NovelToon NovelToon
Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Aura Rizki

Demi Rp 288 juta untuk pengobatan adiknya, Senja menikah kontrak dengan Damar Adiwangsa, konglomerat dingin yang sepuluh tahun lebih tua dan memiliki seorang putri kecil. Mereka sepakat tidak melibatkan perasaan. Namun ketika Bintang mulai memanggil Senja Mama, rumah yang semula dingin berubah menjadi keluarga. Damar yang dahulu menganggap Senja matre perlahan menjadi suami posesif yang tak sanggup melepaskannya. Saat kontrak berakhir dan Senja bersiap pergi, Damar justru menagih satu hal yang tidak pernah tertulis dalam perjanjian: cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21

Pulang ke Rumah

Pagi kepulangan Senja, Bintang datang membawa gambar rumah yang sama seperti sebelumnya. Bedanya, kali ini sosok Mama tidak lagi duduk di ranjang rumah sakit. Ia berdiri di antara Bintang dan Damar, meski kedua kakinya digambar seperti dua garis yang masih goyah.

"Mama sudah boleh pulang, kan?" tanyanya untuk ketiga kali.

Dokter tersenyum. "Boleh, tapi belum boleh capek. Tulangnya belum pulih penuh. Kontrol setiap bulan, terapi jangan putus, jangan mengangkat barang berat, dan jangan memaksakan diri kembali bekerja."

Damar mencatat semuanya di ponsel. Ia bertanya tentang obat, tanda bahaya, posisi tidur, dan jadwal pemeriksaan berikutnya. Namun selama perjalanan pulang, ia lebih banyak berbicara kepada perawat pendamping daripada kepada Senja.

"Kamar lantai bawah sudah disiapkan. Pastikan jalur ke kamar mandi tidak terhalang," katanya.

Senja duduk di kursi belakang bersama Bintang. "Terima kasih, Mas."

Damar hanya mengangguk melalui kaca spion.

Di Bintang Residence, pegangan tambahan sudah terpasang di sepanjang koridor. Karpet tebal disingkirkan, lantai kamar mandi dilapisi alas antiselip, dan tempat tidur medis berdiri di kamar yang dahulu kosong. Senja memandang semua perubahan itu dengan tenggorokan mengencang.

Rumah tersebut menyesuaikan diri untuk menerimanya. Pemilik rumah justru masih menjaga jarak seolah kehadirannya hanya urusan teknis.

Bik Inah menyambut dengan sup ayam hangat. Setelah Bintang dibawa mandi, perempuan itu membantu Senja duduk dan menurunkan suara.

"Bu Senja masih muda. Pak Damar juga belum terlalu tua. Kalau Ibu mau kedudukan aman, dekatilah beliau pelan-pelan. Kasih Non Bintang adik."

Sendok Senja hampir jatuh. "Bik!"

"Bik cuma bilang yang masuk akal. Bapak sekarang sudah perhatian."

"Dia perhatian karena merasa bersalah." Wajah Senja panas sampai telinga. "Pak Damar tidak suka saya. Saya juga tidak mau memaksa."

"Orang yang tidak suka tidak akan merombak satu lantai."

Senja menatap pegangan baru di dinding. Sesaat, pikiran berbahaya menyelinap. Mereka hidup satu rumah. Damar tidak pernah memaksanya. Bintang menginginkan keluarga. Mungkin rasa suka memang bisa tumbuh setelah akad, sedikit demi sedikit, dari secangkir wedang jahe dan kursi yang dipindahkan lebih dekat.

Ia segera menunduk pada sup. Berharap terlalu banyak hanya akan membuat jatuh untuk kedua kali.

Sore hari, Senja bersikeras membawa mangkuknya sendiri ke dapur. Perawat pendamping berjalan di sisi, tetapi ia ingin mencoba bergerak tanpa terus diperlakukan seperti barang rapuh. Baru sampai ruang tengah, ia berpapasan dengan Damar yang turun dari lantai atas.

"Kenapa membawa itu sendiri?"

"Cuma mangkuk kosong. Saya masih bisa." Senja berhenti di depan anak tangga pertama. "Mas, terima kasih."

"Untuk apa?"

"Untuk Bintang di danau. Untuk membawa saya ke rumah sakit. Untuk semua biaya dan kamar ini." Ia meremas tepi mangkuk. "Mas sudah menolong saya tiga kali. Saya enggak akan lupa."

Damar teringat percakapan yang pernah didengarnya: Senja tidak berniat menjadi istri dalam arti sebenarnya. Perempuan itu berbicara tentang pertolongan seperti sedang menghitung utang, bukan membangun hidup bersama.

"Tidak perlu dihitung," katanya dingin. "Lain kali kalau kamu jatuh lagi, urus sendiri. Aku tidak punya kewajiban mengurus mayatmu."

Warna hangat di wajah Senja menghilang.

Perawat pendamping pura-pura memeriksa tas obat. Damar sendiri menyesali kalimat itu bahkan sebelum gema suaranya hilang, tetapi harga diri menahannya menarik kembali.

Senja menunduk. "Saya mengerti."

Ia menyerahkan mangkuk kepada perawat dan berbalik menuju kamar. Pegangan baru yang tadi tampak seperti sambutan kini hanya terasa sebagai alat sementara bagi seorang tamu yang terlalu lama tinggal.

Di kamar, Senja membuka catatan keuangan. Mahar Rp 288 juta. Uang kursus mengemudi. Biaya adik-adiknya. Gaji yang belum dapat ia terima karena cuti. Ia membuat kolom baru: target kembali bekerja, target menabung, target mengajukan cerai gugat setelah semua kewajiban selesai.

Harapan bodoh tentang jatuh cinta dicoretnya sebelum sempat memiliki nama.

Ketika makan malam, Senja bertanya apakah ia boleh kembali ke rumah sakit pekan depan.

"Tidak," jawab Damar.

"Dokter bilang saya boleh berjalan dengan bantuan."

"Dokter juga bilang jangan bekerja berat. Minimal satu bulan lagi."

"Kalau bagian administrasi?"

"Senja."

Nada rendah itu mengakhiri perdebatan. Senja tidak berani mengatakan bahwa satu bulan tanpa penghasilan berarti biaya kos Wulan dan Hana harus diambil dari tabungan yang semakin tipis.

Malamnya, pintu kamar terbuka pelan. Bintang menyelinap membawa bantal dan naik ke sisi ranjang dengan hati-hati.

"Papa bilang Bintang enggak boleh bikin Mama sakit."

"Kalau tidurnya tenang, boleh di sini."

Bintang masuk ke bawah selimut, lalu memeluk lengan kanan Senja. "Dari kecil Bintang enggak punya Mama. Cuma ada Papa."

Senja menahan napas. Pertanyaan tentang ibu kandung anak itu kembali muncul, tetapi ia tidak ingin membebani Bintang dengan rahasia orang dewasa.

"Sekarang ada banyak orang yang sayang Bintang."

"Tapi Bintang maunya Mama." Mata anak itu mulai berat. "Janji temenin Bintang sama Papa selamanya, ya?"

Senja memandang pintu yang tertutup. Di baliknya ada seorang suami yang baru menyuruhnya mengurus kematian sendiri. Di dalam pelukannya ada anak kecil yang memintanya tinggal seumur hidup.

Ia tidak sanggup menjanjikan selamanya.

Di luar kamar, langkah Damar berhenti. Ia mendengar permintaan putrinya, tetapi tidak mendengar jawaban Senja. Untuk alasan yang tidak mau ia akui, keheningan itu terasa lebih mengganggu daripada penolakan.

Namun ketika kelingking Bintang terangkat, Senja tetap mengaitkan jarinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!