NovelToon NovelToon
Ayah Angkat Sang Mafia

Ayah Angkat Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Beda Usia / Menikah dengan Musuhku
Popularitas:328
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

**Tiga belas tahun lalu, dia membantai seluruh keluargaku.**
**Sepuluh tahun lalu, tanpa tahu siapa aku sebenarnya, dia mengangkatku menjadi anak angkatnya.**
**Dua tahun lalu, pria yang seharusnya kupanggil "Ayah" itu... jatuh cinta padaku.**
**Lalu, saat aku paling hancur, dia mencampakkanku begitu saja.**

**Dan malam ini—dua tahun berlalu—kami bertemu lagi.**

Larasati sudah bukan gadis yang dulu. Dengan nama panggung **Nirmala**, dia menjelma menjadi pianis misterius yang namanya menggema tanpa pernah menunjukkan wajahnya. Malam itu, di pesta megah pewaris Mahendra, sebuah cek bernilai fantastis diantarkan ke hadapannya—dari **Arkana Wardhana**. Sang bos mafia yang ditakuti seantero kota itu hendak "membeli" satu malam bersamanya, hanya untuk memastikan satu hal: *dia tak akan pernah lagi memberikan hatinya.*

Larasati tersenyum. Lalu membalasnya dengan selembar uang receh.
Karena tak ada seorang pun yang lebih tahu daripada dirinya—pria itu adalah musuh yang membantai keluarganya, ayah angkat yang membesarkannya dengan tangannya sendiri, sekaligus satu-satunya lelaki yang pernah ia cintai sampai tak bisa lepas. Di antara dendam yang membeku di tulang dan cinta yang menolak padam, Larasati pernah mengangkat pisau ke arah jantungnya... dan tak sanggup menurunkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 030 - Yang Ditinggalkan

Aku melihat Larasati naik pesawat dari balik kaca ruang tunggu lantai atas.

Dia mencari wajahku di antara orang-orang. Aku tahu karena kepalanya selalu menoleh sedikit ke kiri saat berharap menemukan seseorang. Kebiasaan itu tidak berubah sejak kecil.

Aku berdiri cukup dekat untuk memanggilnya.

Aku juga berdiri cukup jauh agar dia tidak melihatku.

Bayu berada di sampingku, kedua tangan masuk ke saku jaket. "Kalau kau berlari sekarang, pintunya mungkin belum ditutup."

"Dia akan tinggal kalau melihatku."

"Bukankah itu yang kauinginkan?"

"Bukan jika alasannya dia belum sanggup meninggalkanku."

Di bawah, Larasati menyerahkan paspor lalu masuk ke lorong. Langkahnya masih tidak seimbang. Setiap kali kaki kirinya menapak, tanganku hampir bergerak untuk menahan tubuh yang tidak lagi boleh kusentuh.

Pintu tertutup.

Aku baru bernapas lagi setelah pesawat bergerak meninggalkan landasan.

"Kau bisa menunggu di rumah," kata Bayu. "Tidak perlu menyiksa diri melihat langsung."

"Aku perlu memastikan dia benar-benar pergi."

"Atau berharap dia kembali dari gerbang."

Aku tidak menjawab.

Di Vila Arkana, kamar Larasati sudah kosong. Aku sendiri yang memerintahkan semua barangnya dikeluarkan. Aku juga berdiri di balik tirai ketika dia memungut lukisan yang seharusnya kusimpan di brankas.

Aku ingin turun.

Ketika dia meminta satu tatapan, tanganku sudah menyentuh gagang pintu. Lalu aku melihat penyangga di kakinya dan teringat ranjang rumah sakit, darah di gaun biru, serta tangannya yang terangkat melindungi Gilang.

Aku telah mencoba menahannya dengan cinta, rasa bersalah, rumah, dan akhirnya kunci.

Semua cara itu membuatnya jatuh.

Jika masih mencintainya, satu-satunya hal yang tersisa adalah berhenti meraih.

Malam setelah penerbangannya, aku duduk di Club Aurora sampai semua tamu pulang. Bayu meletakkan segelas air di depanku.

"Minum."

"Aku tidak haus."

"Kau juga bilang tidak lapar selama seminggu. Tubuhmu tidak peduli pada kebohonganmu."

Aku meminum air itu agar dia diam.

"Apa yang akan kau lakukan dengan pernikahan kalian?" tanyanya.

"Tidak ada. Kalau Larasati ingin mengakhirinya, pengacara akan mengikuti permintaannya. Aku tidak akan memanggilnya pulang untuk satu tanda tangan pun yang bisa diurus tanpa bertemu."

"Dan kalau dia tidak mengurusnya?"

"Aku tetap tidak akan menggunakan kertas itu untuk mendekatinya."

Bayu duduk di seberangku. "Kau tahu dia menurunkan pisau."

"Aku tahu."

"Kau tahu dia kehilangan anak itu bukan karena memilih Gilang."

"Aku juga tahu."

"Lalu kenapa mengatakan jangan pernah muncul lagi?"

Aku menatap gelas. "Karena saat dia melindungi Gilang, aku ingin menyeretnya kembali ke rumah dan mengunci semua jendela. Jika aku tidak membuatnya percaya pintu telah tertutup dari sisiku, aku akan terus mencari alasan untuk membukanya dari sisinya."

Bayu mengumpat pelan. "Kalian berdua terlalu pandai menciptakan neraka dari cinta."

"Kau mengenali keahliannya."

Dia tidak membalas. Nama perempuan dari masa lalunya tinggal di keheningan itu.

Keesokan siang, seorang fotografer datang ke kantor Club membawa tabung foto dan amplop. Ia menunjukkan kartu bertuliskan namaku.

"Nona Larasati menitipkan ini beberapa minggu lalu," katanya. "Kami mencoba menghubungi nomornya, tetapi sudah tidak aktif. Seorang staf mengenali Anda dari berita pencatatan sipil."

Tanganku menjadi dingin.

Foto pertama menampilkan Larasati dalam gaun pengantin putih, berdiri sendirian di taman buatan. Foto kedua adalah potret wajahnya saat menoleh ke arah cahaya. Senyumnya bukan senyum perempuan yang dipaksa menikah. Itu senyum seseorang yang menunggu masa depan.

"Ada pesan," kata fotografer itu.

Aku membuka amplop. Di dalamnya hanya ada kartu dengan namaku dan nomor telepon Larasati.

"Apa pesannya?"

Fotografer itu tampak ragu. "Dia bilang, jika lelaki tampan datang mencarinya, katakan bahwa dia mencintai lelaki itu dan menunggunya setiap malam."

Aku tidak mampu berdiri lagi.

Kursi menahan tubuhku. Foto di tangan bergetar.

Bayu mengambil fotografer itu keluar dan mengurus pembayaran. Ketika kembali, aku masih memandang senyum Larasati.

"Dia ingin menjadi pengantinmu," katanya.

"Dan aku membawanya ke kantor pencatatan dengan penjaga."

"Kau tidak tahu foto ini ada."

"Aku tahu dia mencintaiku. Seharusnya itu cukup."

Sore harinya, aku pergi ke kafe dekat kampus tanpa tahu apa yang kucari. Tempat itu kosong. Pemilik kafe mengenaliku dan mengambil tumpukan alas cangkir dari bawah pot tanaman.

"Seorang pelanggan meninggalkan ini," katanya. "Dia meminta dibuang hari ini jika tidak ada yang mengambil. Saya melihat foto Anda di berita dan berpikir mungkin tulisan ini untuk Anda."

Aku membaca satu per satu.

`Aku masih marah.`

`Kakiku membaik.`

`Anak kita pasti akan memiliki mata yang indah.`

Pada kalimat ketiga, huruf-huruf menjadi kabur.

Aku tidak menangis ketika Om Guntur mati. Tidak ketika polisi menutup masa depanku. Tidak ketika Larasati menamparku atau ketika dokter mengatakan anak kami tidak bertahan.

Namun di meja kecil dekat jendela itu, aku menundukkan kepala dan membiarkan air mata jatuh ke kertas.

Pesan terakhir berada paling bawah.

`Aku mencintaimu. Kali ini kalimat itu tidak menyembunyikan pisau.`

Aku menekan alas cangkir ke dada sampai tepinya kusut.

Pemilik kafe meletakkan kopi pahit di meja. "Dia biasanya memesan cokelat panas."

"Aku tahu."

"Apa Anda akan menyusul?"

Aku memandang landasan kosong di foto berita pada ponselku, lalu senyum pengantin yang datang terlambat.

"Tidak sekarang."

Jika aku pergi ke London saat ini, aku hanya akan menjadi sangkar yang belajar terbang. Larasati membutuhkan ruang untuk mengetahui siapa dirinya ketika tidak sedang membenciku atau mencintaiku.

Aku juga perlu belajar mencintai tanpa memiliki.

Bayu mengirim alamat tempat tinggal sementaranya malam itu. Pesan kedua berisi jadwal kontrol kaki dan nama sekolah musik. Aku membaca semuanya, lalu menghapus alamat tanpa menyimpannya.

`Jangan kirim laporan lain kecuali dia berada dalam bahaya,` balasku.

Bayu menelepon. "Kau yakin?"

"Tidak."

"Itu jawaban paling jujur darimu minggu ini."

"Kalau aku tahu tempat tinggalnya, suatu malam aku akan datang. Kalau aku tahu jadwalnya, aku akan berdiri di seberang jalan. Aku tidak mempercayai diriku sendiri untuk hanya melihat."

"Lalu bagaimana kalau dia membutuhkanmu?"

"Dia tahu nomor yang harus dihubungi. Kali ini biarkan dia menjadi orang yang membuka pintu."

Aku mematikan sambungan sebelum keteguhanku berubah. Menghapus alamat tidak menghapus keinginan untuk menghafalnya. Itu hanya memastikan keinginan tersebut tidak lagi menjadi perintah bagi hidup Larasati.

"Aku akan menunggu," kataku kepada foto itu. "Sampai kau meletakkan kebencianmu. Sampai kau memaafkanku, atau sampai kau memutuskan tidak pernah bisa. Berapa pun lamanya."

Di Club malam itu, aku menggantung foto pengantin di ruang kerja pribadi, tempat tidak ada orang lain boleh melihat. Alas-alas cangkir kusimpan di laci bersama cincin yang pernah dia lemparkan pada hari ulang tahunnya.

Kemudian aku memutar rekaman dari Restoran Lumière.

Dua tema piano saling mengejar, menjauh, lalu bertemu pada nada yang sama.

"Sepasang Kupu-Kupu," bisikku. "Ternyata begini caramu mencintaiku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!