelas.

​Bu Hayati menatap penampilan anak perempuan satu-satunya itu dari ujung rambut sampai kaki. "Kamu loh, anak satu-satunya Ibuk... Coba ubah penampilanmu itu, supaya ndak tomboi-tomboi banget. Sekali-kali pakai gamis kah?" pinta Bu Hayati.

​Tara hanya terdiam, menghentikan suapannya sejenak.

​"Buk, Ibuk... Ini kan memang gayaku. Lagian kalau Ibuk tahu kehidupan di Kalimantan sana, kerjaku loh lebih ekstrem lagi! Bawa-bawa alat berat. Kalau aku kerja mau pakai baju-baju kayak gaun begitu, opo ndak kesangkut-sangkut badanku?" tutur Tara menjelaskan realita pekerjaannya.

​Setelah membungkam argumen ibunya, Tara kembali melanjutkan makan siangnya yang sempat tertunda dengan lahap, mengabaikan desahan napas pasrah dari Bu Hayati.

1
falea sezi
lanjut🤣
rurry Irianty
sengaja d kempesin pak Anton tuh tar😄
rurry Irianty
mungkin Candra bukan anak kandung Cakra,anak selingkuhan istrinya mungkin
Ummi Sulastri Berliana Tobing
cerita nya bagus dan menarik
sukses slalu y 🫶🫶🫶
Siti Musyarofah
lanjut
Ummi Sulastri Berliana Tobing
ya aku mau 🤭🤭🤭
partini
aku salfok ada kata nunggang di sinopsis nya
partini: bahasa ngapak sejati ora ngapak ora kepenak 🤭
total 2 replies
Rian Moontero
mampiiirrr
Ummi Sulastri Berliana Tobing
lanjut 😊😊
Dewiendahsetiowati
Hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!