NovelToon NovelToon
TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Di balik kesuksesan Bian sebagai Manajer, ada Husna istri sah yang anggun, mandiri, dan pemegang kendali finansial keluarga. Saat Bian tergoda Salma, karyawatinya dan meminta izin menikah lagi, Husna tidak mengamuk. Ia memberi satu syarat mutlak 100% gaji resmi Bian wajib ditransfer ke rekeningnya.
Sementara bagi Salma yang menawari cinta ala ABG hanya dinafkahi dari hasil toko swalayan baru yang belum pasti untung.

​Merasa menang, Salma setuju tanpa sadar ia salah lawan. Situasi makin panas saat Devan dan Deka, putra kembar yang saat ini sudah sekolah tingkat SMA, terang-terangan membela sang ibu dan membenci Bian. Siapa pemegang tahta sejati dalam keluarga ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

​Suasana malam di kediaman keluarga Bian terasa sepi yang mencengkeram. Lampu gantung kristal di atas meja makan memancarkan pendar kuning hangat, menerangi hidangan makan malam yang telah tersaji rapi. Husna duduk anggun di ujung meja, menyendokkan nasi untuk Devan dan Deka dengan ketenangan yang luar biasa. Si kembar menikmati makan malam mereka tanpa banyak bersuara, mengabaikan presensi Bian yang duduk di kepala meja dengan raut wajah yang serba canggung.

​Bian beberapa kali memegang sendoknya tanpa benar-benar menyentuh makanan di piring. Matanya berganti-ganti menatap Devan dan Deka yang tampak tenang. Penandatanganan draf perjanjian di kantor notaris tadi sore telah memberinya rasa percaya diri semu. Dalam benaknya, jika Husna saja sudah memberi izin tertulis, maka kedua anak laki-lakinya pasti akan patuh dan mau mengerti posisinya sebagai kepala keluarga.

​Bian berdehem keras, mencoba memecahkan keheningan yang menyesakkan itu.

​"Devan, Deka... makan malamnya ditahan sebentar," buka Bian dengan suara yang diatur sedemikian rupa agar terdengar berwibawa. "Ada hal penting yang ingin Ayah bicarakan dengan kalian berdua. Ini menyangkut masa depan keluarga kita."

​Devan dan Deka menghentikan gerakan sendok mereka secara bersamaan. Kedua remaja SMA itu merespons ajakan bicara itu dengan meletakkan alat makan di atas piring hingga terdengar bunyi berdenting tipis. Mereka menegakkan posisi duduk, menatap Bian dengan tatapan yang sangat dingin sebuah tatapan yang langsung meruntuhkan rasa percaya diri yang sempat Bian bangun.

​Husna tetap tenang. Ia meraih cangkir teh hangatnya, menyesapnya perlahan tanpa memotong ucapan suaminya.

​Bian membetulkan letak duduknya, membusungkan dada mencoba menegaskan otoritasnya sebagai seorang Ayah.

​"Ayah tahu kalian sudah cukup dewasa untuk memahami situasi ini," ujar Bian memulai narasi pembenarannya. "Ayah ingin menyampaikan langsung... bahwa sebentar lagi, Ayah akan menikah lagi. Ayah akan membawa seorang wanita bernama Salma untuk menjadi bagian dari keluarga kita."

​Meski Husna sudah memberikan pengarahan di kantornya siang tadi agar si kembar tetap tenang dan menjaga etika, ego dan rasa kepemilikan anak-anak remaja itu terhadap ibunya ternyata merobohkan seluruh benteng pertahanan mereka. Rasa sakit hati melihat Bunda mereka diperlakukan semena-mena membuat amarah yang sudah terkumpul sejak lama meledak seketika.

​Deka menjadi yang pertama lepas kendali. Ia tertawa sumbang sebuah tawa sinis yang sama sekali tidak mencerminkan kesopanan seorang anak kepada orang tuanya.

​"Menikah lagi?" tembak Deka dengan nada suara yang tajam melukai udara. "Ayah bilang mau membawa wanita itu jadi bagian dari keluarga ini? Jangan mimpi, Yah! Bagi kami, keluarga ini cuma ada Bunda, Devan, dan Deka. Wanita gatal yang merebut suami orang itu tidak akan pernah punya tempat di rumah ini!"

​"Deka! Jaga bicaramu!" bentak Bian, wajahnya memerah lantaran harga dirinya tersentil di depan istrinya. "Ayah ini Ayah kandungmu! Jangan berani-berani kamu bicara tidak sopan seperti itu tentang calon istri Ayah!"

​"Kenapa harus sopan kalau Ayah sendiri yang menghancurkan rasa hormat itu?" potong Devan tidak kalah pedas. Matanya menatap Bian lurus tanpa ada rasa takut sedikit pun. "Ayah minta kami menghormati keputusan Ayah? Keputusan atas dasar apa, Yah? Keserakahan? Kebodohan seorang pria paruh baya yang lupa umur?"

​"Devan!" suara Bian meninggi, tangannya menggebrak permukaan meja makan hingga cangkir teh berguncang. "Siapa yang mengajari kalian bersikap kurang ajar begini?! Ayah ini yang memberi kalian makan, yang membiayai sekolah kalian, yang membesarkan kalian sampai sebesar ini! Tidak ada hak kalian menghakimi Ayah!"

​"Ayah yang membesarkan kami, tapi Ayah juga yang menghancurkan panutan kami!" balur Deka cepat, langsung berdiri dari kursinya. Postur tubuhnya yang tinggi khas remaja yang sedang tumbuh membuat intimidasinya terasa nyata.

"Dulu kami bangga punya Ayah seperti Anda. Tapi sekarang? Ayah cuma definisi dari seorang pria yang tidak tahu diri dan sama sekali bukan panutan yang layak dicontoh! Ayah cuma pria lemah yang gampang melambaikan tangan sama godaan wanita luar!"

​Kata-kata kasar dan frontal dari anak-anaknya menghantam dada Bian bagai pukulan telak. Ego kepemimpinannya hancur berkeping-keping. Pria paruh baya itu berdiri, menunjuk wajah kedua putra kembarnya dengan jari yang bergetar hebat.

​"Kalian tidak tahu apa-apa soal kehidupan orang dewasa!" bela Bian, mencoba menyusun alasan untuk membenarkan kesalahannya. "Cinta itu tidak bisa diprediksi, Devan, Deka! Ayah bekerja setiap hari di luar, berjuang untuk bisnis dan keluarga. Perasaan itu tumbuh begitu saja secara alami karena Ayah dan Salma sering bertemu dan berdiskusi. Itu hal yang sangat wajar terjadi pada laki-laki! Ini bukan kesalahan sengaja, ini cinta yang tumbuh karena terbiasa!"

​Bian menyapu pandangan ke arah ketiga orang di meja makan itu, seolah meminta pemakluman atas pengkhianatannya. "Ayah juga berhak bahagia! Apa salahnya kalau Ayah meresmikan hubungan ini secara sah dari pada Ayah berbuat dosa di belakang?"

​Mendengar pembenaran suaminya yang begitu dangkal dan mengatasnamakan fitrah cinta, Husna hanya bisa diapit oleh rasa prihatin yang mendalam. Wanitaberhijab elegan itu memejamkan matanya sejenak.

​"Astaghfirullah hal adzim..." bisik Husna halus, suaranya bergetar tipis bukan karena takut, melainkan menahan rasa iba pada akal sehat suaminya yang telah benar-benar tertutup oleh nafsu. "Astaghfirullahal'adzim, Mas Bian..."

​Kalimat istighfar dari Husna bagai pemantik api bagi Devan. Remaja yang dibesarkan dalam lingkungan ilmu agama yang kental dan pemahaman syariat yang kuat berkat didikan ibunya itu maju satu langkah. Wajah Devan mengeras, menyunggingkan senyuman dingin yang sarat akan kedewasaan spiritual yang jauh melampaui usia ayahnya.

​"Cinta yang tumbuh karena terbiasa, Yah?" cetus Devan, suaranya kini melandai namun setiap patah katanya terdengar bagai belati yang diukir mahal. "Jangan bawa-bawa kata cinta untuk membungkus maksiat dan ketidakmampuan Ayah menundukkan pandangan."

​Bian tertegun, bibirnya sedikit terbuka namun tak ada kata yang keluar.

​Devan menatap ayahnya dari atas ke bawah. "Dalam Islam, Allah sudah mengingatkan kita dalam Al-Qur'an, Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaknya mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Agama mengajari kita untuk menjaga batasan interaksi dengan yang bukan mahram, Yah!. Tapi Ayah? Ayah membiarkan pintu maksiat itu terbuka setiap hari di tempat kerja, memanjakan mata dan nafsu Ayah, lalu setelah terperosok, Ayah menyalahkan keadaan dan menyebutnya sebagai cinta yang tumbuh tak sengaja?"

​Deka menyambung dengan suara tak kalah berbobot, memanfaatkan seluruh ajaran nilai tauhid dan akhlak yang ditanamkan Husna sejak mereka kecil.

​"Cinta yang bersih itu membawa kebaikan dan keberkahan, Yah, bukan merobek hati istri yang menemani Ayah dari zaman Ayah tidak punya apa-apa," tembak Deka tajam. "Kalau Ayah bilang ini wajar karena tiap hari ketemu, itu bukan dinamakan cinta... itu dinamakan kelalaian iman. Ayah yang memilih untuk tidak menjaga jarak, Ayah yang memilih membiarkan rasa itu berkembang dan sekarang Ayah bertingkah seolah-olah Ayah adalah korban dari perasaan Ayah sendiri. Sungguh sangat memalukan."

​Bian mematung di tempatnya. Wajahnya yang tadinya merah padam oleh amarah kini perlahan berubah pucat. Ia tidak menyangka dua anak laki-lakinya yang masih berseragam sekolah mampu menyusun argumen agama dan logika setajam itu untuk meruntuhkan seluruh pembelaan dirinya.

​"Kalian... kalian tidak berhak mengajari Ayah soal agama..." bisik Bian gagap, suaranya kehilangan taji.

​"Kami tidak mengajari Ayah," potong Devan dingin. "Kami hanya mengingatkan pria yang mengaku sebagai kepala keluarga di rumah ini, tapi lupa bagaimana cara menjadi laki-laki yang berwibawa di hadapan Allah dan istrinya. Bunda diam dan mengalah bukan karena Bunda takut atau bersalah, Yah. Bunda diam karena kelas Bunda terlalu tinggi untuk meladeni alur murahan yang sedang Ayah mainkan."

​"Dan ingat satu hal, Yah," tambah Deka seraya menatap Bian dengan pandangan tanpa ampun. "Ayah bisa saja bangga dengan gelar Manajer dan toko swalayan Ayah itu. Tapi jangan pernah berharap Ayah mendapatkan rida dan rasa hormat dari kami berdua untuk pernikahan haram berbungkus izin kertas itu. Sampai kapan pun, kami tidak akan pernah meredai Bunda disakiti."

​Setelah mengucapkan kata-kata mahal tersebut, Devan dan Deka tidak lagi memberi ruang bagi Bian untuk membalas. Si kembar membungkuk sedikit ke arah Husna dengan penuh rasa takzim.

​"Bunda, Devan sama Deka izin masuk kamar dulu. Makan malam kami sudah cukup," ucap Devan lembut, suaranya seketika berubah hangat hanya ketika berbicara pada ibunya.

​"Permisi, Bun," sambung Deka.

​Kedua remaja itu berbalik dan melangkah meninggalkan ruang makan dengan langkah tegap, meninggalkan keheningan yang makin mencekam di area meja makan.

​Bian berdiri mematung di kepala meja, dada dan dadanya turun naik menahan kombinasi antara amarah, malu, dan kehampaan yang luar biasa. Argumennya hancur total. Ia yang berharap bisa berdiri gagah sebagai kepala keluarga yang dipatuhi, justru dipelanjangi oleh pemahaman agama anak-anaknya sendiri.

​Husna perlahan berdiri dari kursinya. Ia membetulkan letak hijab jutaan rupiahnya yang anggun, lalu menatap suaminya dengan pandangan teduh pandangan penuh kasihan dari seorang wanita yang tahu bahwa pria di hadapannya sedang melangkah menuju jurang kehancuran yang diciptakannya sendiri.

​"Istirahatlah, Mas," ucap Husna halus tanpa ada nada amarah sedikit pun. "Pernikahanmu dengan Salma tinggal menghitung hari. Simpan tenagamu untuk hari besar yang sangat kamu impikan itu."

​Husna berbalik melangkah meninggalkan Bian sendirian di bawah pendar lampu kristal yang dingin. Bian perlahan terduduk kembali di kursinya, menatap makanan yang sudah dingin dengan pikiran yang berkecamuk hebat. Pintu perangkap telah tertutup rapat di sekelilingnya, dan suara patahnya rasa hormat dari anak-anak kandungnya sendiri kini bergema abadi di dalam dadanya.

1
Lee Mba Young
lanjuttt.. selalu setia nunggu lanjutannya.
Lee Mba Young
gk papa husna jd janda yg penting bnyak duit, punya anak bhgia Wes.
Muft Smoker
Dana talang ,, Dana talang ,,
ngaca tuh di talang air ,,
😒😒😒😒

udh jgn ngimpi terlalu tinggi duluu ,,
nnti Kalo jatuh sakiit ,,
aku
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Noey Aprilia
Mkanyaaaa.....
kl halu jgn ktinggian,gliran jtuh pst sakittttt.....😛😛😛....
ngarep jd nyonya,eehhh......
mlah jd gembel.....
Lee Mba Young
🤣🤣🤣👍👍🔥
Heni Setiyaningsih
kenapa Salmaaa????dapat zonk ya ha ha ha🤭
Heni Setiyaningsih
hahaha,,,,, bangun Salma,jgn kebanyakan mimpi
Muft Smoker
heran ma bian ,, kurang ap husna jdi istrii,,
msh juga nyari yg sengklek di luar,,
😒😒😒
falea sezi
🤣🤣 najis amat bertahan
falea sezi
heleh strategi apa 🤣sok kuat mending keruk harta nya trs ceraii🤣🤣🤣 ngapain berbagi batangan satu doank gk jijik apa 😒
Noey Aprilia
Mau heran,tp d dnia nyta pun emng bnyk yg ky gt...mmbuang berlian,dmi smpah yg ga brhrga....udh khilangn istri,ank,usaha,bntr lg jbatan yg melayang.....drita apa lg yg akan mreka hdapi????😛😛😛
Muft Smoker
gmn bian ,, udh mulai merasa penyesalan Blum ,,
kalo Blum berarti km bnr2 gx tau diri 😒😒
Noey Aprilia
Udh d usir,msih aja ngemis2....ga tau malu.....😡😡😡...
prgi sono,kl ga mmpu ngontrak tnggal aja d kolong jmbtan....
Nieta Poedjo
halo penulis
apa itu kehalangan?
Lee Mba Young
🔥👍👍👍 joss lanjuttt
Heni Setiyaningsih
yah,,,,,jadi gembel dong🤭🤭
Heni Setiyaningsih
oh,,, ternyata,,, ternyata,,,, masih numpang dirumahnya Husna kamu Bian 😲🤣
Cicih Sophiana
Husna istri luar biasa pintar 👍
Cicih Sophiana
sukurin emang enak... udah di kasih senang malah cari susah sendiri 🫢🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!