Andira merupakan seorang wanita yang di tinggal oleh suaminya ketika pernikahan mereka memasuki usia 6 tahun. suaminya meninggalkannya karena meninggal pada saat kecelakaan. Andira terpukul dan sedih karna harus merelakan suaminya pergi untuk selamanya. menjelang 4 bulan kepergian suaminya banyak cinta yang datang kepadanya tetapi dia tidak terlalu menanggapinya sampai akhirnya ada yang muncul dan itu cinta pertama nya, akhirnua dia menerima tapi banyak cobaan dan godaan yang dialamin mereka tapi pada akhirnya mereka bisa sampai pada jenjang pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Yang Pecah
Andira gak nelpon suaminya.
Dia takut Renaldi berantem sama Imel, kakak iparnya.
"Sayang, Mas udah pulang nih," panggil Renaldi pas masuk kamar.
Dia liat istrinya masih tidur pulas.
Renaldi ngira Andira kecapean ngajar seharian.
Padahal dia gak tau, istrinya baru aja dipermalukan Imel di warung.
"Udah pulang ya, Mas," ucap Andira sambil ngelap matanya.
Matanya merah, bekas nangis.
"Iya, nih, Sayang," jawab Renaldi sambil senyum.
"Ya udah, Mas mandi dulu ya. Biar Sayang siapin makan malam."
"Iya, Mas," jawab Andira pelan.
Renaldi ngecup kening istrinya, terus ke kamar mandi.
Andira ke dapur. Dia buka kulkas.
Isinya kosong melompong. Cuma ada ayam ungkep sisa 3 hari.
"Ya ampun, kok bisa lupa.
Bahan makanan udah habis sebagian.
Harusnya tadi ke pasar buat isi kulkas," desah Andira.
Dengan cepet dia ambil ayam ungkep itu.
Tambah sayur pakcoy yang udah agak layu.
Dia masak seadanya. Yang penting jadi makanan enak buat suaminya.
Abis makan malam, kayak biasa mereka duduk di sofa depan TV.
Sambil ngobrolin cerita sehari-hari.
"And, hari ini gimana? Lancar?" tanya Renaldi.
Dia menyandarkan kepala ke bahu Andira.
"Umm... lancar, Mas," jawab Andira datar.
Suaranya beda dari biasanya.
"Kenapa? Kok mukanya sedih gitu?" pinta Renaldi.
Dia kenal banget ekspresi istrinya.
"Gak apa-apa, Mas," jawab Andira.
Dia muter badan, ngadep TV.
Renaldi langsung elus kepala Andira.
Terus dia peluk istrinya kenceng.
"Kalau ada apa-apa cerita, Sayang.
Kita udah sepakat, gak ada rahasia di antara kita.
Apapun itu, Mas siap denger sampe habis," bisik Renaldi.
Andira diem. Di dalam hati dia mikir:
_Memang bener ya, ujian rumah tangga itu.
Kalau suaminya baik, cobaannya datang dari ipar._
"Kenapa diem, Sayang?" suara Renaldi ngagetin dia.
Andira narik napas panjang.
Akhirnya dia berani cerita.
Bukan karena gak mau, tapi dia tau watak suaminya.
Kalau tau istrinya disakitin, Renaldi pasti langsung pasang badan.
"Mas, tadi siang aku sama Intan makan siang di warung langganan.
Tiba-tiba Kak Imel datang," cerita Andira pelan.
"Terus?" potong Renaldi. Matanya udah mulai tajam.
Andira lanjut, "Di sana Kak Imel bilang, 'Enak ya makan sendiri,
padahal suami sibuk kerja.' Aku bilang ke Mbak Imel kalau Mas lembur,
makanya aku makan di warung. Eh, Mbak Imel gak terima. Hiks... hiks..."
Spontan air mata Andira jatuh lagi.
Dia gak akting. Emang sakit hatinya masih nyess banget.
"Kenapa, Sayang?" Renaldi kaget.
Dia baru liat istrinya nangis sesedih ini.
Andira masih nangis, "Terus Kak Imel bilang aku gak makan makanan sehat,
biar cepet hamil. Katanya makan di luar terus.
Aku malu, Mas. Diliatin banyak orang. Hiks... hiks..."
"APAAA?!" Renaldi langsung lepas pelukan.
Mukanya merah padam. "Berani-beraninya dia!
Aku aja gak pernah permasalahkan anak,
kenapa dia berani permalukan istri aku?!"
Tanpa nunggu lama, Renaldi langsung nelpon kakaknya.
"Halo, Dek. Ada apa?" jawab Imel di seberang.
Gak ada salam, gak ada basa-basi. Itu emang kebiasaan Imel.
"Mbak, kenapa permalukan istri saya?!" teriak Renaldi.
Imel jawab santai, "Oh, itu toh.
Mbak kan cuma ngingetin Andira biar jadi istri baik.
Harus jaga makan biar cepet hamil."
Denger jawaban itu, Renaldi makin emosi.
"Aku suaminya aja gak pernah masalahin soal anak!
Kenapa Kakak, orang luar, sibuk ngurusin?!"
Imel gak terima dibilang "orang luar".
"Oooh, kamu anggap Kakak ini orang luar?!
Jadi gak boleh ngingetin istri kamu yang mandul itu?!"
teriak Imel dari seberang. Suaranya pecah.
Andira langsung pegang bahu suaminya.
Dia coba nenangin. Tapi Renaldi udah keburu naik darah.
"Pokoknya gak ada siapa-siapa yang berhak bilang istri aku mandul!
Anak itu hak Tuhan! Kami udah usaha, tapi Tuhan belum ngasih!
Apa kami harus maksa Tuhan?!
Coba Mbak maksa Tuhan biar Mbak cepet meninggal, bisa nggak, hah?!"
teriak Renaldi ke HP.
"Tutt... tutt... tutt..."
Imel langsung matiin telpon.
Suaranya putus di telinga Renaldi.
Ruangan jadi hening sesaat.
Andira yang tadinya nangis, malah ketawa kecil.
"Kata-kata Mas jahat banget," ucapnya sambil nutup mulut.
Renaldi balik badan, ngadep istrinya.
Dia langsung peluk Andira lagi.
"Maafin Mas ya, Sayang. Mas emosi.
Tapi Mas gak rela ada orang nyakitin kamu.
Siapapun dia, termasuk kakak Mas sendiri," ucap Renaldi.
Dagunya nempel di kepala Andira.
Andira nyender di dada suaminya.
"Nggak apa-apa, Mas. Aku tau Mas belain aku.
Makanya tadi aku gak mau cerita. Takut Mas berantem."
"Udah, lupain omongan Mbak Imel ya.
Buat Mas, kamu udah sempurna.
Anak itu bonus. Kita berdua aja udah cukup bahagia,"
bisik Renaldi sambil ngusap punggung Andira.
Malam itu mereka gak nonton TV.
Mereka cuma duduk di sofa, pelukan, diem.
Saling ngerasain angetnya masing-masing.
Di luar, HP Imel masih di meja.
Chat grup keluarga rame. Tapi Renaldi gak baca.
Dia sibuk jagain istrinya yang masih sesenggukan.
Andira mikir, punya suami kayak Renaldi itu anugerah.
Di dunia yang isinya orang suka nge-judge,
dia punya satu orang yang milih ngebelain, bukan nyalahin.
Sebelum tidur, Renaldi bisik, "Sayang, janji ya.
Kalo ada apa-apa, cerita ke Mas. Jangan dipendem sendiri."
Andira angguk di dada suaminya. "Iya, Mas. Janji."
Malam itu Andira tidur paling nyenyak setelah kejadian di warung.
Karena dia tau, ada Renaldi yang jadi tamengnya.