Setelah dua kali mengalami keguguran membuat Vivienne Laurent rela mempertaruhkan segalanya demi satu harapan terakhir. Atas permintaan suaminya, Dominic Ashcroft, ia menjalani program bayi tabung.
Namun, kebahagiaan itu runtuh seketika ketika sebuah pesan datang dari Killian Prescott, pria yang selama ini menjadi musuh abadinya.
"Bayi yang kau kandung bukan berasal dari sel telurmu. Dominic telah menukarnya dengan sel telur Giselle Moreau—selingkuhannya."
Vivienne menolak mempercayainya. Hingga satu demi satu bukti mengungkap kenyataan yang jauh lebih kejam: rahimnya telah dijadikan alat untuk mengandung anak hasil pengkhianatan suaminya.
Akankah Vivienne mempertahankan bayi yang tumbuh di dalam rahimnya atau menggugurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Tanpa sepengetahuan Vivienne, Killian justru bergerak lebih dulu. Sejak mengetahui bahwa ada dokter yang diduga terlibat dalam proses bayi tabung Vivienne, pria itu tidak bisa begitu saja duduk diam. Ia merasa ada bagian dari cerita yang belum terbongkar.
Pagi itu, Killian duduk di ruang kerjanya. Beberapa berkas hasil penyelidikan tersusun di atas meja. Tatapannya berpindah dari satu dokumen ke dokumen lainnya.
Killian tidak pernah bertanya kepada Vivienne tentang proses bayi tabung yang dilakukan setahun yang lalu. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena saat itu ia sama sekali tidak menyangka akan ada kejahatan di baliknya. Kini, semuanya terasa berbeda.
Killian mengambil satu lembar laporan dan membacanya kembali. Nama dokter, riwayat rumah sakit, dan catatan perjalanan. Semuanya mulai mengarah pada satu orang.
Killian menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil mengembuskan napas panjang.
“Si Vivi itu benar-benar bodoh dan ceroboh,” gumam Killian sambil mengusap dagunya. “Apa tidak pernah terpikir olehnya bahwa dokter yang menangani proses itu bisa saja berbuat curang?”
Suara itu ternyata masih terdengar jelas oleh Alex yang sedang berdiri beberapa langkah di belakangnya. Asisten tersebut mengangkat alis sebelum akhirnya tersenyum tipis.
“Bukannya kamu sendiri sering bilang Vivienne itu bodoh?” ujar Alex sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. “Katamu, karena terlalu bodoh, dia tidak bisa mencari laki-laki yang keren.”
Killian langsung mengangkat wajah. Tatapan tajam dilemparkannya kepada Alex.
“Diam kamu!” bentak Killian sambil menunjuk asistennya. “Hanya aku yang boleh mengata-ngatai dia.”
Alex terdiam. Ia kemudian berdeham kecil sambil menahan senyum.
“Baiklah,” jawab Alex singkat.
Killian kembali menundukkan kepala dan membaca laporan di hadapannya.
Hubungan antara Killian dan Vivienne memang tidak pernah sederhana. Sejak kecil, keduanya sudah terbiasa saling mengejek, bertengkar, dan melemparkan kata-kata tajam. Namun, anehnya, tidak seorang pun dari mereka benar-benar membiarkan orang lain melakukan hal yang sama.
Jika Killian boleh menyebut Vivienne bodoh, orang lain tidak boleh. Jika Vivienne boleh menyebut Killian menyebalkan, orang lain juga sebaiknya tidak ikut campur.
Alex sudah terbiasa dengan pola itu. Ia tahu, di balik pertengkaran mereka yang tidak pernah ada habisnya, keduanya memiliki cara sendiri untuk saling menjaga.
Alex mengambil sebuah tablet dari atas meja, kemudian menyerahkannya kepada Killian.
“Menurut hasil laporan penyelidikan Baron, Dokter Malcom sedang cuti,” ujar Alex sambil menunjuk layar tablet. “Dia baru akan kembali bekerja sekitar lima hari lagi.”
Killian menerima tablet tersebut. Matanya menyipit ketika membaca nama dokter yang tertera di layar.
“Dokter Malcom,” gumam Killian. Ia mengetukkan jarinya ke meja. “Jadi, dia orangnya.”
Alex mengangguk. “Semua informasi yang berhasil dikumpulkan Baron mengarah kepadanya. Termasuk catatan perjalanan dan beberapa transaksi yang terlihat mencurigakan.”
Killian tidak langsung menjawab. Ia menatap layar beberapa saat, kemudian meletakkan tablet tersebut di atas meja.
“Kejahatan Dominic sudah jelas,” ujar Alex dengan nada penasaran. “Kalau begitu, kenapa Vivienne belum melaporkannya kepada polisi?”
Killian menyandarkan tubuhnya sambil melipat kedua tangan di depan dada. Sudut bibirnya terangkat.
“Sepertinya dia ingin bermain-main dulu dengan si brengsek itu,” jawab Killian santai.
Alex mengerutkan kening. “Bermain-main?”
Killian terkekeh kecil. “Kamu belum mengenal Vivienne dan Estelle kalau mereka sudah marah sampai tingkat tertinggi.”
Pria bermata gelap itu mengambil gelas air di atas meja, lalu meneguknya perlahan. “Kalau mereka langsung membawa masalah ini ke polisi, semuanya selesai terlalu cepat,” ujar Killian sambil meletakkan kembali gelasnya. “Padahal, aku yakin mereka sedang menyiapkan sesuatu.”
Alex menghela napas. “Berarti kita hanya menunggu?”
Killian menggeleng. “Tidak.”
Tatapan Killian berubah serius. “Kita cari tahu lebih banyak.”
Killian kembali mengambil laporan tersebut. “Kalau Dominic memang menyuap dokter itu, aku ingin tahu seberapa jauh keterlibatannya.”
Alex mengangguk. “Baik.”
“Dan jangan sampai Vivienne tahu kita sedang menyelidikinya,” ujar Killian sambil menatap Alex.
Alex mengangkat sebelah alis. “Kenapa?”
Killian tersenyum tipis. “Karena kalau dia tahu, dia pasti akan marah. Dan balik menyerang aku. Satu wanita saja sudah buat aku sakit kepala, apalagi kalau mereka berdua.”
Alex tertawa kecil. “Bukankah kamu memang suka membuat Vivienne marah?”
Killian langsung melotot. “Jangan mulai.”
Alex buru-buru mengangkat kedua tangan. “Baik, Bos.”
Killian kembali menatap berkas. Namun, dalam hati, ia sudah mengambil keputusan.
Apa pun yang sedang direncanakan Vivienne, ia akan memastikan satu hal. Tidak ada satu pun orang yang boleh lolos begitu saja. Jika, memang telah merusak hidup sahabatnya.
Sementara itu, di sebuah studio foto, suasana jauh berbeda. Lampu-lampu besar menyinari panggung pemotretan. Beberapa kru sibuk membawa peralatan, sementara fotografer sedang memeriksa hasil jepretan sebelumnya.
Giselle berdiri di depan cermin besar. Seorang penata rias sedang merapikan bagian wajahnya, sementara penata rambut menyentuh beberapa helai rambut yang jatuh di bahunya.
Giselle memandangi pantulan dirinya sendiri. Semuanya harus sempurna.
“Nona Giselle, lima menit lagi kita mulai,” ujar salah seorang kru dari belakang.
“Baik,” jawab Giselle sambil tersenyum kepada pantulan dirinya di cermin.
Namun, baru saja ia berdiri dari kursi rias, langkahnya terhenti. Dari pantulan cermin, ia melihat dua sosok yang baru saja memasuki studio, Victoria dan Grace.
Giselle langsung berbalik. “Aunty ... Grace?”
Kedua wanita itu tersenyum lebar.
Giselle terlihat keheranan. Kedatangan mereka bukan sesuatu yang biasa. Biasanya Victoria dan Grace akan menghubunginya terlebih dahulu jika ingin bertemu. Mereka juga jarang datang ke studio kecuali menjemput untuk mengajaknya jalan-jalan atau makan bersama.
Giselle berjalan mendekat.
“Tumben kalian datang tanpa membuat janji terlebih dahulu,” ujar Giselle sambil mengerutkan kening. “Ada apa?”
Grace langsung menggandeng lengan Giselle. “Tidak boleh datang menemui calon kakak ipar sendiri?” tanya Grace sambil tersenyum manis.
Giselle tertawa kecil. “Bukan begitu.”
Victoria ikut mendekat.
“Hari ini kami memang sengaja datang untuk menjemputmu,” ujar Victoria sambil tersenyum lebar.
Giselle mengangkat alis. “Menjemputku?”
"Iya!" Grace mengangguk cepat. Ia bahkan terlihat jauh lebih bersemangat daripada biasanya.
“Hari ini kita pergi ke butik La Mode,” ujar Grace sambil menggoyangkan tangan Giselle. “Butik baru milik Hillary Waston.”
Mata Giselle langsung berbinar. “Hillary Waston?” ulang Giselle.
Victoria mengangguk. “Benar. Perancang busana terkenal itu baru saja membuka butik di pusat kota,” ujar Victoria sambil merapikan tas tangannya. “Kami ingin melihat koleksi terbarunya.”
Giselle tersenyum. “Aku juga ingin melihatnya.”
Grace langsung semakin bersemangat. “Nah, kalau begitu, kamu ikut kami, kan?”
Giselle melirik jam tangannya. “Tapi aku masih bekerja,” jawabnya sambil menunjuk ke arah studio. “Pemotretanku baru akan dimulai. Pastinya masih lama.”
Victoria dan Grace saling berpandangan. Keduanya kemudian tersenyum hampir bersamaan.
“Tenang saja,” ujar Victoria sambil menepuk lengan Giselle. “Kami akan menunggumu.”
Grace mengangguk cepat. “Iya. Kami tidak terburu-buru,” ujar Grace sambil tersenyum lebar.
Giselle sedikit terkejut melihat kesabaran mereka. Namun, ia sama sekali tidak merasa curiga. Selama ini Victoria dan Grace memang selalu memperlakukannya dengan sangat baik. Bahkan terlalu royal.
Jika Giselle menyukai sebuah pakaian atau aksesoris, mereka tidak keberatan membelikannya. Jika Giselle ingin makan di restoran mahal, mereka juga tidak pernah mempermasalahkan harga.
Karena itu, ketika Grace mengajaknya ke butik baru, Giselle hanya mengira mereka ingin menghabiskan waktu bersama seperti biasanya.
“Kalau begitu, tunggu aku,” ujar Giselle akhirnya sambil tersenyum.
Grace langsung mengangguk puas. “Tentu saja!”
Victoria juga tersenyum. “Pergilah bekerja. Kami akan menunggumu di sini.”
Giselle kembali menuju ruang pemotretan tanpa sedikit pun menyadari sesuatu.
Sementara di belakangnya, senyum Victoria dan Grace perlahan berubah. Bukan lagi senyum penuh keramahan. Ada sesuatu yang mereka harapkan dari pertemuan itu.
Giselle sama sekali belum tahu. Hari itu, untuk pertama kalinya, ia akan menjadi orang yang membayar sesuatu yang selama ini selalu ia dapatkan dengan cuma-cuma.
aku suka caramu membalas mereka dg cara halus 👏👏👏
biar mereka JD gembel lg 🤣🤣
yg di otak nya hanya ada uang , uang , dan uang 😡😡😡😡
benar-benar halus dan sempurna 👏👏👏
dasar keluarga parasit 😡😡😡
dasar lintah darat 😡😡